• Privacy & Policy
  • Kontak
  • Tentang Kami
    • Profil
    • Redaksi dan Manajemen
    • Dewan Penasihat
  • Mata Air di Dunia
    • Arabic
    • Deutsch
    • English
    • Spanish
    • Turkish
  • FAQ
  • Kirim Artikel
  • Karir
Thursday, April 30, 2026
  • Login
Majalah Mata Air
Advertisement
  • Home
  • Rubrik
    • Sains
    • Budaya
    • Spiritualitas
  • Penulis
    • Amany Lubis. Prof. Dr.
    • Astri Katrini Alafta. S.S. M.Ed.
    • Gumilar Rusliwa Somantri. Prof. Dr.
    • Ilza Mayuni. Prof Dr.
    • Irfan Yilmaz. Prof. Dr.
    • Khoirul Anwar. Dr. Eng.
    • Muhammad Luthfi Zuhdi
    • Nabilah Lubis. Prof. Dr.
    • Qoriah A. Siregar. Dr.
    • Semiarto Aji Purwanto. Prof. Dr.
    • Riri Fitri Sari. Prof. Dr. Ir.
    • Tegar Rezavie Ramadhan. S.K.M. M.Pd.
  • Event
  • Tetes Mata Air
  • Arsip
  • Berlangganan
  • Produk Kami
    • Buku Digital
    • Majalah Digital
    • Mata Air dalam Genggaman
  • Semua Membacanya 2025
    • Pendaftaran Semua Membacanya 2025
    • Galeri Semua Membacanya
      • Galeri SM25
      • Galeri SM24
      • Galeri SM23
No Result
View All Result
  • Home
  • Rubrik
    • Sains
    • Budaya
    • Spiritualitas
  • Penulis
    • Amany Lubis. Prof. Dr.
    • Astri Katrini Alafta. S.S. M.Ed.
    • Gumilar Rusliwa Somantri. Prof. Dr.
    • Ilza Mayuni. Prof Dr.
    • Irfan Yilmaz. Prof. Dr.
    • Khoirul Anwar. Dr. Eng.
    • Muhammad Luthfi Zuhdi
    • Nabilah Lubis. Prof. Dr.
    • Qoriah A. Siregar. Dr.
    • Semiarto Aji Purwanto. Prof. Dr.
    • Riri Fitri Sari. Prof. Dr. Ir.
    • Tegar Rezavie Ramadhan. S.K.M. M.Pd.
  • Event
  • Tetes Mata Air
  • Arsip
  • Berlangganan
  • Produk Kami
    • Buku Digital
    • Majalah Digital
    • Mata Air dalam Genggaman
  • Semua Membacanya 2025
    • Pendaftaran Semua Membacanya 2025
    • Galeri Semua Membacanya
      • Galeri SM25
      • Galeri SM24
      • Galeri SM23
No Result
View All Result
Majalah Mata Air
No Result
View All Result
Home Spiritualitas Artikel Utama

Manusia yang Kita Rindukan

M. Fethullah Gülen

by M. Fethullah Gulen
12 years ago
in Artikel Utama, Spiritualitas
Reading Time: 3 mins read
Share on WhatsappShare on FacebookScan and read on your phone

Bertahun-tahun sudah kita merindukan seorang yang akan menyelamatkan kita. Seorang yang akan membalut luka, dan menjadi penawar bagi setiap kepedihan kita. Apalagi ketika cuaca sudah semakin gelap dan jalanan semakin kacau, ia semakin kita butuhkan sebagai oksigen, cahaya, dan air bagi kita. Andaikan keadaan sudah tidak memungkinkan untuk berjumpa dengan dirinya pun, ia tetap menjadi seorang yang kita nanti dan rindukan. Akan kita tanyakan kepada semua orang, dan akan kita dendangkan melodi tentangnya di setiap tempat.

Dalam keputusasaan yang paling mengerikan, Dio genes di tengah-tengah masyarakatnya menyerukan akan ketiadaan manusia yang mau memikirkan bangsanya. Entahlah, sudahkan masyarakat kita kembali sadar untuk sekedar menyadari keadaan yang menyedihkan ini. Sungguh masyarakat ini lapar dan butuh akan kehadiran ‘seseorang’ yang akan mendekapnya dalam pelukan, yang akan meringankan derita kesakitannya, yang akan menyelamatkan dari kebiasaan-kebiasaan buruk yang telah mengakar. Sebenarnya semua yang diderita selama ini adalah akibat belum hadirnya sosok yang kita cari ini. Tidak diketemukanya sosok yang melupakan kesenangan hidupnya, karena ia hanya akan hidup untuk menghidupkan orang lain. Sosok ‘mustarib’ (penderita) yang hatinya penuh dengan bara kepedihan ummat. Dalam beberapa masa yang lalu beberapa orang dengan kriteria seperti ini dapat kita temukan? Namun hanya berapa orang jumlahnya? Yang mampu benar-benar menjadi sosok yang memahami rahasia penciptaan? Sosok yang memenuhi kriteria sebagai Khalifah dari Sang Pencipta?

Iya, sosok yang kita cari jauh sebelumnya adalah seorang ‘ksatria kalbu’ berjiwa besar. Ksatria kebenaran yang akan selalu mencoba memberikan jawaban atas segala ketidakjelasan yang dihadapi dalam setiap detik kehidupan ini, yang menelaah setiap sisi penciptaan, dan yang setiap pertanyaannya selalu ia cari jawabannya dari alam keabadian yang lekat pada hatinya. Ia bagai berlari mengikuti Khidir as. untuk mencari sumber mata air keabadian, mencari hakikat dan ketika telah menemukan akan mereguknya agar bisa mencapai keabadian; kemudian dunia iman dan cinta yang disusunnya dalam kerangka keirfanan(ilmu dan kebijaksanaan); sisi luarnya dekat pada langit sementara sisi dalamnya menyibak alam rahasia Ilahi. Ia menjadi lidah bagi setiap rahasia dalam segala benda dan penciptaan, penerjemah bagi hati nurani dan ruh, dengan dunia imajinasi pemikirannya, surga-surga yang ditaklukkannya satu per satu dengan kehendak-Nya adalah kemenangan bagi sang ksatria kebenaran ini. Sementara itu mereka yang acuh tak acuh terhadap hakikat kebenaran, orang-orang malang yang tidak mampu membaca kitap alam semesta, orang-orang jahil yang tidak tahu menahu tentang kedalaman jiwa dan perjuangan iradah, sama sekali tidak akan pernah bisa mengisi tempat bagi sosok manusia yang kita rindukan ini. Apalah artinya kehadiran mereka yang hanya memanfaatkan kekosongan untuk tampil di hadapan masyarakat, berlaku sebagai pemain palsu di muka masyarakat seraya bersenang-senang dengan keadaanya. Namun mereka sama sekali tidak akan pernah melekat di hati masyarakat, dan mereka tidak akan pernah mendapat sanjungan sebagai sosok yang dinanti. Orang-orang yang dengan penuh kesenangan rela memberikan jiwanya pada sosok yang dirindu ini adalah mereka yang mampu menggapai esensi dan makna dengan keilmuannya, mampu naik ke alam para malaikat untuk kemudian menyatu dengan jati dirinya; ketika hanya sebesar zarrah ia mampu menjadi mentari, ketika menjadi setetes air dapat menjadi menjadi hamparan samudera, dalam keadan parsialnya ia menjadi satu kesatuan utuh seluruh entitas. Seorang pemikir yang terbebas dari dualisme dunia kesadaraan dan materi. Dirinya adalah manusia yang mampu membaca tanda-tanda dan memahami; memiliki jati diri dengan ilmu dan kebijaksanaan, dengan imannya ia akan mampu menangkap rahasia untuk mencapai keagungan. Sosok pemikir yang mampu menghadirkan surga ke dalam hatinya dengan kelezatan-kelezatan ruhani. Sosok manusia yang dinantikan ini, yang hatinya dibekali dengan pemahaman agung seperti ini adalah pribadi yang menyandingkan Sang Haq dalam kalbunya saat bersama dengan khalayak. Pada setiap perilakunya terdapat ketulusan, dalam setiap perkataannya terucap rintihan yang diderita rakyat.

Padanya tidak ada pertanda keegoisan yang mendominasi perasaan, tidak ada pula kesombongan dalam kesuksesan, maupun keriangan dalam kemenangan. Sebaliknya, dalam keadaan yang membanggakan, dalam saat-saat kemenangan, ia justru akan berada dalam sikap dan perasaan yang paling santun dan bersahaja. Kepentingan pribadi dan golongan sama sekali tidak akan pernah mengotori cakrawala pemikirannya. Kebencian dan kekejian sama sekali tidak akan pernah mengaburkan pandangannya. Bagi seorang ksatria kebijaksanaan ini, mencintai, memaafkan, dan tabah terhadap segala yang datang dari orang-orang yang dicintainya adalah idealismenya yang agung. Sementara itu bagi mereka yang menjanjikan kebahagiaan kepada umat manusia dengan keji dan pertumpahan darah, tidak lain hanyalah orang-orang malang berjiwa bocah yang bahkan telah ditolak oleh empat kitab agama-agama samawi. Seandainya saja umat dapat menyingkap sandiwara dari para kurcaci aktor intelektual ini maka mungkin mereka akan mampu melawan ketidaknyamanan yang diakibatkan. Namun sayang, Ia masih terlampau jauh dari kemampuan untuk dapat memberikan pada apa yang menjadi keharusan keberadaanya.

RelatedArticles

Faqr dan Ghina

Perempuan dalam Lintasan Sejarah Tasawuf

Tags: idealismepemikirVolume 1 Nomor 3
Previous Post

Keselamatan Anak di Internet

Next Post

Tanya – Jawab (edisi 3)

M. Fethullah Gulen

M. Fethullah Gulen

Related Posts

Faqr dan Ghina
Bukit-Bukit Zamrud Kalbu

Faqr dan Ghina

6 months ago
Perempuan dalam Lintasan Sejarah Tasawuf
Tasawuf

Perempuan dalam Lintasan Sejarah Tasawuf

6 months ago
Load More

Discussion about this post

POPULAR POST

  • Taubah, Inabah, dan Aubah

    Taubah, Inabah, dan Aubah

    1388 shares
    Share 555 Tweet 347
  • Ibnu Sina, Seorang Ilmuwan Teladan

    1067 shares
    Share 427 Tweet 267
  • Shuffah, Pusat Bagi Para Jenius

    1007 shares
    Share 403 Tweet 252
  • Hewan-hewan yang Menantang Suhu Dingin

    993 shares
    Share 398 Tweet 248
  • Tanya Jawab Edisi 37 (Demi Merasakan Manisnya Iman)

    902 shares
    Share 361 Tweet 226

Majalah Mata Air menyuguhkan bahan bacaan untuk mengembangkan cakrawala pemikiran.

Ikuti Kami

Categories

Bulan Terbit

Kesehatan – Ilmu Pengetahuan – Teknologi (Edisi 48)

Kesehatan – Ilmu Pengetahuan – Teknologi (Edisi 48)

March 3, 2026
Diskusi Hangat antara Kebenaran yang Diturunkan dan Pengetahuan yang Ditemukan

Diskusi Hangat antara Kebenaran yang Diturunkan dan Pengetahuan yang Ditemukan

March 3, 2026
Sahabat Sejati

Sahabat Sejati

March 3, 2026
  • Tentang
  • Ketentuan
  • Kirim Tulisan

© 2021 Majalah Mata Air - Membaca Kehidupan.

No Result
View All Result
  • Home
  • Rubrik
    • Sains
    • Budaya
    • Spiritualitas
  • Penulis
    • Amany Lubis. Prof. Dr.
    • Astri Katrini Alafta. S.S. M.Ed.
    • Gumilar Rusliwa Somantri. Prof. Dr.
    • Ilza Mayuni. Prof Dr.
    • Irfan Yilmaz. Prof. Dr.
    • Khoirul Anwar. Dr. Eng.
    • Muhammad Luthfi Zuhdi
    • Nabilah Lubis. Prof. Dr.
    • Qoriah A. Siregar. Dr.
    • Semiarto Aji Purwanto. Prof. Dr.
    • Riri Fitri Sari. Prof. Dr. Ir.
    • Tegar Rezavie Ramadhan. S.K.M. M.Pd.
  • Event
  • Tetes Mata Air
  • Arsip
  • Berlangganan
  • Produk Kami
    • Buku Digital
    • Majalah Digital
    • Mata Air dalam Genggaman
  • Semua Membacanya 2025
    • Pendaftaran Semua Membacanya 2025
    • Galeri Semua Membacanya
      • Galeri SM25
      • Galeri SM24
      • Galeri SM23

© 2021 Majalah Mata Air - Membaca Kehidupan.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Hallo,
Ada yang bisa kami bantu?
Tanya Admin