Sebuah Wawancara Eksklusif dengan Penerima Nobel Prof. Ahmed Zewail
Setelah lebih dari ratusan tahun, Penghargaan Nobel selalu diberikan untuk pencapaian tertinggi pada bidang ilmu Fisika, perdamaian dan sastra. Ada dua orang ilmuwan dari dunia Islam yang memenangkan hadiah Nobel bidang Sains, yaitu: Abdus Salam dari Pakistan (Fisika – 1979) dan Ahmed Zewail dari Mesir (Kimia – 1999). Ilmu Sains dalam dunia Islam berkembang antara abad VIII dan IX SM. Jika saja telah ada Penghargaan Nobel pada masa itu, maka akan banyak ilmuwan Muslim yang menerimanya, akan tetapi situasinya agak sedikit berubah pada masa ini. Mengapa penemuan ilmiah ditolak oleh dunia Islam sekarang? Apa yang harusnya dilakukan Muslim untuk mengembalikan keunggulan di bidang sains yang dulu sempat kita genggam? Kita akan berbincang dengan Prof. Ahmed Zewail tentang perjalanan beliau hingga meraih Nobel dan juga pandangannya tentang sains di dunia Islam.
Tentang Professor Ahmed Zewail
Profesor Zewail menyelesaikan pendidikan sarjananya di universitas Alexandria-Mesir, dan gelar doktornya di Universitas Pennsylvania. Prestasi beliau mencakup lebih dari ratusan hadiah, penghargaan, order of merit, dan order of state dari seluruh dunia. Beliau mendapat Nobel di bidang Kimia sebagai pelopor dalam femtoscience, ilmu untuk lebih mudah mengamati pergerakan tiap atom dalam sebuah femtosecond, yaitu seperjuta miliar detik. Profesor ini juga terkenal dengan kuliah umum dan penulisannya dalam sains dan teknologi, pendidikan dan hubungan dunia, serta untuk usahanya yang tak kenal lelah dalam membantu kaum papa. Dalam biografinya: “Voyage through Time-Walks of Life to the Nobel Prize”, beliau mengaitkan hidup dan pekerjaannya hingga menerima Penghargaan Nobel. Ia menyarankan tindakan konkret bagi mereka yang tidak berpunya dan visi barunya tentang tatanan dunia.
Dalam salah satu komentar Anda di koran Independent, Anda mengutip suatu ayat Al Qur’an yang indah: “Sesungguhnya! Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan mereka sendiri” (QS. Ar-Ra’d 13:11). Mengapa anda mengutip ayat ini?
Apabila kita melihat tingginya pencapaian Muslim, secara individual Muslim dahulu berperilaku sebagai Muslim yang baik, mereka membaca Al Qur’an dan mempelajari hal yang baik yang seharusnya mereka lakukan, sebagai contohnya, mereka berusaha mencari ilmu pengetahuan. Seperti Kita ketahui, kata pertama yang diturunkan dalam Al Qur’an adalah “bacalah” dan kehormatan akan proses pembelajaran ini diulangi di mana-mana hingga di satu titik ilmuwan besar dalam beberapa aspek hampir memiliki derajat yang sama dengan para Nabi di dalam Qur’an. Sehingga orang-orang Muslim terdahulu menyadari pentingnya mendapatkan ilmu, tetapi sejujurnya sekarang, karena kemerosotan telah mengambil alih posisi ini di antara Muslim, kita telah sangat termakan dengan teori – teori ide konspirasi, hingga lebih senang untuk menyalahkan orang lain atas kemerosotan kita sendiri.
Tidak ada keraguan dalam pikiran saya bahwa ada banyak faktor luar yang berkontribusi dalam kemerosotan ini, tapi kebenaran dari permasalahan ini adalah yang membuat kita gagal untuk melakukan sesuatu yang lebih baik. Saya sangat bangga melihat Muslim, muda ataupun tua, yang meraih pencapaian tertingginya. Di setiap kasus yang saya lihat, saya menyadari bahwa orang – orang ini tidak membiarkan pengaruh dari luar menghentikan mereka dan terus berjalan untuk mencapainya. Jadi saya meringkas alasan dari kemerosotan umum kita, dengan mengambil bahasa Al Qur’an untuk menggambarkan permasalahan kita sendiri.
Dalam buku, Anda berkata, “masjid Sidi Ibrahim al-Desuqi sangatlah penting dalam hidup saya karena itu menggambarkan masa kecil saya. Saya biasa pergi ke masjid untuk belajar…” Dalam Islam, masjid bukan hanya untuk beribadah, akan tetapi juga untuk menuntut ilmu” (hal. 15). Apakah menurut anda kebenaran ini masih bertahan?
Sayangnya, belakangan ini masjid digunakan oleh orang – orang yang tidak tercerahkan oleh Islam untuk menyebarkan sudut pandang pribadinya, bukan sudut pandang Islam, jadi suatu komponen politik telah berkembang di dalamnya. Hal ini ada karena kurangnya pencerahan dalam peran orang – orang ini. Tumbuh di Mesir, saya mengingat Al-Azhar sebagai salah satu pusat dari pencerahan di dunia. Sekarang, saya tidak mencapai Al-Azhar akan tetapi di sisi lain, bahkan dalam kota saya sendiri ada satu masjid dimana kita biasa pergi dan bertemu dengan Imam, dan hal utama yang Ia usahakan untuk memberitahu kami sebagai para pemuda adalah: “Kalian harus berhasil dalam ilmu pengetahuan, kalian harus menjadi doktor atau insinyur terbaik.” Kami biasa belajar di masjid. Itu sungguh luar biasa. Maksud saya, kami bertemu para pemuda di masjid – pastinya, kami juga akan beribadah – tetapi setelah selesai beribadah, kami duduk bersama melihat buku pelajaran dan catatan, itu merupakan pusat dari gravitasi. Nyatanya, dalam buku, saya menulis bahwa masjid merupakan pusat gravitasi bagi seluruh kota.
Dalam beberapa tempat di buku, Anda membicarakan tentang pentingnya “Memiliki suatu semangat” untuk mencapai sesuatu. Apakah kita sebagai Muslim, telah kehilangan hasrat pada sains dan pendidikan? Jika demikian, bagaimana kita bisa mengembalikannya lagi pada generasi muda?
Saya tidak berpikir bahwa kita telah kehilangan semangat…tidak. Terutama setelah Penghargaan Nobel ini, saya berbicara pada seluruh dunia Muslim dari Kairo hingga Malaysia, dari Istanbul hingga Lebanon, dan ribuan orang yang datang ke kuliah saya. Yang kutemukan adalah bahwa para pemuda sangatlah ingin mencapainya, mereka memiliki hasrat untuk meraih pencapaian. Masalahnya, mereka tidak berada pada sistem yang tepat untuk membuat mereka menyadari potensinya. Jadi, saya selalu mengatakan bahwa saat ini, aset terbesar dunia Islam sebenarnya adalah sumber daya manusianya. Apabila hal ini digunakan dengan cara yang baik dan kita kembali mendirikan pusat keunggulan yang lama untuk menarik pikiran terbaik, saya percaya bahwa dunia Muslim dapat mengalami transisi yang besar. Ada beberapa isu politik, dan banyak masalah politik, tapi saya tidak berpikir bahwa masalah dunia Muslim adalah karena kurangnya sumber ekonomi atau kekurangan sumber daya manusia. Kita memiliki kedua sumber daya tersebut.
Beberapa orang berdebat bahwa agama dan ilmu sains tidak bisa berjalan bersamaan. Apakah pendapat Anda tentang ini?
Beberapa pemikir terbaik dunia adalah dari kalangan religius. Jadi klaim bahwa untuk menjadi seorang ilmuwan yang rasionalis, menurut definisinya, kamu tidak boleh meyakini sebuah agama itu sedikit naif. Menurut saya hal itu juga sangat dogmatis. Agama sangatlah penting bagi manusia dalam berbagai alasan dan saya tidak melihat adanya konflik di antara keduanya.
Apa pendapat Anda tentang Fountain (Majalah Mata Air versi Bahasa Inggris), terutama dari perspektif mempromosikan keselarasan sains dan agama?
Saya ingin Anda tahu mengapa saya menyukai The Fountain. Seperti yang Anda ketahui, saya juga berlangganan majalah ini. Saya berterima kasih karena telah mengenalkannya pada saya. Saya menyukai majalah ini adalah karena majalah ini menjelaskan sesuatu dengan penjelasan dan dalam cara yang rasional, tetapi hal itu tidak menghentikan para penulis untuk menggunakan kutipan dari Qur’an yang mendukung argumen mereka. Akan tetapi saya memerlukan rasionalitas. Menurut saya fakta bahwa majalah ini menggunakan pendekatan seperti ini dan menghargai nilai dari alasan dan ilmu serta sains telah menjadikannya lebih efektif.
Apakah Anda melihat kesuksesan orang-orang seperti diri Anda sendiri dan Abdus Salam sebagai pengecualian individual yang luar biasa, atau sebagai pertanda awal dari kebangkitan dunia Islam ?
Bukan sebagai tanda awal dari kebangkitan, saya selalu berkata bahwa saya beruntung karena mendapatkan dua hal dari masa kecil dan masa dewasa saya. Pertama, saya sangat bangga dengan sistem nilai yang diberikan oleh keluarga saya dan bagaimana saya tumbuh sebagai seorang Muslim di Mesir. Saya tidak tumbuh di lingkungan yang bisa membuat saya jatuh pada obat terlarang dan kekerasan, saya tidak pernah melihat pistol sebelum meninggalkan Mesir. Nilai – nilai yang saya peroleh dari keluarga sangatlah berharga dan memberikan saya rasa percaya diri untuk apa yang telah saya capai dalam hidup saya. Tapi di samping itu, dan ini sangat penting, saya mendapatkan pendidikan yang baik di Mesir hingga jenjang universitas. Apa yang Amerika telah berikan pada saya adalah sebuah sistem penghargaan dan kesempatan, dan hal inilah yang menjadi kekurangan bagi dunia Muslim. Apabila saya tetap tinggal di Mesir, saya tidak mungkin dapat melakukan apa yang telah saya lakukan hingga saat ini karena kurangnya kesempatan dan penghargaan bagi suatu pencapaian.
Sebagian dunia Muslim sangatlah miskin, tapi ada sebagian besar lain yang sangatlah kaya. Bagian yang sangat kaya belum berinvestasi pada sumber daya manusia. Dalam sebuah perjalanan ke Malaysia, saya bertemu Dr. Mahathir Mohammed. Sekarang, Malaysia adalah suatu negara dimana 60% dari populasinya adalah orang Muslim. Kita dapat melihat hasil dari eksperimen yang telah dijalani Malaysia. Malaysia telah membuat transisi – GDP miliknya jauh lebih tinggi dibanding kebanyakan negara Muslim lainnya, mereka bergerak menjadi suatu dunia yang berkembang – dan ini telah dilakukan di negara dengan 60% populasi Muslim. Mereka berinvestasi dalam pendidikan. Beliau mengatakan bahwa, untuk membuat transisi dari ekonomi yang hampir terbelakang dengan hanya bergantung pada timah dan karet, negara ini kemudian menjadi salah satu produsen mikro-elektronik dan sejenisnya, mereka berinvestasi sebesar 20% dari GDP bagi pendidikannya. Jadi, menurut saya rumusnya amat, sangatlah jelas perihal apa yang bisa Anda olah dari sini.
Dalam salah satu artikel koran, Anda menyebutkan bahwa salah satu tujuan utama dari pendidikan di dunia Muslim seharusnya “untuk mengembangkan pemikiran kritis.” Apa yang Anda maksud dari hal ini?
Anak-anak muda menderita kebingungan saat ini; mereka tidak tahu mana yang salah dan mana yang benar. Apa yang saya maksud dengan berpikir kritis adalah kita semua dikaruniai akal untuk berpikir, jadi kita harus mendidik orang untuk berpikir secara benar tentang apa yang benar secara moral dan apa yang salah secara moral, tapi biarkan mereka untuk berpikir juga, tentang sains misalnya. Tidak ada salahnya mempelajari dari aspek lain tentang apa yang sedang terjadi di dunia ini. Apabila Anda seorang Muslim yang baik, semua akan bergantung pada Anda sendiri, Anda memiliki taman ilmu pengetahuan dan Andalah yang memilih apa yang Anda pikirkan. Tetapi menindas orang lain dan berkata : “Kamu tidak bisa melakukan ini; jangan lakukan itu! jangan baca tentang ini…”, bukanlah pemikiran yang kritis! Itu bukan apa yang kita perlukan.
Menurut pendapat saya, Nabi takkan membiarkan sikap pelarangan seperti itu pada saat ini, karena Beliau adalah sosok yang memiliki pemikiran progresif. Beliau adalah pesan perdamaian dan pemikiran yang kritis. Pada abad XX, manusia berpikir tentang koloni di bulan, tentang pembedahan gen dan membuka suatu dunia baru untuk pengobatan penyakit molekular, manusia berpikir untuk melihat atom dalam skala waktu femtosecond. Dan sebagai Muslim, Kita perlu mengikuti segala hal ini.
Anda berkata dalam buku: “Kita tidak seharusnya membagi dunia menjadi ‘kita’ dan ‘mereka’ serta tidak boleh membiarkan adanya hambatan melalui slogan seperti ‘benturan peradaban’ atau ‘konflik agama’ – kita perlu berdialog bukan konflik atau benturan!” menurut Anda apa cara terbaik untuk mencapai dialog?
Biarkan saya berkata dan memberikan penekanan kuat bahwa saya fikir ada ketidakpedulian di kedua sisi. Ada proporsi besar dari dunia Muslim yang saya rasa karena ketidaktahuan; bahwa mereka tidak cukup cakap untuk mengutarakan pemikiran mereka tentang Barat. Di sisi lain, Barat juga telah menolak untuk belajar tentang dunia Muslim sejak lama dan memperlakukan seolah ada keharusan untuk berkonflik dengan Muslim. Dengan sikap seperti ini dari kedua sisi, kita tidak akan pernah bisa mencapai suatu dialog.
Anda tahu, ketika saya pertama kali datang ke AS, mereka menyebut orang Jepang dengan panggilan “the Japs” dan orang Cina dengan “the Red Chinese”. Sekarang, karena telah adanya dialog dan mereka mulai mengerti perbedaan kebudayaan, ada banyak restoran Cina dan Jepang di seluruh Amerika. Cina juga membuka McDonald…tetapi kita belum melakukan ini selama dunia Muslim prihatin. Kita belum melakukan kerja yang baik, dan dari sisi mereka saya harus mengatakan bahwa sejak dulu mereka telah menolak mengembangkan pemahaman tentang Muslim atau untuk mengerti tentang kepercayaan maupun perasaan yang kuat dari orang Muslim tentang keyakinannya. Pada level individu, kedua sisi perlu lebih terbuka satu sama lain, program pertukaran dan berbagai pusat pendidikan dapat sangat membantu. Tetapi saya cenderung lebih menyalahkan dunia Muslim, karena kita tidak berinisiatif untuk mengkomunikasikan diri kita, seperti yang dilakukan oleh bagian dunia lainnya.
Anda tinggal di California bersama dengan istri dan dua anak. Bagaimana Anda menjaga keseimbangan pekerjaan dan kehidupan keluarga serta masalah pribadi lainnya?
Dalam hal ini saya beruntung karena mertua adalah seorang professor sehingga istri telah melihat apa artinya bekerja keras, jadi ia sudah mengerti. Istri saya berkata berkali – kali, bahwa cinta pertama saya adalah pekerjaan. Bagaimanapun, saya rasa anak – anak akan mengatakan bahwa saya adalah seorang ayah yang penyayang. Saya coba untuk menyeimbangkan berbagai hal. Saya selalu menghabiskan setiap hari Minggu dengan anak – anak, biarpun hanya tinggal di rumah membaca, mereka ada di sekitar saya. Saya memperhatikan mereka, pergi dengan mereka ke pertandingan sepak bola, dan sebagainya. Jika Anda tidak melakukan ini, membawanya ke tingkatan ekstrem dan mengklaim bahwa pekerjaan adalah segalanya, maka Anda telah melemahkan seluruh sudut hidup Anda, dan saya tidak percaya apabila Anda akan memiliki kekuatan untuk melakukan banyak hal lain dalam hidup.
Apakah yang membuat Anda terus termotivasi bahkan setelah mendapatkan Penghargaan Nobel? Apakah latar belakang sebagai seorang Muslim memiliki peran dalam hal ini?
Saya fikir ini adalah gabungan dari berbagai hal. Pertama, Allah menciptakan saya dengan semangat bagi segala hal yang saya lakukan. Apabila saya membaca satu buku, saya memiliki keinginan untuk menyelesaikannya. Hal lainnya adalah latar belakang saya. Ketika saya datang ke Amerika Serikat, saya merasa ditantang. Ada hambatan politik, ada hambatan kebudayaan dan hambatan sains. Jadi saya tertantang untuk menunjukkan bahwa seseorang dengan latar belakang seperti saya, seseorang Muslim yang tumbuh dengan masjid dan berbagai hal seperti itu dapat meraih sesuatu. Sekarang, saya juga berusaha untuk mencapai lebih dari Penghargaan Nobel, saya bertanya pada diri sendiri, apakah saya dapat menolong orang lain dan apakah saya dapat membantu sains secara umum. Mungkin karena pengasuhan saya dan dari masjid, sehingga saya memiliki iman. Jadi saya berpikir itulah keyakinan dalam hidup, dalam dunia, diri sendiri, dan pada Allah, tentunya ini semua menjadikan siapa saya sebenarnya.
Nuh Gedik adalah asisten professor Fisika di Massachusetts institute of technology. Sebelum pindah ke MIT, beliau bekerja sebagai sarjana postdoctoral di Caltech sebagai bagian tim peneliti bersama Prof. Ahmed Zewail.







Discussion about this post