“Melakukan kesalahan adalah tindakan yang sangat manusiawi.”, “Siapa pun bisa berbuat salah.” adalah dua contoh kalimat yang sering kita katakan pada diri sendiri ketika baru saja melakukan kesalahan. Akan tetapi, terkadang hal itu hanya alasan semata untuk menghibur diri yang sebenarnya bisa menghindari kesalahan tersebut.
Nol Toleransi
Bisa jadi alasan terjadinya kesalahan adalah karena memang kitanya saja yang kurang teliti, kurang check and recheck, atau mungkin karena terjebak dalam rutinitas hingga menjadi complacent atau cepat berpuas diri. Ketika kesalahan-kesalahan yang kita anggap kecil itu mulai diabaikan, kita akan sampai pada tahap menormalisasi kesalahan itu, bahkan menganggapnya bukan lagi sebagai sebuah kesalahan, dan berlanjut menjadi pemakluman berkepanjangan. Contoh sederhananya adalah saat kita terbiasa menunda salat Zuhur hingga menjelang waktu Asar, yang lama-kelamaan kebiasaan ini akan kita maklumi. Lucunya, ketika kita bisa salat tepat waktu, pada saat menjelang waktu Asar kita justru seperti orang linglung dan amnesia, sembari bertanya-tanya dalam hati, serasa belum mendirikan salat Zuhur.
Jika ditilik lebih mendalam, ternyata ada tempat atau kondisi tertentu yang di dalamnya sama sekali tidak ada ‘keistimewaan’ bagi kita untuk membuat kesalahan, yakni tempat dan kondisi yang ternyata tidak memberi ruang sama sekali bagi kesalahan sekecil apa pun. Fakta unik ini semoga dapat kembali membuat kita mengevaluasi diri dalam hal kehati-hatian saat melakukan sesuatu.
Ya, ternyata ada waktu dan tempat yang nol toleransi bagi kesalahan, karena sekecil apa pun kesalahan itu, ia dapat berakibat fatal bagi satu, ratusan, atau bahkan nyawa semua orang yang ada di dalam satu kota tersebut. Salah satu tempat ini adalah bidang industri petrokimia, industri tempat saya bekerja sejak hampir 21 tahun yang lalu. Sejak dari Cilegon hingga sekarang hampir 15 tahun hidup di Qatar, saya bergelut di bidang industri petrokimia sebagai operator produksi dan teknisi laboratorium. Hal-hal terkait risiko dan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) dalam industri ini ibarat santapan dan sarapan sehari-hari.
Kasus BP America Refinery Explosion yang terjadi pada 23 Maret 2005 di Texas mungkin bisa mengingatkan kita pada risiko ini. Sebuah ‘kesalahan kecil’ yang pada akhirnya merenggut 15 korban jiwa dan melukai 180 orang lainnya. Berikut rangkuman sekilas kejadian tersebut yang merupakan laporan resmi dari CSB (Chemical Safety Board):
“At approximately 1:20 p.m. on March 23, 2005, a series of explosions occurred at the BP Texas City refinery during the restarting of a hydrocarbon isomerization unit. Fifteen workers were killed and 180 others were injured. Many of the victims were in or around work trailers located near an atmospheric vent stack. The explosions occurred when a distillation tower flooded with hydrocarbons and was overpressurized, causing a geyser-like release from the vent stack.”1
“Pada pukul 13:20 tanggal 23 Maret 2005, terjadi ledakan beruntun di BP Texas City Refinery pada saat awal pengoperasian kembali salah satu unit Isomerasi Hidrokarbon. 15 orang meninggal dan 180 lainnya terluka. Saat kejadian, banyak korban sedang bekerja di dalam trailer yang terletak dekat dari sumber ledakan. Ledakan terjadi ketika salah satu menara distilasi dipenuhi luapan cairan hidrokarbon dan menimbulkan tekanan berlebih hingga menyebabkan pelepasan seperti geyser dari pipa pembuangan akhir.”
Dalam laporan resmi perihal kejadian ini, memang disebutkan ada beberapa kesalahan yang menjadi pemicunya, mulai dari faktor human error, manajemen error, desain error hingga equipment error itu sendiri. Namun dari semua itu, ada satu hal kecil yang disebutkan di dalam akar masalahnya:
“Lack of automated controls in the splitter tower triggered by high-level, which would have prevented the unsafe level; and– inadequate instrumentation to warn of overfilling in the splitter tower.”2
“Kurangnya kontrol otomatis di menara pembagi yang dipicu oleh level tinggi yang terus membuatnya berada pada level yang tidak aman dan ketiadaan instrumen peringatan pada keadaan pengisian berlebih di menara pembagi.”
Dari laporan ini, dapat dikatakan bahwa ‘tidak adanya sistem peringatan yang menginformasikan jika tower yang berisi bahan kimia mudah terbakar sudah penuh’lah yang sebenarnya menjadi pemicu ledakan.
Sebagaimana perspektif pembuka tulisan ini, ternyata kesalahan kecil yang menjadi pemicu utamanya adalah karena level transmitter/level gauge yang tidak diperiksa sebelum unit yang meledak di pabrik itu dioperasikan. Secara sederhana, level transmitter adalah alat untuk menunjukkan volume di sebuah tangki atau tower di sebuah pabrik petrokimia atau minyak dan gas. Apa yang dilihat di control room monitor seharusnya adalah kondisi aktual di area operasional pabrik. Jika di area operasional level transmitter tadi menunjukan tangki atau tower itu terisi setengahnya, maka di Control Room Monitor seharusnya juga menunjukkan indikasi yang sama.
Ada juga alat sejenis itu, tetapi berfungsi menunjukkan tekanan (pressure transmitter). Begitu pula alat yang berfungsi untuk menunjukan aliran bahan kimia di dalam pipa (flow transmitter). Semua alat-alat transmitter ini sangatlah krusial. Sedikit saja melenceng atau menunjukkan nilai yang tidak sesuai dengan kondisi di lapangan, maka mereka harus segera diganti. Untuk mencegah terjadinya hal-hal semacam ini, ada sebuah prosedur yang disebut sebagai periodic maintenance, yakni pengecekan rutin fungsi dari alat-alat tersebut yang dilakukan setiap periode tertentu, tiap minggu, tiap bulan, atau tiap tahun.
Meski begitu, pada dasarnya alat-alat ini harus dipantau 24 jam oleh petugas di ruang kontrol sebuah pabrik petrokimia atau minyak dan gas. Jika ada sedikit saja hal ganjil atau berbeda yang terlihat, akan bisa langsung ditindaklanjuti. Pada setiap pertukaran shift kerja, biasanya akan ada laporan tertulis atau digital, dan pekerja shift sebelumnya harus bertemu dengan pekerja setelahnya untuk memberitahu kondisi-kondisi abnormal yang harus segera ditindaklanjuti.
Begitulah. Orang yang bekerja di industri petrokimia atau perusahaan minyak dan gas seperti kami akan selalu menghadapi risiko yang sangat besar. Bisa dikatakan bahwa kami senantiasa berada ‘dalam bahaya’. Sedikit saja kesalahan yang kami lakukan, bukan hanya pelakunya yang akan celaka, tetapi juga akan menyebabkan banyak orang terancam bahaya, bahkan menghilangkan nyawa.
Seiring perkembangan teknologi, alat-alat memang semakin canggih dan maju. Pekerjaan yang dulunya hanya dimonopoli manusia, kini telah banyak yang bisa digantikan robot dan Artificial Intelligence. Akan tetapi, operator pabrik kimia dan teknisi laboratorium seperti kami masih belum bisa digantikan oleh mesin atau robot disebabkan kerumitan dan kombinasi pengambilan keputusan dan kondisi ‘manusiawi’ yang memang harus ada saat menangani sebuah pabrik petrokimia. Jadi, sebagaimana kalimat pembuka tulisan ini, yang bekerja di industri ini sama sekali tidak memiliki privilege atau keistimewaan untuk berbuat kesalahan. Nol toleransi.
Penerapannya dalam Kehidupan
Lantas apa hikmah dan pelajaran yang bisa kita ambil dari insiden di atas? Sepertinya inilah yang disebut sebagai perfeksionisme atau yang bisa juga dianggap sebagai idealisme. Apakah konsep ‘zero mistake’ dalam industri bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari? Lalu bagaimana konsep ini dilihat dari perspektif seorang Muslim?
Perfeksionisme secara sederhana dapat diterjemahkan sebagai ‘pendamba kesempurnaan’ yang merupakan arti lain dari idealis. Orang sering memandang kata ‘ideal’ dan ‘sempurna’ dengan konotasi yang negatif, atau hal-hal yang sebatas khayalan. Padahal seorang Muslim harus selalu menjadi idealis dan perfeksionis. Tanpa disadari, sejatinya sebagai seorang Muslim kita memang dituntut dan dituntun untuk selalu idealis dan perfeksionis.
Contoh sederhananya adalah rukum Islam. Ibadah salat harus dilakukan secara sempurna dalam lima waktu: sempurna bacaannya dan sempurna rukun-syaratnya. Pada hal lain misalnya adalah rukun dan syarat dalam beribadah. Keduanya harus sempurna demi dapat menggugurkan kewajiban. Zakat harus pas perhitungannya, sesuai hisab dan nisabnya. Puasa juga harus sempurna dilakukan sejak azan Subuh hingga Magrib, tidak kurang sedetik pun. Haji harus sempurna sesuai waktu dan tempat yang ditentukan.
Maka dalam konteks kehidupan umum pun, kita harus membiasakan diri untuk idealis dan perfeksionis. Mengapa demikian? Untuk membiasakan pikiran kita agar selalu memiliki standar yang tinggi dan tidak cepat berpuas diri. Lalu bagaimana penerapan konsep ini dalam konteks mencari jodoh, sekolah atau pekerjaan; apakah kita juga harus berani memasang target idealis dan perfeksionis? Jawabannya adalah ‘iya’, agar kita berusaha lebih keras demi memantaskan diri kita, agar Allah memberi yang maksimal sesuai ikhtiar kita.
Lalu bagaimana dalam kehidupan sehari-hari, apakah kita harus selalu perfeksionis? Apa yang harus sempurna? Yang harus sempurna adalah ikhtiarnya. Ada sebuah konsep yang sangat menarik yang saya baca di buku Atomic Habits, tentang system vs goals3. Sistem ternyata lebih penting daripada tujuan.
Tujuan mencapai nilai yang baik pasti akan selalu berada di lubuk hati yang paling dalam, dan bisa menjadi bahan dasar motivasi utama. Namun sistem diri adalah gabungan dari perkembangan hal-hal kecil yang dibangun oleh kebiasaan. Walaupun seolah-olah kita tidak menghiraukan tujuan, tetapi pada akhirnya kita malah akan mencapai tujuan itu seolah-olah dengan tanpa usaha karena telah terbiasa dilakukan.
Contoh sederhana dari ‘saat tujuan hanya menjadi sasaran jangka pendek’ adalah seorang pelajar yang mempersiapkan diri untuk ujian dengan ‘sistem kebut semalam’ karena hampir tidak pernah belajar di hari-hari biasa. Dia memang berusaha keras dan maksimal mempersiapkan diri karena ingin nilai ujian besoknya baik, tetapi ketika ujian selesai, isi dari puluhan halaman dan latihan soal yang dia kerjakan semalaman seolah menguap begitu saja. Nilainya mungkin bagus, tetapi ada esensi yang hilang. Esensi pengetahuan dan ilmu yang seharusnya bisa diserap seolah-olah tertumpah dan tercurah dari dalam kepalanya.
Bandingkan dengan pelajar yang konsisten sempurna berusaha untuk belajar setiap hari sebelum tidur, mengulang pelajaran tadi siang. Disebabkan sistem yang diterapkannya, pelajar ini akan memahami pelajaran itu secara komprehensif, sehingga saat ujian tiba, bahkan jika ujian mendadak diadakan, dia tidak akan kelimpungan. Dan karena sistem diri ada, tentunya apa pun yang dipelajari akan memperkaya dirinya, baik secara pengetahuan, keilmuan, ataupun untuk masa depannya.
Tawakal setelah Menyempurnakan Ikhtiar
Apa tujuan puncak dan visi kita sebagai seorang Muslim? Tentunya masuk surga yang abadi. Apa sistemnya? Kita beribadah sebaik mungkin, bermanfaat sebanyak mungkin, menjalankan peran kita sebagai manusia sebaik-baiknya, berusaha semaksimal yang kita bisa.
Setelah kita menyempurnakan ikhtiar, lantas apa misi selanjutnya? Rumusnya mungkin sederhana. Dalam ceramahnya, Aa Gym pernah berkata: “Pasang target setinggi mungkin disertai usaha meluruskan niat dan menyempurnakan ikhtiar, lalu bertawakal.”
Apa pun misi seorang Muslim, hal itu sudah memiliki nilai lebih sejak niat ditetapkan. Dengan niat yang ikhlas, tentunya akan memberikan kita energi tambahan untuk melakukan ikhtiar yang sempurna, bukan ikhtiar atau usaha seadanya. Seorang Muslim akan selalu memberikan “ikhtiar yang sempurna” atas apa pun yang mereka lakukan, apa pun peran yang mereka jalani, apa pun profesi yang mereka miliki. Seorang Muslim tidak akan pernah melakukan sesuatu secara asal-asalan. Asal jadi atau asal dilakukan.
Tawakal bukan berarti pasrah dan ikut ‘mengalir bersama arus’ saja. Tawakal berarti kita sudah berusaha semampunya, menggunakan segala daya-upaya untuk meraih yang diimpikan dan inginkan, contohnya adalah ketika kita menginginkan sesuatu lalu bertekad bisa rutin menjalankan Tahajud agar bisa mendapatkan keutamaan Tahajud di sepertiga malam.
“Sesungguhnya di waktu malam terdapat suatu waktu, yang tidaklah seorang Muslim mendapati waktu itu, lalu memohon kebaikan kepada Allah ‘azza wa jalla, baik untuk kebaikan dunia maupun akhiratnya, melainkan Allah akan memperkenankannya. Demikian itu terjadi pada setiap malam.”4
Kita juga tahu sebagaimana perkataan Imam Syafi’i: “Busur doa di malam hari tidak akan meleset dari sasarannya.”5 Namun begitu, ternyata usaha kita tidak mencerminkan niat tersebut. Alarm pengingat cuma diset satu kali. Ketika terbangun pun, akhirnya kita hanya mematikan alarm saja. Dan kita tahu sendiri kelanjutannya yang tragis. Pada akhirnya kita menyerah pasrah dalam hangatnya pelukan selimut.
Bagi sebagian orang, hal seperti itu sudah disebut ‘tawakal’. Padahal sebenarnya kita bisa berikhtiar jauh lebih maksimal, dengan mengatur alarm tiap 10 menit misalnya, lalu handphone diletakkan di dekat pintu kamar agar kita bisa langsung keluar mengambil wudu.
Atau kita juga bisa mengeluarkan modal lebih dengan membeli sepuluh jam weker yang kita atur waktu alarmnya pada waktu bersamaan, lalu sepuluh jam weker itu kita sebarkan di sudut-sudut kamar yang sulit dijangkau dan di tempat-tempat tersembunyi di kamar kita. Apakah dengan usaha semaksimal itu kita masih juga tidak bisa bangun untuk sekadar salat Tahajud dua rakaat dan satu rakaat Witir?
Dengan prinsip ini, seorang pelajar akan belajar maksimal, para pedagang akan berniaga sejujur mungkin dan memberi pelayanan sebaik mungkin kepada pelanggannya, seorang karyawan akan selalu bekerja dengan sungguh-sungguh dan jujur, seorang guru akan senantiasa mengajar sepenuh hati, dan seterusnya. Jangan sampai kita menjadi jenis orang yang menyedihkan, menjadi pemalas yang ambisius, seorang yang selalu memasang mimpi setinggi langit, tetapi pada kenyataannya hanya berpangku tangan dan berusaha seadanya saja sambil terus berharap jika impiannya akan jatuh dari langit begitu saja.
Kunci terakhirnya adalah tawakal dan berserah diri kepada Allah apabila ternyata hasil akhir belum sesuai target dan harapan. Allah subhânahu wa ta’âla berfirman: “Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan baginya jalan keluar dan memberi dia rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, maka Dia cukup baginya.”6
Seorang Muslim juga diberi prosedur sabar dan syukur. Rasulullah bersabda: “Sungguh menakjubkan keadaan seorang Mukmin, seluruh urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang Mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, dia akan bersyukur dan itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, dia bersabar dan itu pun baik baginya.”7
Senjata terakhir yang bisa kita gunakan adalah ayat ini: “…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”8
Oleh karena itu, sesungguhnya hanya Allahlah yang Maha Mengetahui, sedang kita tidak mengetahui.
Sebagai kesimpulannya, ada beberapa poin yang bisa kita ingat:
Kita boleh berbuat salah, tetapi tetap ada hal-hal yang ‘tidak boleh salah’.
Selama kita sudah menyempurnakan usaha dan doa, hasil sudah tidak lagi penting. Yang harus dilakukan setelahnya adalah bertawakal.
Menikmati proses lebih baik daripada mencapai tujuan. Ketika tujuan tercapai, motivasi biasanya akan runtuh dan sulit untuk bangkit kembali.
Penulis adalah seorang pekerja migran Indonesia di Qatar. Beberapa buku karyanya bertema motivasi dan pengembangan diri, beliau dapat dihubungi di akun instagram @didaytea. Rekaman hobi fotografinya bisa dinikmati di @amazinglifeinqatar.
Referensi:
- Laporan Resmi BP America Refinery Explosion|CSB: https://www.csb.gov/bp-america-refinery-explosion/
- Video Youtube Updated BP Texas City Animation on the 15th Anniversary of the Explosion: https://www.youtube.com/watch?v=goSEyGNfiPM
- Atomic Habits, James Clear, 2018.
- Muslim, no. 757.
- Diwan Imam Syafi’i, potongan dari syair: Apakah engkau meremehkan doa dan menyepelekannya? Tahukah engkau apa yang dapat diperbuat doa? Busur panah (doa) di malam hari tidak pernah meleset dari sasarannya. Akan tetapi ia memiliki batas waktu dan setiap batas waktu ada akhirnya.
- al-Thalaq, 65/2-3.
- Muslim, no. 2999.
- QS. al-Baqarah, 2/216.







Discussion about this post