Peniti jalan kebenaran yang berkelana di lembah-lembah ‘isyq dan syauq1 terkadang terbakar oleh api cinta, terkadang meneguk ramuan keabadian yang dihidangkan oleh Sang Kekasih hingga bergelora dengan keriangan suka cita… ketika terbakar dan berkelana, ia merintih sembari mengucap: “Duhai yang menuangkan minuman, ketika aku terbakar bara cinta, justru aku semakin terbakar… berikan air padaku!” Begitu pula saat dengan penuh kerinduan menatap lamat-lamat pintu Sang Kekasih yang terkuak, ia berkata, “Ketika jariku tercelup pada madu cinta, justru semakin aku ingin terus merasakannya, berikan air kepadaku!” seraya memohon dan meminta agar terus diberikan “mazid”2 lagi, lagi, dan lagi.
Selama pikiran tentang perjalanan, kekhawatiran akan dunia, dan pertimbangan akan jarak tetap lestari pada seorang salik3, dengan kata lain, ketika seorang salik melampaui tajali asma dan sifat hingga tiba “waktu” untuk dianugerahi tajali Dzat; dengan api dan ramuan, terbakar-terkobar, dan manifestasi di balik tirai: وَسَقَاهُمْ رَبُّهُمْ شَرَابًا طَهُورًا “Dan Tuhan mereka memberikan minuman yang bersih (suci).”4, mereka mengambil bagiannya dan terus-menerus mencari “mazid” di lembah-lembah makrifat. Setiap waridat5 baru yang berada di dada orang seperti ini akan membuka ceruk-ceruk kerinduan yang baru. Dari setiap ceruk yang terbuka itu akan muncul dan mengalir cahaya menuju mata dan hatinya. Perasaan dan pemikirannya seperti sebuah jarum rajut yang bekerja di antara benda dan kalbu dan merajut sulaman makrifatnya sendiri.
Sebagaimana lebah yang membuka jalan bagi bunga agar menjadi madu dengan membawanya menuju sarangnya, ia juga membawa bunga-bunga yang dikeluarkan oleh tajali asma dan sifat Ilahi ke dalam kalbunya, menyaring mereka dengan filter nurani yang penuh kebijaksanaan seolah-olah merasakan bulu matanya pergi dan menyentuh rangkum cahaya hingga…







Discussion about this post