Masa-masa paling kelam pada kehidupan masyarakat akan terlihat pada masa antara perubahan masyarakat sosial dan kelahirannya kembali. Persis seperti peristiwa “metamorfosis” yang dialami beberapa mahluk hidup, pada masa memperbarui diri, hal-hal seperti rasa sakit, kesulitan, kepedihan berantai; bahkan melepaskan beberapa hal agar hal lain dapat berkembang… ketegangan masyarakat yang didorong berbagai peristiwa, terjadinya masa sulit pada masyarakat maupun individu takkan bisa dielakkan. Terlebih lagi, jika pekerjaan yang dikerjakan tidak dilakukan berdasarkan asas-asas terpercaya yang telah dicobakan sebelumnya, akan bisa menempuhi kesalahan. Terkadang dapat terkalahkan pada perasaan nalar dan logika. Jika ada rencana-rencana yang dipikirkan untuk menyesuaikan ini dan itu, bisa keluar dari hal tersebut, sehingga kala proyek-proyek kecil dihimpitkan untuk berada pada kerangka sempit hingga memporak-porandakan keseluruhan keseimbangan umum, maka lalu kekhilafan imajinasi dan pemikiran umum tak bisa mencapai akal-khayalan sehingga akan berhadapan dengan berbagai kendala. Oleh karena itu, masyarakat, bahkan mereka yang memimpinnya dapat menyebabkan berbagai jenis kehancuran ketika semestinya mereka harus menggunakan mental dan logika, namun justru gerakan perasaan yang dipakai dalam mewujudkan sesuatu seperti yang sering kita lihat pada masa sekarang ini.
Pada masa revolusi atau saat terbentuknya kembali sebuah masyarakat, biasanya titik “persamaan nasib” yang dialami adalah seperti peristiwa yang sudah banyak terlihat, ketika berkaitan dengan fasilitas-fasilitasnya, sering kita lihat kejadian di mana semua yang telah dicapai atau terwujud hingga saat itu menjadi hancur dan harus kembali dimulai dari awal lagi, hanya dikarenakan ambisi dan antusias berlebihan yang ada pada kelompok tertentu. Suatu kali pada masa-masa revolusi dan perubahan, individu-individu berada dalam sebuah keadaan berbeda daripada kondisi ketika masa normal: ada yang bergerak pada suatu tujuan tertentu, ada yang ingin mencapai suatu tempat tertentu, mereka menjadi mahluk yang berkelompok, benar-benar keluar dari keindividuannya dan tidak dapat dipisahkan dari kelompoknya membawa semua yang berada di sekitarnya menuju pada tujuan tertentu. Orang-orang yang pemikirannya telah mengalami perubahan seperti ini, bergerak di bawah pengaruh logika kelompoknya dan duduk-berdiri dengan arahan darinya, bukan lagi dengan logika akal-kebiasaan dirinya.
Logika ini, sebenarnya tidaklah sama dan benar-benar berbeda dengan “kesadaran kolektif” yang selama ini selalu kita sarankan, dan justru berlepas darinya dikarenakan cara pemahaman dan gerakannya, sementara kesadaran kolektif berciri khas dari cara berpikir-bergeraknya, hari ini maupun esoknya diperhitungkan bersama, melihat keseluruhan ataupun bagian sebagai sebuah kesatuan. Oleh karena hal ini lebih cenderung pada perasaan dan antusiasme belaka, juga merupakan hal yang dapat mengakibatkan ketidakseimbangan. Sementara “kesadaran kolektif” berasaskan pada nalar, pertimbangan, disiplin dan kehati-hatian. Secara fisik, meskipun kondisi dan cara bersikap kedua hal ini dalam hal apa yang dijanjikannya bagi masa depan tampak serupa, namun yang satu seringkali menghasilkan hal-hal yang berseberangan dengan inti dan tujuan dari gerakan; sementara yang satunya lagi tak akan pernah dan bukanlah takaran bagi para pecundang, maupun para gadungan.
Secara nasional, semangat dan dasar dari “kesadaran kolektif”, yang dianggap sebagai salah satu prinsip paling penting dari keberadaan dan kelangsungan hidup kita, selain keberlangsungan akhlak dan kehidupan sosial yang berjalan seimbang adalah karakter agama dan kepribadian Nasional kita. Dari sisi ini pula, dalam menanggapi perilaku keliru dan salah yang tampak pada gerakan massa, kesadaran kolektif yang berdisiplin dan penuh kehati-hatian akan membentuk perilaku penuh antusiasme dan perasaan dari individu, yang akan mencapai dan menunjukkan nilai-nilai luar biasa di atas rata-rata yang relatif berbeda jika dibandingkan dengan perilaku mereka pada kondisi biasa.
Setiap masa, gerakan dan lompatan bagi masa depan yang bisa mewujudkan idealisme tinggi dan tujuan mulia, akan menjadikan individu-individu yang berada di dalamnya terbentuk, semakin matang, menjadi insan berjiwa sosial. Jika saja siapapun para perencana dari sebuah gerakan, lebih menghargai akal di depan perasaan, mengedepankan pertimbangan dan pengalaman di atas antusiasme serta mewujudkan setiap proyek-proyek mereka dalam cahaya pesan Ilahi, berulang kali bahkan kelompok-kelompok yang bergerak dengan nalar perasaan, sebagai perasaan dan pemikirannya masuk pada pengaruh gerakan logika dan pertimbangan, lalu mencapai pada aksi dan aktivitasnya dengan penuh kehati-hatian dan pertimbangan, maka mereka akan mampu berada pada garis yang sama dengan orang-orang yang memiliki integritas dan moderat; sebagai pemikiran dan pertimbangannya orang-orang yang berada di baris terdepan pun telah berbagi perasaan dan semangatnya dengan mereka hingga mampu membentuk sebuah sinergi bernilai tinggi. Dengan demikian, setiap masa ketika pemahaman ini dibagikan pada orang-orang yang tidak memiliki pemikiran dan pertimbangan pada kesadaran dan persepsinya sekalipun, setelah terus-menerus diberikan pemahaman akan kesadaran kolektif pada takaran tertentu, dan dengan melewati proses pengembangan dan metamorfosis yang penting, masing-masing dari mereka dapat meningkat menjadi individu dari sebuah masyarakat ideal. Semua pembentukan yang berada dalam sebuah proses seperti ini, walaupun terlihat seperti berada dalam pengaruh sebuah kekuatan rahasia sekalipun, tetapi sebenarnya sangat mungkin untuk bisa mengembalikannya kembali pada sebuah sumber permulaan yang penting. Sumber ini dinutrisi dengan karakter dan kepribadian bangsa. Sejak dahulu hingga sekarang, berkat kepribadian bangsa seperti ini masyarakat telah berbagi perasaan dan pemikiran yang sama, duduk dan berdiri dengan pertimbangan yang sama, mengalami antusiasme yang sama, bertikai bagi nilai-nilai yang sama dan berlomba-lomba untuk mewujudkan idealisme yang sama pula.
Ya, meskipun ada faktor dan pemicu lain atas individu dan kelompok masyarakat, namun mereka akan melemah ketika mencoba melewati relasi jiwa bangsa melalui akar maknanya sendiri. Selama individu-individu bangsa masih melanjutkan hubungannya dengan dinamika sejarah fisik-ruhani, maka orang-orang ini dengan kesadaran sejarahnya akan selalu masuk pada pergolakan jiwa para leluhurnya dan pada takaran persamaan satu tingkat lebih tinggi, mereka akan mampu menunjukkan sikap kepahlawanan serupa, sebuah cara berpikir baru, sebuah pandangan pada dunia yang baru dan meletakkan kriteria-kriteria yang benar-benar baru serta dapat berpengaruh pada sosial geografis dunia secara keseluruhan. Dalam hal ini, dari sisi sejarah perhitungan dengan dunia, sangat memungkinkan bagi kita untuk menunjukkan banyak sekali contoh pada garis yang membentang sejak kota Mutah hingga Qadisiyah, dari Malazgirt sampai ke Dardanella; sebagaimana stabilitas keseimbangan antar negara dari Madinah ke negeri Syam, dari Syam ke Baghdat, lalu kemudian dari sana hingga ke Istanbul, namun kita meyakini dunia firasat dan ilusi para pembaca, maka penjelasan pada hal ini kita cukupkan sampai di sini untuk melanjutkan pada hal berikutnya.
Saat ini, dapat dikatakan bahwa negara kita bersama-sama dengan dunia yang kita tinggali ini telah memasuki sebuah bagian perubahan dan perkembangan pada tataran permukaannya. Daripada harus mengalami berbagai revolusi bertubi-tubi, ketika kita sedang meniti masa depan seperti ini, jika ada upaya untuk menjaga jiwa bangsa, usaha untuk membawa individu maupun kelompok masyarakat pada sebuah pemahaman yang berporos pada cara-cara antisipasi dan kehati-hatian, tidak memberikan ruang gerak bagi pemikiran, kecenderungan dan aktivitas yang dapat mendorong kelompok masyarakat pada pergolakan dan provokasi, maka hal-hal tersebut adalah sebuah hal penting bahkan mungkin lebih penting dari usaha-usaha irsyad dan jihad yang ada saat ini. Massa yang dengan gampang mengubah cinta menjadi benci, merubah kebersamaan pada perpisahan, bergerak bersama lalu mudah jatuh pada ketidak teraturan dan kekosongan, tidak boleh diberikan kesempatan sama sekali untuk mendorong diri mereka sendiri maupun orang-orang yang menjadi pengikutnya untuk masuk ke dalam kesesatan baik secara terburu-buru atau dikarenakan pengaruh dari sebagian jiwa-jiwa yang bertualang pada kesesatan. Sama sekali tidak boleh diberikan kesempatan pada mereka dan pandangan kita harus selalu ditujukan pada para duta yang secara tulus menyampaikan prinsip-prinsip Sunnah dan Al-Qur’an. Satu persatu, mereka dapat dikategorikan sebagai asas penerang kesadaran kolektif yang berporos pada Wahyu Ilahi ini, adalah orang-orang yang mampu menampakkan kerendahan hati, tawaduk dan rasa malu ketimbang pengakuan diri; lebih mementingkan orang lain daripada sibuk narsis dengan diri sendiri; menguasai prinsip pemikiran, mencari kemanfaatan sebesar-besarnya bagi masyarakat daripada hanya mencari keuntungan pribadi semata.
Mereka ini begitu terkait pada nasib hari ini dan masa depan masyarakatnya, sehingga terkadang untuk menghadapi tantangan dari pemikiran patriotismenya ia harus “mengeram”, “bersarang” seperti induk ayam yang menjaga agar anak-anak ayam tak mendapatkan bahaya, menghadapi dengan bijak semua hinaan dan pelecehan yang mungkin tak bisa diterima akal sehat sembari berdzikir “Lâ hawla wala quwwata illa Billah”, memenjarakan semua perasaan dan semangatnya yang bergolak bagai magma dari sinar wajahnya, lalu seakan tak ada apa-apa mereka terus berlalu. Jika dibutuhkan mereka akan mengorbankan dirinya sendiri bagi orang lain dengan sikap ksatria dan berani berjalan terus menuju kematian, dengan jiwa-jiwa penuh perasaan seperti seorang pemadam kebakaran yang dengan senang hati melemparkan dirinya ke dalam kobaran api, melakukan pekerjaan dengan sebuah kesadaran untuk menjadikan apapun sebagai ibadah dan melaksanakannya pun dengan kekhusyukan bak sedang beribadah… tak pernah menunggu ucapan terima kasih atas apapun kebaikannya… akan menganggap dirinya bersikap tak setia dan bersikap tak pantas jika tak mampu berlari menolong seseorang yang butuh dibantu pada waktunya, bahkan tanpa ragu ia akan mempertanyakan ketidakmampuannya ini pada dirinya sendiri.
Mereka akan selalu hidup dengan harapan… mendukung, mewujudkan semua rencana dan program-program yang diimpikannya berdasarkan harapannya itu, serta tak pernah kekurangan dalam mengevaluasi dinamika jasad dan maknawinya… dan setelah semua hal ini, mereka tak akan pernah masuk pada ekspektasi dalam bentuk apapun kecuali pada keridaan Allah dan pencapaian keikhlasan… akan selalu mengingat hadiah, imbalan ataupun pendapatan yang diterima dari khidmahnya sebagai sebuah pertimbangan istidraj1 ataupun “tahdîs-i ni’mat”2; mereka akan menelan ketakutannya, sebagaimana mereka pun menyenandungkan kebahagiaan pada nada lirih yang ditujukan pada Ilahi serta hidup sebagai insan yang matang dan selalu memikirkan akibat semua perbuatannya di akhirat kelak.
Pada saat yang sama, mereka bukanlah orang-orang yang kosong. Bersama-sama dengan sikap tawakal, berserah diri dan keyakinannya pada Allah, mereka tetap sangat peka dengan semua kejadian yang terjadi di sekitarnya; pribadi tegas dan reaktif sedalam kepekaannya tersebut. Tak pernah hanyut pada perasaan melankolis sedikitpun baik dalam pekerjaan dunia maupun akhiratnya, menimbang tindakan dan geraknya dalam kerangka perintah Ilahi, selalu memperhatikan tingkat kognisi humanisnya pada akal dan logika, lalu membuat keputusan dan komentar dirinya sebagai makhluk ciptaan atas dasar ini, selalu menjauh dari sikap-sikap yang dapat mengakibatkan pertentangan antara benda dan peristiwa-peristiwa yang memperjelas tempat dan kedudukan kita sebagai makhluk di alam semesta dan senantiasa berusaha selaras dengan perintah-perintah penciptaan.
Agar kita mampu melangkah penuh keyakinan menyongsong harapan yang kita nantikan tersebut, maka beberapa poin khusus berikut sangatlah penting: Seluruh bangsa, terutama para intelektual, harus berdamai dengan masa lalu kita. Semua bentuk pembaharuan dan proses transformasi yang kita rencanakan atas nama masa depan, harus dijadikan proyek yang berasaskan pada akar makna dan dinamika sejarah kita. Sebuah masalah yang sangat penting seperti ini, sama sekali tidak boleh dinodai oleh politik atau dicampuradukkan dengan pertimbangan akan keuntungan pribadi.
Terlebih, di atas semuanya, kita harus berjalan dengan penuh kehati-hatian dan waspada atas kemungkinan hadirnya berbagai bentuk komplikasi pada tindakan dan aksi dari tujuan mulia ini; jangan pernah berikan ruang pada sikap-sikap petualangan dan semangat masa muda yang tak bertanggung jawab. Begitu ketatnya, hingga ketika harga diri dan kehormatan kita dipermalukan sekalipun, sikap reaktif harus tetap kita simpan pada ikatan kesabaran dan menahan diri untuk mengatupkan mulut rapat-rapat atas nama idealisme tujuan mulia yang kita perjuangkan
Sebelum menghancurkan sesuatu, harus dipertimbangkan dahulu apa yang akan dibangun di atas sesuatu yang dihancurkan tersebut, lalu jika memang ada, hancurkanlah yang sudah kuno, usang, dan tak lagi bisa dimanfaatkan. Senantiasa harus bergerak dalam tataran filosofi “menghancurkan untuk membangun”, maka sebelum menebas dan memotong sesuatu saat menghancurkannya, bangun, dirikanlah terlebih dahulu model maketnya.
Suburkan sikap tegas dan penuh tindakan, ilmu, kebijaksanaan dan kewaspadaan pada semua pekerjaan yang dilakukan; lalu dukung dengan sifat penuh usaha dan kegigihan, eksplorasi dan kompetensi, agar apapun yang dibuat tak harus diikuti dengan penghancurannya. Saat ini kita berada di persimpangan jalan dan tak diragukan lagi bahwa kita dipertemukan pada titik “persamaan takdir”. Kita dapat membuat keberuntungan kita pada titik persamaan nasib yang di dunia terdiri dari beraneka bangsa ini menjadi lebih cemerlang dengan memahami hal dan posisi kita pada adab kesopanannya, seandainya kita bisa mengevaluasinya dengan prinsip para pemikir-pemikir besar, perencana hebat dan seperti pertimbangan para Nabi.
Saya yakin sekali bahwa kesengsaraan kita saat ini, ketidakmampuan kita untuk berpegang pada sikap hemat, sosial, belum lagi pertarungan yang disebabkan kebobrokan luar dan dalam; kesemuanya ini akan mampu kita atasi. Kebisuan tak akan pernah abadi, semua peristiwa selalu menampakkan kenyataan ini. Malam takkan berlaku selamanya; takkan seperti itu dan akan datang suatu masa di mana semua yang hancur akan kembali diselubungi dengan kebahagiaan dan kesejahteraan, hal-hal yang dahulu dengan segala cobaannya pernah membuat kita menangis akan berubah menjadi tawa, malam-malam akan dikalahkan oleh siang dan di semua penjuru akan mulai memancarkan sinar tawanya.
Berikut ini sebuah hikmah yang lebih umum dari proses runtuh dan kelahiran kita, pada perspektif dan tema tulisan yang berbeda: Jika Allah ingin menambah azab akhirat yang akan dihadapi seseorang, maka Ia akan mengabulkan keinginan dan hasratnya di dunia. Nikmat-nikmat Tuhan harus ditunjukkan pada orang lain dengan maksud untuk bersyukur. Penulis adalah seorang ulama dan cendekiawan muslim yang dinobatkan sebagai 100 orang paling berpengaruh versi Majalah Foreign Policy, aktif menulis buku dan artikel di berbagai media internasional. Hingga kini tercatat lebih dari 70 buku telah beliau tulis dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa.
Catatan :
- Istidraj artinya kesenangan atau nikmat yang Allah berikan bisa pula berupa berupa kelapangan rezeki padahal yang diberi dalam keadaan terus menerus bermaksiat pada Allah.
- Menjelaskan atau menceritakan nikmat-nikmat yang dikaruniakan oleh Allah dalam kerangka bersyukur pada-Nya.







Discussion about this post