• Privacy & Policy
  • Kontak
  • Tentang Kami
    • Profil
    • Redaksi dan Manajemen
    • Dewan Penasihat
  • Mata Air di Dunia
    • Arabic
    • Deutsch
    • English
    • Spanish
    • Turkish
  • FAQ
  • Kirim Artikel
  • Karir
Tuesday, June 16, 2026
  • Login
Majalah Mata Air
Advertisement
  • Home
  • Rubrik
    • Sains
    • Budaya
    • Spiritualitas
  • Penulis
    • Amany Lubis. Prof. Dr.
    • Astri Katrini Alafta. S.S. M.Ed.
    • Gumilar Rusliwa Somantri. Prof. Dr.
    • Ilza Mayuni. Prof Dr.
    • Irfan Yilmaz. Prof. Dr.
    • Khoirul Anwar. Dr. Eng.
    • Muhammad Luthfi Zuhdi
    • Nabilah Lubis. Prof. Dr.
    • Qoriah A. Siregar. Dr.
    • Semiarto Aji Purwanto. Prof. Dr.
    • Riri Fitri Sari. Prof. Dr. Ir.
    • Tegar Rezavie Ramadhan. S.K.M. M.Pd.
  • Event
  • Tetes Mata Air
  • Arsip
  • Berlangganan
  • Produk Kami
    • Buku Digital
    • Majalah Digital
    • Mata Air dalam Genggaman
  • Semua Membacanya 2025
    • Pendaftaran Semua Membacanya 2025
    • Galeri Semua Membacanya
      • Galeri SM25
      • Galeri SM24
      • Galeri SM23
No Result
View All Result
  • Home
  • Rubrik
    • Sains
    • Budaya
    • Spiritualitas
  • Penulis
    • Amany Lubis. Prof. Dr.
    • Astri Katrini Alafta. S.S. M.Ed.
    • Gumilar Rusliwa Somantri. Prof. Dr.
    • Ilza Mayuni. Prof Dr.
    • Irfan Yilmaz. Prof. Dr.
    • Khoirul Anwar. Dr. Eng.
    • Muhammad Luthfi Zuhdi
    • Nabilah Lubis. Prof. Dr.
    • Qoriah A. Siregar. Dr.
    • Semiarto Aji Purwanto. Prof. Dr.
    • Riri Fitri Sari. Prof. Dr. Ir.
    • Tegar Rezavie Ramadhan. S.K.M. M.Pd.
  • Event
  • Tetes Mata Air
  • Arsip
  • Berlangganan
  • Produk Kami
    • Buku Digital
    • Majalah Digital
    • Mata Air dalam Genggaman
  • Semua Membacanya 2025
    • Pendaftaran Semua Membacanya 2025
    • Galeri Semua Membacanya
      • Galeri SM25
      • Galeri SM24
      • Galeri SM23
No Result
View All Result
Majalah Mata Air
No Result
View All Result
Home Budaya Resonansi

Puncak Persaudaraan: Menjadi Seorang Ansar

by Kerem Umar
6 years ago
in Resonansi
Reading Time: 10 mins read
Share on WhatsappShare on FacebookScan and read on your phone

Pada masa tersulit di Mekkah, terdapat sebuah peristiwa penting bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang membuat Beliau seakan sejenak menghirup napas lega dan takkan dilupakan hingga kiamat kelak. Peristiwa perkenalan Beliau dengan perwakilan pertama kaum Ansar yang kelak akan menjadi sahabat seperjuangannya. Beberapa pemuda Madinah menempuh perjalanan jauh datang ke Mekkah, lalu bertemu dengan Beliau di sebuah tempat sunyi di antara perbukitan luar kota Mekkah.

Para pemuda itu telah letih dengan perang antar kabilah dan pergolakan di Yatsrib. Mereka mencoba mencari jalan keluar; tetapi setiap solusi pastilah ada bayarannya. Membantu seseorang yang mengumumkan kerasulannya pada saat itu adalah seperti  menghabiskan mawar yang tumbuh di gurun seraya menanti datangnya burung bulbul. Pada penantian ini ada penderitaan dan kesulitan yang harus ditempuh. Walau mengetahui konsekuensi ini, para pemuda itu tetap mengulurkan tangannya dan berbaiat pada Rasulullah. Dengan tindakannya ini mereka telah melampaui bukit besar Aqabah. Yakni berhasil meraih kewajiban sebagai “Ansar” dalam sebuah misi bersejarah.

Al-Qur’an memuliakan penduduk Madinah Munawarah dengan sifat “Ansar”. Secara terbuka ayat-ayat memuji kaum Ansar: “Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dan orang-orang (Ansar) yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang Muhajirin), mereka itulah orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki (nikmat) yang mulia.” (QS. Al-Anfal: 74)

 

RelatedArticles

Sahabat Sejati

Tiada yang Seindah Rumah

Apa Artinya Menjadi Seorang Ansar?

Dalam Bahasa Arab kata ansar berarti “yang membantu, para penolong”. Kata ini kemudian menjadi sebuah tanda pengenal bagi sebuah komunitas setelah peristiwa Hijrah dan menjadi istilah khusus. Makna tambahannya selain menjadi orang yang membantu dakwah agama Allah dan Rasulnya, bermakna pula sebagai orang-orang yang menjadi penolong dan bertanggung jawab atas orang-orang Muhajirin yang datang ke Madinah.

Ketika Sahabat Ansar mengundang Rasulallah shallallahu ‘alaihi wasallam dan Para Sahabat datang ke kota mereka dari Mekkah; membagi rumah dan kebun miliknya, maka ini berarti juga mereka memilih sebuah jalan yang tak ada jalan kembalinya, yakni akan ada risiko berhadapan dengan musuhnya pula. Hanya dalam waktu singkat mereka berhasil meraih derajat yang begitu tinggi hingga seakan bisa menyamai tingkatan Para Sahabat yang telah menyertai Rasulullah selama 13 tahun perjuangan di Mekkah sebelumnya.

Saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajak Para Sahabat bermusyawarah sebelum perang Badar, adalah Sa’ad bin Muadz, tokoh dari kalangan Ansar berkata: “Jika Engkau memerintahkan kami masuk ke lautan kezaliman pun, kami akan memasukinya, Engkau akan memperjalankan kami dengan keberkahan dari Allah!” Tiga orang yang pertama maju memukul mundur kaum Quraisy pada perang Badar adalah dari kalangan Ansar yang selalu menjadi penolong atas segala hal. Kebanyakan syuhada Badar pun dari kalangan mereka. Begitu pula jenazah dari 70 rumah datang bersama angin Uhud berasal dari tapak kaki para Ansar.

 

Puncak Ufuk Persaudaraan: Persaudaraan Ansar-Muhajirin

Penduduk Madinah yang masuk Islam setelah baiat Aqabah pertama dan kedua adalah mawar-mawar terindah dari taman Ansar. Sementara burung bulbul dari taman ini tak lama kemudian akan mengambil jalan dari Penguasa Gua Tsur menuju Kuba, memuliakan negeri terpuji pada suasana hari raya yang ditiupkan oleh kaum Ansar. Mereka bahkan telah menunjukkan keansarannya sejak kali pertama, sembari membentuk tentara penjaga. Mereka memudahkan masuknya Sang Penguasa Kalbu shallallahu ‘alaihi wasallam ke dalam kota, setelah sebelumnya harus menunggu selama dua minggu di Kuba karena dikhawatirkan keselamatannya.

Lima bulan setelah hijrahnya, Rasulullah menjadikan setiap 45 Muhajirin dan Ansar dalam satu kelompok, lalu mengumumkan persaudaraan bagi tiap satu Muhajirin dengan satu Ansar. Hal ini menjadi dasar penerapan bagi kaun mukmin yang menjadikan persaudaraan Ansar-Muhajirin hingga kiamat kelak.

Dengan wasilah ini 185 orang dari 45 keluarga diumumkan menjadi saudara. Khalid bin Zaid (Abu Ayyub Al-Ansari) membuka pintu rumahnya bagi Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dan yang lain pun mengikuti berbagi rumah dengan kaum Muhajirin. Hal ini menjadikan Sahabat Said bin Zaid dari golongan al-asyaratul mubasyarah dengan Rafi ibnu Malik, dan Salman al-Farisi dengan Abu Darda sebagai saudara. Persaudaraan ini begitu penting hingga Ansar dan Muhajirin dapat saling memberi warisan (Q.S. al-Anfal:72). Kondisi ini berlangsung setelah perang Badar berakhir hingga kemudian dibatalkan dikarenakan sebuah ayat turun (Q.S. Al-Anfal:75).

 

Ketika Tunas Menjadi Buah

Persaudaraan Ansar-Muhajirin (Al-muakhat) telah menjadikan persatuan masyarakat Islam dan memudahkan pemecahan permasalahan sosial, budaya dan ekonomi di masa itu. Hal ini membantu kaum Muhajirin yang terasing dari kampung halamannya, menghilangkan kesedihan, dan membuat mereka lebih akrab dengan Madinah maupun penduduknya. Keindahan lain dari hal ini adalah ketika dukungan materi diupayakan, di saat bersamaan ada pula dukungan moril dari sebuah persaudaraan sehingga tak menimbulkan perasaan tertekan akibat bantuan yang diterimanya.

Kaum Muhajirin yang hingga saat itu telah berpengalaman saat berada dalam masa sulit, menjadi mursyid bagi orang-orang Ansar, begitu pun Ansar menjadi semacam murid bagi mereka sehingga sebuah gerakan pendidikan dimulai, hal ini membuat adanya aktivitas bersama dengan peran seimbang di antara Para Sahabat yang memiliki kemiripan karakter.

 

Setengah dari Itsar [1] – Istighna [2]

Meskipun penduduk Madinah yang selalu menunjukkan kedekatan dengan tamu-tamunya ingin membagi harta bendanya dengan kaum Muhajirin, namun keinginan ini tidak serta merta diterima. Maka perasaan itsar yang dimiliki Ansar berlomba dengan istighna yang dimiliki Muhajirin. Sebagai contoh, Abdurrahman bin’Auf yang ditawarkan setengah harta saudara Ansarnya justru secara halus menolak dengan mendoakan kebaikan atas saudaranya tersebut dan mengatakan: “Berikan padaku seutas tali lalu tunjukkan padaku jalan menuju pasar.“

Suatu ketika Kaum Muhajirin dan Ansar akan berbagi hasil panen kurma, beberapa Ansar sengaja mengatur tangkai kurma penuh dedaunan agar tampak rimbun dan banyak padahal kurmanya hanya sedikit pada bagiannya, sementara kaum Muhajirin yang berpikir bahwa Ansar lebih berhak atas panen tersebut sebagai pemilik asli kebun, sengaja memilih tumpukan kurma yang tampak sedikit, sehingga tanpa sadar sebenamya mereka telah mendapatkan bagian kurma yang lebih banyak. Suatu ketika Ansar yang menghargai sikap Muhajirin yang tak mau menerima apapun secara gratis tanpa bayaran mengatakan: “Biarkan mereka (kaum Muhajir) mengairi kebun-kebun itu, agar mereka tidak merasa berhutang budi“. Padahal pada masa itu, yang lebih paham tentang pekerjaan bercocok tanam bukanlah orang-orang Mekkah, tetapi para Ansar penduduk Madinah.

Akhirnya Rasulullah mengumumkan bahwa kepemilikan properti tetap pada Ansar sementara Muhajirin akan mendapatkan pembagian berdasarkan kerja kerasnya, sehingga kedua pihak bekerja sama dan berbagi hasil yang didapatkan. Kebalikan dari perasaan kaum Muhajirin yang merasa dirinya berhutang budi dan ingin membayarnya, keinginan untuk selalu membantu yang dimiliki kaum Ansar justru semakin bertambah dan menjadi prioritas baginya untuk memenuhi kebutuhan saudara-saudara Muhajirinnya (itsar) bahkan melupakan kemiskinannya sendiri (Q.S. Hasyr: 9). Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengumpulkan terlebih dahulu Sahabat Ansar untuk mendapat bagian dari tanah Bahrain, mereka justru melepaskan hak bagiannya dengan berkata: “Wahai Rasul Allah, sekiranya Engkau belum memberikan bagian lebih banyak dari tanah ini pada saudara-saudara Muhajir, maka jangan berikan apapun pada kami.” Sikap yang sama juga mereka tunjukkan saat ganimah [3] Bani Nadr akan dibagi.

Bantuan, dukungan, dan pelepasan hak yang diberikan Ansar bagi Muhajirin pada bingkai persaudaraan ini juga telah menjadi wasilah tumbuhnya sifat iqtishad (hemat) orang-orang Madinah bagi kaum muslimin. Nilai-nilai perdagangan Islam pada pasar Muslim yang dibangun dengan bantuan kaum Muhajirin pun diterapkan, dan hasil dari hal ini adalah berkurangnya pengaruh ekonomi Yahudi atas Ansar.

Beberapa Sahabat yang ditautkan dalam ikatan persaudaraan seperti Sahabat Umar dengan Itban bin Malik menyampaikan apa pun yang dipelajarinya dari Rasulullah sepanjang siang pada saudaranya yang harus bekerja dan baru pulang pada malam harinya. Dengan cara ini lah dimensi persaudaraan yang mereka bina meluas hingga aspek ilmu dan spiritualitas. Maka dapat dikatakan bahwa keindahan bingkai persaudaran pada masa Sahabat ini menjadi contoh teladan bagi semua Muslim pada generasi selanjutnya.

 

Pembicaraan Umat tentang Ansar

Semua Sahabat Mulia radiyallahu anhum adalah contoh teladan bagi kita. Pada suatu ketika, Rasulullah menegur beberapa anak muda yang tampak menginginkan ganimah yang akan dibagi pada pihak lain, sambil menyatakan pujiannya pada kaum Ansar yang dikumpulkannya: “Apakah aku tak cukup untuk, kalian?” dengan perkataannya ini sekali lagi Beliau menyanjung mereka. Bahkan setelah penaklukkan Mekkah, Beliau tidak meninggalkan Sahabat-Sahabat setianya dan lebih memilih meninggalkan kota Mekkah yang amat dicintainya untuk tinggal di tanah Ansar hingga akhir hayat.

Abu Haitsam al-Tayyihani dan putra terkecilnya Abu Talha, Sa’d ibnu Muadz serta banyak lagi yang lainnya adalah kenangan terbaik teladan dari kalangan Ansar pada ufuk yang berbeda. Mereka mengajarkan pada umat Islam konsep pemahaman bagaimana bersikap menjadi Ansar saat berhadapan dengan mereka yang terpaksa meninggalkan tanah airnya, tak hanya di dunia tetapi hingga kiamat kelak, dan membuat buku catatan amalnya akan selalu terbuka karena telah menjadi wasilah pembuka jalan bagi sebuah kebaikan.

Predikat keansaran Sahabat selain menunjukkan kebersetujuan mereka pada ketinggian fadhilah Hijrah, selain itu juga menjadi simbol bagi keindahan tertentu, terutama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang keutamaan hijrahnya tak tertandingi oleh siapapun. Dalam sejarah Islam ada banyak insan manusia yang mendapat kewajiban untuk menjalankan tugas ini. Mereka membagi tanah kelahirannya dengan tamu yang datang dan tidak memedulikan fitnah yang dilontarkan Ibnu Salul: “Dahulu kalian seperti singa, tapi di tangan mereka sekarang kalian menjadi domba.“

Jiwa-jiwa halus dan peka yang menganggap bahwa setelah menginjakkan kakinya ke tanah suci, adalah sebuah bentuk ketidak setiaan jika tak berkunjung ke kampung halaman Rasulullah, kala mengenang Beliau dan Para Sahabat pada jalanan di Madinah, saat menapaki rumah Abu Ayyub al-Anshari tempat Rasulullah bermalam pertama kali, mendapati tempat Bani Said berbaiat pada Sahabat Abu Bakar ra., melihat kebun milik Abu Talha ra. yang saat ini tepat berada pada pintu utama masjid berkubah enam dan masih banyak lagi tempat-tempat lain yang tak hanya membuat mereka terpaut pada buku-buku yang menceritakannya tapi lebih dari itu mampu meraup jejak napak tilas sebuah agama yang sangat nyata. Di antara jejak-jejak ini, ingatan tentang kaum Ansar pun mendatangkan sebuah kenikmatan yang menentramkan.

 

Menjadi Ansar saat Tengah Menjadi Muhajirin

Pada pandangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, keutamaan seorang Ansar sangatlah besar, sehingga Beliau memuji mereka dengan bersabda: “Sekiranya aku bukan seorang Muhajir, pastilah aku menjadi seorang Ansar“. Tak lama setelah peristiwa hijrah, beberapa Muhajir dinasibkan Allah subhanahu wa ta’ala menjadi seorang Ansar pula. Seperti Sahabat Ansar sebelumnya, mereka menggunakan sedikit harta yang dimiliki di jalan kebaikan tanpa menyisakan apa pun bagi dirinya, membantu Muhajirin baru yang datang dan berusaha bekerja keras agar bisa mandiri di tanah perantauan baru tersebut.

Bagai kunang-kunang yang selama beratus tahun berterbangan di sekitar pendar cahaya, di Madinah Munawarah pun telah terbentuk sekumpulan masyarakat yang amat mencintai Rasulullah hingga rela mengorbankan nyawanya sekalipun. Begitu banyak yang datang ke sana untuk menghabiskan sisa hidupnya, merelakan jiwanya di tanah mulia tersebut sembari menantikan syafaat yang telah dijanjikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di padang Mahsyar kelak bersama-sama para ahli kubur yang telah mendahului mereka.

Dengan wasilah ini mereka menjadi tetangga ber-mujawarah [4] bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, siapa yang bertetangga dengan Beliau shallallahu alaihi wasallam disebut sebagai mujawir [5]. Mujawarah atau bertetangga pun menjadi sebuah konsep penting di dalam kehidupan umat, siapa yang berada pada kondisi ini dipandang sebagai tamu-tamu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sepanjang sejarah Islam, terdapat para mujawir yang berasal dari beraneka bangsa, menghirup napas pada udara Madinah, menghabiskan sisa usianya pada sebuah lingkaran kesalehan di sana. Pada abad XX tokoh-tokoh Anatolia yang paling dikenal berada pada lingkaran seperti ini adalah Ali Ulvi Efendi, Minnatullah Efendi, Haji Husnu Efendi, Zekeriya Buhâri Hazretleri dan Mihr Ali Efendi [6]. Dari mereka seorang arsitek bernama Ömer Kirazoğlu Beyefendi yang beruntung ditakdirkan dapat merestorasi kembali Masjid Kuba.

Ada pula beberapa orang yang hampir menjadi mujawir dengan kedatangannya ke Madinah Munawarah dan mengetuk pintu rumah kaum Ansar, namun kebanyakan dari mereka tak ditemukan di sana kemudian. Mereka, yang hampir saja mendapatkan kehormatan sebagai Ansar bersama-sama dengan kaum Muhajir ternyata pergi ke tempat lain dan di sana pun Allah jalla jalalahu akan mentakdirkan Ansar lain bagi mereka. Ada banyak sekali mujawir yang mengalami keadaan mereka ini, yang pada akhirnya ditakdirkan menjadi Ansar pula meski sebelumnya berstatus Muhajirin. Merekalah yang telah benar-benar memerhatikan dan menolong dari dekat siapa saja yang datang ke tanah suci tersebut.

Manusia-manusia mulia yang dengan uangnya selalu berusaha memenuhi kebutuhan mereka yang fakir, senantiasa membantu di manapun ada Muhajirin yang membutuhkan bantuan, hingga menjadi hamba-hamba beruntung yang diberi tugas layaknya kaum Ansar. Pada masa selanjutnya, para keturunan Fatih Sultan Mehmet yang melanjutkan ekspansi ke kawasan Balkan disambut dengan hati terbuka oleh penduduk lokal. Allah yang telah menakdirkan para Ansar bagi Mehmet Akif [7] dan Mustafa Sabri Efendi [8] di Mesir, bagi Abdurrasyid Ibrahim [9] di Jepang; begitu pula orang-orang Tatar di Kosturma, Emin seorang penjual teh di Kastamonu, dan Mehmet Ceylan di kota Emirdağ yang menjadi Ansar bagi Ustad Badiuzzaman Said Nursi, telah menjadi pelipur lara bagi kesedihan yang tergambar di wajah para “Muhajirin nya.

Sementara itu, begitu banyak “Ansar” yang telah membuka kalbunya pada para relawan pendidikan yang berhijrah ke berbagai belahan geografi berbeda di dunia pada masa-masa sekarang ini, dan tidak berlebihan jika kita katakan bahwa kisah-kisah mereka takkan habis dicatat pada berlembar-lembar jilid buku, kebaikannya takkan pula bisa digambarkan dengan kata-kata.

 

Penutup

Masa ketika Para Sahabat hidup disebut sebagai Al-‘Asr Al-Sa’adah karena masa itu dimuliakan oleh kehadiran insan paling indah, Beliau shallallahu alaihi wasallam yang semua keindahannya masih tersimpan di balik tirai dan akan terlihat hingga hari Kiamat kelak. Keutamaan Ansar dan persaudaraaan Ansar-Muhajirin telah dibahas dengan berbagai detailnya oleh para ulama sirah. Tak hanya tentang hal tersebut, tetapi tulisan ini ingin juga menekankan bagaimana agar bentuk persaudaraan seperti ini dapat pula diwujudkan dalam kehidupan sekarang. Pada masa ini dapat kita jumpai banyak orang berpindah ke negara lain, memulai kehidupan barunya dengan niat baik untuk meraih bagian penting dari hijrah. Jika kita lihat dari masa dahulu hingga sekarang, seseorang yang ditakdirkan meniatkan dirinya berhijrah akan pula dipertemukan dengan mereka yang menjadi Ansarnya.

Dengan ayat: “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan merekapun rida kepada Allah” (QS. Taubah: 100), Allah jalla jalalahu menyejajarkan Ansar dengan Muhajirin, dan membuka pintu-pintu kebaikan bagi kaum mukmin pada masa sekarang untuk meraih derajat Ansar setelah Muhajirnya. Ada yang bisa memberikan pekerjaan, memberi makanan, bahkan membuka pintu rumahnya bagi mereka yang berhijrah pada hari-hari pertamanya.

Hal lain yang membawa kesejukan hati adalah adanya orang-orang dari dunia yang berbeda dengan kita, tetapi mampu mengikuti keindahan ini seolah menautkan ufuknya pada ayat “fi dinillahi afwaja” dengan berkata: “Kami punya rumah lebih dari satu, maka salah satunya bisa dipakai oleh mereka yang pindah ke sini.“

Suatu ketika, ucapan pujian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk mengungkapkan keharuan melihat hidangan yang disiapkan oleh seorang Ansar adalah: “Ya Sa’d apakah belum cukup begitu banyak hal yang telah kau berikan!” Lalu Sayyidina Sa’d pun berkata pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Bagi kami, apa yang kami berikan pada Anda, lebih menyenangkan dari pada apa yang masih tertinggal pada kami” ucapnya dan perkataannya ini akan selalu terngiang di telinga kaum Muslimin hingga hari Kiamat nanti, tertulis dalam tinta emas pada lembaran sejarah kita.

Betapa bahagianya mereka yang berhijrah dan yang mampu menjadi seorang Ansar!

 

Catatan Kaki:

  1. Sifat mengutamakan dan memuliakan kepentingan orang lain, membantu bahkan saat dirinya sendiri butuh.
  2. Perasaan cukup dan tidak menginginkan kekayaan orang lan, hatinya telah merasa penuh dan cukup sehingga tak lagi hasad atau iri dengan kepemilikan yang dipunyai oleh orang lain.
  3. Harta rampasan dari suatu negeri yang didapatkan setelah memenangkan sebuah peperangan.
  4. Jiran atau bertetangga.
  5. Tetangga atau orang yang menyandingi seseorang.
  6. Kata efendi di belakang nama seseorang menunjukkan penghormatan pada seseorang atau tokoh.
  7. Mehmet Akif Ersoy adalah seorang penyair Islami penulis teks lagu kebangsaan Turki İstiklal Marşı.
  8. Mustafa Sabri Efendi adalah seorang syeikhul Islam, ulama pada ada masa akhir kesultanan Ustmani yang kemudian mengasingkan diri ke Mesir karena dilarang masuk ke Turki. Beliau wafat di Kairo pada 12 Maret 1954. 
  9. Seorang penjelajah, penulis dan pemikir Islam yang berhijrah hingga ke Jepang. Salah satu karyanya adalah buku Alem-i Islam.

Referensi

  • Ensiklopedia Islam TDV Bab “Muahäat
  • Hatiralar, Ustaz Ali Ulvi Kurucu, İstanbul: Kaynak Yayınlan, 2016.
Tags: itsarKaum ansarmajalah mata airmata air magazinepersaudaraanResonansivolume 7 Nomor 28
Previous Post

Sosok Manusia Baru

Next Post

Aku Ingin Menjadi Mata Air

Kerem Umar

Kerem Umar

Related Posts

Sahabat Sejati
Resonansi

Sahabat Sejati

8 months ago
Tiada yang Seindah Rumah
Resonansi

Tiada yang Seindah Rumah

12 months ago
Load More

Discussion about this post

POPULAR POST

  • Taubah, Inabah, dan Aubah

    Taubah, Inabah, dan Aubah

    1396 shares
    Share 558 Tweet 349
  • Ibnu Sina, Seorang Ilmuwan Teladan

    1069 shares
    Share 428 Tweet 267
  • Shuffah, Pusat Bagi Para Jenius

    1021 shares
    Share 408 Tweet 255
  • Hewan-hewan yang Menantang Suhu Dingin

    997 shares
    Share 399 Tweet 249
  • Tanya Jawab Edisi 37 (Demi Merasakan Manisnya Iman)

    908 shares
    Share 363 Tweet 227

Majalah Mata Air menyuguhkan bahan bacaan untuk mengembangkan cakrawala pemikiran.

Ikuti Kami

Categories

Bulan Terbit

Tanya Jawab Edisi 49

Tanya Jawab Edisi 49

May 11, 2026
Pusat Energi Tubuh

Pusat Energi Tubuh

May 12, 2026
Hikmah Gerbang Hadamard pada Teknologi Kuantum

Hikmah Gerbang Hadamard pada Teknologi Kuantum

May 11, 2026
  • Tentang
  • Ketentuan
  • Kirim Tulisan

© 2021 Majalah Mata Air - Membaca Kehidupan.

No Result
View All Result
  • Home
  • Rubrik
    • Sains
    • Budaya
    • Spiritualitas
  • Penulis
    • Amany Lubis. Prof. Dr.
    • Astri Katrini Alafta. S.S. M.Ed.
    • Gumilar Rusliwa Somantri. Prof. Dr.
    • Ilza Mayuni. Prof Dr.
    • Irfan Yilmaz. Prof. Dr.
    • Khoirul Anwar. Dr. Eng.
    • Muhammad Luthfi Zuhdi
    • Nabilah Lubis. Prof. Dr.
    • Qoriah A. Siregar. Dr.
    • Semiarto Aji Purwanto. Prof. Dr.
    • Riri Fitri Sari. Prof. Dr. Ir.
    • Tegar Rezavie Ramadhan. S.K.M. M.Pd.
  • Event
  • Tetes Mata Air
  • Arsip
  • Berlangganan
  • Produk Kami
    • Buku Digital
    • Majalah Digital
    • Mata Air dalam Genggaman
  • Semua Membacanya 2025
    • Pendaftaran Semua Membacanya 2025
    • Galeri Semua Membacanya
      • Galeri SM25
      • Galeri SM24
      • Galeri SM23

© 2021 Majalah Mata Air - Membaca Kehidupan.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Hallo,
Ada yang bisa kami bantu?
Tanya Admin