Kata “ladun” (لَدُنْ) dalam bahasa Arab yang coba kita padankan dengan kata sisi, pihak, dan hadapan dalam satu pengertian, juga dapat dianggap sebagai sinonim dari kata “’inda” (عِنْدَ). Ketika digunakan berbarengan dengan kata ilmu menjadi: ilmu ladunni, maka kata ini mengandung makna ilmu tentang yang gaib, ilmu tentang rahasia-rahasia, serta pengetahuan Ilahi yang dicurahkan Allah I ke dalam hati manusia dan hakikat-hakikat yang diilhamkan ke dalam batinnya. Pada hakikatnya, ilmu seluruh para nabi dan rasul, terlebih seluruh wali, asfhiya, abrar, dan muqarrabin—yang makna dari istilah-istilah tersebut akan coba kita jelaskan satu per satu di kesempatan lain—dapat dipandang sebagai salah satu bentuk ilmu ladunni. Sebab, ilmu dan makrifat mereka merupakan pengetahuan yang dicurahkan Allah I ke dalam hati melalui wahyu dan ilham. Terlebih lagi, segala pengetahuan dan makrifat —yang kita maksudkan dengan istilah ini adalah ilmu tentang yang gaib, ilmu tentang rahasia-rahasia, dan budaya nurani1— yang berkaitan dengan gaib mutlak maupun gaib muqayyad yang dimiliki oleh Sultan Ilmu Ladunni ﷺ, yang merupakan aqrabul muqarrabinjuga termasuk dalam kategori ilmu ladunni ini. Dan Beliau-lah, Sang Farid al-Kaun wa al-Zaman2, sebagaimana dikatakan oleh Süleyman Çelebi dalam bait-baitnya:
“Yang datang ini adalah Sultan Ilmu Ladunni,
yang datang ini adalah sumber tauhid dan makrifat sejati.”
Bahwa, Rasulullah ﷺ adalah penjaga sejati khazanah ilmu yang tersembunyi sekaligus sosok yang dianugerahi keistimewaan dalam makrifat yang khusus ini. Namun, keistimewaan semacam itu tidak selalu dimiliki oleh seluruh wali dan nabi, atau seluruh ashfiya dan rasul. Sebab, ilmu ladunni merupakan pengetahuan dan makrifat khusus yang dicurahkan melalui limpahan karunia Ilahi ke dalam hati orang-orang tertentu. Mereka yang tak berada pada cakrawala batin yang sama dengan orang-orang tersebut tentu tidak akan mampu memahaminya.
Ilmu ladunni tidak selalu sejalan dengan syariat lahiriah. Dalam keadaan seperti itu, mereka yang tidak menguji dan meluruskan apa yang mereka saksikan dengan prinsip-prinsip ushuluddin (dasar agama), dapat saja terjatuh dalam kekeliruan bahkan dapat menyesatkan orang-orang yang mengikuti mereka. Adapun mereka yang menetapkan dan menguji kasyaf3 dan ilham berdasarkan perkara-perkara yang muhkamat akan senantiasa mampu melihat alam mulk dan malakut sekaligus melalui ufuk barzakhnya. Mereka melihat dunia dan akhirat sebagai dua sisi dari satu kesatuan yang sama, serta menyuguhkan begitu banyak limpahan pengetahuan dan karunia dari alam gaib maupun alam syahadah.
Al-Qur’an berbicara tentang seorang hamba pilihan Allah yang memperoleh keistimewaan tersebut dalam…







Discussion about this post