Makna dan Tujuan Kebahagiaan
Dalam perspektif Islam, kebahagiaan bukan sekadar perasaan sesaat, melainkan buah dari ketenteraman batin yang bersumber dari iman, penyucian diri, dan pengetahuan. Semua hal itu menjadikan seseorang mampu berinteraksi secara positif dengan dirinya sendiri, Tuhannya, dan sesama manusia lainnya. Imam Qurthubi dalam tafsirnya atas ayat: فَمَنِ ٱتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَىٰ “…barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, dia tidak akan sesat dan tidak pula akan celaka.”1 menyampaikan bahwa, “Orang yang mengikuti petunjuk tidak akan tersesat di dunia, tidak pula celaka di akhirat.”2 Ayat ini menghimpun kebahagiaan di dunia dan di akhirat bagi siapa saja yang mengamalkan tuntunan wahyu. Imam Ghazali menegaskan bahwa, “Kebahagiaan hanya dapat diraih dengan mengenal Allah Subhanahu wa ta’ala, karena makrifat merupakan tujuan tertinggi. Kebahagiaan takkan dapat diperoleh kecuali dengan ilmu dan amal. Adapun ilmu yang paling tinggi ialah ilmu yang mengantarkan manusia pada pengenalan terhadap Allah.”3 Imam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa kenikmatan terbesar di dunia adalah kenikmatan iman. Beliau berkata, “Sesungguhnya di dunia ini terdapat sebuah surga, yang ketika seseorang tidak memasukinya, maka ia tidak akan memasuki surga akhirat. Itulah surga kedekatan dengan Allah Subhanahu wa ta’ala dan ketenteraman yang lahir dari iman dan amal saleh.”4 Imam Fakhruddin al-Razi juga menunjukkan bahwa kebahagiaan sejati hanya dapat diraih dengan memadukan dua hal: kesempurnaan jiwa dan kesempurnaan hubungan dengan Allah Subhanahu wa ta’ala. Beliau berkata, “Kebahagiaan terletak pada kesempurnaan akal dan ruh, serta memusatkan diri pada Dzat yang menjadi sebab dari segala sebab.”5
Manusia Bahagia: Akal yang Sadar dan Tekad yang Kuat
Dalam Islam, akal merupakan sarana untuk memahami keberadaan dan menjadi landasan dalam menjalankan tanggung jawab. Akal tidak dapat dipisahkan dari wahyu dan tidak boleh terlepas dari realitas kehidupan. Imam Fakhruddin al-Razi berkata, “Akal dimuliakan karena dengannya manusia dapat memahami firman Allah Subhanahu wa ta’ala dan menangkap hikmah di balik penciptaan dan segala ketetapan-Nya. Oleh karena itu, tidak ada akal tanpa wahyu dan tidak ada wahyu tanpa akal.” Imam Syafi‘i berkata, “Ilmu adalah sesuatu yang memberikan manfaat, bukan sesuatu yang dihafalkan.” Dr. Muhammad al-Bahi menekankan pentingnya memadukan daya kritis akal dengan iman yang kokoh. Beliau berkata, “Kebahagiaan intelektual hanya akan dapat diraih ketika iman dinalar dan tujuan-tujuan wahyu dipahami dalam konteks kesadaran zaman sekarang.”6 Ibnu Qayyim al-Jauzi berkata, “Kebodohan adalah penyakit akal. Adapun obatnya adalah ilmu. Tidak ada ilmu yang lebih bermanfaat bagi seorang hamba daripada ilmu yang membimbingnya kepada Tuhannya dan menunjukkan jalan keselamatannya.”7 Dr. Abdul Karim Bakkar juga menjelaskan, “Kesadaran intelektual merupakan dasar kemajuan manusia, sedangkan berpikir adalah pilar dalam membangun diri yang berkesadaran.”8
Ruh: Rahasia Kebahagiaan dan Sumber Kejernihan
Ruh merupakan pusat penyucian diri. Ketika ruh menemukan ketenteraman bersama Allah Subhanahu wa ta’ala, maka kehidupan akan menjadi tenteram. Sebaliknya, ketika ruh mengalami kegelisahan, segala sesuatu dalam kehidupan pun ikut terguncang. Ibnu Qayyim al-Jauzi berkata, “Hati tidak akan menjadi baik, tidak akan merasa nyaman, tidak akan tenteram, dan tidak pula akan …







Discussion about this post