• Privacy & Policy
  • Kontak
  • Tentang Kami
    • Profil
    • Redaksi dan Manajemen
    • Dewan Penasihat
  • Mata Air di Dunia
    • Arabic
    • Deutsch
    • English
    • Spanish
    • Turkish
  • FAQ
  • Kirim Artikel
  • Karir
Friday, September 4, 2026
  • Login
Majalah Mata Air
Advertisement
  • Home
  • Rubrik
    • Sains
    • Budaya
    • Spiritualitas
  • Penulis
    • Amany Lubis. Prof. Dr.
    • Astri Katrini Alafta. S.S. M.Ed.
    • Gumilar Rusliwa Somantri. Prof. Dr.
    • Ilza Mayuni. Prof Dr.
    • Irfan Yilmaz. Prof. Dr.
    • Khoirul Anwar. Dr. Eng.
    • Muhammad Luthfi Zuhdi
    • Nabilah Lubis. Prof. Dr.
    • Qoriah A. Siregar. Dr.
    • Semiarto Aji Purwanto. Prof. Dr.
    • Riri Fitri Sari. Prof. Dr. Ir.
    • Tegar Rezavie Ramadhan. S.K.M. M.Pd.
  • Event
  • Tetes Mata Air
  • Arsip
  • Berlangganan
  • Produk Kami
    • Buku Digital
    • Majalah Digital
    • Mata Air dalam Genggaman
  • Semua Membacanya 2026Terbaru
    • Pendaftaran Semua Membacanya 2026
    • Galeri Semua Membacanya
      • Galeri SM25
      • Galeri SM24
      • Galeri SM23
No Result
View All Result
  • Home
  • Rubrik
    • Sains
    • Budaya
    • Spiritualitas
  • Penulis
    • Amany Lubis. Prof. Dr.
    • Astri Katrini Alafta. S.S. M.Ed.
    • Gumilar Rusliwa Somantri. Prof. Dr.
    • Ilza Mayuni. Prof Dr.
    • Irfan Yilmaz. Prof. Dr.
    • Khoirul Anwar. Dr. Eng.
    • Muhammad Luthfi Zuhdi
    • Nabilah Lubis. Prof. Dr.
    • Qoriah A. Siregar. Dr.
    • Semiarto Aji Purwanto. Prof. Dr.
    • Riri Fitri Sari. Prof. Dr. Ir.
    • Tegar Rezavie Ramadhan. S.K.M. M.Pd.
  • Event
  • Tetes Mata Air
  • Arsip
  • Berlangganan
  • Produk Kami
    • Buku Digital
    • Majalah Digital
    • Mata Air dalam Genggaman
  • Semua Membacanya 2026Terbaru
    • Pendaftaran Semua Membacanya 2026
    • Galeri Semua Membacanya
      • Galeri SM25
      • Galeri SM24
      • Galeri SM23
No Result
View All Result
Majalah Mata Air
No Result
View All Result
Home Sains Psikologi

Anakku Sang Pemimpi(n)

Yubaedi Siron, M.Pd., Ph.D.

by Yubaedi Siron
1 hour ago
in Psikologi
Reading Time: 8 mins read
Share on WhatsappShare on FacebookScan and read on your phone

Suatu sore, seorang ibu mengungkap kegelisahan tentang anaknya yang baru berusia tujuh tahun. “Anak saya itu suka sekali mengatur. Saat bermain dengan teman-temannya, dia yang menentukan siapa yang menjadi apa. Kalau di rumah, adiknya disuruh duduk di sini, mainannya harus ditaruh di sana, bahkan ayahnya pun pernah ditegur karena lupa mematikan lampu kamar mandi.” Sambil bercerita sang ibu tertawa kecil. Namun, di balik tawanya itu ada rasa khawatir: apakah anaknya akan tumbuh menjadi pribadi keras kepala, apakah kebiasaan mengatur itu tanda bahwa dia sulit dinasihati, ataukah jangan-jangan, di balik sikap yang sering disebut “sok memimpin” itu ada benih kepemimpinan yang sedang mencari bentuknya?

Pertanyaan semacam ini tidak sederhana. Tak semua anak yang suka berbicara lantang adalah calon pemimpin, sebagaimana pula tidak semua anak pendiam kehilangan potensi memimpin. Tidak semua anak yang berani maju ke depan kelas otomatis memiliki jiwa kepemimpinan. Sebaliknya, tidak semua anak yang tampak banyak bertanya, banyak membantah, dan banyak bermimpi layak buru-buru diberi cap merepotkan.1 Barangkali yang perlu kita lakukan pertama-tama bukanlah menilai, melainkan cermat membaca kondisi ini.

 

Membaca Bahasa Masa Depan Anak

RelatedArticles

Benarkan Kita Bisa Multitasking?

Visi Ibnu Haitham : Bapak Optik Modern

Anak-anak sering kali memperlihatkan masa depannya dalam bahasa yang belum rapi. Mereka belum mampu menjelaskan bahwa dirinya ingin bertanggung jawab. Mereka belum pandai mengatakan bahwa mereka sedang belajar mengambil peran. Maka, yang tampak di mata orang dewasa kadang hanya perilaku luarnya saja, seperti cerewet, suka mengatur, banyak ide, tidak sabar, ingin menang sendiri, atau terlalu bersemangat. Padahal bisa jadi di balik semua itu sedang tumbuh satu kemampuan penting: keinginan untuk memberi arah.2

Seorang pemimpin, sebelum menjadi pemimpin, sering kali adalah seorang pemimpi. Dia melihat sesuatu yang tidak atau belum dilihat orang lain. Dia membayangkan keadaan yang lebih baik. Dia tidak puas hanya dengan menjadi penonton. Dia ingin ikut menata, memperbaiki, dan menggerakkan. Namun, seorang pemimpi belum tentu menjadi pemimpin. Mimpi baru menjadi kepemimpinan ketika ia dibersamai dengan tanggung jawab, empati, keberanian, dan akhlak.1,2 Di sinilah letak tugas orang tua dan guru. Anak yang mempunyai banyak ide tidak cukup hanya dipuji sebagai anak kreatif, anak yang berani berbicara tidak cukup hanya disebut percaya diri, anak yang suka mengatur tidak cukup hanya dimarahi agar diam. Dia perlu dibimbing agar idenya menjadi manfaat, keberaniannya menjadi santun, dan keinginannya mengatur berubah menjadi kemampuan untuk melayani.3

Salah satu tanda awal anak yang berpotensi menjadi pemimpin adalah rasa ingin tahunya yang besar, tidak mudah puas dengan jawaban pendek. Dia bertanya, “Mengapa harus begitu?”, “Kalau caranya diganti bagaimana?”, “Kenapa aku tidak boleh mencoba?” Bagi orang tua yang sedang lelah, pertanyaan semacam ini bisa terasa seperti perlawanan. Namun, dalam banyak keadaan, pertanyaan anak adalah jendela menuju kemampuan berpikir mandirinya.4,5 Tentu saja tidak semua pertanyaan harus dituruti. Anak tetap perlu belajar batas, adab, dan waktu yang tepat. Akan tetapi, membungkam pertanyaan anak sepenuhnya sama berbahayanya dengan memadamkan nyala percikan api sebelum sempat menjadi cahaya. Anak yang bertanya sedang belajar memahami sebab dan akibat. Dia sedang belajar melihat dunia bukan sebagai sesuatu yang harus diterima begitu saja, melainkan sebagai amanah yang boleh dipelajari dan diperbaiki.5

Ciri berikutnya adalah kepekaan terhadap keadilan. Anak seperti ini mudah protes ketika merasa ada sesuatu yang tidak seimbang. Dia bertanya mengapa kakaknya mendapat bagian lebih banyak, mengapa temannya disalahkan sendirian, atau mengapa aturan hanya berlaku untuk anak-anak dan tidak untuk orang dewasa. Terkadang protesnya terdengar tajam, terkadang pula caranya belum santun. Namun, di balik ketajaman itu bisa jadi tersimpan satu benih penting saat dirinya merasa tidak nyaman melihat suatu ketidakadilan.6 Tugas orang tua bukan mematahkan rasa keadilan itu, tetapi membentuk caranya. Anak perlu diajari bahwa membela kebenaran tidak boleh dilakukan dengan merendahkan orang lain. Dia perlu memahami bahwa menyampaikan pendapat memerlukan bahasa yang baik. Dia juga perlu belajar bahwa keadilan bukan berarti semua orang selalu mendapat porsi yang sama, melainkan memperoleh hak sesuai kebutuhan dan tanggung jawabnya.1,6

 

Memimpin Bukan Sekadar Mengatur

Anak yang berpotensi memimpin juga biasanya senang mengambil inisiatif. Dia membuat aturan permainan, membagi tugas, mengajak teman-temannya membuat sesuatu, atau tiba-tiba menyusun rencana kegiatan keluarga. Pada tahap awal, inisiatif ini sering tampak berantakan. Dia mungkin lupa bertanya apakah yang lain setuju atau tidak. Dia mungkin kesal ketika idenya tidak diterima. Dia mungkin ingin semua berjalan sesuai bayangannya1, sehingga di sinilah pendidikan kepemimpinan dimulai dari hal-hal kecil. Orang tua dapat bertanya, “Menurutmu, siapa saja yang akan terlibat?”, “Apa yang terjadi kalau temanmu tidak setuju?”, “Bagaimana caranya agar semuanya merasa senang?” Pertanyaan-pertanyaan seperti ini dapat mengubah anak dari yang sebelumnya si pemberi perintah menjadi pendengar, dari yang hanya ingin rencananya terlaksana menjadi pribadi yang mulai memikirkan perasaan orang lain.7 Pemimpin sejati bukanlah yang paling banyak memerintah, melainkan yang paling mampu menanggung amanah; bukan yang paling keras suaranya, melainkan yang paling jernih tujuannya; bukan yang selalu berdiri di depan, melainkan yang tahu kapan harus maju, kapan harus mendengar, dan kapan harus memberi kesempatan kepada orang lain.3

Empati menjadi unsur yang tidak boleh hilang. Anak yang kelak mampu memimpin perlu belajar membaca wajah sedih temannya, mendengar suara kecewa adiknya, dan merasakan gurat lelah orang tuanya. Tanpa empati, keberanian bisa berubah menjadi dominasi, kecerdasan bisa berubah menjadi kesombongan, kepemimpinan hanya akan menjadi kemampuan menggerakkan orang lain untuk memenuhi keinginan diri sendiri.8

Empati tidak tumbuh hanya dengan nasihat. Ia tumbuh dari keteladanan. Anak melihat bagaimana ayah berbicara kepada ibu, bagaimana ibu memperlakukan orang yang membantunya di rumah, bagaimana guru menegur murid yang keliru, dan bagaimana orang dewasa meminta maaf ketika salah. Dari sanalah anak belajar bahwa manusia tidak boleh diperlakukan seperti benda karena masing-masing dari mereka memiliki hati, harga diri, dan kisah yang harus dihormati.7

 

Tumbuh tanpa Takut Tumbang

Selain empati, calon pemimpin kecil juga perlu belajar mengelola diri. Anak yang penuh gagasan sering kali mempunyai energi besar. Dia mudah bersemangat, tetapi juga mudah kecewa; ingin cepat berhasil, tetapi belum sabar menjalani proses; berani mencoba, tetapi kadang belum siap menerima kegagalan. Maka, orang tua perlu membantunya mengenali berbagai emosi, seperti rasa marah, malu, kecewa, takut, iri, dan bangga.9 Mengelola emosi bukan berarti anak tidak boleh menangis atau marah. Hal ini berarti anak belajar bahwa perasaan boleh hadir, tetapi tindakan harus tetap dipilih.9 Dia boleh kecewa karena kalah, tetapi tidak boleh merusak mainan; boleh tidak setuju, tetapi tidak boleh menghina; boleh ingin menjadi ketua kelompok, tetapi harus siap ketika teman lain yang terpilih.

Kepemimpinan yang sehat selalu dimulai dari kemampuan memimpin diri sendiri. Bagaimana mungkin seorang anak kelak akan mengarahkan orang lain jika dia tidak pernah belajar mengarahkan ucapannya sendiri? Bagaimana dia akan dipercaya memegang tanggung jawab besar jika tanggung jawab kecil selalu dihindari? Maka, latihan kepemimpinan tidak harus menunggu anak menjadi ketua kelas, tapi bisa dimulai dari merapikan tempat tidur, menjaga barang pinjaman, menepati janji, meminta maaf, dan menyelesaikan tugas yang sudah disanggupi.2

Selain itu semua, ada pula anak yang menunjukkan potensi kepemimpinan melalui daya tahan. Dia tidak selalu menjadi yang paling pintar, tetapi dia tidak mudah menyerah. Ketika menara baloknya roboh, dia mencoba lagi; ketika gambarnya tidak bagus, dia menghapus dan mengulang; ketika kalah dalam lomba, dia mungkin menangis, tetapi keesokan harinya tetap mau berlatih lagi. Anak seperti ini sedang belajar satu pelajaran besar —bahwa kegagalan bukan akhir dari perjalanan.

Orang tua sering tergoda menyelamatkan anak dari semua kesulitan. Belum juga mencoba, anak sudah dibantu; anak belum jatuh, sudah ditahan; anak belum kecewa, sudah diberi hiburan. Padahal, dalam kadar yang tepat, kesulitan adalah guru yang paling kuat. Anak yang tidak pernah diberi kesempatan menghadapi kesulitan akan sulit membangun keberanian. Dia mungkin nyaman, tetapi rapuh. Dia mungkin aman, tetapi tidak siap.

Tentunya, bukan berarti anak harus dibiarkan menderita. Yang dibutuhkan adalah pendampingan, bukan pengambilalihan. Orang tua tetap perlu hadir, tetapi tidak selalu menggantikan. Guru membimbing, tetapi tidak selalu memberi jawaban. Dengan cara itulah anak akan belajar bahwa dia mampu, dia dipercaya, dan bahwa setiap usahanya memiliki nilai yang diapresiasi.

 

Aneka Wajah Kepemimpinan

Namun demikian, ada hal yang perlu ditekankan bahwa kepemimpinan bukan sekadar kemampuan tampil. Dalam budaya yang sering memuji anak yang berani berbicara di panggung, kita kadang lupa bahwa ada anak-anak pemimpin yang bekerja dalam diam. Mereka tidak selalu mengangkat tangan pertama kali, tetapi setia membantu teman; mereka tidak pandai berpidato, tetapi dapat dipercaya menyimpan rahasia; mereka tidak menyukai sorotan, tetapi mampu menenangkan suasana. Anak-anak seperti ini jangan sampai luput dari perhatian kita.

Kepemimpinan memiliki banyak wajah. Ada yang memimpin dengan kata-kata, ada yang memimpin dengan keteladanan, ada yang memimpin dengan gagasan, ada pula yang memimpin dengan pelayanan. Oleh karena itu, orang tua dan guru perlu berhati-hati agar tidak menyempitkan makna pemimpin hanya pada anak yang vokal, populer, dan percaya diri di depan umum saja.3

Di dalam rumah, kepemimpinan anak dapat ditumbuhkan melalui amanah kecil. Berikan dia kesempatan memilih menu sederhana untuk keluarga, mengatur jadwal merapikan mainan bersama adik, menjadi penanggung jawab tanaman di teras, atau membantu membuat daftar kebutuhan perjalanan. Setelah itu, ajak dia mengevaluasi, seperti apa yang berhasil, apa yang sulit, siapa yang terbantu, dan apa saja yang bisa diperbaiki agar lebih baik ke depannya.

Di sekolah, guru dapat memberi ruang bagi anak untuk belajar memimpin tanpa menjadikannya penguasa kecil. Kegiatan kelompok, proyek sosial, diskusi kelas, piket, dan musyawarah sederhana dapat menjadi laboratorium kepemimpinan. Dalam kegiatan seperti itu anak akan belajar bahwa ide harus dijelaskan, tugas harus dibagi, konflik harus diselesaikan, dan keberhasilan harus dirayakan bersama-sama.1

Yang tidak kalah penting dari itu semua adalah menanamkan nilai bahwa pemimpin bukanlah sebuah gelar, melainkan amanah. Seorang pemimpin tidak diukur dari berapa banyak orang yang tunduk kepadanya, tetapi dari berapa banyak kebaikan yang tumbuh melalui dirinya. Dia tidak hanya bertanya “Apa yang kuinginkan?” tetapi juga berpikir “Apa yang orang lain butuhkan?” Dia tidak hanya mengejar kemenangan, tetapi menjaga nilai dalam proses menuju keberhasilan.

 

Memberi Akar pada Mimpi Anak

Maka, ketika anak kita banyak bermimpi, jangan buru-buru menertawakannya. Ketika dia berkata ingin membangun sekolah untuk anak-anak tak berpunya, menciptakan alat yang membersihkan sungai, menjadi dokter bagi orang-orang yang tidak mampu, atau membangun rumah besar agar seluruh keluarga bisa berkumpul, dengarkanlah. Bisa jadi sebagian mimpinya masih terlalu tinggi, terlalu polos, atau terlalu jauh, tetapi bukankah banyak perubahan besar di dunia ini bermula dari mimpi yang dulu dianggap mustahil?

Tugas kita bukan mengecilkan mimpi anak agar sesuai dengan ukuran ketakutan kita. Tugas kita adalah memberinya akar agar mimpinya tetap berpijak dan tidak melayang tanpa arah. Akar itu bernama iman, akhlak, ilmu, disiplin, empati, dan tanggung jawab. Dengan akar itulah seorang pemimpi dapat tumbuh menjadi pemimpin.

 

Kesimpulan

Pada akhirnya, setiap anak mungkin memang perlu menjadi pemimpin, setidaknya pemimpin bagi dirinya sendiri. Dia perlu memimpin matanya agar melihat yang baik, lisannya agar berucap yang benar, tangannya agar tidak menyakiti dan menolong yang membutuhkan, pikirannya agar mencari ilmu, dan hatinya agar tetap tunduk di hadapan Tuhan.

Jika kelak dia akan memimpin keluarga, masyarakat, lembaga, atau bangsa, semoga dia tidak menjadi orang yang hanya pandai berdiri di depan, tetapi juga tahu cara menunduk untuk melayani. Semoga dia tidak menjadi pemimpin yang haus pujian, tetapi pemimpin yang setia pada kebenaran. Semoga dia tidak hanya menjadi anak yang memiliki banyak mimpi, tetapi anak yang menjadikan mimpinya jalan kebaikan bagi banyak orang.

Maka, ketika hari ini kita melihat anak yang banyak bertanya, banyak mengatur, banyak berkhayal, dan banyak mencoba, barangkali kita perlu menarik napas dalam-dalam dan sejenak menahan diri sebelum memberi label kepadanya. Jangan-jangan dia bukan sekadar anak yang merepotkan, jangan-jangan dia sedang belajar memegang kemudi kecil kehidupannya.

Anakku, sang pemimpi(n), teruslah bermimpi. Namun, belajarlah pula mendengar, menimbang, menolong, dan bertanggung jawab. Sebab, dunia tidak hanya membutuhkan orang-orang yang mampu bermimpi besar, tetapi juga jiwa-jiwa yang sanggup memimpin mimpi itu menuju kebaikan bersama.

Penulis adalah pengajar di Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yang menyelesaikan studi doktoralnya di Queen’s University Belfast, serta aktif menulis tentang PAUD.

 

Referensi:

  1. Redmond, S., & Dolan, P. (2014). Towards a conceptual model of youth leadership development. Child & Family Social Work, 21(3), 261–271. https://doi.org/10.1111/cfs.12146
  2. Stavans, M., & Diesendruck, G. (2021). Children hold leaders primarily responsible, not entitled. Child Development, 92(1), 308–323. https://doi.org/10.1111/cdev.13420
  3. Murphy, S. E., & Johnson, S. K. (2011). The benefits of a long-lens approach to leader development: Understanding the seeds of leadership. The Leadership Quarterly, 22(3), 459–470. https://doi.org/10.1016/j.leaqua.2011.04.004
  4. Chouinard, M. M. (2007). Children’s questions: A mechanism for cognitive development. Monographs of the Society for Research in Child Development, 72(1), 1–129. https://doi.org/10.1111/j.1540-5834.2007.00412.x
  5. Jirout, J., & Klahr, D. (2020). Questions-and some answers-about young children’s questions. Journal of Cognition and Development, 21(5), 729–753. https://doi.org/10.1080/15248372.2020.1832492
  6. Fehr, E., Bernhard, H., & Rockenbach, B. (2008). Egalitarianism in young children. Nature, 454(7208), 1079–1083. https://doi.org/10.1038/nature07155
  7. Drummond, J., Paul, E. F., Waugh, W. E., Hammond, S. I., & Brownell, C. A. (2014). Here, there and everywhere: Emotion and mental state talk in different social contexts predicts empathic helping in toddlers. Frontiers in Psychology, 5, Article 361. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2014.00361
  8. Taylor, Z. E., Eisenberg, N., Spinrad, T. L., Eggum, N. D., & Sulik, M. J. (2013). The relations of ego-resiliency and emotion socialization to the development of empathy and prosocial behavior across early childhood. Emotion, 13(5), 822–831. https://doi.org/10.1037/a0032894
  9. Eisenberg, N., Spinrad, T. L., & Eggum, N. D. (2010). Emotion-related self-regulation and its relation to children’s maladjustment. Annual Review of Clinical Psychology, 6, 495–525. https://doi.org/10.1146/annurev.clinpsy.121208.131208
Tags: majalah mata airmata air magazinePaudVolume 13 Nomor 51
Previous Post

Kecintaan pada Pengetahuan dan Penelitian

Next Post

Potensi Bioekonomi Biomedis dari Patogen Lokal

Yubaedi Siron

Yubaedi Siron

Related Posts

Benarkan Kita Bisa Multitasking?
Psikologi

Benarkan Kita Bisa Multitasking?

1 month ago
Visi Ibnu Haitham : Bapak Optik Modern
Psikologi

Visi Ibnu Haitham : Bapak Optik Modern

2 years ago
Load More

Discussion about this post

POPULAR POST

  • Taubah, Inabah, dan Aubah

    Taubah, Inabah, dan Aubah

    1421 shares
    Share 568 Tweet 355
  • Ibnu Sina, Seorang Ilmuwan Teladan

    1075 shares
    Share 431 Tweet 269
  • Shuffah, Pusat Bagi Para Jenius

    1035 shares
    Share 414 Tweet 259
  • Hewan-hewan yang Menantang Suhu Dingin

    1003 shares
    Share 402 Tweet 251
  • Tanya Jawab Edisi 37 (Demi Merasakan Manisnya Iman)

    923 shares
    Share 369 Tweet 231

Majalah Mata Air menyuguhkan bahan bacaan untuk mengembangkan cakrawala pemikiran.

Ikuti Kami

Categories

Bulan Terbit

Potensi Bioekonomi Biomedis dari Patogen Lokal

Potensi Bioekonomi Biomedis dari Patogen Lokal

September 4, 2026
Anakku Sang Pemimpi(n)

Anakku Sang Pemimpi(n)

September 4, 2026
Kecintaan pada Pengetahuan dan Penelitian

Kecintaan pada Pengetahuan dan Penelitian

September 4, 2026
  • Tentang
  • Ketentuan
  • Kirim Tulisan

© 2021 Majalah Mata Air - Membaca Kehidupan.

No Result
View All Result
  • Home
  • Rubrik
    • Sains
    • Budaya
    • Spiritualitas
  • Penulis
    • Amany Lubis. Prof. Dr.
    • Astri Katrini Alafta. S.S. M.Ed.
    • Gumilar Rusliwa Somantri. Prof. Dr.
    • Ilza Mayuni. Prof Dr.
    • Irfan Yilmaz. Prof. Dr.
    • Khoirul Anwar. Dr. Eng.
    • Muhammad Luthfi Zuhdi
    • Nabilah Lubis. Prof. Dr.
    • Qoriah A. Siregar. Dr.
    • Semiarto Aji Purwanto. Prof. Dr.
    • Riri Fitri Sari. Prof. Dr. Ir.
    • Tegar Rezavie Ramadhan. S.K.M. M.Pd.
  • Event
  • Tetes Mata Air
  • Arsip
  • Berlangganan
  • Produk Kami
    • Buku Digital
    • Majalah Digital
    • Mata Air dalam Genggaman
  • Semua Membacanya 2026
    • Pendaftaran Semua Membacanya 2026
    • Galeri Semua Membacanya
      • Galeri SM25
      • Galeri SM24
      • Galeri SM23

© 2021 Majalah Mata Air - Membaca Kehidupan.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Hallo,
Ada yang bisa kami bantu?
Tanya Admin