COVID-19 yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2 bersifat contagious, atau mudah menular. Virus yang masuk ke paru-paru akan mengakibatkan peradangan pada alveoli sehingga terlapisi oleh cairan. Alveoli bersinggungan langsung dengan kapiler darah yang membawa karbon dioksida, maka peradangannya dapat membuat pertukaran oksigen terhambat. Akibatnya, pasien mengalami hipoksia (kekurangan oksigen). Untuk mengatasinya, perlu dilakukan terapi oksigenasi. Pada kasus yang berat, perlu digunakan high flow oxygen. Terapi ini memerlukan high-flow nasal cannula (HFNC) dan continuous positive airway pressure (CPAP). Di dalam HFNC, udara dihumidifikasi dan dihangatkan sehingga dapat diterima tubuh pasien. Sementara, CPAP berfungsi untuk memberikan tekanan positif secara kontinu untuk membuka saluran pernapasan pasien. Alat yang dinamai Vent-I merupakan salah satu contoh CPAP atau ventilator.
Sebelum pandemi ini, Indonesia belum mampu memproduksi ventilator sendiri dan mencukupi kebutuhannya dari impor, sehingga harganya dapat mencapai ratusan juta Rupiah. Padahal, di tengah pandemi ini rumah sakit harus menyediakan ventilator dalam jumlah banyak. Dengan hadirnya Vent-I hasil kreasi ITB, Unpad, dan YPM Salman ITB, kini rumah sakit bisa mendapatkan ventilator secara gratis. Lantas, bagaimanakah kisah di balik proses penemuan, pembuatan, hingga pengujian ventilator karya anak bangsa ini? Mari kita simak percakapan MATA AIR dengan Dr. Ir. Syarif Hidayat, M.T. ketua tim pembuatan Vent-I ini.
T: Apakah bapak bisa bercerita sedikit latar belakang awal mula pembuatan mesin Vent-I ini ?
J: Awalnya agak spiritualis juga, waktu itu hari kamis di akhir Maret, saya dan seorang pembina Masjid Salman ITB sedang merumuskan format pengumuman pada jamaah bahwa esoknya pada hari Jumat tidak akan bisa diadakan salat Jumat berjamaah dikarenakan Covid-19. Kondisi ini membuat saya merasa sedih sekali. Ternyata kesedihan itu langsung dijawab Allah, tepat di depan ruang rapat ada pertanyaan dari salah satu staf tingkat manajer Masjid tentang apakah saya bisa buat spryer untuk disinfektan dan ventilator. Satu malam saya pelajari alhamdulilah keesokannya saya langsung jawab bisa. Saya berani jawab bisa karena jika Allah berkehendak apa yang tidak bisa kan? Beruntung saya punya pengalaman membuat kapal penggelar kabel laut yang sekarang beroperasi di Sulawesi dan Maluku. Maka akhirnya dengan adanya proses pembuatan mesin Vent-I ini Alhamdulillah di masjid Salman ITB selalu ada yang salat Jumat selama pandemi.
T: Mengapa Bapak bertekad kuat sekali agar bisa membuat Mesin ini?
J: Karena saya gundah dengan kondisi ITB yang mengawamkan diri. Jika masyarakat awam dengan pandemi ini wajar, tapi lembaga andalan seperti ITB juga lockdown sementara di dalamnya ada sumber-sumber yang bisa dipakai untuk mencari solusi pandemi ini, maka menurut saya itu berlebihan. Maka kondisi ini melahirkan ungkapan bahwa saya lebih memilih mati dalam kondisi berdiri, daripada mati memeluk lutut. Jangan sampai kita seperti tidak berdaya. Takut atau khawatir boleh, tapi jangan sampai kita didikte oleh rasa takut itu.
T: Ternyata rasa gundah atau kepedihan dalam hati tersebut yang menjadi pendorong pada sebuah karya besar ya Pak? Apakah ada latar belakang masa kecil yang membuat Bapak punya sikap gigih tak gentar pada hambatan, sebuah sikap keilmuan yang sangat penting?
J: Ya, dalam proses pembuatan Vent-I ini saya dipertemukan Allah pada banyak ilmuwan yang pintar, baik hati sekaligus berani. Saya berasal dari keluarga miskin bahkan tidak berpendidikan tinggi. Tapi ada yang luar biasa bagi saya, yakni saat kecil ibu saya biasa mendongeng cerita Kisah Nabi kepada saya dan kakak yang secara luar biasa telah membentuk karakter pada diri saya, dan sampai saat ini saya sangat percaya bahwa folklor atau dongeng dapat membentuk kepribadian seseorang, maka keberadaan folklor anak yang bagus sangat penting. Kalau kita mau suatu bangsa maju maka folklornya haruslah yang bisa mendorong anak untuk bisa bermimpi untuk menjadi pahlawan. Saya juga beruntung dikarunia tetangga orang baik. Sampai usia 8 tahun saya belum bersekolah, karena faktor ekonomi, tetapi Alhamdulillah bisa baca, hitung, dan lain-lain karena tetangga itu, Maka saat akhirnya bisa bersekolah pada hari ke dua saya langsung dinaikkan ke kelas dua. Saat di kelas dua itu saya sudah suka berjalan kaki ke perpustakaan wilayah propinsi yang cukup jauh dan jadi anggota perpustakaan tersebut. Kelas 4 SD saya sudah tamat baca buku-buku sejarah SMA, buku sastra dan lainnya sudah saya baca. Saya sangat ‘rakus’ membaca, bahkan saat SD saya bercita-cita jadi seorang filsuf.
T: Masha Allah betapa bedanya orang yang suka membaca dan tidak ya Pak ?
J : Alhamdulillah, Allah karuniakan kecerdasan di atas rata-rata anak umum sehingga saya selalu juara sejak SD walaupun kondisi gizi kurang. Saya ingat sekali, hanya bisa minum susu jika sakit. Di tengah kemiskinan seperti ini juga saya pernah dicubit oleh Ibu karena berani menerima pemberian makanan dari tetangga tanpa izin Ibu.
T : Berarti konsep izzah (kehormatan diri) sudah ditanamkan dari kecil ya Pak ?
J : Ya, saya yakin kalau menanamkan izzah itu adalah urusan orangtua, bukan urusan guru. Itulah bekal akhlak dari orangtua.
T : Berkaitan dengan hal ini, apa sebenarnya permasalahan besar mengapa generasi muda kita sepertinya seringkali kita dapati masih tidak memiliki izzah atau harga diri dan martabatnya sendiri ?
J : Kita hanyut bersama-sama, karena kalau sesuatu itu hanyut biasanya bersama-sama. Yang tidak, berarti menetang arus, dan biasanya yang menentang arus itu minoritas. Yang masuk surga juga minoritas. Maka berbahagialah jika kita minoritas, karena itu berarti kita berada di tataran yang berbeda dari yang umum, yang umum itu biasanya celaka. Al-Qur’an mengatakan bahwa yang mayoritas itu adalah biasanya yang lengah, tidak bersyukur, tidak berpikir, tidak beriman. Namun saat Al-Qur’an berbicara tentang surga, ia membicarakan penghuninya yang unggul tetapi minoritas. Maka tak usah takut menjadi minoritas dan tak perlu mengagung-agungkan angka. Sayangnya mindset seperti ini tidak dimiliki kebanyakan generasi muda.
T: Lalu siapa yang bisa mengubahnya menurut Bapak?
J : Allah selalu mengatakan bahwa setiap zaman akan dikirimkan utusannya. Allah Maha Pengasih, Dia takkan membiarkan kita hanyut, maka pada setiap masa akan ada seseorang yang memberikan suluh, cuma masalahnya biasanya para pemberi suluh, sebagaimana dulu Para Nabi dan Rasul, seringkali ditolak oleh masyarakatnya. Namun, kita tak boleh terjebak hanya dalam proses menunggu atau menanti, karena mereka yang terangkut adalah bukan menunggu secara pasif, tetapi mereka yang menyiapkan diri. Kesalahan para orangtua yang menyatakan ini adalah masa kebangkitan Islam adalah pada sikap mental menunggu bukan justru mempersiapkan, menyongsong kebangkitan tersebut. Harus secara menyeluruh dipersiapkan, jadi media-media seperti MATA AIR ini akan sangat dirindukan untuk memberikan sebuah pencerahan pada orangtua bahwa orangtualah yang memikul tugas untuk menanamkan budi pekerti atau sikap mental positif, dan di antaranya adalah juga membuat folklor-folklor atau cerita pengantar tidur anak yang bisa membantu memerangi tantangan yang dihadapi anak-anak di masa depan.
T : Maka apakah izzah ini juga yang mendorong bapak untuk berpikir bahwa Indonesia harus punya ketahanan kesehatan di masa Covid dan membuat sendiri alat ventilator tanpa menunggu dari negara lain ?
J : Persis, saya ikut merasa tersinggung dan berdosa saat kita mengalami kebakaran hutan, kekeringan dan banjir silih berganti karena kita terbiasa membeli kenyamanan hidup dengan ‘memperkosa’ alam. Sementara misalnya orang Jepang atau Kanada tidak seperti itu, mereka mencari cara agar hidup lebih nyaman melalui karya penemuan dan inovasi. Merusak alam adalah akhlak yang tak ada harga dirinya, saya tidak mau bangsa ini tak punya harga diri, maka ini yang melatari berbagai penemuan yang coba kami lakukan.
T: Untuk tim Vent-I sendiri total berapa orang yang terlibat dan berapa biaya yang sudah dikumpulkan ?
J : Tim inti sekitar 11 orang termasuk 3 orang dokter, mahasiswa ada 70 orang yang membantu pada proses awal dan sekarang sekitar 30 mahasiswa. Dana terkumpul hingga saat ini mencapai 12,5 milyar dari organisasi, korporasi, dan perorangan.
T: Bagaimana perbandingan harga Vent-I dengan alat-alat yang dibuat di luar negri?
J: Jadi begini, sebenarnya fungsi ventilator yang dibutuhkan oleh pasien Covid adalah fungsi yang paling sederhana. Awalnya saya mau membuat ventilator yang lengkap, tetapi oleh dokter yang ada di tim saya disarankan hanya membuat fungsi sederhananya saja. Maka harga bisa sangat efisien, sekitar ¼ harga ventilator biasa.
T: Apakah ada peristiwa-peristiwa khusus atau cerita-cerita spiritual saat pembuatan, yang merupakan kemudahan dan pertolongan dari Allah?
J: Begitu besar pertolongan Allah di balik pembuatan alat ini. Saya harus menceritakan bahwa saya sebenarnya selama 10 tahun ini menderita sebuah penyakit yang mengakibatkan saya sering terbangun malam karena banyak berkeringat, jadi saya biasa kurang tidur. Ternyata selama proses pembuatan vent-I ini selama berminggu-minggu harus tidur di masjid saya tidak sakit sedikitpun dan jadi terbiasa tak tidur untuk proses pembuatan tanpa mengalami kondisi drop. Seolah Allah sudah melatih saya dahulu sebelumnya. Selain itu sering banyak orang yang tiba-tiba menolong secara finansial maupun ilmu, hingga kita tak pernah mengalami hambatan dari segi dana. Begitupun dari sisi perizinan selalu ada kemudahan dari Allah. Yang menarik program ini menjadi inklusif karena berawal di sebuah masjid namun jadi kebaikan bagi semua, Rahmatan lil’alamin. Tanpa direncanakan penerima unit pertama Vent-I adalah RS Advent.
T: Apakah selama pembuatan mesin ini Bapak merasa sering mendapat Ilham dari Allah?
J: Pernah suatu malam saya menangis karena terbentur suatu masalah motor mesin yang tidak bisa didapatkan. Lalu tiba-tiba seperti Allah menyusupkan ide pada kepala saya, saya teringat pada motor drone mainan anak-anak sepertinya bisa cocok dan kesediaan suplainya juga ada. Suatu ketika, dalam waktu dua jam saya harus mencari pengganti sebuah alat sensor yang rusak. Lalu harus mencari ide sederhana untuk menggantinya, saya terpaksa mencari cairan pengganti air pada alat ukur tekanan hanya dengan glycerin. Pada tahap awal bahkan pompa pun tidak ada sehingga kita harus membuat sendiri. Jadi ada 5 paten yang kita miliki berkaitan dengan beberapa unit bagian yang harus kita buat sendiri. Dan ada 2 paten baru yang akan didaftarkan lagi, maka saya menyebut Vent-I ini sebagai “Teknologi Bambu Runcing”, yang filosofinya seperti perjuangan bangsa dahulu yang bertekad untuk merdeka bukan dengan senjata canggih tapi dengan hal sederhana. Maka esensinya bukan pada kecanggihan alat tapi pada kebulatan tekad.
T: Apa pesan bapak untuk pembaca MATA AIR?
J: Tugas para insinyur adalah mengubah benda menjadi perkakas, sementara sastrawan merubah kata-kata menjadi kalimat yang menghibur dan menginspirasi. Maka sarjana harus berkarya bukan hanya berkata-kata. Bagi saya, dasar sastra dari kecil yang menginspirasi saya hingga seperti sekarang. Maka kalau kita ingin anak-anak kita baik, perkuat literasi positif mereka sejak dini. Folklor atau cerita pengantar tidur sangat penting bagi anak-anak.
Berdasarkan wawancara Astri Katrini Alafta dengan Dr. Ir. Syarif Hidayat, M.T. pada tanggal 15 Agustus 2020.
Dr. Syarif Hidayat adalah Lektor kepala di FTE-ITB yang mengepalai program Vent-I







Discussion about this post