Seringkali kita berfikir, bahwa menganalogikan otak dengan komputer, akan dapat membuat kita lebih mudah memahami kapasitas dan kecepatan proses informasi yang berlangsung di dalam otak. Namun, seorang dokter ahli bedah otak kenamaan bernama M. Gazi Yaşargil tidak menyetujui pendapat ini dan berkata: ”Saat ini, secara angka otak sering disamakan dengan komputer. Namun pada kenyataannya, komputer bahkan tidak dapat menjadi potongan terkecil dari otak sekalipun. Dikatakan bahwa terdapat 500 juta saluran telepon di dunia ini. Dalam otak kita sendiri terdapat lebih dari 1 triliun saluran yang beroperasi, dan masih belum diketahui bagaimana cara kerja dari neuron-neuron tersebut.”
Saat ini, masih banyak hal yang belum diketahui tentang bagaimana cara otak bekerja. Dari semua ini, berapa persentase yang berkaitan dengan otak dan berapa darinya yang berkaitan dengan kondisi manusiawi lainnya yang belum terlihat dan belum terukur?
Komputer diprogram dengan tujuan untuk mempermudah kita dalam memecahkan permasalahan-permasalahan matematika dan nalar, menyimpan data, serta melakukan proses dengan cepat tanpa adanya kesalahan. Namun, komputer tidak memiliki perasaan, hati nurani, dan firasat. Oleh karena itu, jika pengguna atau pembuatnya melakukan kesalahan, maka komputer pun akan melakukan kesalahan yang sama.
Sebuah tulisan, bentuk, maupun gambar yang diinginkan dalam komputer akan dapat disimpan ke dalam memorinya dalam waktu singkat, lalu dengan mudah akan dapat dimunculkan saat diperlukan serta digunakan kembali tanpa kurang suatu apapun. Jika diinginkan, baik sebagian maupun sepenuhnya, data tersebut bisa saja dihapus dari memori. Dikarenakan komputer merupakan produk buatan manusia, maka kita tahu dengan prinsip dan aturan apa saja ia dapat melakukan proses-proses tersebut.
Secara garis besar, telah diketahui mengenai struktur neuron dalam otak, bagaimana sifatnya, dan juga tentang mekanisme aliran informasi di antaranya. Namun, informasi ini masih belum cukup untuk memahami otak sebagai satu kesatuan. Secara umum kita juga telah mengetahui bagaimana air seni yang memiliki komposisi tiga kali lipat dari darah dapat keluar dari ginjal, serta dengan mekanisme apa saja sebuah zat yang berlebihan atau yang tidak diharapkan akan dikeluarkan. Pemberian obat diuretik akan meningkatkan produksi air seni. Sementara penggunaan obat beta-bloker (penekan sistem simpatik) akan mengurangi kecepatan detak jantung, dan dengan aspirin atau heparin (pengurang kekentalan darah), pembekuan darah dapat diminimalisir. Namun hal yang seperti ini, sama sekali tidak dapat dilakukan pada otak. Misalnya, meski telah dilakukan berbagai macam eksperimen, teori, usaha, serta berbagai hipotesis, namun masih belum diketahui secara pasti bagaimana terjadinya proses penyimpanan dan pengingatan memori kembali di otak manusia.
Sebagai seorang manusia, jika kita dihadapkan pada permasalahan dengan saudara, pasangan hidup, atasan, atau konsumen, maka berapa jam, hari, atau bahkan minggu yang kita butuhkan untuk menghilangkan semua hal itu dari ingatan kita? Sementara pada komputer, untuk menghilangkan data yang tidak diinginkan, kita hanya perlu beberapa detik saja. Lantas apakah komputer menjadi sedih atau bahagia dengan keadaan ini?
Otak manusia memiliki keistimewaan yang tidak bisa disejajarkan dengan sistem komputer. Ketika melihat sekuntum bunga, maka warna, aroma, dan motif bunga yang penuh harmoni dan seni itu akan membawa jiwa manusia ke alam lain. Saat dihadapkan pada sebuah peristiwa menyedihkan, manusia tidak akan dapat menahan air matanya. Sebaliknya, ia bisa tertawa dikarenakan kejadian lain. Dari aspek ini, adalah sangat sulit untuk dapat memahami dan menguasai otak serta fungsi-fungsi jiwa yang menggunakannya seperti sebuah mesin.
Misalnya, seperti apakah rasanya menjadi tenang? Ada banyak orang yang meskipun memiliki kekayaan duniawi melimpah, namun mereka sama sekali tidak bisa hidup tenang. Jika hal ini adalah sesuatu yang dapat dibeli dengan uang, maka mereka akan mengorbankan semua hartanya untuk mendapatkan ketenangan itu. Namun sayang, tidak bisa. Jika otak manusia seperti komputer, maka hanya dengan satu klik saja, kita akan dapat mengosongkan memori kita, memformat, dan bahkan pada saat itu juga menjauhkannya dari segala hal yang dapat membuat kita sedih. Terlebih lagi, jika kita dapat mengunggah dan memasang perangkat lunak bagi kebahagiaan dan ketenangan, sehingga segala kesedihan pun akan segera berakhir dan sirna. Karena manusia tidak berhasil dalam hal ini dan tidak memahami tempat berlindung yang hakiki, maka mereka pun melarikan dirinya pada obat-obatan terlarang. Sayangnya tidak ada obat yang berkhasiat untuk menambah kecerdasan dan daya ingat manusia. Hanya saja, kita dapat memberikan beberapa nasehat umum yang berkaitan dengan konsumsi makanan dan cara untuk mengatur beberapa perilaku.
Dalam dunia kedokteran, obat-obatan yang diberikan pada saat terjadi depresi dan kegelisahan, pada umumnya dapat mengakibatkan berkurangnya fungsi otak. Seolah kerja otak terlalu berat bagi seseorang sehingga harus dinon-aktifkan dengan cara mengonsumsi obat-obatan. Jika saja para ahli medis mau berfikir lebih teliti tentang apa makna dari semua ini, maka mungkin mereka akan memahami betapa lemah dan menyedihkannya situasi tersebut.
Bertahun-tahun para dokter yang berusaha memahami tentang fungsi-fungsi otak mengatakan: ”Umur kita tidak akan cukup untuk dapat memahami bagaimana data-data dan informasi-informasi di dalam otak kita disimpan dan diingat, bagaimana perasaan kita bisa muncul, serta bagaimana perilaku kita dibentuk.”
Hal yang sama juga dapat dikatakan bagi fungsi-fungsi lain seperti mencintai dan membenci. Misalnya, anak kita menyayangi seseorang, sedangkan kita tidak merestuinya. Namun, kita tidak mampu mematahkan semangat anak tersebut. Jika otak hanya tersusun dari materi zat, maka akan ada obat untuk hal ini. Namun kenyataannya Kita tidak bisa mengurangi, menambah atau mengubah-ubah cinta seperti layaknya menambah dan mengecilkan volume suara televisi, lalu mengganti channel-nya. Kita bisa mendapati seseorang yang rela mengorbankan dirinya demi keluarga, anak, dan pasangan hidupnya, meskipun tak ada manfaat atau balasannya sekalipun. Sungguh sulit untuk dapat menjelaskan hal ini dengan materi.
Kita bisa melihat adanya kata sepakat di antara para ilmuwan yang menuju pada kesimpulan bahwa perasaan, pikiran, dan perilaku manusia tidak akan dapat dipahami hanya dengan aspek materi otak dan akal saja.
Akhir-akhir ini, para peneliti membahas tentang tiga kesatuan struktur: yakni tubuh, otak, dan jiwa (atau yang menurut kaum materialis disebut sebagai pikiran). Para ilmuwan mengatakan bahwa mereka -dalam kadar tertentu- telah mampu memecahkan bagaimana cara tubuh dan otak bekerja sebagai mesin. Namun pemikiran-pemikiran yang mereka ajukan tentang apa itu jiwa dan pikiran, serta bagaimana cara kerjanya, masih sangat jauh dari memuaskan.
Jiwa merupakan makhluk berkesadaran yang datang dari Alam Ruh (Alam ‘Amr/Alam Ketetapan Ilahi) dan bukan sekedar benda material. Mulai dari benda terkecil seperti atom hingga benda terbesar seperti benda-benda langit dapat dilihat dengan mata, disentuh dengan tangan, menempati ruang di angkasa, dan oleh karenanya makhluk-mahluk material yang dapat diukur, tumbuhan, hewan, dan manusia membentuk Alam Materi (Alam Syahadah). Bagi manusia, yang paling penting di alam ini bukanlah materi, namun maknanya. Oleh karena kita tidak dapat memahami dan menguasai makna ini, maka kita hanya dapat melihat fungsi-fungsinya, dan hanya dengan hal inilah kita mencoba untuk memahami Alam ‘Amr tersebut.
Misalnya, semua orang menerima adanya hukum-hukum alam seperti, daya tarik, dorong dan gravitasi bumi, walaupun manusia tidak mampu melihat semua hukum itu. Sebenarnya yang dapat kita lihat dari hukum-hukum tersebut hanyalah fungsi-fungsinya yang direfleksikannya pada Alam Materi. Jiwa pun merupakan hukum yang diciptakan Allah dari Alam Ruh. Akan tetapi, yang membedakannya adalah hukum-hukum lain tidak memiliki kesadaran, sedangkan jiwa manusia memilikinya.
Oleh karena itu, otak tidak akan pernah melampaui batasnya dan berkata pada jiwa -yang kedudukannya lebih tinggi darinya- dengan penuh kesombongan: ”Aku tidak mengakui keberadaanmu, jadi kau tak ada”. Maka untuk dapat memahami kekuatan luar biasa yang ada di atasnya itu, otak harus melampaui recehan tak berharga yang ada pada genggamannya, modalnya yang tak berselubung, materinya yang terbatas, tak cukup, dan perasaannya yang terbatas hanya pada materi, lalu harus mampu mengerahkan segala perangkat yang ada padanya dengan segenap tenaga. Hanya dengan cara inilah otak baru dapat mendekati batas wilayah, memahami esensi jiwa yang bagaikan laut tak bertepi, serta dapat berlalu di antara lingkaran yang kian lama kian membesar, seraya melewati ribuan lingkaran yang saling terpaut satu sama lain. Namun hal ini, tak mungkin dilakukan dalam alam materi ciptaan-Nya ini.







Discussion about this post