Sebagaimana makhluk hidup lainnya manusia juga memiliki usia yang telah ditetapkan oleh Sang Pencipta. Agar manusia tidak salah kaprah menyalahkan Sang Maha Penyayang atas kematian mereka, maka diciptakanlah serangkaian musibah dan penyakit sebagai tabir dari kematian itu sendiri.
Selama berabad-abad, manusia mencari penawar bagi berbagai penyakit dan pada akhirnya banyak penyakit yang berhasil didapatkan kesembuhannya sebagai refleksi dari sifat Syafi (Yang Maha Penyembuh) dari Sang Maha Pencipta. Meskipun demikian, penyakit pada fase penuaan dan yang seringkali pula menjadi sebab kematian pada manusia tidak juga dapat ditemukan penawarnya.
Penuaan adalah sebuah momen yang memberi peringatan penting bahwasanya manusia adalah penumpang yang berada pada sebuah perjalanan menuju kematian. Sebagaimana ketidakberdayaannya saat pertama kali datang ke dunia, maka begitu pula kondisi manusia pada masa tuanya. Beberapa di antaranya adalah penyakit-penyakit yang disebabkan karena semakin berkurangnya ingatan dan hal-hal yang mempengaruhi tingkatan nalar manusia yaitu adanya kepikunan yang berlebihan (demensia).
“Dan barangsiapa yang kami panjangkan umurnya, niscaya kami kembalikan dia kepada kejadiannya” (maksudnya kembali lemah dan kurang akal) (Q.S. Yasin:68). Dikarenakan masa tua adalah masa paling lemah bagi seorang manusia maka dari banyak aspek pula masa ini adalah pula masa yang penuh dengan limpahan Rahmat-Nya. Namun, kebanyakan manusia yang diberikan amanah akal, jasmani, dan rohani justru tidak menggunakan sebagaimana mestinya sebagai bentuk syukur dirinya. Saat mereka memiliki kesempatan seringkali mereka justru menyia-nyiakannya. Mereka yang menyia-nyiakan hidup, terkadang akan terus berada dalam kehinaan sepanjang hayatnya.
Apakah yang dimaksud dengan kepikunan atau Demensia?
Demensia adalah nama sebuah periode yang ditandai dengan menurunnya daya ingat, kecerdasan dan kemampuan interaksi sosial seseorang dalam kehidupan sehari-harinya yang kemudian menjadi perkembangan karakter orang tersebut. Seiring dengan kondisi ini kemungkinan muncul pula gangguan berbicara dan kemampuan pemahaman yang diakibatkan karena semakin bertambahnya usia seseorang.
Sebenarnya kepikunan tidak harus muncul pada setiap orang tua. Orang tua yang tidak mengalami kepikunan biasanya memiliki aktivitas berfikir yang tinggi, terus-menerus membaca dan menulis, serta suka berdialog dengan orang lain. Oleh karena itu Demensia jarang menyerang orang-orang yang memiliki aktivitas intelektual. Demensia akan mengakibatkan seseorang yang berusia lanjut kesulitan untuk memenuhi kebutuhan dirinya sendiri. Yang termasuk ke dalam kelompok ini diantaranya adalah Alzheimer, Parkinson dan Huntington yaitu beberapa penyakit yang menyerupai Demensia dan bisa pula menyertai keadaan Demensia. Pada penderita penyakit-penyakit tersebut terlihat bahwa kerusakan sel-sel saraf (neuron) yang lebih besar jika dibandingkan dengan para manula biasa. Beberapa kasus penyakit ini disebabkan oleh faktor keturunan, namun pada umumnya belum diketahui sebabnya dan pada perkembangan penyakit ini biasanya terdapat penumpukkan produksi protein yang salah pada otak penderita. Protein tersebut menghalangi sel-sel untuk dapat berfungsi normal sehingga pada akhirnya akan mati.
Gejala Demensia berbeda pada setiap orang. Gejala awalnya adalah terus menerus lupa dan bingung, hilang ingatan, ketidakmampuan untuk memikirkan atau membayangkan hal-hal yang abstrak, tidak dapat konsentrasi atau fokus, kesulitan dalam melakukan pekerjaan yang kompleks, perubahan kepribadian, menjadi orang yang selalu bimbang atau ragu, dan adanya perilaku yang aneh adalah gejala-gejala yang paling utama Beberapa keadaan yang merupakan kondisi depresi yang sering terlihat pada orang tua sering kali disalah artikan juga sebagai kepikunan mereka. Kelompok terbesar yang menyebabkan penyakit Demensia adalah Alzheimer yaitu sekitar 56%, Sehingga akan lebih jelas lagi jika kita juga membahas tentang penyakit Alzheimer yang merupakan prototipe Demensia yang paling sering terlihat.
Apakah yang dimaksud dengan Alzheimer?
Alzheimer, adalah sebuah penyakit yang merupakan gejala lebih lanjut dari Demensia dan biasa terjadi pada mereka yang telah berusia lanjut, biasanya lebih sering terlihat pada orang tua yang berusia diatas 60 tahun. Perjalanan perkembangan penyakit ini sangat berbeda dan menunjukkan keadaan yang lebih berat dari pada keadaan penuaan pada orang normal. Penyakit ini ditandai dengan adanya kerusakan fungsi daya pikir yang mengarah pada kegagalan otak kronis. Penyakit ini dimulai secara perlahan dan tanpa disadari hingga terbentuknya kerusakan pada otak; hingga saat ini penyebabnya masih belum diketahui secara pasti. Derajat kerusakan di otak tampak berbeda-beda pada masing-masing penderita namun akan terus menerus meningkat. Seiring dengan berjalannya waktu kemampuan otak dan kapasitas daya ingat penderita Alzheimer akan terus berkurang, bahkan kemampuan berfikir secara logis, mempelajari sesuatu dan membangun komunikasi dengan lingkungan sosial lama kelamaan akan semakin menurun. Penyakit yang belum ada obatnya ini, pada tahap lanjut akan menyebabkan penderitanya tidak mampu bahkan hanya untuk mengerjakan pekerjaan rumah paling sederhana sekalipun, sehingga penderita akan sangat membutuhkan bantuan dari orang lain.
Usia, kepribadian, kesehatan fisik, riwayat keluarga, faktor budaya dan sub-etnis adalah beragam faktor yang akan mempengaruhi tanda-tanda yang ditunjukkan dari penyakit Alzheimer ini.
- Peningkatan populasi Lansia dibarengi juga dengan meningkatnya angka penderita Alzheimer, setelah usia 65 tahun maka angka kemungkinannya akan meningkat dua kali lipat pada setiap pertambahan lima tahun dari usia seseorang.
- Tingkat kepikunan pada wanita jauh lebih tinggi jika dibandingkan pria. Hal ini kemungkinan dikarenakan rata-rata perempuan memiliki umur yang lebih panjang dan juga jumlah perempuan berusia lanjut jauh lebih banyak.
- Keadaan depresi pada orang tua sering disalah artikan sebagai Demensia. Disamping itu, harus diingat bahwa depresi merupakan salah satu faktor risiko terjadinya Alzheimer.
- Tingkat pendidikan yang rendah merupakan salah satu faktor yang memperbesar kemungkinan adanya Alzheimer di masa tua.
- Pada sebuah penelitian ditunjukkan bahwa trauma pada bagian kepala dapat meningkatkan risiko Alzheimer.
- Ditemukan adanya hubungan antara tekanan darah tinggi (hipertensi) dan kadar kolesterol yang tinggi dengan penyakit Alzheimer.
- Jika pada riwayat keluarga terdapat penderita Alzheimer pada hubungan tingkat pertama kekerabatan, maka resiko kemungkinan akan meningkat hingga empat kali lipat. Faktor risiko lain yang memperbesar kemungkinan terjadinya Alzheimer adalah pekerjaan yang tidak memerlukan banyak aktivitas otak, penderita Down Syndrome, trauma kepala yang menyebabkan kehilangan kesadaran, riwayat infark miokard, penyakit karotid aterosklerotik, hipertensi, fibrilasi atrium, serta diabetes tipe 1.
Perubahan otak pada penyakit Alzheimer
Penyakit Alzheimer merusak sel fungsional utama dari otak yaitu neuron. Kerusakan ini dimulai di hipocampus yang merupakan pusat sistem ingatan kita. Oleh karena itu, gejala yang paling nyata dari penyakit ini adalah hilangnya daya ingat penderita. Kemudian, secara berturut-turut akan pula mempengaruhi sistem limbik dan amigdala yang berperan besar pada emosi dan pikiran, lalu kemudian bagian luar otak (korteks). Sebagai akibat dari kerusakan sel-sel saraf di daerah-daerah ini adalah adanya penyusutan pada massa otak. Hal ini akan mengurangi keterampilan berbahasa, kemampuan dalam membuat rencana dan penalaran, serta lama kelamaan akan menimbulkan perilaku agresif dan curiga. Sebagian besar pasien yang berada pada tahap terakhir dari penyakit ini, akan kehilangan kemampuan untuk makan dan mengatur buang air kecil, hingga biasanya membutuhkan perawatan secara khusus.
Hal–hal yang dianggap sebagai sebab penyakit Alzheimer
Ada dugaan bahwa perkembangan penyakit ini dikarenakan adanya pengaruh faktor keturunan dan lingkungan. Faktor-faktor risiko yang pasti mempengaruhi perkembangan sejarah penyakit Alzheimer adalah riwayat keluarga dan usia Sekitar 30% dari penderita penyakit ini memiliki riwayat Demensia pada keluarganya, dan 95% dari penderita adalah mereka yang telah berusia di atas 65 tahun ke atas.
Studi di bidang genetika menunjukkan bahwa terdapat empat kromosom yang berhubungan dengan penyakit Alzheimer. Bentuk awal dari penyakit ini memiliki sifat transisi genetik autosomal dominan, dan sekitar 3 – s°/4 nya yang akan menjadi kasus yang sesungguhnya. Pada tahapan awal penyakit ini terdapat peranan dari kromosom 1 (gen ke-1 presenilin), 14 (gen ke-2 presenilin), dan 21 (gen protein precursor amiloid). Sedangkan pada tahapan akhir terdapat peranan dari kromosom 19 (gen Apo E). Pada saat ini juga sedang diteliti tentang kromosom ke-12, yaitu gen makroglobulin alpha-2 sebagai faktor resiko.
Gen 4 allel sebagai gen pembawa memiliki hubungan dengan penyakit Alzheimer pada tahap akhir dan diyakini akan meningkatkan sensitifitas penyakit. Pada keluarga yang mengidap penyakit Alzheimer ditunjukkan bahwa adanya mutasi pada gen protein-protein yang berkode seperti presenilin 1 (PS1), presenilin 2 (PS2) dan protein precursor amiloid (APP). Seorang anak yang pada keluarganya membawa gen ini beresiko sebesar so% dapat terkena penyakit ini. Oleh karena adanya penderita Down Syndrome yang memiliki gen protein prekursor amiloid (APP) pada kromosom yang ke 21 dan masih hidup hingga di atas usia 50 tahun juga memiliki kemungkinan besar terkena Alzheimer.
Ciri khas sama yang terlihat pada tahapan akhir penyakit ini adalah mutasi-mutasi genetik pada kromosom ke 19 Apo E yang diketahui menjadi penyebab penyakit ini menyebabkan pemecahannya dan proses abnormal pada protein beta-amyloid-nya. Patologi yang terlihat pada Alzheimer merupakan akumulasi penumpukkan plak-plak beta-amyloid dengan gumpalan-gumpalan neurofibril yang terdapat pada neuron-neuron. Pada banyak kasus akumulasi berlebihan beta-amiloid pada otak dapat menyebabkan pembentukan plak. Terdapat sebuah korelasi penting antara akumulasi gumpalan neurofibril dengan tingkat keparahan gejala penyakit ini. Gumpalan-gumpalan neurofibril terbentuk dengan perantara protein Tau (Protein) yang terdapat di dalam sel-sel saraf. Protein ini adalah protein yang membantu untuk mempertahankan struktur kerangka sel saraf. Ketika mikrotubula yang berfungsi menegakkan struktur kerangka sel berpisah dengan protein Tahu maka akan terbentuk gumpalan-gumpalan neurofibril di dalam sel dan pada akhimya struktur kerangka sel akan runtuh serta menyebabkan neuron mati. Penelitian telah menunjukkan bahwa terlihat adanya peradangan/infeksi otak yang amat jelas pada penderita Alzheimer. Peradangan ini bisa jadi disebabkan karena mikroglia yang merupakan sel-sel pendukung otak berusaha menjauh dari bagian neuron yang rusak.
Beberapa hal yang relevan dengan diagnosis dan pengobatan
Sejauh ini belum ada diagnosis yang pasti dari penyakit Alzheimer. Diagnosa klinis dari penyakit ini adalah dengan pemeriksaan fisik lengkap pada pasien kemudian diagnosis diberikan setelah diadakan pertemuan yang intensif dengan keluarga dekat dari penderita serta menyaring sebab-sebab lain yang mungkin ada. Diagnosa juga dapat dibantu dengan teknik pencitraan PET dan MRI yang dapat menunjukkan perubahan struktur dan fungsi otak. Namun diagnosis pasti hanya dapat dilakukan pada otopsi pemeriksaan jaringan otak dengan menggunakan mikroskop.
Pengobatan penyakit Alzheimer lebih mengarah pada pemulihan daya ingat pasien, meredakan rasa was-was yang dialaminya serta perbaikan gangguan tidur jika ada. Target pengobatannya adalah semaksimalnya meningkatkan kualitas hidup pasien. Hilangnya daya ingat, kebingungan yang berlebihan serta Demensia bisa disebabkan oleh penyakit-penyakit degradasi seperti masalah metabolisme, depresi, keracunan obat, penyakit-penyakit tiroid dan kekurangan vitamin. Semakin cepat diagnosa dari keadaan-keadaan ini maka akan semakin cepat pengobatannya. Selain itu, pengobatan Demensia berikut permasalah-permasalahannya seperti depresi, kecemasan dan terganggunya pola tidur penderita akan juga membantu mengurangi kekambuhan penyakit.
Dengan pencitraan PET, rendahnya metabolisme otak temtama di lobus temporal otak penderita Alzheimer akan terlihat. Dalam penelitian beberapa tahun terakhir, stimulus magnetik otak yang akan diterapkan pada area-area ini akan menghilangkan penuaan metabolisme otak sehingga diharapkan dapat memberikan kontribusi pada penyembuhan penyakit. Telah terbukti melalui studi SPECT dan PET bahwa dengan terapi magnet metabolisme pada jaringan otak akan meningkat. Metode ini telah diterapkan di seluruh dunia selama 5-6 tahun terakhir. Metode ini memberikan pemulihan yang signifikan pada gejala penyakit dan menjadi sarana penyembuhan tersendiri yang telah memberikan banyak manfaat pada pasien dan diketahui pula bahwa tidak terdapat efek samping dari terapi ini.
Perlindungan dan Upaya Preventif
Berikut poin-poin penting dan harus dipertimbangkan sebagai langkah-langkah pencegahan penyakit tersebut:
- Obat-obatan untuk menunda atau memperlambat timbulnya AD, mungkin pula akan efektif dalam mencegah timbulnya penyakit tersebut.
- Pentingnya evaluasi yang baik dan diagnosa yang tepat pada penyakit-penyakit yang memang telah diketahui akan dapat menyebabkan Demensia seperti Hipothyroid, Hidrosefalus dengan tekanan normal (peningkatan cairan otak tulang belakang ), atau kekurangan vitamin B12, agar pada saat penderita berusia tua tidak dikategorikan secara keliru sebagai penderita Alzheimer.
- Beberapa sumber menyebutkan bahwa vitamin dan mineral tertentu dianggap dapat mempengaruhi penyakit alzheimer. Kekurangan asam folat dan vitamin B12, serta vitamin B6 yang mengalami gangguan pada metabolisme berhubungan dengan AD. Ditunjukkan bahwa pada pasien Alzheimer tingkat plasma B1 (tiamin) dan kepadatan magnesium otaknya rendah, sementara kadar zat cinko, aluminium dan zat besi pada cairan otaknya tinggi. Diketahui pula bahwa Zat antioksidan yang ada pada vitamin E dan C memiliki pengamh sebagai zat pelindung bagi peningkatan pengaruh stres oksidatif dalam otak.
- Penerapan diet khusus yang mengandung cukup vitamin dan mineral bagi kelompok manula sehat yang beresiko tinggi akan menderita Alzheimer pada usia lebih lanjut.
- Peningkatan tingkat pendidikan, pengaktifan kegiatan mental, melakukan latihan fisik secara teratur, memiliki hubungan sosial yang kuat dan terus memelihara gaya hidup aktif.
Selain itu perlu juga untuk selalu aktif membaca dan menulis, mengerjakan teka-teki silang, menghafal puisi-puisi indah dan ayat-ayat Al Quran akan membuat otak selalu beraktivitas. Aktivitas berjalan kaki yang diniatkan sebagai olahraga, lebih memilih berjalan kaki saat pergi ke sebuah tujuan, selalu adanya perubahan pada hal-hal yang dilihat dari lingkungan di sekitar yang dapat merangsang aktivitas mata, serta memilih rute yang berbeda saat pergi dan pulang dari sebuah tempat agar proses berpikir dan menalar sesuatu terus berjalan.
Sebuah perjalanan walaupun hanya pada jarak yang dekat sekali pun apalagi jika diniatkan untuk bersilaturahim memiliki keutamaan yang sangat tinggi. Para manula yang gerakannya terbatas hanya pada lingkungan rumah akan mendapatkan rangsangan di berbagai bagian tubuh mereka beberapa kali dalam sehari dengan gerakan mengambil wudhu, sholat lima waktu, dan bahkan dari pada diam, sebaiknya melakukan ibadah lainnya yang dapat melindunginya dari kemalasan. Duduk terjebak di sofa, terus-menerus di depan televisi akan membuat tubuh dan pikiran menjadi pasif, serta tidak bisa dihindari bahwa hal tersebut akan membuat pikiran seseorang menjadi semakin melemah dan tumpul. Banyak penelitian yang dilakukan oleh para sarjana, pendidik dan psikolog yang menunjukkan bahwa terus menonton televisi, ketergantungan yang berlebihan pada komputer dan internet adalah pengaruh negatif dari gaya hidup yang membuat manusia terputus hubungan dari lingkungannya.
Hal serius yang diakibatkan oleh Alzheimer dan beberapa penyakit serupa yang belum ditemukan pengobatannya mengingatkan manusia akan kelemahan dan ketidakmampuannya. Kita semua melihat bagaimana bahwa dalam sebuah hadisnya, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam memohon perlindungan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar dijauhkan dari ketidakberdayaan, kefakiran dan kekikiran serta ‘kepikunan’ (demensia). Keterbatasan manusia dalam kemampuannya mengobati penyakit mengingatkan kita bahwa pada setiap aspeknya manusia amat membutuhkan Rahmat Allah yang tidak terbatas serta harus selalu berlindung kepada-Nya.
Sumber:
- Klinic Mayo Penyakit Alzheimer, penerjemah: Ayse Bingul, Giines Kitabevi, 2004.
- Turkish Journal of Geriatrics 2007, to, him. 88-99, 156-168
- Journal Kesehatan dan Masyarakat 2002; u, p. 22-32.
- Turkish Journal of Neurology 2010; 16, hal.1-11
- Hadist: [Abu Ya’la, lbnu Hibban]







Discussion about this post