Antibiotik merupakan salah satu ilham Ilahi terbesar dalam sejarah ilmu kedokteran. Demikian besar manfaatnya, hingga entah berapa juta jiwa yang berhasil diselamatkan lewat antimikroba ini. Sebelumnya, penyakit-penyakit seperti pneumonia, tuberkulosis, sifilis, dan infeksi luka adalah penyakit yang sangat mematikan. Terdapat banyak kematian yang terjadi akibat infeksi atau luka sederhana. Pasca ditemukannya antibiotik dan digunakan secara luas, di Amerika Serikat misalnya, penyebab kematian tertinggi yang awalnya adalah penyakit menular bergeser menjadi penyakit tidak menular seperti jantung, stroke, dan kanker.1
Sebenarnya, antibiotik bukan baru-baru ini saja digunakan. Jejak tetrasiklin[1] telah ditemukan dalam sisa-sisa kerangka orang Nubia Sudan kuno yang berasal dari tahun 550-350 SM. Penemuan ini hanya mungkin terjadi jika ada konsumsi makanan mengandung tetrasiklin, yang bisa jadi merupakan bagian dari tradisi kuliner masyarakat kuno tersebut. Meski demikian, konsep antibiotik dikenal secara luas berkat riset yang dilakukan oleh Paul Ehrlich (1854-1915). Pada tahun 1909, ia mengembangkan salvarsan, sebuah obat kimia sintetis yang digunakan untuk mengobati infeksi bakteri Treponema pallidum penyebab sifilis. Konsep yang dikembangkan adalah “magic bullet”, yakni obat harus mampu menyasar patogen tanpa merusak sel tubuh pasien.2
Selanjutnya, penemuan penisilin oleh Alexander Fleming pada tahun 1928 memulai “Golden Age” pengembangan antibiotik, yang pada 1950-an mencapai puncaknya. Penisilin merupakan antibiotik organik nonsintetik pertama yang mengubah wajah dunia medis. Berawal dengan Flemin yang secara tidak sengaja menemukan bahwa jamur Penicillium notatum dapat membunuh bakteri. Zat itu diberi nama “penisilin” yang meski menjanjikan, Flemin belum mampu mengembangkannya menjadi obat. Barulah pada awal 1940-an, tim ilmuwan Oxford yang dipimpin oleh Howard Florey dan Ernst Chain berhasil memurnikan dan memproduksinya dalam skala besar.
Penisilin digunakan selama Perang Dunia II dan berhasil menyelamatkan ribuan tentara dari infeksi luka yang dahulu terbilang fatal. Pada 1944, produksi penisilin melonjak dari hanya beberapa gram menjadi lebih dari 600 miliar unit per bulan. Setelah perang, penyebarannya ke masyarakat sipil ikut menurunkan angka kematian secara drastis akibat infeksi seperti pneumonia, sifilis, dan demam rematik. Di Amerika Serikat, harapan hidup melonjak dari 47 tahun (sebelum antibiotik) menjadi lebih dari 70 tahun hanya dalam beberapa dekade.3 Kehadiran penisilin pada peradaban manusia benar-benar seperti superhero yang bisa mengalahkan semua kejahatan (penyakit). Hampir semua antibiotik ditemukan pada rentang waktu 1945-1978, yang 55% di antaranya berasal dari bakteri genus Streptomyces. Sayangnya, setelah tahun 1970-an, penemuan antibiotik baru mulai mengalami kemandekan. Di sisi lain, resistensi antibiotik juga mulai muncul dan kian meningkat. Perlu diketahui bahwa kondisi tersebut merupakan ancaman bagi masa depan kesehatan umat manusia.4
Resistensi Bakteri: Kriptonit[2] bagi “Kekuatan Super” Antibiotik?
Resistensi antibiotik adalah kemampuan bawaan mikroorganisme untuk tumbuh pada konsentrasi antibiotik yang tinggi. Resistensi antibiotik sering menyebabkan keterlambatan dalam pemberian pengobatan antibiotik yang tepat sehingga meningkatkan tingkat penyakit dan angka kematian. Sumber utama determinan resistensi antibiotik adalah mikroorganisme itu sendiri. Resistensi adalah cara bakteri bertahan hidup dan beradaptasi dalam lingkungan yang kompetitif. Mereka berbagi informasi genetik satu sama lain, bahkan kepada bakteri yang bukan berasal dari “anak keturunannya”. Proses ini disebut “horizontal gene transfer”. Kondisi ini memungkinkan mereka menjadi kebal terhadap berbagai jenis antibiotik, bahkan yang belum pernah diterapkan pada mereka sekalipun. Ketika kita mengonsumsi antibiotik, yang terkena bukan hanya bakteri jahat, tetapi juga bakteri baik dalam tubuh. Beberapa dari mereka bertahan dan menjadi lebih kuat. Bakteri resistan ini tidak hanya berkembang biak di tubuh kita, tetapi juga menyebar melalui limbah ke lingkungan sekitar melalui air, tanah, aktivitas hewan, dan makanan.5
Resistensi ini disebabkan oleh beberapa alasan: menggunakan antibiotik secara berlebihan atau tanpa pengawasan medis, tidak menghabiskan antibiotik sesuai resep dokter, menggunakan antibiotik pada hewan ternak secara berlebihan, kesalahan resep dan dosis oleh tenaga kesehatan, dispensasi pembelian antibiotik tanpa resep, kurangnya edukasi dan kesadaran bahkan di kalangan profesional kesehatan, serta kurangnya kebersihan dan sanitasi yang memadai.6 Oleh karenanya, jika tidak bijak dalam menggunakan antibiotik, bisa saja kita kembali ke masa ketika luka kecil menjadi begitu mematikan. Dengan kesadaran bersama, kita bisa menjaga agar antibiotik tetap menjadi penyelamat, bukan malah menjadi penjahat penghasil petaka.
Pada tahun 2016, Jim O’Neill memperkirakan bahwa setiap tahunnya akan terdapat 700.000 orang di seluruh dunia yang meninggal karena infeksi yang disebabkan oleh bakteri yang resistan terhadap antibiotik. Jika tidak ditemukan solusi untuk memperlambat kemunculannya, diperkirakan pada tahun 2050 angka ini akan meningkat menjadi 10 juta jiwa per tahun dengan biaya ekonomi global mencapai 100 triliun USD. 7
Panduan Bijak Menggunakan Antibiotik bagi Masyarakat Nonmedis
Antibiotik akan menjadi obat yang sangat berharga selama digunakan dengan tepat. Banyak orang menganggap antibiotik sebagai “obat segala penyakit”, padahal ia hanya bekerja untuk infeksi bakteri, bukan virus seperti flu. Penggunaan antibiotik yang tidak sesuai indikasi justru akan memperbesar risiko resistensi bakteri sehingga infeksi biasa akan menjadi sulit disembuhkan. Efektivitas antibiotik sangat ditentukan oleh beberapa faktor: dosis, jenis obat, cara pemberian, dan lama pengobatan. Menghentikan antibiotik sebelum waktunya atau menggunakannya tanpa resep dokter dapat menyebabkan kegagalan pengobatan dan perkembangan superbug[3[8 Masyarakat awam seyogianya hanya menggunakan antibiotik atas resep dan pengawasan dokter, serta tidak menyimpan sisa antibiotik untuk digunakan di kemudian hari. Selain itu, penting untuk memahami bahwa antibiotik tidaklah selalu diperlukan, bahkan pascaoperasi atau demam. Ia hanya digunakan saat benar-benar dibutuhkan dan dengan cara yang tepat. Ini bukan hanya demi kesehatan pribadi, tetapi juga demi perlindungan masyarakat luas dari ancaman resistensi global.
Toksisitas Antibiotik
Selain resistensi antibiotik, ada juga temuan tentang toksisitas antibiotik, yakni efek beracun yang dapat ditimbulkan antibiotik terhadap tubuh manusia atau hewan. Meski antibiotik digunakan untuk membunuh atau menghambat pertumbuhan bakteri penyebab infeksi, beberapa di antaranya justru dapat menyebabkan efek samping merugikan jika digunakan tidak tepat atau dalam jangka waktu lama. Antibiotik seharusnya memiliki efek selektif terhadap patogen tanpa bersifat toksik bagi inangnya. Ia seharusnya menjadi “peluru ajaib” sebagaimana diungkapkan oleh Paul Ehrlich, penemu kemoterapi. Sayangnya, konsep ini tidak berlaku jika tidak ada alternatif nontoksik yang tersedia. Prinsip medis “Primum non nocere” (pertama, jangan membahayakan pasien) barangkali membuat dokter enggan menggunakan antibiotik yang dianggap berisiko tinggi. Namun, dalam kasus infeksi berat yang mengancam jiwa, pendekatan yang lebih tepat seharusnya adalah “Primum curare, deinde non nocere” (pertama obati, lalu hindari bahaya).9
Infeksi Nosokomial: Gerbang Superbug dari dalam Rumah Sakit
Infeksi nosokomial adalah infeksi yang muncul saat seseorang dirawat di rumah sakit, bukan infeksi yang dibawa dari luar. Infeksi ini menjadi sangat berbahaya karena sering disebabkan oleh bakteri yang sudah kebal terhadap banyak antibiotik (superbug). Seiring berjalannya waktu, terdapat semakin banyak bakteri di rumah sakit yang menunjukkan resistensi tinggi, sehingga pilihan obat yang efektif menjadi sangat terbatas dan mahal, bahkan terkadang beracun. Resistensi ini berkembang karena bakteri mengalami mutasi atau saling berbagi gen perusak antibiotik dalam lingkungan rumah sakit yang padat dan penuh tekanan antibiotik.10 Oleh karena itu, penting adanya pengawasan infeksi dan penggunaan antibiotik yang bijak.
Penanganan infeksi nosokomial mencakup beberapa strategi seperti: peningkatan kebersihan tangan, sterilisasi alat medis, pengawasan ketat terhadap penggunaan antibiotik, dan pengembangan program pengendalian infeksi berbasis surveilans[4]. Pelatihan tenaga kesehatan dan penerapan panduan dari lembaga pengawas kesehatan juga tidak kalah penting guna mengurangi penyebaran infeksi nosokomial dan mengendalikan resistensi bakteri.11
Refleksi
Keberhasilan antibiotik menjadi sebuah “obat ajaib” yang menyelamatkan banyak nyawa sayangnya membuat banyak orang abai pada efek sampingnya. Meski antibiotik telah menyelamatkan jutaan nyawa, sayangnya kini kita tengah menghadapi krisis resistensi yang dapat membuat infeksi mikroorganisme kembali mematikan. Beragam program yang dikembangkan untuk mengontrol resistensi antibiotik selanjutnya menelurkan Prinsip 4D: Right Drug (penggunaan antibiotik yang tepat), Right Dose (penggunaan dosis yang tepat), Right Delivery Route (cara pemberian antibiotik yang tepat), dan Right Duration (lama pengobatan yang tepat).
Pengaplikasian dari Prinsip 4D ini adalah: jangan pakai antibiotik untuk flu biasa, jangan asal minum obat tanpa resep, dan pastikan selalu mengikuti anjuran dokter untuk menghabiskan antibiotik sampai tuntas. Dalam sebuah studi di India, hanya 64,5% resep antibiotik yang benar-benar mengikuti empat prinsip ini.12 Bayangkan dampaknya jika negara dan dunia kita bisa meningkatkan angka kepatuhan pada pelaksanaan Prinsip 4D ini!
Menanggapi krisis ini, pada Mei 2015, World Health Assembly mengadopsi aktivitas global terkait resistensi anti mikroba yang merumuskan lima tujuan utama13:
Meningkatkan kesadaran dan pemahaman tentang resistensi antimikroba melalui komunikasi, pendidikan, dan pelatihan yang efektif;
Memperkuat dasar pengetahuan dan bukti melalui surveilans dan penelitian;
Mengurangi kasus infeksi melalui sanitasi yang efektif, kebersihan, dan langkah-langkah pencegahan infeksi;
Mengoptimalkan penggunaan obat anti mikroba dalam kesehatan manusia dan hewan;
Mengembangkan argumen ekonomi untuk investasi yang berkelanjutan dengan mempertimbangkan kebutuhan semua negara, serta meningkatkan investasi dalam obat baru, alat diagnostik, vaksin, dan intervensi lainnya.
Menanggapi adanya kemandekan penelitian terhadap pengembangan antibiotik baru, sayangnya perusahaan farmasi justru cenderung berinvestasi pada pengembangan obat-obatan kronis yang lebih menguntungkan. Fenomena tingginya biaya pengembangan obat antibiotik pada akhirnya mengundang para pemangku kebijakan agar mau memberi perhatian khusus seperti insentif dan subsidi. Sembari menunggu ditemukannya antibiotik baru, antibiotik lama masih bisa digunakan secara efektif, terutama melalui kombinasi terapi antibiotik yang telah menunjukkan efektivitas melawan infeksi bakteri resistan. Berikutnya, pengelolaan antibiotik harus berbasis model nirlaba dengan fasilitas regulasi yang dihormati secara internasional demi menjamin aksesibilitas dan keberlanjutan terapi.14
Meski terdapat risiko toksisitas, pemanfaatan antibiotik tetap lebih banyak membawa manfaat dalam pengobatan infeksi bakteri. Prinsip “Primum curare, deinde non nocere” (pertama obati, lalu hindari bahaya) menunjukkan bahwa dalam situasi kritis, manfaat penggunaan antibiotik lebih besar daripada risikonya. Dengan pengawasan medis yang tepat, efek samping antibiotik dapat diminimalisasi dan tetap aman digunakan sesuai kebutuhan. Lebih dari itu, dunia mikroorganisme masih menyimpan segunung misteri yang menunggu untuk diungkap oleh umat manusia. Semakin kita gali rahasia kehidupan mereka, semakin kita sadari betapa banyak hal yang harus kita pelajari. Penelitian yang berkelanjutan menjadi bukti bahwa pengetahuan manusia masihlah sangat terbatas dibandingkan dengan ilmu Sang Pencipta. Kesadaran akan keterbatasan ilmu manusia seharusnya mendorong kita untuk lebih bijak dalam memanfaatkan anugerah antibiotik dan lebih bertanggung jawab dalam penggunaannya. Maha Agung Tuhan yang telah mengelola alam semesta ini dengan sedemikian seimbang dan bijaksana.
Keterangan:
- Tetracycline merupakan antibiotik spektrum luas, yaitu jenis antibiotik yang efektif membunuh berbagai jenis bakteri, baik bakteri gram positif maupun bakteri gram negatif, sehingga digunakan untuk mengobati berbagai penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Tetrasiklin tersedia dalam bentuk kapsul, tablet, salep, salep mata, tetes mata, dan suntik.
- Kata kriptonit berasal dari fiksi Superman yang merujuk pada mineral dari planet asalnya, Krypton. Sebuah zat yang melemahkan kekuatan super Superman, bahkan mematikan. Dalam artikel ini, resistensi bakteri merupakan kriptonit yang melemahkan kekuatan “super” antibiotik yang sempat menjadi superhero bagi peradaban manusia di masa PD II.
- Superbug adalah mikroorganisme (bakteri, virus, jamur, atau parasit) yang telah mengembangkan kekebalan terhadap obat-obatan yang seharusnya dapat membunuh atau menghambat pertumbuhannya. Istilah ini sering digunakan untuk menggambarkan bakteri yang resistan terhadap antibiotik, yang menyebabkan infeksi menjadi sulit atau bahkan tidak mungkin diobati dengan pengobatan standar.
- Surveilans adalah kegiatan pengamatan sistematis dan terus-menerus terhadap data dan informasi tentang kejadian penyakit atau masalah kesehatan, serta kondisi yang memengaruhinya, guna memperoleh dan memberikan informasi yang dibutuhkan dalam upaya pencegahan dan pengendalian penyakit, peningkatan kesehatan masyarakat.
Referensi:
- Adedeji WA. The Treasure Called Antibiotics. Ann Ib Postgrad Med. 2016 Dec;14(2):56-57.
- Aminov RI. 2010. ‘A brief history of the antibiotic era: lessons learned and challenges for the future.’ Front Microbiol.
- Lalchhandama, K. (2021). History of penicillin. WikiJournal of Medicine, 8(1), 1-16.
- Hutchings, M. I., Truman, A. W., & Wilkinson, B. (2019). Antibiotics: past, present and future. Current opinion in microbiology, 51, 72-80.
- Landecker, H. (2015). Antibiotic Resistance and the Biology of History. Body & Society, 22(4), 19-52.
- Lawani-Luwaji, E. (2024). The antibiotic era: A golden age and its challenges. British Journal of Multidisciplinary and Advanced Studies: Health and Medical Sciences, 5(2), 57–68.
- Podolsky, S.H. (2018). The Evolving Response to Antibiotic Resistance (1945–2018). Palgrave Commune 4, 124.
- Bandyk, D. F. (2002). Antibiotics—why so many and when should we use them? In Seminars in vascular surgery (Vol. 15, No. 4, pp. 268-274). WB Saunders.
- Rolain, J. M., Abat, C., Jimeno, M. T., Fournier, P. E., & Raoult, D. (2016). Do we need new antibiotics? Clinical Microbiology and Infection, 22(5), 408-415.
- Gerontini, M., Vazirgiannis, M., Vatopoulos, A. C., & Polemis, M. (2011, June). Predictions in antibiotics resistance and nosocomial infections monitoring. In 2011 24th International Symposium on Computer-Based Medical Systems (CBMS) (pp. 1-6). IEEE.
- Khan, H.A., Ahmad, A. and Mehboob, R. (2015) Nosocomial Infections and Their Control Strategies. Asian Pacific Journal of Tropical Biomedicine, 5, 509-514.
- Dixit, D., Ranka, R., & Panda, P. K. (2021). Compliance with the 4Ds of antimicrobial stewardship practice in a tertiary care centre. JAC-Antimicrobial Resistance, 3(3), dlab135.
- (2015). Global Action Plan on Antimicrobial Resistance. Geneva: WHO Library Cataloguing-in-Publication Data, hlm. vii.
- Rolain dkk. (2016) Do We Need Antibiotics? Clinical Microbiology and Infection, Vol.22, Issue 5. hal.408-415.







Discussion about this post