Mahabah bermakna cinta, jalinan kalbu, atau memiliki ketertarikan pada sesuatu atau seseorang, dari segi penguasaan atas perasaan seseorang secara keseluruhan, mahabah berarti al-‘isyq atau cinta. Adapun kobar gelora karena menahan rindu pada perjumpaan untuk segera sampai ke dimensi yang lebih mendalam disebut al-syauq wa al-isytiyaq atau kerinduan. Mahabah juga dapat didefinisikan sebagai: pertautan kalbu seseorang pada ‘Kekasih Sejati’, kerinduan mendalam tak terbendung yang dirasakan terhadap-Nya, bersepakat dalam berbagai hal -baik yang tersembunyi maupun yang terbuka-, berupaya untuk selalu sesuai dengan kehendak Sang Kekasih dalam segala hal, dan terbawa suasana sampai tidak sadarkan diri hingga tiba waktu perjumpaan kelak. Kita dapat meringkas semua ini dengan kalimat: menghadap ke haribaan Sang Ilahi seraya mengucap “Ya Haq!” serta selamat dari berbagai ketergelinciran dan hubungan yang fana.
Mahabah sejati akan terealisasi dengan manusia yang menghadap kepada Sang Kekasih dengan seluruh keakuannya untuk bersama dengan-Nya, merasakan keberadaan-Nya, dan melepaskan diri dari berbagai keinginan-keinginan lainnya. Kalbu seorang kesatria yang mencapai manifestasi semacam ini berdetak perihal Kekasihnya di setiap waktu dengan refleksi yang berbeda-beda… renungannya berkelana pada iklim magis-Nya di setiap saat… perasaannya menerima pesan yang berbeda-beda dari-Nya di setiap detik… kehendaknya mengepakkan sayap dengan pesan-pesan ini… dan kalbunya senantiasa mengembara di tempat-tempat pesiar perjumpaan…







Discussion about this post