Hal yang Memberikan Nilai Sejati bagi Waktu
Pertanyaan:
Dikatakan bahwa ketika membaca tiga kali surat al-Ikhlas, seseorang akan memperoleh pahala seperti pahala mengkhatamkan Al-Qur’an. Apakah hal ini sama dengan membaca Al-Qur’an secara keseluruhan? Apakah pahalanya juga sama? Lalu, bagaimana mungkin satu jam tafakur lebih baik daripada ibadah selama satu tahun?
Jawaban:
Terdapat riwayat-riwayat sahih mengenai keutamaan surat al-Ikhlas dan bahwa membaca surat al-Ikhlas sebanyak tiga kali setara dengan mengkhatamkan Al-Qur’an. Namun, hal ini tidak berlaku bagi semua orang yang membacanya, melainkan hanya bagi mereka yang membacanya sebagaimana mestinya. Ya, seseorang yang membaca surat al-Ikhlas sebanyak tiga kali dengan penuh keikhlasanlah yang dapat memperoleh pahala seolah telah membaca Al-Qur’an secara keseluruhan. Akan tetapi, untuk itu terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi. Yang paling utama, seseorang perlu memahami hukum-hukum yang terkandung dalam Al-Qur’an dan menata kehidupannya sesuai dengan petunjuknya. Di samping itu, ada kalanya seseorang tidak memiliki kesempatan untuk membaca Al-Qur’an. Orang yang berada dalam keadaan seperti itu, lalu dengan hati yang sungguh-sungguh, penuh perasaan bersalah berkata, “Ya Rabb, agar tidak sepenuhnya meninggalkan Al-Qur’an, setidaknya biarkan hamba membaca surat al-Ikhlas tiga kali.” Maka, seseorang yang membaca surat al-Ikhlas tiga kali dalam kondisi penuh cinta dan kerinduan kepada Al-Qur’an seperti itu, disertai kesedihan karena tidak mampu membacanya secara keseluruhan—wallahu a‘lam—dapat memperoleh pahala seolah-olah telah membaca seluruh Al-Qur’an. Hal ini bukan berarti bahwa ketika orang lain bersungguh-sungguh mengkhatamkan Al-Qur’an, tapi ada orang yang cukup membaca surat al-Ikhlas tiga kali saja lalu akan memperoleh pahala yang setara dengan khatam Al-Qur’an.
Terkadang, ada orang yang sedemikian ikhlas membaca surat al-Ikhlas sehingga, bukan hanya tiga kali, bahkan satu kali membaca surat al-Ikhlas dengan penuh keikhlasan saja—wallahu a‘lam—dapat memberinya pahala yang setara dengan pahala membaca Al-Qur’an dari awal hingga akhir. Sebenarnya, Al-Qur’an dan Hadis-Hadis Nabi mendorong kita agar membaca dengan cara demikian. Oleh karena Al-Qur’an secara langsung berasal dari Allah, Dzat yang ‘Allam al-Ghuyub, maka kita pun hendaknya membacanya seolah-olah sedang membacakan Al-Qur’an di hadapan Allah subḥānahu wa ta’āla dan Rasulullah ﷺ. Jika surat al-Ikhlas dibaca dengan penuh penghayatan, seakan-akan kita menerimanya dari Malaikat Jibril ‘alaihi salam lalu membacakannya kembali…







Discussion about this post