• Privacy & Policy
  • Kontak
  • Tentang Kami
    • Profil
    • Redaksi dan Manajemen
    • Dewan Penasihat
  • Mata Air di Dunia
    • Arabic
    • Deutsch
    • English
    • Spanish
    • Turkish
  • FAQ
  • Kirim Artikel
  • Karir
Thursday, April 16, 2026
  • Login
Majalah Mata Air
Advertisement
  • Home
  • Rubrik
    • Sains
    • Budaya
    • Spiritualitas
  • Penulis
    • Amany Lubis. Prof. Dr.
    • Astri Katrini Alafta. S.S. M.Ed.
    • Gumilar Rusliwa Somantri. Prof. Dr.
    • Ilza Mayuni. Prof Dr.
    • Irfan Yilmaz. Prof. Dr.
    • Khoirul Anwar. Dr. Eng.
    • Muhammad Luthfi Zuhdi
    • Nabilah Lubis. Prof. Dr.
    • Qoriah A. Siregar. Dr.
    • Semiarto Aji Purwanto. Prof. Dr.
    • Riri Fitri Sari. Prof. Dr. Ir.
    • Tegar Rezavie Ramadhan. S.K.M. M.Pd.
  • Event
  • Tetes Mata Air
  • Arsip
  • Berlangganan
  • Produk Kami
    • Buku Digital
    • Majalah Digital
    • Mata Air dalam Genggaman
  • Semua Membacanya 2025
    • Pendaftaran Semua Membacanya 2025
    • Galeri Semua Membacanya
      • Galeri SM25
      • Galeri SM24
      • Galeri SM23
No Result
View All Result
  • Home
  • Rubrik
    • Sains
    • Budaya
    • Spiritualitas
  • Penulis
    • Amany Lubis. Prof. Dr.
    • Astri Katrini Alafta. S.S. M.Ed.
    • Gumilar Rusliwa Somantri. Prof. Dr.
    • Ilza Mayuni. Prof Dr.
    • Irfan Yilmaz. Prof. Dr.
    • Khoirul Anwar. Dr. Eng.
    • Muhammad Luthfi Zuhdi
    • Nabilah Lubis. Prof. Dr.
    • Qoriah A. Siregar. Dr.
    • Semiarto Aji Purwanto. Prof. Dr.
    • Riri Fitri Sari. Prof. Dr. Ir.
    • Tegar Rezavie Ramadhan. S.K.M. M.Pd.
  • Event
  • Tetes Mata Air
  • Arsip
  • Berlangganan
  • Produk Kami
    • Buku Digital
    • Majalah Digital
    • Mata Air dalam Genggaman
  • Semua Membacanya 2025
    • Pendaftaran Semua Membacanya 2025
    • Galeri Semua Membacanya
      • Galeri SM25
      • Galeri SM24
      • Galeri SM23
No Result
View All Result
Majalah Mata Air
No Result
View All Result
Home Budaya Keluarga

Membangun Istana Pengetahuan

Matt Alley

by Matt Alley
6 years ago
in Keluarga
Reading Time: 5 mins read
Share on WhatsappShare on FacebookScan and read on your phone

Kehidupan manusia diawali dengan energi, antusiasme, dan motivasi yang besar. Tak lama setelah bayi memasuki kehidupan dunia, maka ia pun akan mulai beraksi. la kini berada di dalam dunia baru, yang benar-benar berbeda dari rumah lama yang ditempatinya selama sembilan bulan sebelumnya. Bayi akan mulai mengeksplorasi dan menjelajahi sekelilingnya. Bahkan penemuan tentang anggota badan terdekatnya, yakni tangan dan kakinya sekalipun adalah sesuatu yang didapatinya setelah sebuah periode eksplorasi dilakukan. la akan segera sadar bahwa dirinya dapat melakukan banyak hal yang tak dapat dilakukannya saat masih berada dalam kandungan sang ibu. Beginilah petualangan pembelajaran sepanjang hayat diawali. 

Bayangkanlah jumlah volume pembelajaran yang harus terjadi ketika perjalanan dari sebuah ruang yang gelap nan sempit dengan luas hanya beberapa inci saja menuju dunia penuh kecanggihan, yang bahkan berada jauh di atas pemahaman para manusia cendekia paling cerdas dan berpendidikan sekalipun. Akan tetapi untungnya, entah bagaimana caranya bayi diberikan modal motivasi yang sangat besar sehingga memungkinkannya untuk memulai perjalanan dalam petualangan ini.

Masalah terbesar pembelajaran terjadi selama beberapa hari atau pada masa bulan-bulan pertamanya, dan itu pun terjadi hampir tanpa bantuan dari orang-orang dewasa yang ada di sekitar bayi itu. Rangkaian pembelajaran awal ini mungkin tidak dapat disamakan dengan hal lain apapun dalam periode kehidupan setelahnya.

Motivasi dan rasa keingintahuan yang dimiliki bayi membuat pembelajaran cepat menjadi mungkin terjadi, tetapi jangan lupa, ia juga dibekali dengan anugerah luar biasa berupa komputer mengagumkan dengan prosesor dan memori berkapasitas besar yang disebut sebagai otak manusia. Semua hal ini merupakan sumber utama bagi anak ketika telah berada pada fase saat orang-orang dewasa mulai ‘ikut campur’ (atau perlu kita katakan ‘mengganggu’?) pada proses pembelajarannya.

RelatedArticles

Hikmah di Balik Kasih Sayang pada Hewan

Terdapat dua kemungkinan utama, bagaimana orangtua, pengasuh, guru, dan orang dewasa lainnya dapat memengaruhi proses pembelajaran anak:

  • Pertama adalah dengan mengoptimalkan penggunaan dua modal yang telah disebutkan di atas, serta membentuk jalan bagi pembelajaran berkelanjutan dan bermanfaat yang telah berjalan sukses sejak lahir.
  • Kedua adalah dengan mencampuri perkembangan alami ini melalui upaya-upaya tanpa tujuan, dan terkadang dengan paksaan, untuk menjejali anak dengan berbagai informasi. Para orangtua atau pengasuh mungkin tidak menyadari dampak luar biasa dari pendekatan yang mereka gunakan ini, terutama di saat perjalanan petualangan anak baru saja dimulai. Selain itu, pendekatan yang mereka pilih ini akan memengaruhi kebiasaan pikiran seorang anak secara signifikan.

Mari kita ilustrasikan hal ini dengan sebuah analogi. Jika kita berpikir bahwa setiap stimulus atau rangsangan yang didapatkan oleh anak adalah ibarat kepingan lego, maka tugas yang ada di hadapannya adalah menyambungkan kepingan-kepingan tersebut dalam sebuah cara yang bermakna. Tujuannya bagi seorang anak adalah untuk terus membangun sebuah “Istana Pengetahuan” mengagumkan yang terdiri dari kepingan-kepingan lego tersebut. Secara alami, tentu hanya formasi lego yang mengarah pada tujuan bermakna, masuk akal, dan menginspirasilah yang akan bermanfaat dan bernilai kognitif.

Dengan mengikuti analogi yang sama, maka dapat dikatakan bahwa terdapat dua hal utama yang dapat orang dewasa lakukan secara bermakna bagi perkembangan anak dalam membangun istana pengetahuannya tersebut:

  1. Pertama adalah dengan mengenalkan anak pada aneka ragam kepingan-kepingan lego dalam jumlah besar, sehingga istana yang dibangunnya tidak akan menjadi konstruksi sempit, membosankan, dan tidak menginspirasi. Ini semua dapat dicapai dengan cara menyediakan bagi anak contoh paling komprehensif dari dunia yang akan mereka jalani dan alami. Sebuah contoh yang haruslah sebisa mungkin mencakup objek-objek, fenomena, pemikiran-pemikiran, dan perasaan-perasaan yang merefleksikan gambar utuh dunia kita.
  2. Kedua adalah dengan menjadi teladan dan membantu anak menghubungkan kepingan-kepingan lego itu, sehingga anak dapat belajar untuk terus membuat koneksi antara stimulasi atau rangsangan yang dilewatinya. Dengan melakukan hal ini, maka orang dewasa akan membantu anak menyambungkan kepingan-kepingan lego itu dengan penuh makna, yang terus-menerus berkembang dan senantiasa berupaya untuk mempercantik istana pengetahuannya. Jika tidak, maka rangsangan itu akan ditinggalkannya tanpa diproses dan tanpa dihubungkan, sehingga akan berakhir menjadi tanpa makna, sekadar mengacaukan pikiran seorang anak.

Lebih buruk lagi adalah jika anak akan menjadikan kebiasaan menimbun rangsangan tak bermakna sebagai kebiasaan buruk bagi pikirannya. Sebuah ketidakteraturan pikiran pada gilirannya akan membahayakan perkembangan pikiran holistik dan koherennya secara signifikan, sehingga akan merusak daya nalar dan kemampuan anak dalam memecahkan masalah. Diskusi lebih lanjut terkait hasil yang tak diinginkan ini jauh berada di luar cakupan pembahasan artikel ini.

Orang dewasa dapat memfasilitasi pembelajaran anak yang sesungguhnya dengan sebuah kombinasi berhasil dari dua fungsi yang disebutkan di atas. Berusaha untuk menjaga keingintahuan anak tetap berada pada tingkat yang tinggi tetapi tidak menyediakan kepingan-kepingan lego dalam jumlah memadai sama sekali tidaklah membantu. Begitu pula membanjiri mereka dengan banyak kepingan lego tetapi tidak peduli apakah mereka sudah terhubungkan dengan benar atau tidak oleh anak, juga sama tidak berartinya. Pada saat membimbing anak menghubungkan kepingan-kepingan lego tersebut, orangtua, pengasuh, guru, dan orang dewasa harus senantiasa menjaga motivasi dan rasa keingintahuan anak, tentunya dengan cara yang penuh makna. Hal ini hanya akan berhasil dengan cara membiarkan mereka menikmati setiap pembelajaran dengan gaya mereka sendiri. Dengan kata lain, orang dewasa tidak seharusnya mencoba untuk mendirikan istana pengetahuan bagi anaknya. Begitu pun, tidak seharusnya pula orangtua meninggalkan anak sendiri hanya bersama kepingan-kepingan legonya. Sebaiknya mereka bertindak sebagai contoh suri teladan bagi pembelajaran dan membiarkan anak untuk menjadi arsitek bagi istana pengetahuannya sendiri.

Prinsip-prinsip bimbingan ini, meski terlihat sederhana, namun memiliki implikasi yang sangat besar bagi perkembangan anak. Hal-hal seperti bagaimana sebuah rumah diatur, mainan apa yang dipilihkan orangtua untuk anak dan aktivitas mendesain ruang kelas memiliki dampak yang amat signifikan tentang bagaimana seorang anak akan belajar. Di sini hanya akan diberikan dua contoh yang berkaitan dengan hal ini secara ringkas. Kamar anak atau bahkan keseluruhan rumah, haruslah dapat menjadi surga bagi penjelajahan atau eksplorasi yang dipenuhi dengan banyak ragam mainan atau objek yang menjadi replika mini terhadap apa yang terjadi dan yang ada di dunia ini. Khususnya di awal masa eksplorasinya, anak harus disediakan sebuah menu lengkap dari berbagai bahan materi, aktivitas-aktivitas, permainan, hobi, dll., sehingga ia bisa mendapat kesempatan untuk membayangkan bagian-bagian berbeda dari istana pengetahuan masa depannya sebanyak mungkin.

Untuk menyajikan materi yang akan dipelajari sembari tetap menjaga rasa keingintahuan anak, orang-orang dewasa harus mengizinkan mereka merasakan sensasi lezatnya belajar. Dalam hal ini, pengaturan ideal bagi pembelajaran adalah dengan cara menyajikan sebagian besar materi terkait topik pembahasan tersebut sembari tetap memberikan ruang bagi anak untuk melakukan penyelidikan atau investigasinya sendiri. Demikian halnya, anak-anak juga harus dibimbing untuk melakukan refleksi diri setelah mereka memproses sebuah materi bahan, sehingga memungkinkannya untuk meraih kesimpulan dan penafsiran sendiri. Ini merupakan cara yang efektif bagi anak agar bisa menghubungkan kepingan-kepingan lego tersebut, mempercantik, serta memperluas istana pengetahuannya.

Perlu diingat pula bahwa anak datang ke dunia ini tanpa memiliki preferensi atau kebiasaan kognitif sebelumnya. Oleh karenanya, penerapan sukses yang berkelanjutan dari pendekatan yang disajikan di atas akan membentuk dan mempertahankan cara berpikir serta pembelajaran yang baik dalam pikiran anak. Setiap upaya yang dikerahkan untuk mempergunakan strategi ini akan menghadirkan sebuah pikiran cemerlang, yang akan selalu siap untuk meniti setiap pembelajaran sesungguhnya.

Tags: KeluargaPendidikan Anakpengetahuan anakvolume 7 Nomor 28
Previous Post

Obat Itu Bernama Tawa

Next Post

Syukur

Matt Alley

Matt Alley

Related Posts

Hikmah di Balik Kasih Sayang pada Hewan
Keluarga

Hikmah di Balik Kasih Sayang pada Hewan

6 years ago
Load More

Discussion about this post

POPULAR POST

  • Taubah, Inabah, dan Aubah

    Taubah, Inabah, dan Aubah

    1385 shares
    Share 554 Tweet 346
  • Ibnu Sina, Seorang Ilmuwan Teladan

    1067 shares
    Share 427 Tweet 267
  • Shuffah, Pusat Bagi Para Jenius

    1005 shares
    Share 402 Tweet 251
  • Hewan-hewan yang Menantang Suhu Dingin

    993 shares
    Share 398 Tweet 248
  • Tanya Jawab Edisi 37 (Demi Merasakan Manisnya Iman)

    900 shares
    Share 360 Tweet 225

Majalah Mata Air menyuguhkan bahan bacaan untuk mengembangkan cakrawala pemikiran.

Ikuti Kami

Categories

Bulan Terbit

Kesehatan – Ilmu Pengetahuan – Teknologi (Edisi 48)

Kesehatan – Ilmu Pengetahuan – Teknologi (Edisi 48)

March 3, 2026
Diskusi Hangat antara Kebenaran yang Diturunkan dan Pengetahuan yang Ditemukan

Diskusi Hangat antara Kebenaran yang Diturunkan dan Pengetahuan yang Ditemukan

March 3, 2026
Sahabat Sejati

Sahabat Sejati

March 3, 2026
  • Tentang
  • Ketentuan
  • Kirim Tulisan

© 2021 Majalah Mata Air - Membaca Kehidupan.

No Result
View All Result
  • Home
  • Rubrik
    • Sains
    • Budaya
    • Spiritualitas
  • Penulis
    • Amany Lubis. Prof. Dr.
    • Astri Katrini Alafta. S.S. M.Ed.
    • Gumilar Rusliwa Somantri. Prof. Dr.
    • Ilza Mayuni. Prof Dr.
    • Irfan Yilmaz. Prof. Dr.
    • Khoirul Anwar. Dr. Eng.
    • Muhammad Luthfi Zuhdi
    • Nabilah Lubis. Prof. Dr.
    • Qoriah A. Siregar. Dr.
    • Semiarto Aji Purwanto. Prof. Dr.
    • Riri Fitri Sari. Prof. Dr. Ir.
    • Tegar Rezavie Ramadhan. S.K.M. M.Pd.
  • Event
  • Tetes Mata Air
  • Arsip
  • Berlangganan
  • Produk Kami
    • Buku Digital
    • Majalah Digital
    • Mata Air dalam Genggaman
  • Semua Membacanya 2025
    • Pendaftaran Semua Membacanya 2025
    • Galeri Semua Membacanya
      • Galeri SM25
      • Galeri SM24
      • Galeri SM23

© 2021 Majalah Mata Air - Membaca Kehidupan.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Hallo,
Ada yang bisa kami bantu?
Tanya Admin