Peradaban berawal melalui kerja keras manusia dalam mengolah lingkungan sekitar dengan menggunakan anggota tubuh terutama tangan, kaki, dan kemudian memanfaatkan berbagai bahan yang ada di sekitarnya seperti batu dan ranting pohon. Selanjutnya, manusia mampu memodifikasi patahan kayu dan mengasah batu hingga ditemukan logam dan tembaga sebagai perangkat untuk memudahkan pekerjaan. Teknologi sederhana itu kemudian berkembang menjadi peralatan modern hingga elektronik yang dimanfaatkan bukan hanya untuk kebutuhan dasar melainkan juga untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan sekunder, tersier, hingga barang-barang mewah.
Ketergantungan manusia terhadap teknologi kian meningkat selaras dengan perkembangan ilmu pengetahuan yang semakin canggih. Sebelum tahun 2000, secara umum penggunaan kalkulator tidak diperbolehkan dalam aktivitas belajar-mengajar di sekolah. Sementara penggunaan laptop dan telepon selular dilarang di ruang kelas sampai tahun 2020, yakni periode sebelum pandemi Covid-19. Namun, saat ini berbagai peralatan teknologi tersebut sudah menjadi hal yang wajar. Bahkan di dalam berbagai proses pembelajaran, penggunaan peralatan elektronik dan digital sudah menjadi suatu keharusan.
Ringkasnya, manusia berhasil mengembangkan pengetahuan dan peradabannya dengan perangkat yang berada di luar tubuhnya sehingga bisa melakukan berbagai rekayasa teknologi yang menghasilkan berbagai produk untuk kemudahan kehidupan, termasuk peremajaan usia pada jaringan tubuh.
Collective Consciousness dan Nanopartikel
Kemajuan peradaban telah memperlebar jarak manusia dengan potensi luar biasa yang ada pada dirinya, yakni sesuatu yang tidak terlihat atau tersentuh oleh pancaindra, tetapi dalam kondisi tertentu bisa mencuat dalam berbagai ekspresi. Konsep collective consciousness1 merujuk pada kesadaran bersama terhadap eksistensi kelompok, adanya status tertentu, perlunya melakukan kegiatan bersama, dan seterusnya. Kesadaran bersama itulah yang melahirkan nasionalisme, etnosentrisme, dan chauvinisme yang dalam aplikasinya terlihat pada gerakan perjuangan kemerdekaan, tawuran antarkelompok, juga kerusuhan antarsuporter klub sepakbola.
Hal tersebut terbangun melalui proses sosialisasi atau penularan (contingency2) yang cukup panjang dan dalam medium yang jauh lebih meresap ketimbang bersifat dialogis semata. Hal ini terjadi melalui proses rangsangan pada bagian yang tidak tertangkap oleh sensor fisik manusia, bisa melalui proses penularan dalam bentuk perilaku, tindakan, ucapan, ekspresi maupun simbol-simbol yang bisa dimaknai oleh pancaindra. Hal tersebut dimungkinkan karena adanya getaran sangat halus yang beresonansi di antara individu yang kemudian memberikan stimulasi untuk berpikir, bersikap, dan bertindak dalam suatu koridor yang relatif sama.
Getaran tersebut berupa gelombang dengan massa yang sangat kecil, berupa partikel sub-atom yang disebut nanopartikel.3 Zat yang sangat mikro itulah yang berpendar dan kemudian membangun kesadaran bersama—yang dalam perkembangan peradaban terkini dikenal dengan berbagai konsep populer seperti food, fashion, pop-culture4—sehingga dapat dipahami oleh masyarakat luas.
Nanopartikel pada Level Mikro
Pada level mikro, nanopartikel sangat dekat dengan diri manusia. Seseorang, yang dalam keadaan terdesak di tengah upaya mencari jalan keluar yang hanya ada pilihan “harus, harus, dan harus” atau dalam situasi hysterical strength5 (kekuatan luar biasa), akan bisa mengeluarkan potensi luar biasa yang sebelumnya “tidak diketahui” keberadaannya. Ia bisa berupa “kemampuan sementara” yang muncul saat tubuh mengeluarkan kekuatan tertentu di luar batas normal. Misalnya, ketika seseorang dalam situasi darurat atau mengancam jiwa, secara otomatis tubuh akan menyalakan mode “fight or flight”6-7 (bertarung atau terbang) seperti seseorang yang tiba-tiba dapat melompati sungai selebar 3 meter saat dikejar anjing.
Kelenjar adrenal melepaskan adrenalin ke dalam aliran darah dan meningkatkan detak jantung, meningkatkan tekanan dan aliran darah ke otot, sehingga…







Discussion about this post