Apakah autisme itu? Sebuah istilah yang mungkin semakin sering kita dengar melalui berita, tulisan bahkan mungkin kabar dari keluarga dekat yang didiagnosis sebagai autisi (penyandang autisme). Dalam dunia kedokteran, autisme dianggap sebagai gangguan perkembangan neurobiologis yang berat, dengan gejala meliputi masalah komunikasi verbal (kata-kata atau kalimat), maupun non-verbal (gerak tubuh dan mimik wajah), permasalahan dalam interaksi sosial, dan pada pola perilaku, minat, atau aktivitas yang terbatas serta berulang.
Di Indonesia maupun di seluruh dunia, jumlah penyandang autisme semakin tinggi. Menurut laporan CDC (Centers for Disease Control and Prevention – US Government Agency) pada tahun 2021, berdasarkan data tahun 2018 terdapat sekitar 1 dari 44 anak di Amerika Serikat yang didiagnosis memiliki gangguan spektrum autisme (ASD). Sementara ini, belum ada data resmi jumlah penyandang autisme di seluruh Indonesia. Dengan angka-angka Insidens dan Prevalens di seluruh dunia, dan data jumlah penduduk serta angka pertambahan penduduk Indonesia berdasarkan sensus penduduk tahun 2010 oleh Biro Pusat Statistik Indonesia, maka penulis memperkirakan terdapat sekitar 2,4 juta autisi di seluruh Indonesia, dengan pertambahan setidaknya 500 orang/ tahun.
Pada umumnya dokter di Indonesia belum mampu mendiagnosis autisme, karena memang hal ini tidak diajarkan ketika kuliah menjadi dokter umum maupun spesialis, baik tentang skrining, diagnosis, apalagi bagaimana terapi autisme yang benar. Sehingga sering kali terjadi kekeliruan diagnosis seorang anak yang sebenarnya berada dalam kondisi autisme tapi dikatakan sebagai gangguan speech delay1, kondisi ADHD2, atau diangap sebagai GDD3.
Kekeliruan terapi autisme terjadi karena tiga hal. Pertama, karena….![]()







Discussion about this post