• Privacy & Policy
  • Kontak
  • Tentang Kami
    • Profil
    • Redaksi dan Manajemen
    • Dewan Penasihat
  • Mata Air di Dunia
    • Arabic
    • Deutsch
    • English
    • Spanish
    • Turkish
  • FAQ
  • Kirim Artikel
  • Karir
Saturday, April 18, 2026
  • Login
Majalah Mata Air
Advertisement
  • Home
  • Rubrik
    • Sains
    • Budaya
    • Spiritualitas
  • Penulis
    • Amany Lubis. Prof. Dr.
    • Astri Katrini Alafta. S.S. M.Ed.
    • Gumilar Rusliwa Somantri. Prof. Dr.
    • Ilza Mayuni. Prof Dr.
    • Irfan Yilmaz. Prof. Dr.
    • Khoirul Anwar. Dr. Eng.
    • Muhammad Luthfi Zuhdi
    • Nabilah Lubis. Prof. Dr.
    • Qoriah A. Siregar. Dr.
    • Semiarto Aji Purwanto. Prof. Dr.
    • Riri Fitri Sari. Prof. Dr. Ir.
    • Tegar Rezavie Ramadhan. S.K.M. M.Pd.
  • Event
  • Tetes Mata Air
  • Arsip
  • Berlangganan
  • Produk Kami
    • Buku Digital
    • Majalah Digital
    • Mata Air dalam Genggaman
  • Semua Membacanya 2025
    • Pendaftaran Semua Membacanya 2025
    • Galeri Semua Membacanya
      • Galeri SM25
      • Galeri SM24
      • Galeri SM23
No Result
View All Result
  • Home
  • Rubrik
    • Sains
    • Budaya
    • Spiritualitas
  • Penulis
    • Amany Lubis. Prof. Dr.
    • Astri Katrini Alafta. S.S. M.Ed.
    • Gumilar Rusliwa Somantri. Prof. Dr.
    • Ilza Mayuni. Prof Dr.
    • Irfan Yilmaz. Prof. Dr.
    • Khoirul Anwar. Dr. Eng.
    • Muhammad Luthfi Zuhdi
    • Nabilah Lubis. Prof. Dr.
    • Qoriah A. Siregar. Dr.
    • Semiarto Aji Purwanto. Prof. Dr.
    • Riri Fitri Sari. Prof. Dr. Ir.
    • Tegar Rezavie Ramadhan. S.K.M. M.Pd.
  • Event
  • Tetes Mata Air
  • Arsip
  • Berlangganan
  • Produk Kami
    • Buku Digital
    • Majalah Digital
    • Mata Air dalam Genggaman
  • Semua Membacanya 2025
    • Pendaftaran Semua Membacanya 2025
    • Galeri Semua Membacanya
      • Galeri SM25
      • Galeri SM24
      • Galeri SM23
No Result
View All Result
Majalah Mata Air
No Result
View All Result
Home Spiritualitas Artikel Utama

Cinta untuk Umat Manusia

M. Fethullah Gülen

by M. Fethullah Gulen
6 years ago
in Artikel Utama
Reading Time: 6 mins read
Share on WhatsappShare on FacebookScan and read on your phone

Cinta adalah sebentuk obat mujarab yang menghidupkan, manusia menjadi bahagia karena cinta dan membahagiakan orang-orang di sekelilingnya dengan cinta. Dalam kamus kemanusiaan, cinta adalah kehidupan; kita merasakan dan mengindra satu sama lain dengannya. Allah belum menciptakan mata rantai yang mengikat manusia satu sama lain maupun hubungan yang lebih kuat daripada cinta. Sejatinya, bumi ini tak akan berarti apa-apa, bahkan akan hancur tanpa rasa cinta. Kita membutuhkan cinta untuk menjaganya tetap segar dan hidup. Jin dan manusia punya raja; lebah, semut dan anai-anai punya ratu; masing-masing punya singgasana. Raja dan ratu berkuasa dengan berbagai cara untuk kemudian naik singgasananya. Jika ada seorang raja yang memerintah di atas singgasana hati kita tanpa perlu mengerahkan kekuatannya, maka itu adalah cinta. Lidah dan bibir, mata dan telinga hanya berharga manakala membawa panji-panji cinta, sedang cinta sendiri tetap berharga, baik di dalam sesuatu atau pada kesendiriannya. Kalbu yang dianggap sebagai paviliun cinta, meraih tingkat berharga maupun nilai, tergantung pada cinta yang dibawanya. Benteng-benteng dapat ditaklukkan tanpa pertumpahan darah, hanya dengan melambaikan bendera cinta di depannya. Raja-raja yang para prajurit cintanya berhasil mencapai tempatnya, menjadi laskar cinta sebagaimana kesatria biasa.   

Kita telah dibesarkan dalam suasana cinta; kemenangan cinta berada di pelupuk mata dan genderang cinta membahana dalam hati. Jantung kita selalu berdetak girang bersama bendera cinta yang melambai-lambai. Kita menjadi begitu terjalin erat menyatu dengan cinta sehingga hidup kita sepenuhnya bergantung pada cinta, dan ketika mati, kita mati bersama cinta. Pada tiap helai napas, kita merasakan cinta dengan seluruh keberadan kita; ia merupakan kehangatan dalam dingin dan oasis kesejukan dalam panas. Suara genderang cinta bertalutalu terdengar pada pertempuran kita, sementara keheningan perdamaian menjadi ceria bersama parade tetabuhan cinta.

 Di dunia yang terlampau banyak polusi, di mana kejahatan ada di mana-mana, jika ada sesuatu yang masih utuh tak tersentuh dan masih suci, itulah cinta; di antara ornamen dalam kehidupan yang pudar ini, jika ada jelita yang masih mampu memelihara kecemerlangan dan pesonanya tanpa memudar, itulah cinta. Tidak ada yang lebih nyata dan lebih langgeng ketimbang cinta di negeri dan masyarakat mana pun di dunia ini. Di mana pun ada alunan cinta— yang lebih halus dan hangat ketimbang nyanyian ninabobo—terdengar, segala bentuk suara yang lain, segala instrumen, semuanya bungkam, dan ikut larut dalam kontemplasi sunyi dengan melodi yang paling merdu.

Penciptaan merupakan hasil dari nyalanya sumbu cinta, sumbu “menjadi diketahui dan dilihat.” Jika Tuhan tidak mencintai penciptaan, tidak akan pernah ada Bulan, Matahari, maupun bintang. Langit dipenuhi syair cinta, dengan bumi menjadi bait sajaknya. Di kitab alam dan ekosistem, tiupan kencang cinta begitu terasa, dalam hubungan antar manusia, bendera cinta dapat dilihat berkibar. Di dalam masyarakat, jika ada mata uang yang dapat mempertahankan nilai tukarnya, itulah cinta, dan lagi-lagi nilai cinta ada dalam dirinya sendiri. Cinta lebih berbobot meski ditimbang dengan emas yang paling murni sekalipun. Baik emas maupun perak di pasar atau tempat yang berbeda dapat berkurang harganya, tapi pintu-pintu cinta tertutup untuk segala jenis pesimisme dan tak ada yang sanggup mengubah stabilitas dan harmoninya. Sampai di sini, hanya monster-monster yang tenggelam dalam kebencian, kemurkaan, dan permusuhanlah  yang sengaja menolak dan melawan cinta. Ironisnya, satu-satunya obat yang dapat menenangkan jiwa monster yang kacau itu adalah cinta. Di luar pengaruh harta duniawi, ada masalah lain yang hanya dapat dipecahkan oleh kunci cinta yang mistik. Nilai-nilai apa pun di muka bumi ini tidak mungkin ada yang dapat menguasai atau menyaingi cinta. Para juragan emas, perak, koin, atau benda lain yang berharga, hampir selalu dapat ditaklukkan dalam perjalanan panjang yang melelahkan ini, oleh mereka yang berbakti pada cinta dan kasih sayang. Ya, meskipun para hartawan hidup dengan mewah dan melimpah ruah, pada saatnya pundi-pundi mereka akan kosong melompong, api yang mereka nyalakan cepat padam; namun lilin cinta selalu menyala, memberikan cahaya dan menyebarkannya ke dalam hati dan jiwa kita. 

RelatedArticles

Manusia dengan Kedalaman Batinnya

Napas-Napas Kalbu

Manusia beruntung yang berlutut di depan podium cinta, mengabdikan hidupnya untuk menyebarkan cinta, tidak menyisakan sejengkal ruang pun dalam kosakata mereka untuk dimasuki kata-kata seperti benci, murka, konspirasi, atau dendam, dan bahkan jika itu menjadi taruhan hidup, mereka tidak akan hanyut dalam permusuhan.  Kepala mereka dengan rendah hati merunduk, penuh dengan cinta, mereka tidak pernah menyambut apa pun selain cinta. Ketika mereka berdiri, rasa permusuhan bersembunyi, rasa benci menjelma cemburu, lenyap ditiup angin yang diembuskan oleh cinta. 

Satu-satunya daya magis dan mantra yang dapat menghancurkan tipu daya Setan adalah cinta. Para Rasul dan Nabi telah memadamkan api kebencian dan kecemburuan yang dikobarkan oleh Firaun, Namrud, dan raja-raja tirani lainnya dengan Alkausar cinta. Orang-orang suci telah mencoba mengumpulkan jiwa-jiwa yang tidak tertib dan berontak, yang berserakan di mana- mana seperti lembaran-lembaran lepas; mereka menggunakan cinta untuk memperkenalkan perilaku manusiawi kepada orang lain. Kekuatan cinta itu cukup besar untuk mematahkan mantra Harut dan Marut,1 dan cukup efektif untuk memadamkan api Jahanam. Oleh karena itu, tidak ada keraguan bahwa orang yang memiliki senjata cinta takkan memerlukan senjata lainnya. Sungguh, cinta bahkan cukup kuat untuk menghentikan peluru maupun meriam sekalipun.

Ketertarikan kita pada lingkungan serta cinta kita untuk manusia (kemampuan kita untuk melindungi ciptaan) tergantung pada pengetahuan dan pemahaman jati diri kita sendiri, kemampuan untuk menemukan diri sendiri, dan untuk merasakan hubungannya dengan Sang Pencipta. Sejalan dengan kemampuan untuk menemukan dan merasakan kedalaman batin dan potensi tersembunyidi dalamjatidiri, kitajugaakanmampu menghargai potensi sama yang dimilki orang lain. Selain itu, karena nilai-nilai batiniah ini langsung berhubungan dengan Sang Pencipta, dan demi terpeliharanya anugerah yang tersembunyi dalam setiap makhluk, kita akan mulai melihat segala sesuatu yang hidup dari perspektif yang berbeda dan dengan cara yang berbeda pula. Pada kenyataannya, tingkat pemahaman dan apresiasi kita satu sama lain tergantung pada seberapa baik kita mengenali kualitas dan anugerah yang dimiliki setiap orang. Kita dapat meringkas konsep ini dengan sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, “Seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya.” Kita bisa memperluas pengertian hadis ini dengan analogi “manusia adalah cermin dari manusia lainnya “. Jika kita berhasil melakukan hal ini serta mampu memahami dan menghargai anugerah yang tersembunyi di dalam diri setiap orang, maka kita juga akan mampu memahami bagaimana menghubungkan anugerah ini kepada Pemilik yang sebenarnya. Dengan demikian kita akan menerima bahwa apa pun yang ada di alam ini, yang indah, terkasih, atau tercinta hanyalah milik-Nya. Jiwa yang bisa merasakan kedalaman batin semacam ini akan mengatakan seperti yang disampaikan Rumi,2 yang bertutur dengan bahasa hati seraya menyuguhkan hikayah ini: 

 

Mari datang… datang dan bergabunglah bersama kami Manusia cinta yang berbakti kepada Sang Haq itulah kami

Mari datang… datang melalui pintu cinta lalu bergabung bersama kami Masuk dan duduklah bersama di rumah kami

Mari kita berbicara satu sama lain dengan nurani    Mari kita berbicara tanpa telinga dan mata, dalam sunyi Mari kita tertawa seperti mawar tanpa bibir atau suara

Seperti berpikir, mari saling menatap tanpa suara atau kata

Mari saling memanggil dari hati tanpa lisan, karena kita semua sama Seperti tangan menggenggam, mari kita bicarakan bersama

Tangan dan kaki lebih mengerti gerakan hati,

Jika demikian, mari kita tutup lisan dan berbicara dengan hati.

 

Dalam budaya kita sekarang, tidak begitu mudah untuk menyaksikan suatu pemahaman yang mendalam tentang perasaan manusiawi dan nilai-nilai seperti itu; tidak mudah pula menemukannya dalam pemikiran Yunani-Latin atau dalam filsafat Barat. Pemikiran Islam melihat diri kita masing-masing sebagai berbagai permata unik yang menjelma dalam bentuk berbeda-beda, sebagai aspek yang beraneka dari satu realitas. Sungguh, orang-orang yang telah bergabung menganut prinsip yang sama, seperti keesaan Allah yang sama, Nabi dan agama yang sama, mereka laksana kumpulan anggota-anggota tubuh. Tangan tidak perlu bersaing dengan kaki, lidah tidak mengkritik bibir, mata tidak melihat kesalahan telinga, hati tidak memusuhi otak. Karena kita semua menjadi anggota dari tubuh yang sama, kita harus menghentikan dualisme yang mengancam kesatuan.  Kita harus mengetahui bagaimana menyatukan manusia; inilah salah satu cara terbaik Allah untuk menjamin keberhasilan manusia di dunia ini, dan bagaimana Allah mengubah dunia ini menjadi surga. Dengan cara inilah pintu surga akan terbuka lebar menyambut kita dengan hangat. Karenanya, kita harus menghapus semua gagasan dan perasaan yang memecah belah kita, dan berusaha untuk saling merangkul.

Adanya perbedaan jalan dan aliran pada jalan- jalan yang ditempuh untuk menuju Allah adalah juga dikarenakan gaya-cara makhluk. Semua berada pada kesadaran yang berbeda, komentar berbeda, berjalan pada jalan yang berbeda, melewati jembatan yang berbeda, naik dari tangga yang berbeda, menempuh tapakan tingkatan yang berbeda pula… menyenandungkan simfoni yang berbeda, menggunakan instrumen yang berbeda; akan tetapi semua berlari untuk meraih keridaan-Nya dan berusaha untuk merubah dunia menjadi surga. Arena berlari yang sedemikian luas dan tujuan pun terbuka pada semua jalan, lalu untuk apakah ada pertengkaran? Terlebih lagi jika sekiranya kita dapat menghilangkan ikhtilaf dan permusuhan di antara kita ini bagi kebaikan dan kemanfaatan…

Mari kita akhiri pembahasan ini dengan bait syair luar biasa berikut ini :

 

Pria wanita, tua belia 

panah dan busur diperlukan 

Apa pun yang ada di dunia 

semua saling membutuhkan

Penulis adalah seorang ulama dan cendekiawan muslim yang dinobatkan sebagai 100 orang paling berpengaruh versi Majalah Foreign Policy, aktif menulis buku dan artikel di berbagai media internasional. Hingga kini tercatat lebih dari 70 buku telah beliau tulis dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa.

 

Referensi :

  1. Dua malaikat, yang kisahnya diceritakan dalam Al-Qur’an (Al-Baqarah 2:102), yang mengisahkan dasar-dasar sihir dan memperingatkan agar tidak menyalahgunakannya.
  2. Maulana Jalaluddin Rumi (1207-1273): Seorang tokoh Sufi berpengaruh. Kumpulan puisi Rumi yang terkenal berjudul al-Matsnawi al-Maknawi.
Tags: Volume 7 Nomor 25
Previous Post

Rasa Sakit Sebuah Sirine Peringatan

Next Post

Apakah Hewan Merasa Sedih?

M. Fethullah Gulen

M. Fethullah Gulen

Related Posts

Manusia dengan Kedalaman Batinnya
Artikel Utama

Manusia dengan Kedalaman Batinnya

6 months ago
Napas-Napas Kalbu
Artikel Utama

Napas-Napas Kalbu

7 months ago
Load More

Discussion about this post

POPULAR POST

  • Taubah, Inabah, dan Aubah

    Taubah, Inabah, dan Aubah

    1386 shares
    Share 554 Tweet 347
  • Ibnu Sina, Seorang Ilmuwan Teladan

    1067 shares
    Share 427 Tweet 267
  • Shuffah, Pusat Bagi Para Jenius

    1005 shares
    Share 402 Tweet 251
  • Hewan-hewan yang Menantang Suhu Dingin

    993 shares
    Share 398 Tweet 248
  • Tanya Jawab Edisi 37 (Demi Merasakan Manisnya Iman)

    900 shares
    Share 360 Tweet 225

Majalah Mata Air menyuguhkan bahan bacaan untuk mengembangkan cakrawala pemikiran.

Ikuti Kami

Categories

Bulan Terbit

Kesehatan – Ilmu Pengetahuan – Teknologi (Edisi 48)

Kesehatan – Ilmu Pengetahuan – Teknologi (Edisi 48)

March 3, 2026
Diskusi Hangat antara Kebenaran yang Diturunkan dan Pengetahuan yang Ditemukan

Diskusi Hangat antara Kebenaran yang Diturunkan dan Pengetahuan yang Ditemukan

March 3, 2026
Sahabat Sejati

Sahabat Sejati

March 3, 2026
  • Tentang
  • Ketentuan
  • Kirim Tulisan

© 2021 Majalah Mata Air - Membaca Kehidupan.

No Result
View All Result
  • Home
  • Rubrik
    • Sains
    • Budaya
    • Spiritualitas
  • Penulis
    • Amany Lubis. Prof. Dr.
    • Astri Katrini Alafta. S.S. M.Ed.
    • Gumilar Rusliwa Somantri. Prof. Dr.
    • Ilza Mayuni. Prof Dr.
    • Irfan Yilmaz. Prof. Dr.
    • Khoirul Anwar. Dr. Eng.
    • Muhammad Luthfi Zuhdi
    • Nabilah Lubis. Prof. Dr.
    • Qoriah A. Siregar. Dr.
    • Semiarto Aji Purwanto. Prof. Dr.
    • Riri Fitri Sari. Prof. Dr. Ir.
    • Tegar Rezavie Ramadhan. S.K.M. M.Pd.
  • Event
  • Tetes Mata Air
  • Arsip
  • Berlangganan
  • Produk Kami
    • Buku Digital
    • Majalah Digital
    • Mata Air dalam Genggaman
  • Semua Membacanya 2025
    • Pendaftaran Semua Membacanya 2025
    • Galeri Semua Membacanya
      • Galeri SM25
      • Galeri SM24
      • Galeri SM23

© 2021 Majalah Mata Air - Membaca Kehidupan.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Hallo,
Ada yang bisa kami bantu?
Tanya Admin