• Privacy & Policy
  • Kontak
  • Tentang Kami
    • Profil
    • Redaksi dan Manajemen
    • Dewan Penasihat
  • Mata Air di Dunia
    • Arabic
    • Deutsch
    • English
    • Spanish
    • Turkish
  • FAQ
  • Kirim Artikel
  • Karir
Thursday, April 16, 2026
  • Login
Majalah Mata Air
Advertisement
  • Home
  • Rubrik
    • Sains
    • Budaya
    • Spiritualitas
  • Penulis
    • Amany Lubis. Prof. Dr.
    • Astri Katrini Alafta. S.S. M.Ed.
    • Gumilar Rusliwa Somantri. Prof. Dr.
    • Ilza Mayuni. Prof Dr.
    • Irfan Yilmaz. Prof. Dr.
    • Khoirul Anwar. Dr. Eng.
    • Muhammad Luthfi Zuhdi
    • Nabilah Lubis. Prof. Dr.
    • Qoriah A. Siregar. Dr.
    • Semiarto Aji Purwanto. Prof. Dr.
    • Riri Fitri Sari. Prof. Dr. Ir.
    • Tegar Rezavie Ramadhan. S.K.M. M.Pd.
  • Event
  • Tetes Mata Air
  • Arsip
  • Berlangganan
  • Produk Kami
    • Buku Digital
    • Majalah Digital
    • Mata Air dalam Genggaman
  • Semua Membacanya 2025
    • Pendaftaran Semua Membacanya 2025
    • Galeri Semua Membacanya
      • Galeri SM25
      • Galeri SM24
      • Galeri SM23
No Result
View All Result
  • Home
  • Rubrik
    • Sains
    • Budaya
    • Spiritualitas
  • Penulis
    • Amany Lubis. Prof. Dr.
    • Astri Katrini Alafta. S.S. M.Ed.
    • Gumilar Rusliwa Somantri. Prof. Dr.
    • Ilza Mayuni. Prof Dr.
    • Irfan Yilmaz. Prof. Dr.
    • Khoirul Anwar. Dr. Eng.
    • Muhammad Luthfi Zuhdi
    • Nabilah Lubis. Prof. Dr.
    • Qoriah A. Siregar. Dr.
    • Semiarto Aji Purwanto. Prof. Dr.
    • Riri Fitri Sari. Prof. Dr. Ir.
    • Tegar Rezavie Ramadhan. S.K.M. M.Pd.
  • Event
  • Tetes Mata Air
  • Arsip
  • Berlangganan
  • Produk Kami
    • Buku Digital
    • Majalah Digital
    • Mata Air dalam Genggaman
  • Semua Membacanya 2025
    • Pendaftaran Semua Membacanya 2025
    • Galeri Semua Membacanya
      • Galeri SM25
      • Galeri SM24
      • Galeri SM23
No Result
View All Result
Majalah Mata Air
No Result
View All Result
Home Budaya Arsitektur

Harmoni Melodi Kosmik dan Geometri Arsitektur Utsmani

Afiat Fahma Zamani, Lc., M.Hum.

by Afiat Fahma Zamani
1 year ago
in Arsitektur
Reading Time: 9 mins read
Share on WhatsappShare on FacebookScan and read on your phone

Catatan sejarah mendokumentasikan perkembangan peradaban Islam yang kaya dengan pencapaian arsitektur monumental dari berbagai kesultanan. Sayangnya, informasi tentang sosok di balik kemegahan bangunan tersebut tergolong langka. Salah satu naskah langka yang menjabarkan tentang arsitek muslim dan cerita-cerita di balik proses bangunan monumental, khususnya di masa Kesultanan Utsmaniyah abad ke-17, adalah Risāle-i Miʿmāriyye karya seorang cendekiawan Utsmaniyah bernama Caʿfer Efendi (w. 1633 M). Naskah klasik tersebut saat ini tersimpan rapi di perpustakaan Museum Istana Topkapı Istanbul dengan kode YY339.

Naskah ini merupakan sebuah kodeks1 persegi panjang berukuran 415 x 150 mm yang terdiri dari 87 lembar kertas berwarna krem yang tidak memiliki tanda air. Naskah ini dijilid dengan sampul kulit berwarna cokelat dan ditulis menggunakan tinta hitam yang mencakup judul bab dan beberapa catatan marginal2. Sementara ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis yang ada di dalamnya ditulis dengan tinta merah. Setiap halamannya berisi dua puluh lima baris tulisan ta‘liq3, terkadang dengan tanda baca yang pendek. Kolofon4 di akhir teks menyebutkan bahwa naskah ini selesai ditulis pada tahun 1023 H (1614/1615 M). [Öz, 1943].

Gambar 1. Folio 54v–55r dari naskah Risāle-i Miʿmāriyye tentang musik dan arsitektur dalam bab keenam mengenai Masjid Sultan Ahmet.

RelatedArticles

No Content Available

Sumber 1. Perpustakaan Museum Istana Topkapı

 

Pembangunan Masjid Sultan Ahmet

Dalam naskah tersebut, dijelaskan secara rinci proses pemilihan lokasi Masjid Sultan Ahmet. Masjid yang fondasinya diletakkan pada tahun 1609/1610 M atas perintah Sultan Ahmet I ini memiliki sejarah pemilihan lokasi yang melibatkan pertimbangan cermat dan bijaksana.5 Pada awalnya, Sultan Ahmet I mempertimbangkan beberapa lokasi, termasuk Istana Rüstem Pasha. Namun lokasi ini dianggap terlalu sempit dan memerlukan pembongkaran banyak rumah dan bangunan yang berdampingan, yang akan menimbulkan ketidaknyamanan bagi penduduk setempat.6 Oleh karena itu, Sultan memilih lokasinya strategis di sebelah kiblat At Meydanı7, menghadap ke laut, memiliki halaman yang luas, dan berhadapan langsung dengan Hagia Sofia. Dengan demikian, Masjid Sultan Ahmet dibangun di tempat yang ideal, memadukan keindahan arsitektur dengan kebijakan urban yang mempertimbangkan kesejahteraan masyarakat.

Masjid Sultan Ahmet I atau yang lebih dikenal sebagai Masjid Biru, mashyur karena keindahan visual interiornya yang memukau, terutama kubahnya yang megah. Interior masjid ini dihiasi dengan ubin dari Kütahya yang dominan berwarna biru, toska, dan hijau. Pada interior dalamnya ditampilkan ubin yang disusun berbentuk panel, digambarkan taman dengan pohon cemara, bunga, dan pohon buah. Tempat duduk kerajaan di hiasan relung mihrab marmernya menampilkan karya giok dan emas yang menonjol. Motif serupa, yang dilukis dengan warna emas dan warna-warna lain yang serasi, menghiasi berbagai faset cembung dari empat tiang kolosal yang dikenal sebagai “kaki gajah”. Dua dari tiang ini dilengkapi dengan air mancur sehingga menambah kesan mewahnya.

Masjid Sultan Ahmet memiliki fitur tak biasa, dengan enam menara, yang empat di antaranya memiliki posisi lebih tinggi dan ditempatkan di sudut depan halaman masjid. Keempat menara di sekitar masjid masing-masing memiliki tiga balkon, sedangkan menara halaman dilengkapi dua balkon. Keenam menara memiliki poros beralur dan balkon dengan penyangga stalaktit8.

Setelah kunjungannya tersebut, Caʿfer mendokumentasikan pengamatannya tentang Masjid Sultan Ahmet dalam bab ke-6 risalahnya. Menariknya, fokusnya tidak terletak pada elemen arsitektur formal atau fitur tetap dari masjid tersebut. Sebaliknya, dia tertarik dengan suara-suara yang dihasilkan oleh batu-batu berwarna yang dipahat dengan alat pertukangan. [Kale, 2022] Melalui pengamatan mendalamnya dalam bab ini, Caʿfer berbagi pengalamannya tentang suara dan batu selama proses pengamatan arsitektur. Dari sini, kita dapat menyaksikan perkembangan berbagai bentuk ilmu pengetahuan di lokasi yang belum banyak diteliti ini.

 

Geometri dalam Risāle-i Miʿmāriyye

Caʿfer mengawali dan mengakhiri Risāle-i Miʿmāriyye dengan dua puisi yang menekankan pentingnya geometri pada arsitektur. Dalam puisi pembukaannya yang berjudul ‘Fî Waṣfi Ṣun’i İlâhî’9, Caʿfer menggunakan metafora yang berkaitan dengan arsitektur: ia menyebut alam semesta sebagai masjid yang agung, langit sebagai kubah yang tinggi, dan Matahari sebagai lampu yang dihiasi. Semua itu digambarkan dengan ungkapan sastrawi indah. Ia lalu mengajukan sebuah pertanyaan, “Apakah ini? Siapa gerangan yang membuat bangunan yang begitu indah seperti ini tanpa rüsūm10, tanpa hendese11, dan tanpa temsil12?” [Caʿfer Efendi, Howard Crane, Ed. 1987, hlm. 3v] Dalam puisi penutupnya, Caʿfer bertutur:

 

“Yüzden artık kütüb içinden alınup bu kitap

Suver-i hendeseden giydi yine taze siyab”13

 

“Telah lebih dari seratus kitab, risalah ini terpetik

Berbalut geometri, mengenakan jubah baru yang apik”

 

Arti dari bait syair di atas adalah bahwa ia telah mengambil lebih dari seratus referensi untuk menyusun risalahnya. Kemudian dia “menghiasi” risalah tersebut dengan “pakaian geometris”. Dengan demikian, dia memberi awal dan akhir teksnya dengan puisi yang mengungkapkan hubungan yang dilihatnya antara arsitektur dan geometri.

Caʿfer memulai dengan mengeksplorasi makna kata “hindāz” dan bagaimana kata ini pada akhirnya berubah menjadi “hendese”. Menurutnya, istilah “hindāz” merupakan kata arabisasi yang berasal dari bahasa Persia, “hindâza”, yang berarti ukuran. Makna ini mencerminkan pentingnya pengukuran dalam geometri dan arsitektur. Dengan menyelidiki konotasi dan perkembangan kata “hendese”, Caʿfer mengilustrasikan tentang pentingnya geometri dalam konteks arsitektur dan ilmu pengetahuan pada zamannya. Metafora Caʿfer mengalihkan fokus kita dari elemen bangunan dan alat pertukangan menuju geometri, gambar, dan model. Hal ini menegaskan bahwa penggunaan ilmu pengetahuan di masa itu mendapatkan perhatian yang sangat besar di bidang arsitektur dalam proses konstruksi bangunan. Analisis ini memperlihatkan hubungan erat antara bahasa, ilmu pengetahuan, dan seni dalam budaya Kesultanan Utsmaniyah. [Necipoğlu, 1995]

 

Resonansi Suara dalam Konstruksi Masjid Sultan Ahmet I

Penelitian Caʿfer mengenai hubungan antara musik dan arsitektur dalam Risāle-i Miʿmāriyye memunculkan sejumlah pertanyaan menarik tentang persepsi dan penilaian seni di masa itu. Interaksi Mehmet Ağa dengan seorang sufi bernama Aziz yang ahli dalam ilmu musik memberikan wawasan penting tentang persepsi mengenai musik dan arsitektur. Dalam percakapannya, Caʿfer mengungkapkan bahwa Mehmed Ağa pernah bermimpi tentang suara bising dari alat musik yang diartikan sebagai tanda untuk meninggalkan musik dan beralih ke seni arsitektur dan tatahan ‘inlay’ mutiara14. Sufi tersebut kemudian mengamati bahwa meskipun Mehmed Ağa tidak lagi aktif dalam musik, dia tetap menyaksikan ilmu musik melalui zikir dan maqâm sufi. Dia menekankan bahwa suara-suara yang dihasilkan selama proses konstruksi, seperti suara marmer yang dipahat, memiliki kemiripan dengan suara zikir yang dilantunkan oleh para sufi dan darwis saat mencapai maqâm fana. [Caʿfer Efendi, Howard Crane, edisi 1987, hlm. 68, 55v] Pandangan ini menunjukkan bahwa terdapat dimensi spiritual dan estetika dalam proses konstruksi yang mungkin tidak terlihat pada pandangan pertama. Hal ini seakan-akan mencerminkan bagaimana gerakan dan suara mereka dalam pekerjaan yang intens menciptakan harmoni kosmik di Bumi, yang pada gilirannya menjadikan arsitektur sebagai mikrokosmos alam semesta. [Kale, 2022]

Penggambaran Mehmed Ağa oleh Caʿfer sebagai seorang syekh yang memegang hasta dan tasbih [gambar 2] menunjukkan adanya korelasi yang kuat antara ilmu matematika dan ilmu agama dalam konteks arsitektur. Hasta, yang sering digambarkan dalam lukisan-lukisan sebagai alat utama arsitek, melambangkan kompetensi dalam geometri dan otoritas di lokasi konstruksi. Di sisi lain, tasbih mengonfirmasi kesalehan dan kesucian arsitek, menegaskan bahwa praktik arsitektur juga mencakup dimensi spiritual. Penyerupaan arsitek dengan seorang syekh oleh Caʿfer menggarisbawahi pentingnya paduan antara keterampilan teknis dan kesalehan moral dalam seni arsitektur. Korelasi ini mencerminkan pandangan dunia awal modern yang melihat hubungan erat antara kualitas karya seni, kesalehan, dan moralitas.

Gambar 2. Seorang arsitek kerajaan dengan hasta (alat ukur) mengenakan kaftan berhias dan serban selama perbaikan benteng di kota Kars yang digambarkan di bagian atas halaman kanan (verso).

Sumber 2. Gelibolulu Mustafa Âlî, Nusretnâme, Istanbul, 1582. British Library, Add. 22011, fols. 198v–199r. The British Library Board

 

Harmoni Kosmik dalam Arsitektur Utsmaniyah

Penelitian ini mengungkapkan bagaimana dialog antara Caʿfer dengan Aziz, seorang sufi yang memahami ilmu musik, mengilustrasikan pentingnya musik dalam konteks arsitektur Utsmaniyah pada awal abad ke-17. Caʿfer mencatat bahwa Aziz memahami teori-teori musik yang menjadi dasar ilmu bagi arsitektur. Aziz mengungkapkan bahwa dirinya merenungi dua belas jenis marmer yang menghasilkan suara dan mode melodi berbeda saat dipukul para tukang batu. Dia mencatat bahwa setiap jenis marmer dan intensitas pukulan menghasilkan nada tertentu yang menyerupai mode melodi dalam musik. [Caʿfer Efendi, Howard Crane, Ed. 1987, hlm. 69, 56r] Hal ini menunjukkan bahwa arsitektur masjid tidak hanya berfungsi sebagai ruang fisik, tetapi juga sebagai media bagi pengunjung untuk menyelami dan merenungi harmoni kosmik melalui suara dan gema yang dihasilkan selama konstruksi.

Teknologi akustik seperti yang dipahami oleh Caʿfer ini ternyata juga telah dipraktikkan oleh pendahulunya, Mimar Sinan (w. 1588), melalui masjid-masjid yang ia bangun, termasuk Masjid Süleymaniye yang menjadi mahakarya baginya selama menjalani karirnya sebagai arsitek. Ada cerita menarik perihal cara Mimar Sinan mengevaluasi sistem suara dalam masjid agar suara yang dibunyikan di dalam masjid dapat menggema dan didengar orang-orang yang ada di dalam masjid.

Suatu ketika, Mimar Sinan memasuki Masjid Süleymaniye yang masih berada dalam tahap pembangunan. Beliau duduk tepat di bawah kubah dan mulai mengisap hokah15 yang dibawanya. Mimar Sinan adalah orang yang sangat dicintai dan dihormati Sultan Süleyman hingga tentunya akan ada orang-orang yang tidak menyukainya. Beberapa orang yang menaruh rasa iri mengambil kesempatan ini dan mengadukannya kepada Sultan.

Kata mereka: “Sultanku, Sinan, arsitek Anda, tengah duduk di bawah kubah sambil mengisap hokah.”

Mendengar hal ini, Sultan menjadi sangat marah. Namun Sultan tidak gegabah menghukum Mimar Sinan karena aduan mereka. Bukan tanpa alasan orang-orang menjulukinya sebagai Süleyman yang Agung. Beliau ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri. Diam-diam, beliau pergi untuk memeriksa. Ketika sampai di masjid ternyata Mimar Sinan memang sedang menghisap hokah di bawah kubah masjid itu.

Sultan Süleyman lalu berkata: “Wahai Sinan yang agung, apa ini? Apa yang Kau lakukan?” tanyanya. Mimar Sinan sadar dengan situasi yang dihadapi.

Dengan tenang, beliau berkata: “Wahai Sultanku, sudilah kiranya Anda memerhatikan hokah yang ada di depanku ini dengan saksama.”

Süleyman yang Agung menatap hokah itu baik-baik dan ternyata tidak ada tembakau di dalamnya.

“Sultanku, saya membawa hokah ini ke sini hanya untuk melihat gelembungnya saja. Saya sedang meneliti seberapa lama suara gelembung air yang dihasilkan dari tiupan hokah akan menyebar ke seluruh kubah,” ucap Mimar Sinan dengan tenang.

Selanjutnya diketahui bahwa Mimar Sinan telah menempatkan 255 kubus air berongga di dalam kubah yang ingin dia sesuaikan dengan sistem suara (akustik) masjid. Dia menyesuaikannya sedemikian rupa hingga di masa ketika tidak ada pengeras suara, suara imam dan muazin dari masjid itu akan dapat menyebar ke seluruh penjuru masjid berkat teknik pengaturan akustik pada arsitekturnya.

Hubungan antara musik, batuan, dan alam semesta dalam kosmologi Caʿfer mencerminkan konsep-konsep yang diutarakan oleh para sarjana Utsmaniyah. Pada abad ke-16, terdapat pergeseran minat dalam tulisan-tulisan tentang musik dari basis matematis yang ketat menuju asosiasi kosmologis, pengaruhnya terhadap manusia, dan aplikasi praktisnya dalam kehidupan sehari-hari. Caʿfer berhasil mengintegrasikan pendekatan kosmologis dan matematis ini dengan harmonis. Ia menekankan pentingnya dasar geometris dalam musik, yang menunjukkan pemahaman mendalamnya tentang bagaimana struktur dan harmoni musik berkaitan erat dengan prinsip-prinsip geometris yang juga mendasari arsitektur.

Dalam pandangannya, musik tidak hanya sekadar serangkaian nada, tetapi juga sebuah refleksi dari harmoni kosmik yang ditemukan di alam semesta yang diwakili oleh bebatuan Bumi. Dengan demikian, setiap elemen dalam arsitektur—mulai dari pemilihan material seperti marmer hingga desain geometris bangunan—dianggap berperan dalam menciptakan pengalaman spiritual yang mendalam bagi pengunjung sebuah bangunan. Pandangan ini tak hanya memperkaya pemahaman tentang musik dan arsitektur, tetapi juga menghubungkan keduanya dalam konteks yang lebih luas, yang keduanya berfungsi sebagai media untuk memahami dan merasakan keteraturan dan keindahan kosmik. Caʿfer percaya bahwa—seperti halnya geometri—ilmu musik juga tertanam dalam bangunan.

 

Keterangan:

  1. Naskah kuno berupa tulisan tangan.
  2. Catatan marjinal atau catatan kepala adalah “catatan singkat yang muncul di atas atau di samping setiap bagian buku atau karya tulis”.
  3. Komentar.
  4. Catatan penulis, umumnya terletak di akhir naskah atau terbitan, yang berisi keterangan mengenai tempat, waktu, dan penyalin naskah.
  5. Orhan Şaik Gökyay, Risâle-i Mi’mariyye: Sultan Ahmet Camii Mimarı Mimar Mehmet Ağa ve Eserleri, ed. Nusret Gedik (Istanbul: Yeditepe Yayınevi, 2023)
  6. Gökyay, Risâle-i Mi’mariyye: Sultan Ahmet Camii Mimarı Mimar Mehmet Ağa ve Eserleri, 47.
  7. Lapangan kuda.
  8. Batangan kapur yang terdapat pada langit-langit gua dengan ujung meruncing ke bawah.
  9. Dalam Penggambaran Ciptaan Ilahi.
  10. Gambar perencanaan.
  11. Ilmu geometri.
  12. Model.
  13. Caʿfer Efendi, Howard Crane, Ed. 1987, hlm. 87v.
  14. Mother-of-pearl inlay adalah seni yang melibatkan penyisipan potongan-potongan kecil cangkang mutiara atau bahan berkilauan lainnya ke dalam kayu; biasanya untuk menghiasi furnitur, pintu, peti, instrumen musik, atau elemen arsitektur seperti mimbar di masjid.
  15. Alat untuk merokok yang menggunakan media air, semacam shisha.

 

Referensi:

  1. Efendi, Caʿ 1987. Risale-i Mi’mariye: An Early-Seventeenth-Century Ottoman Treatise on Architecture (Howard Crane, Ed.). Leiden: E.J. Brill.
  2. Farmer, H. G.. 1925. The Influence of Music: From Arabic sources. Proceedings of the Musical Association, 52, 89-105. https://doi.org/10.1093/jrma/52.1.89
  3. Gökyay, Orhan Şaik. 2023. Risâle-i Mi’mariyye: Sultan Ahmet Camii Mimarı Mimar Mehmet Ağa ve Eserleri, ed. Nusret Gedik. Istanbul: Yeditepe Yayınevi.
  4. Gül, Kale. 2020). From measuring to estimation: Definitions of geometry and architect-engineer in early modern Ottoman architecture. Journal of the Society of Architectural Historians, 79(2), 134-147. https://doi.org/10.2307/990160
  5. Gül, Kale. 2022. “Harmonious Relationships: Sounds and Stones in Ottoman Architecture in the Making”, Architectural Histories10(1). doi: https://doi.org/10.16995/ah.8299
  6. Necipoğlu, Gürlu. 1995. The Topkapı Scroll: Geometry and Ornament in Islamic Architecture: Topkapı Palace Museum Library MS RISÂLE. Santa Monica, CA: The Getty Center; Oxford University Press.
  7. Öz, Tahsin. 1943-1944. Mimar Mehmet Ağa ve Risalei-Mimariye. Majalah Arkitekt, 37-41. http://dergi.mo.org.tr/dergiler/2/118/1353.pdf
  8. Saqib, Mustafa. 2016. “Istanbul & Herat: A Comparison Study of Blue Mosque & the Great Mosque of Herat,” ANTAKİYAT/Hatay Mustafa Kemal University Faculty of Theology Journal4, no. 2: 319-336.
  9. Topkapı Palace Museum Archives (TSMA), E. 7471/4.
Tags: arsitekturinstrumentmajalah mata airmasjidutsmanivolume 12 Nomor 45
Previous Post

SUPERINTELLIGENCE Paths, Dangers, Strategies

Next Post

Tumbuh Bersama Kesulitan

Afiat Fahma Zamani

Afiat Fahma Zamani

Related Posts

No Content Available
Load More

Discussion about this post

POPULAR POST

  • Taubah, Inabah, dan Aubah

    Taubah, Inabah, dan Aubah

    1385 shares
    Share 554 Tweet 346
  • Ibnu Sina, Seorang Ilmuwan Teladan

    1067 shares
    Share 427 Tweet 267
  • Shuffah, Pusat Bagi Para Jenius

    1005 shares
    Share 402 Tweet 251
  • Hewan-hewan yang Menantang Suhu Dingin

    993 shares
    Share 398 Tweet 248
  • Tanya Jawab Edisi 37 (Demi Merasakan Manisnya Iman)

    900 shares
    Share 360 Tweet 225

Majalah Mata Air menyuguhkan bahan bacaan untuk mengembangkan cakrawala pemikiran.

Ikuti Kami

Categories

Bulan Terbit

Kesehatan – Ilmu Pengetahuan – Teknologi (Edisi 48)

Kesehatan – Ilmu Pengetahuan – Teknologi (Edisi 48)

March 3, 2026
Diskusi Hangat antara Kebenaran yang Diturunkan dan Pengetahuan yang Ditemukan

Diskusi Hangat antara Kebenaran yang Diturunkan dan Pengetahuan yang Ditemukan

March 3, 2026
Sahabat Sejati

Sahabat Sejati

March 3, 2026
  • Tentang
  • Ketentuan
  • Kirim Tulisan

© 2021 Majalah Mata Air - Membaca Kehidupan.

No Result
View All Result
  • Home
  • Rubrik
    • Sains
    • Budaya
    • Spiritualitas
  • Penulis
    • Amany Lubis. Prof. Dr.
    • Astri Katrini Alafta. S.S. M.Ed.
    • Gumilar Rusliwa Somantri. Prof. Dr.
    • Ilza Mayuni. Prof Dr.
    • Irfan Yilmaz. Prof. Dr.
    • Khoirul Anwar. Dr. Eng.
    • Muhammad Luthfi Zuhdi
    • Nabilah Lubis. Prof. Dr.
    • Qoriah A. Siregar. Dr.
    • Semiarto Aji Purwanto. Prof. Dr.
    • Riri Fitri Sari. Prof. Dr. Ir.
    • Tegar Rezavie Ramadhan. S.K.M. M.Pd.
  • Event
  • Tetes Mata Air
  • Arsip
  • Berlangganan
  • Produk Kami
    • Buku Digital
    • Majalah Digital
    • Mata Air dalam Genggaman
  • Semua Membacanya 2025
    • Pendaftaran Semua Membacanya 2025
    • Galeri Semua Membacanya
      • Galeri SM25
      • Galeri SM24
      • Galeri SM23

© 2021 Majalah Mata Air - Membaca Kehidupan.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Hallo,
Ada yang bisa kami bantu?
Tanya Admin