Dengan keterbatasan akal dan ilmunya beberapa hal tidak akan pernah bisa diketahui oleh manusia, misalnya: kapan kiamat akan terjadi, atau mengenai kunci gaib1 yang dalam Al Qur’an dinyatakan sebagai lima hal khusus yang tak akan pernah diketahui manusia. Beberapa peristiwa berada dalam batas-batas pengetahuan kita saat ini dan dapat diketahui dengan proses berpikir dan tafakkur. Sementara beberapa peristiwa dengan tingkat pengetahuan dan teknologi yang kita miliki saat ini masih belum memungkinkan untuk diketahui, namun kita akan bisa memahaminya di masa depan. Dengan mengambil kesimpulan dan membuat beberapa perkiraan dari identifikasi parameter-parameter yang dipengaruhi oleh perubahan iklim dan lingkungan lalu melakukan pencatatan atasnya, maka mungkin sebagian hal dapat kita ketahui. Beberapa peristiwa seperti mekarnya bunga-bunga di pohon atau rute perkiraan badai mungkin dapat diprediksi dengan memanfaatkan foto satelit. Meskipun tak seperti Kiamat Besar, peristiwa-peristiwa goncangan bumi atau gempa yang seperti kiamat kecil adalah juga salah satu jenis bencana yang belum dapat diketahui dengan pasti hingga saat ini.
Dengan mengukur tingkat tekanan dan elastisitas bebatuan, serta melacak gerakan mikro patahan-patahan, maka sangat tidak sulit untuk memprediksi kemungkinan akan adanya gempa di masa depan, terutama sangat mungkin untuk menyatakan bahwa akan sering ada gempa di negara-negara yang berada pada lempeng tektonik aktif, tetapi tak mungkin untuk mengetahui lokasi dan waktu yang tepatnya. Bahkan jika tekanan, kompresi dan getarannya dapat diukur dengan menggunakan seismograf atau alat geologis serupa, tetap tidak mungkin untuk mengetahui mana permukaan yang akan rusak, kapan dan pada kekuatan berapa itu terjadi.
Sebab-sebab fisik yang kita tunjukkan dalam bingkai penemuan ilmu geologi hanyalah satu dari tabir rahasia dari penciptaan Allah Jalla Jalâlahu. Sementara waktu dan tempat sebenarnya gempa akan terjadi hanya ada dalam pengetahuan dan kebijaksanaan Allah yang memiliki kekuatan dan ilmu untuk memindahkan seluruh kerak bumi. Dalam hal ini, dengan kebijaksanaan dan pengetahuan terbatas yang diberikan kepada kita, sembari menggunakan keuntungan sebagai khalifah di muka bumi, dapat dikatakan bahwa selain membangun gedung-gedung dengan fondasi kuat yang tak terlalu tinggi dan menggunakan teknik pembangunan yang benar, kita tak punya pilihan lain. Jika kita melakukan hal ini, kita akan dapat meminimalisasi kerusakan yang mungkin timbul akibat gempa bumi.
Bersama dengan hal ini, usaha-usaha penelitian dan penemuan di laboratorium tentang beberapa hewan yang memiliki indra perasa khusus pada organnya, maupun hewan yang memiliki perilaku khusus sebelum terjadinya gempa meskipun tidak mengetahui secara langsung peristiwa apa yang akan terjadi setelahnya semakin meningkat. Sebenarnya ada banyak pengamatan dan kesimpulan yang dibuat nenek moyang kita berkaitan dengan hal ini, tapi tak satu pun yang telah terungkap sebagai bukti definitif pada takaran ilmiahnya. Ketika kita melihat sebuah peristiwa dengan pandangan objektif, bersamaan dengan determinasi yang dibuat walau tidak sepenuhnya relevan dan jelas, tetapi tidak pernah ada kepastian tentang waktu, tempat dan besarnya gempa.
Banyak catatan di beberapa sumber yang menyatakan bahwa sebelum gempa terjadi tampak bahwa anjing, kucing, sapi, ayam, kelinci, dan beberapa hewan peliharaan serupa lainnya, serangga, burung, serta berbagai hewan laut menunjukkan perilaku di luar kebiasaan mereka. Akan tetapi hal ini tidak selalu disebabkan hanya karena adanya gempa saja, bisa pula dikarenakan oleh rasa lapar, keinginan untuk menakuti hewan lain yang menjadi saingannya, atau karena kondisi-kondisi tak menyenangkan lainnya.
Semut dan Ular
Hewan yang paling menarik perhatian ketika terjadi gempa adalah kelompok semut dan ular. Kita dapat lebih membahas keduanya dikarenakan anatomi dan karakteristik fisiologis yang mereka miliki. Meskipun kedua spesies ini tuli terhadap suara yang datang dari udara, tetapi bukti-bukti yang ada menunjukkan bahwa mereka memiliki sensitivitas terhadap suara, radiasi elektromagnetik, atau kebocoran gas dari dalam bumi.
Pada surah di Al-Qur’an yang menggunakan nama semut (An-Naml), diceritakan bahwa semut dapat mengetahui kedatangan pasukan Nabi Sulaiman dari kejauhan dan mereka mengingatkan sesamanya agar jangan sampai terinjak, Ayat ini menunjukkan kepada kita bahwa mereka dapat memahami hal ini dari getaran yang dihasilkan derap kaki kuda pasukan tersebut pada permukaan tanah.
Jika sebelum gempa terjadi terdapat peningkatan jumlah semut, banyak sarang yang ditinggalkan, dan jika mereka menunjukkan sikap seperti berjalan di atas api, berkumpul dalam bentuk rantai atau gugusan, jika ada peningkatan jumlah semut yang mati tanpa alasan yang jelas di sekitar gugusan tersebut, maka mungkin akan berguna untuk terus mengamati perilaku mereka secara serius.
Tubuh Seperti Pusat Komunikasi Elektronik
Meski tubuhnya kecil, semut mempunyai berbagai organ sensorik yang seolah menjadi sebuah pusat pengumpul dan evaluasi sinyal. Bersama dengan banyaknya mata di samping tubuhnya yang seperti kaca pembesar mini, mereka memiliki juga tiga mata kecil yang memungkinkannya untuk melihat intensitas dan polarisasi cahaya. Dengan mata seperti itu mereka dapat melihat pada arah 180 derajat ke sekitarnya. Semut dilengkapi sepasang antena berbentuk siku dan melengkung yang memungkinkannya untuk bisa menyadari semua jenis zat kimia yang ada di sekitarnya, dengan sel-sel reseptif yang dipakai untuk mencicip, mengendus dan merasakan kelembapan yang memainkan peran jauh lebih penting bagi hidup mereka. Bahkan beberapa spesies benar-benar bergantung pada antena ini untuk mempersepsikan apa yang dirasakannya sehingga mereka seperti buta.
Ketika kita hanya memiliki satu lensa di mata, maka semut gurun memiliki hingga seribu keping lensa di matanya. Rüdiger Wehner dan koleganya dari Universitas Zurich menemukan bahwa ada 80 lensa mata semut yang mampu mendeteksi sinar pada spektrum ultraviolet dari berbagai titik langit yang berbeda. Lensa-lensa ini ditempatkan sejajar, yang jika satu diatur pada 180 derajat, maka yang lainnya 270 derajat. Ketika mereka tidak melihat ke arah matahari sekalipun, sel-sel khusus di mata mereka dapat menemukan arah dan menentukan kompas serta jarak perjalanan.
Bulu-bulu yang Sensitif
Sensitivitas bulu-bulu khusus di berbagai bagian pada kulit semut yang terbuat dari kitin dan menyelimuti tubuhnya seperti sebuah baju besi ini akan sangat mencengangkan pikiran kita (gambar 1). Bagian paling sensitif dari bulu-bulu perasa ini terutama di bagian antena dan bagian bawah kaki. Setiap helai bulu ini melekat pada kulit dengan sebuah sendi halus yang akan lepas hanya dikarenakan getaran kecil sekalipun. Sel sensorik di bawah bulu ini terhubung pada serat saraf, dan bahkan getaran terkecil dari bulu sensorik ini akan menyebabkan keluarnya sinyal perubahan kimia, dan semut akan “merasakannya”. Beberapa bulu bisa digerakkan oleh gelombang suara. Bulu-bulu ini berada dalam bentuk kelompok di beberapa area (Gambar 2). Dengan organ sensorik kompleks di kepalanya, semut dapat menangkap jutaan bahkan lebih bahan kimia dan sinyal cahaya, sinyal yang ditransmisikan oleh bulu sensitif yang ada di bawah mulut dan kaki, ketika dievaluasi bersama-sama otak yang mengandung 500.000 sel-sel saraf, memungkinkan mereka untuk mendeteksi adanya gempa di muka bumi.
Pada 2009-2012 sebuah tim yang dipimpin oleh Gabriela Berberich dari Universitas Duisburg-Essen, melakukan penelitian pada lebih dari 15.000 sarang semut merah hutan yang berada di sepanjang garis gempa bumi paling aktif dan paling besar di Jerman. Siang dan malam gerakan semut-semut itu diperhatikan melalui kamera video dan diproses menjadi perangkat lunak khusus, selain itu diperhatikan jika ada penyimpangan dari pola perilaku normalnya. Sebuah hasil yang menarik bahwa menurut tim ini, semut-semut tersebut aktif bergerak untuk mengerjakan pekerjaan rutin hariannya pada siang hari, sementara pada malamnya mereka beristirahat di sarang mereka. Namun tepat sebelum gempa terjadi, mereka tidak masuk ke sarangnya dan menghabiskan waktunya sepanjang malam menunggu di luar. Setelah gempa selesai, mereka tampak lebih santai dan kembali ke kehidupan normal. Yang lebih menarik adalah ternyata mereka tidak mengubah pola gerakan mereka pada gempa berskala kecil di bawah 2.0.
Menurut Berberich, semut merah hutan (Pratensis Formica dan F. polyctena) dapat mendeteksi perubahan emisi gas dengan reseptor karbon dioksida yang ada pada antenanya, atau adanya perubahan kecil di medan magnet bumi dengan reseptor magnet yang ada pada beberapa bulu perasa yang mereka miliki. Selain itu, ada kemungkinan bahwa mereka juga memiliki organ perasa yang dapat merespon perubahan termal jangka pendek atau zat radioaktif.
Tak Berkaki dan Bertangan namun Perasa
Reaksi perilaku hewan terhadap gempa adalah sebuah topik yang cukup menarik perhatian di Cina sehingga banyak dibuat angket dan penelitian berkaitan dengan hal ini. Sejak tahun 1971 telah dibangun jaringan pusat-pusat penelitian pada berbagai daerah yang memiliki aktivitas sismik tinggi untuk mengevaluasi perilaku tak biasa dan anormal hewan untuk diamati oleh para peneliti. Sebagian besar penduduk Cina bekerja pada sektor pertanian. Sehingga lebih mudah bagi mereka untuk memperhatikan perilaku hewan karena kesehariannya memiliki hubungan dekat dengan hewan-hewan tersebut. Khususnya 24 jam sebelum gempa, mereka banyak menyaksikan perilaku tak biasa dari berbagai jenis hewan. Didapati bahwa pada gempa-gempa besar; tikus, ikan dan ular berperilaku aneh sejak tiga hari sebelumnya hingga beberapa jam atau menit sebelum gempa.
Sebuah hal menarik terjadi, yakni sejak Desember 1974, selama 2 bulan terjadi hal-hal yang tak biasa pada hewan-hewan ini; ular-ular tampak seperti membunuh dirinya, mereka keluar dari tidur musim dinginnya dan tampak berkeliaran di atas salju, selain itu tikus-tikus pun keluar secara bergerombol. Para ahli yang melihat kejadian tak biasa ini menyimpulkan bahwa dalam waktu dekat akan terjadi gempa besar dan ternyata hal tersebut benar-benar terjadi. Pada Februari 1975 terjadi gempa di Haicheng.
Pada awalnya sebuah rangkaian, lalu terjadi sebagian gempa kecil, lalu kemudian dilaporkan bahwa tampak ribuan hewan yang berperilaku aneh. Ular-ular terus menerus tampak di bawah salju, sementara sapi, kuda, babi dan anjing tampak gelisah. Akhirnya pada 4 Februari 1975 terjadi gempa dengan kekuatan 7.3 skala richter di kota Haicheng yang berhubungan dengan propinsi Liaoning di daerah timur laut Cina. Dikarenakan pengamatan yang amat luas pada hewan-hewan ini maka lebih sedikit korban yang timbul karena telah dilakukan peringatan terlebih dahulu. Hanya beberapa saat sebelumnya 1 juta penduduk Haicheng diungsikan berdasarkan perintah dari pihak berwenang. Maka hanya sedikit penduduk yang luka dan sekitar seribu penduduk meninggal dunia. Jika sebelumnya tidak ada tindakan pengungsian, diperkirakan jumlah korban jiwa dan luka dapat melewati 150.000 orang. Mungkin kita berpikir bahwa gempa Haicheng adalah satu-satunya gempa besar di sepanjang sejarah yang tak memakan banyak korban. Dikatakan bahwa seorang ahli Geofisika Nasa bernama Friedmann Freund menemukan bahwa sebelum gempa terjadi, batu-batuan pada permukaan tektonik benua yang terhimpit oleh sebuah tekanan besar akan mengeluarkan potongan-potongan bermuatan elektrik ke sekitarnya. Potongan-potongan yang sampai ke permukaan bumi ini akan menyebabkan terjadinya molekul-molekul baru ketika bereaksi saat bertemu dengan udara atau air, misalnya jika bercampur dengan air akan menghasilkan zat hidrogen peroksida. Perubahan kimia ini, akan mempengaruhi keadaan organik air danau sehingga dianggap dapat meracuni hewan-hewan yang hidup di air.
Meskipun para pengamat pendukung telah melihat adanya gerakan anormal terutama pada ular air dan katak, tetapi keadaan ini belum bisa dibuktikan. Akan tetapi ada banyak rekaman yang menunjukkan bahwa katak dan ular bergerak dengan sangat aktif beberapa waktu sebelum gempa terjadi. Ular dapat mendeteksi getaran dan radiasi inframerah, mungkin indra perasanya ini membantu mereka mendeteksi gelombang kejut lemah atau perubahan yang muncul pada medan elektromagnetik di daerah itu sebelum gempa kuat terjadi. Ahli Fisika Friedemann T. Freund pada tahun 1993 menunjukkan bahwa batu yang berada di bawah tekanan akan memancarkan radiasi inframerah. Kondisi anormal inframerah tercatat oleh satelit NASA Terra sebelum gempa berkekuatan 7.9 skala richter terjadi pada 21 Januari 2001 di Bhuj, India. Ular yang berburu pada malam hari dan memiliki sensor seperti kamera termal untuk menangkap mangsa berdasarkan suhu tubuhnya diperkirakan telah melihat inframerah tekanan radiasi sebelum gempa terjadi. Organ sensor termal inframerah yang seperti kamera ini terletak di dalam cekungan antara hidung dan mata ular tersebut.
Dulu karena ular tidak bereaksi dengan suara keras, maka banyak yang mengira ular adalah hewan yang tak bisa mendengar. Apalagi ular tidak memiliki telinga eksternal dan hanya memiliki tulang tunggal (Columella Auri) di telinga tengahnya sehinga banyak yang mengira mereka tidak bisa mengumpulkan suara dari udara. Namun, karena mereka memiliki telinga bagian dalam, maka ia harus mengevaluasi getaran yang datang dengan cara lain. Pada akhirnya sebuah studi yang dilakukan di Princeton menunjukkan bahwa ternyata ular memiliki kemampuan mendengar sangat tajam. Pengukuran dengan alat voltmeter yang dihubungkan pada saraf menunjukkan bahwa getaran dari udara mencapai telinga dalam melalui tulang rahang dan memberikan rangsangan pada otak mereka. Rupanya, kemampuan pendengaran ular disesuaikan dengan suara dan getaran yang dibuat oleh gerakan hewan yang lebih besar.
Barulah setelah penelitian semakin berkembang, diketahui bahwa mereka mendeteksi suara melalui tekanan suara atau suara yang disebabkan oleh vibrasi mekanik. Pada percobaan suara dilakukan pengukuran respon listrik dari saraf kepala dan batang otak, diketahui bahwa ular dapat mendengar suara yang datang dengan frekuensi sangat tinggi. Tampak juga bahwa mereka dapat merespon suara 10.000 kali lebih ringan dari pada suara yang biasa didengar manusia. Tapi bagaimana sebenarnya getaran suara itu dikirimkan ke telinga bagian dalam ular? Tim peneliti mencoba mencari tahu apakah suara frekuensi rendah yang dihasilkan ketika sebuah bahan padat diangkut ditransmisikan dari tanah menuju tubuh ular tersebut.
Ketika studi lebih lanjut dilakukan, maka menjadi jelas terlihat bahwa getaran tengkorak kepala sama dengan intensitas minimum getaran mekanik yang dirasakan hewan, dan bahwa ular merespons getaran yang datang langsung dari udara ke kerangka kepalanya dan bukan bereaksi terhadap tekanan suara. Ular tidak mendengar suara-suara datang langsung dari udara. Tapi mereka merasakan suara itu dengan cara yang asing bagi kita. Ular tak hanya merasakan apa yang kita sebut sebagai suara, bahkan seluruh tubuhnya bertindak sebagai organ penerima getaran, dan otak mereka dapat memahami getaran ini sebagai suara. Kemungkinan tulang rusuk dan tulang belakang yang melekat pada manik-manik keratin dan melakukan kontak langsung dengan tanah berperan pula pada sistem komunikasi ini.
Seandainya penelitian-penelitian seperti ini dilanjutkan, kita akan dapat melihat berbagai hikmah menakjubkan dan karya seni luar biasa, pada hewan-hewan lainnya pula. Serangga yang kita anggap makhluk hidup sederhana sesungguhnya merupakan perwujudan dari penciptaan struktur luar biasa dengan seribu satu hikmah dari Allah Jalla Jalâlahu, dan mungkin bisa menjadi sebab terbukanya dunia tafakur kita menjadi lebih luas lagi.
Penulis adalah seorang profesor di bidang biologi dan aktif menulis beberapa buku tentang zoologi dan metode taksonomi
Catatan :
- Hal ini dapat dilihat pada tafsir Surah Lukman ayat 34.







Discussion about this post