Sesuatu yang tak dapat dipungkiri bahwa hubungan ilmu dan amal memiliki peran penting dalam membantu manusia mencapai derajat ‘Insan Kamil’. Lantas bagaimana kita melihat hal ini dari perspektif Al-Qur’an?
Tidak mungkin kita dapat menjelaskan sebuah topik permasalahan yang telah ditulis di berbagai kitab selama bertahun-tahun lamanya secara mendetail hanya dalam atmosfer tanya-jawab yang singkat seperti ini. Namun, kita usahakan untuk dapat menjawabnya dalam ruang lingkup dua ayat berikut. Allah berfirman dalam Al-Qur’an, ‘’Perumpamaan orang-orang yang diberi tugas membawa Taurat kemudian tidak membawanya (tidak mengamalkannya) adalah seperti keledai yang memikul kitab-kitab yang tebal. Sangat buruk perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.’’ (QS. Al-Jumu’ah [62]: 5), dan ‘’Dan sekiranya Kami menghendaki, niscaya Kami tinggikan (derajat)nya dengan (ayat-ayat) itu, namun dia cenderung kepada dunia dan mengikuti keinginannya (yang rendah), maka perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya, maka dijulurkannya lidahnya, dan jika kamu membiarkannya, maka dia menjulurkan lidahnya (juga). Demikianlah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka berpikir.’’ (QS. Al-A’raf [7]: 176). Bila kita cermati lebih dalam, sebagaimana yang bisa kita lihat, pada bagian awal ayat tersebut Al-Qur’an mengarahkan perhatian kita pada penyerupaan orang-orang yang tak dapat mempraktikkan ilmu yang didapatkan dalam kehidupan sehari-harinya dengan sebuah perumpamaan. Alasan penyerupaan mereka dengan ’keledai yang membawa muatan’ mungkin karena memang hanya dapat digambarkan dengan ungkapan itu. Karena pada saat seseorang tidak menggunakan apa yang diketahuinya dalam kehidupan pribadi maupun kehidupan bermasyarakat, maka ilmu itu hanya akan menjadi beban yang tak terpikul olehnya.
Al-Qur’an dalam ayat lain secara jelas menyerupakan manusia yang meski diciptakan terbuka pada kebenaran dan hakikat namun justru menutup mata pada kebenaran tersebut seperti seekor anjing. Ada baiknya kita sedikit membahas mengapa tipe orang seperti ini diserupakan dengan anjing dan perlu bagi kita untuk melihatnya dengan pandangan bahwa perumpamaan ini adalah sebuah sebutan yang mengandung kutukan. Saat kelelahan, anjing akan menjulurkan lidahnya untuk menghilangkan rasa panas atau dahaganya. Saat marah, ia akan menyeringai menunjukkan geliginya sebagai tanda kemarahan. Kalau begitu, seperti inilah gambaran kondisi orang yang tertutup dari kebenaran. Sejatinya, dengan perumpaan ini atau perumpamaan lain yang mirip dengannya, kita diseru untuk menjadi Insan Kamil. Misalnya dalam keadaan dan gerakan saat salat, manusia diarahkan pada perilaku manusiawi dengan menjauhi perilaku hewani. Kita diperingatkan dari berbagai hal, mulai dari tata cara berdiri, rukuk, hingga sujud; seperti tidak diperbolehkannya makmum untuk rukuk dan sujud sebelum imam karena kemungkinan wajahnya menyerupai keledai, lalu tidak boleh sujud seperti anjing yang duduk dengan merenggangkan kakinya, tidak juga kita diizinkan terburu-buru bangun dari sujud sebagaimana ayam yang tengah mematuk makan, maupun tidak diperbolehkannya duduk seperti cara duduknya anjing. Semua hal ini karena manusia yang diciptakan mulia dan sempurna tidak boleh menyerupai hewan, meski dalam hal gerakannya sekalipun. Ia haruslah hidup dengan senantiasa memandang ke depan mengarah pada akhiratnya.
Sebenarnya, ayat di atas menjelaskan tentang Ahli Kitab yang menghafalkan ayat Taurat namun tidak mempraktikkannya dalam kehidupan mereka. Namun, meski kenyataannya seperti itu, kita tidak boleh membebaskan diri dari makna ayat ini dan berpikiran bahwa ayat tersebut hanya ditujukan kepada para Ahli Kitab semata. Mereka yang berinteraksi dengan Al-Qur’an serta telah mencapai perintah Allah namun tidak dapat membingkai kehidupannya pada ruh perintah cahaya ini, maka walaupun ia adalah ahli Al-Qur’an sekalipun namun seakan hanya menjadi kuli panggul bagi Al-Qur’an semata, serta perlu dikaji kembali kondisinya dalam kacamata hakikat yang dijelaskan oleh ayat di atas. Tak ada cara lain yang lebih baik untuk menjelaskan kondisi orang yang meskipun mempelajari dan mengajarkan Al-Qur’an kepada orang lain namun tak mampu mencapai kedalaman bersamanya melainkan dengan cara ini. Saya yakin bahwa jika kita mengevaluasi dari kriteria akhlak, maka dapat dipastikan bahwa akhlak sebagian orang yang masuk dalam kategori kandungan ayat ini adalah akhlak keledai, dan sebagian lainnya adalah akhlak anjing. Misalnya, seseorang yang pengetahuannya luas tetapi tidak dapat bermanfaat bagi makrifat dan mahabah yang ada pada dirinya, maka dari dalam perilakunya akan muncul karakteristik keledai.
Dalam kasus lain, jika ilmu yang dimiliki digunakan untuk menguasai atau mengelabui orang lain, memandang orang lain penuh kepongahan, maka jika diperhatikan dari sisi perilakunya tersebut ia akan terlihat seperti perilaku anjing. Padahal yang terpenting adalah kemampuan menjadi manusia yang sesungguhnya. Allah subhânahu wa ta’âla menciptakan kita sebagai manusia dan mengembankan kewajiban untuk dapat menjaganya dengan akhlak dan perilaku kita. Karena menjaga kemanusiaan di dunia ini merupakan satu-satunya jaminan terpenting demi tetap bisa menjadi manusia kelak di alam baka. Manusia merupakan makhluk yang selalu berubah-ubah dengan mudah, bahkan dalam sehari dapat berubah hingga empat kali. Setiap hari yang baru akan membuka cakrawala baru bagi manusia, serta membantunya agar dapat melihat hakikat diri dan sekitarnya. Misalnya, manusia yang melihat orang-orang di sekelilingnya sebagai musuh akan menganggap dirinya sedang berada di tengah gerombolan ular. Padahal sejatinya dialah yang telah menjadi ular itu dan hal ini menunjukkan bahwa dirinya telah diserang oleh nafsunya sendiri. Namun karena tidak rela mengakui bahwa hal itu berasal dari nafsunya sendiri, maka ia pun mencari ular, anjing, dan kalajengking itu pada diri orang-orang di sekitarnya…
Ia terus mencari namun sayangnya, ular itu bercokol dalam dirinya, tapi tak jua berhasil menemukannya. Seharusnya ia cari ular itu pada dirinya sendiri, sebagaimana makna yang terkandung dalam ungkapan ‘’Musuh terbesarmu adalah nafsu yang berdiam di dalam dirimu’’. Dalam bingkai hakikat istighfar: Allâhumma anta rabbî, lâ ilâha illâ anta khalaqtanî wa anâ ‘abduka… ‘’Ya Allah, Engkaulah Tuhanku. Tiada Tuhan melainkan-Mu. Engkaulah yang menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu’’, setiap orang harus tahu bahwa segala kesalahan datang dari nafsunya dan berusaha untuk menutupi kesalahan atau aib orang lain. Semua orang harus mengakui bahwa segala kesalahan dan kekeliruan muncul dari dirinya demi menghadirkan solusi bagi permasalahan-permasalahan yang seakan tak dapat teruraikan; melihat dirinya sebagai pusat keburukan sementara orang lain sebagai pusat bagi kebaikan. Pemahaman ini merupakan jalan penyelesaian bagi segala permasalahan yang ada dan hal ini dibutuhkan pula pada tarbiyah umum yang ada.







Discussion about this post