Manusia terlahir ke dunia dengan dikaruniai benih-benih kemampuan atau bakat yang dianugerahkan Allah Jalla jalalahu kepadanya. Manusialah yang menentukan apakah ia akan mengembangkan atau justru memadamkannya, hingga mematikan potensi-potensi itu.
Meskipun terdapat pewarisan dari keturunan yang buruk, sifat-sifat yang kurang baik, berada di bawah pengaruh sikap buruk orang tua, pengaruh buruk lingkungan, karakter fisik yang mungkin tidak kita sukai, status sosial ataupun kebutuhan psikologi yang tidak sempurna pemenuhannya, tetapi kita tetap memiliki kewajiban untuk mengembangkan potensi kepribadian yang tepat dan selalu berusaha memperindah akhlak kita, melalui perjuangan terus menerus melawan godaan nafsu. Menjadi umat dari Baginda Nabi yang dikirim untuk “menyempurnakan akhlak berarti kita harus senantiasa mengembangkan kepribadian sepanjang usia tanpa menjadikan hal apapun sebagai alasan untuk tidak melakukannya.”[1]
Mana yang Tepat, Pengembangan Diri ataukah Pengembangan Kepribadian?
Mereka yang ingin membuat perubahan dalam kehidupannya terkadang mencari solusinya dengan mengikuti arahan dan saran dari buku-buku pengembangan diri. Sebagian besar saran dari buku-buku seperti ini biasanya hanya menonjolkan nasihat-nasihat yang bersifat materi; jika pun membahas hal-hal yang sifatnya rohani, ia hanya berfokus pada topik kebahagiaan dan kesuksesan saja. Untuk mencapai tujuan-tujuan duniawi diperlukan pangkat, jabatan, kekuatan, popularitas, dan kekayaan agar bisa menarik perhatian, lebih disukai dan dipuji. Agar dapat meraih hal-hal tersebut maka dibutuhkan pengembangan diri. Namun ketika segala hal yang bersifat materi seperti kekayaan, popularitas, dan pangkat jabatan tersebut diambil dari tangan kita, maka yang tersisa hanyalah karakter dan kepribadian. Untuk itu, yang akan sesuai dan kita butuhkan sebenarnya bukanlah pengembangan diri, melainkan pengembangan kepribadian (karakter).
Pada tasawuf yang merupakan ilmu tentang keadaan nyata kondisi seseorang, individu akan dijauhkan dari sifat keakuan (egonya) agar meraih kepribadiannya (karakter). Menjadi insan kamil tak berhubungan dengan kemampuan materi, melainkan berkaitan dengan kemampuan rohani (maknawi) seseorang. Ia tidak bergantung pada kepintaran, melainkan pada kematangan kalbu dan jiwa.
Pengembangan diri akan bertujuan melambungkan seseorang agar percaya hanya pada dirinya sendiri dengan memuja sikap-sikap seperti: kepercayaan diri, berdamai dengan diri sendiri, dan pembuktian diri. Hal ini dapat pula memperkuat rasa egoisme. Sedangkan mereka yang memberikan perhatiannya pada masalah kepribadian, akan memilih untuk tawakal daripada kepercayaan diri; mereka juga akan memilih nihil kedudukan dibandingkan pangkat jabatan. Mereka akan memandang orang yang bersaing dengannya bukan dengan pandangan dengki namun justru dengan keinginan positif agar bisa meraih hal-hal baik seperti orang tersebut. Mereka tidak berambisi, tetapi justru memiliki tekad kuat. Pada hal-hal yang bersifat materi, mereka akan menengok pada kondisi orang-orang yang berada di bawahnya. Sedangkan pada hal-hal yang bersifat rohani, mereka akan menatap pada yang di atasnya. Mereka selalu memperhatikan segala masukan dari orang lain yang bertujuan untuk mengenal serta mengingatkan dirinya tentang tugas-tugasnya.[2]
Konsep Kecerdasan
Prof. Howard Gardner telah menjelaskan konsep kecerdasan pada sebuah dimensi berbeda dan menjelaskan bahwa kecerdasan manusia harus dipertimbangkan bukan hanya pada satu aspek saja melainkan pada berbagai dimensi yang berbeda. Berdasarkan hal ini, maka kecerdasan majemuk yang dimiliki manusia masing-masing adalah sebuah sarana pengantar yang sangat berpengaruh baginya untuk hidup, belajar, dan menjadi manusia yang sebenarnya. Para praktisi pengembangan diri mengembangkan kiat-kiat tentang bagaimana cara mengenali dan menggunakan delapan jenis kecerdasan yang dikemukakan oleh Gardner tersebut, demi meraih kesuksesan duniawi.[3]
Pada dunia kerja yang berfokus pada keuntungan duniawi, IQ (intellegence quotient) dan kapasitas teknis dibutuhkan untuk mencapai kesuksesan, tetapi hanya bergantung pada hal ini saja tidaklah cukup. Menurut penelitian, IQ hanya berkontribusi sebesar 20% saja dalam pencapaian kesuksesan. Selain itu ternyata penggabungan dari kecerdasan emosional (EQ) dengan kemampuan-kemampuan lain seperti kerja kelompok, kemampuan berkomunikasi, motivasi diri, pengendalian stres, dan pemecahan masalah tetap dibutuhkan untuk meraih kesuksesan. Hal ini menunjukkan bahwa kesuksesan sejati hanya bisa diwujudkan ketika bagian otak yang memproses perasaan (belahan otak kanan) dan bagian otak analitis (belahan otak kiri) berada dalam satu kesatuan yang saling menyempurnakan.”[4]
Peningkatan Diri menurut Pemikiran Islam
Pengembangan diri dalam literatur Barat disandarkan pada dua asas, yaitu kecerdasan intelektual (IQ) dan kecerdasan emosi (EQ). Sedangkan dalam budaya Islam peningkatan diri adalah sebuah struktur yang memiliki banyak dimensi. Insan kamil pada terminologi ini akan sering kita jumpai pada konsep-konsep seperti penggunaan segala macam potensi sesuai tujuan penciptaannya (مَا خُلِقَ لَهُ), mekanisme nafsu dan hati nurani, kalbu, ruh, yang tersembunyi, yang rahasia, latifah rabbaniyah, serta perjalanan dan suluk rohani.
Muhammad Fethullah Gulen Hojaefendi memberi istilah “otak yang unik” pada orang-orang yang berusaha memahami kebutuhan masa ia hidup, masyarakat, manusia, alam semesta, unsur-unsur, dan peristiwa, singkatnya mereka yang selalu berusaha memahami segala sesuatu, berusaha mempraktikkan pengetahuan-pengetahuan teoritik yang dipahami, selalu berpikir, mengevaluasi, serta meneliti segala sesuatu dalam kerangka ini. Oleh karena orang-orang seperti ini mengikat dirinya pada kecintaan atas hakikat, kegemaran pada ilmu pengetahuan, serta gairah terhadap penelitian, berkat izin Allah mereka dapat memecahkan banyak masalah; mereka akan meraih banyak keberhasilan tak terduga; kebuntuan berpikir akan terbuka serta dapat menjadi sarana bagi tercerahkannya masyarakat. Pada saat yang sama, orang-orang yang bisa mencapai level ini juga menghadapi beberapa bahaya potensial; yakni ia hanya mengedepankan kemampuannya sendiri seraya masuk ke berbagai perbedaan pandangan sehingga setiap masalah diatasi hanya dengan kecerdasan dan kapasitasnya sendiri, serta selalu mencari penyelesaian atas persoalan dengan pemahaman di atas permasalahan tersebut. Menurut Hojaefendi, prinsip dasar dari kesalahan berpikir yang mereka hadapi ini berasal dari kekurangan aspek tarbiyahnya. Di masa lalu, orang-orang yang aktif di dunia pengajaran di saat yang sama juga merupakan pendidik yang handal. Jadi, para murabbi yang hakiki adalah mereka yang cara duduk, berdiri, bersikap, keyakinan, pemikiran, dan pandangannya terhadap dunia menjadi teladan bagi orang-orang di sekitarnya pada setiap aspeknya. Mereka mendidik masyarakat di sekitarnya bukan hanya dengan bahasa lisan namun dengan bahasa tubuh atau keadaanya.
Akan tetapi, sangat sulit untuk mengatakan bahwasanya pendidikan di masa kini memiliki sistem pembelajaran dan pengajaran yang setara dengan hal itu. Meskipun pendidikan masa kini telah mencapai titik yang amat maju, akan tetapi keadaan tersebut tetap tidak akan mampu mengisi kekosongan yang ada dalam sistem pengajaran dan pembelajarannya. Pendidikan berarti peningkatan manusia potensial menuju kemanusiaan yang hakiki. Para pendidik ideal bagaikan pemahat yang mahir, ia harus memiliki kemampuan untuk dapat memunculkan pahatan monumen dari manusia yang dididiknya. Apabila “otak yang unik” tidak dididik di tangan pendidik yang handal serta tidak dibentuk dalam pengaruh mereka, maka mereka akan terperangkap ke dalam pemikiran psikologis: “hanya saya yang paling tahu mana yang terbaik”, dan akan menemukan kesulitan untuk mencapai kesepakatan pikiran serta mendapatkan manfaat dari keutamaan yang dimiliki oleh orang lain.”[5]
Peran Mekanisme Hati Nurani pada Perkembangan Manusia
Hojaefendi Fethullah Gulen menekankan pentingnya مَا خُلِقَ لَهُ, yaitu menggunakan segala sesuatu sesuai dengan tujuan penciptaannya. Mata dipergunakan untuk melihat kebenaran; telinga digunakan untuk mendengar kebenaran; kalbu digunakan untuk menghayati semangat kebenaran, atau segalanya diciptakan untuk “tafakur”, “tadabur”, dan “tazakur”. Semua ini diberikan agar digunakan sesuai fungsinya. Apabila organ-organ tersebut tidak digunakan sesuai fungsinya, maka dapat dikatakan jika orang tersebut hidup dalam keadaan buta, tuli, dan tidak berhati nurani.
Kemudian dapat ditambahkan bahwasanya buta yang sesungguhnya adalah butanya mata hati, butanya mata terhadap latifah Rabbaniyah; buta rasa. Ketika melihat maka ia akan melihat lahiriahnya saja, tetapi ia buta ketika tak mampu melihat sesuai hakikatnya. Kebutaan dan ketidakmampuan melihat latar belakangnya, buta dan tidak mampu menyaksikan makna yang tersirat, kebutaan ketika tak mampu melihat hal-hal yang sifatnya subjektif dan objektif.”[6]
Dalam keadaan demikian, agar seorang manusia dapat menafakuri hakikat sebenarnya dari setiap unsur dan peristiwa, maka ia harus menggunakan organ penginderanya sesuai dengan fungsinya. Hanya dengan keadaan seperti ini ia dapat mengembangkan dirinya dan bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya. Orang yang tidak mampu menyaksikan sesuatu dengan nuraninya dan tidak mampu melihat latar belakang dari segala sesuatu yang dilihatnya adalah buta. Orang yang memiliki mata tetapi tidak mampu melihat adalah orang yang paling tidak beruntung dan merugi.
Insan Kamil
Insan kamil dijelaskan oleh Hojaefendi sebagai orang yang selalu mengejar ilmu pengetahuan yang dapat meningkatkan ufuk makrifat dan tekad untuk bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya. Oleh karena hidupnya sesuai dengan akhlak yang terpuji, maka ia selalu menampilkan keindahan, melihat segala sesuatu dengan pancaran kebaikan, berpikir positif, mengemukakan kata-kata yang baik dan bermanfaat, serta mengerjakan aktivitas-aktivitas yang baik. Insan kamil dari segi hubungan dan campur tangannya dengan ciptaan dan berbagai peristiwa adalah khalifah Allah yang sesungguhnya di muka bumi ini. Semua orang itu kamil pada bingkainya masing-masing dan kesempurnaannya tersebut setara dengan kapasitas dan usaha untuk mengetahui bakat apa saja yang dimilikinya. Pada semua insan kamil, selain kemampuan lisan dan argumentasi pembuktian yang dimilikinya, pengetahuan dalam kebijaksanaannya juga sebuah kedalaman dan kekayaan cakrawala yang dimilikinya. Kealpaan di salah satunya dianggap sebagai kekurangan yang amat serius dalam pencapaian derajat kamil.[7] “Menarbiyah manusia hanya pada sisi maknawi ataupun menerimanya sebagai mekanisme hati nuraninya saja adalah sebuah kekurangan atau dapat dikatakan setengah-setengah. Bayangkanlah, seorang manusia yang diliputi oleh kecintaan pada syahwat, kebencian, kemarahan, pangkat, dan jabatan. Maka segala sesuatu yang ia kerjakan dari semangatnya akan terbungkus oleh pengaruh hal-hal negatif tersebut. Hati nurani yang kondisinya demikian ibarat tangan yang terbelenggu, ia tidak akan bisa memberi manfaat dan pengaruh apapun. Insan yang demikian disebut sebagai seorang yang “tak berhati nurani” dalam makna yang sebenarnya. Manusia seperti ini sebagaimana ia tidak memiliki pengetahuan atas mekanisme hati nuraninya, maka ia tidak mungkin bisa meraih makna yang diungkapkan oleh nurani dan merasakan tujuan mulia atas tujuannya.”[8]
Menurut Fethullah Gulen Hojaefendi, seribu tahun yang lalu hakikat Islam telah didikotomikan menjadi tiga prinsip berbeda. Oleh karena itu, orang-orang kesulitan menemukan kebenaran. Tiga prinsip tersebut adalah: (1) Hal-hal khusus dasar yang menyusun ilmu-ilmu positif; (2) Hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan kalbu dan jiwa; serta (3) Ilmu-ilmu Islami yang menjadi dasar bagi madrasah-madrasah. Kemudian beliau membuat seruan sebagai berikut: “Ayo! Mari kita satukan tiga prinsip dasar ini pada pembangunan yang dimulai dari tenda, rumah, ataupun institusi kita sendiri. Pada saat yang sama, perhitungannya dari Allah subhānahu wa ta’āla, tiang-tiangnya telah didirikan oleh Rasulullah, kemudian dijaga oleh para salafussaleh, maka coraknya pun dibuat berdasarkan hal-hal ini. Mari kita raih kembali keindahan yang pernah dicapai di masa lalu, dengan izin dan inayah dari Allah subhânahu wa ta’âla. Pencapaian pada persoalan ini bergantung pada hal-hal tersebut.”[9]
Sistem ini adalah jalan yang harus diikuti agar manusia potensial berhasil menjadi insan hakiki dan dapat mencapai kekamilan. Akan tetapi, supaya manusia dapat menerima asas-asas ini dan bisa mencernanya dengan baik, bergantung pada usaha dan upayanya yang serius. Namun, pada beberapa kondisi khusus dapat terjadi hal-hal di luar kebiasaan dan seseorang dapat mencapai puncak kekamilan tersebut seketika. Ketika manusia mengikuti apa yang digariskan oleh sunatullah, maka hal itu akan menjadi syarat bagi terpenuhinya kehendak Ilahi sehingga pada akhirnya ia bisa mencapai derajat yang diharapkan. Apabila kita ingin menjadikan nilai-nilai agama sebagai bagian dari kedalaman tabiat dan karakter diri, maka kita harus sibuk terus menerus menutrisi diri dengan sumber-sumber nilainya tanpa jeda. Di mana pun kita berada, saat duduk maupun berdiri, kita harus senantiasa membicarakan Sang Maha Tercinta, Allah subhânahu wa ta’âla. Setiap pembicaraan dan diskusi kita harus dirajut pada semangat untuk senantiasa membahas tentang-Nya.
Referensi:
- Aynur Tukun, Şahsiyet Gelişimini Etkileyen Faktörler (Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Diri), www.degerlerkulubu.org
- Idris Eren, Kişisel Gelişim mi, Kişilik Gelişimi mi? (Pengembangan Kepribadian atau Pengembangan Diri) insanvehayat.com/kisisel-gelisim-mi-kisilik-gelisimi-mi
- Rum Tan, How to Harness & Develop Your Natural Strengths–Multiple Intelligences Theory smiletutor.sg/how-to-harness-develop-your-natural-strengths-multiple-intelligences-theory
- Mitos di antara Otak Kanan dan Otak Kiri, tedmem.org/mem-notlari/sol-beyin-sag-beyin-miti
- Fethullah Gülen, Cins Dimağlar ve Kabiliyetlerin İnkişafı, www.ozgurherkul.org/kirik-testi/cins-dimaglar-ve-kabiliyetlerin-inkisafi
- Fethullah Gülen, Ma Hulika Leh, www.herkul.org/tag/ma-hulike-leh
- Fethullah Gülen, İnsan-ı Kâmil, fgulen.com/tr/fethullah-gulenin-butun-eserleri/53-Kalbin-Zumrut-Tepeleri/1149-Fethullah-Gulen-Insan-i-Kamil
- Fethullah Gülen, Nefis ve Vicdan Mekanizmaları, fgulen.com/tr/fethullah-gulenin-butun-eserleri/132-Prizma/11590-fethullah-gulen-nefis-ve-vicdan-mekanizmalari
- Fethullah Gülen, Kelâm, Kudret ve Cuma Yamaçları, www.herkul.org/bamteli/bamteli-kelam-kudret-ve-cuma-yamaclari
- Fethullah Gülen, İslâm’ın İnsan Tabiatı İle Bütünleşmesi, www.herkul.org/kirik-testi/kirik-testi-islamin-insan-tabiati-ile-butunlesmesi







Discussion about this post