• Privacy & Policy
  • Kontak
  • Tentang Kami
    • Profil
    • Redaksi dan Manajemen
    • Dewan Penasihat
  • Mata Air di Dunia
    • Arabic
    • Deutsch
    • English
    • Spanish
    • Turkish
  • FAQ
  • Kirim Artikel
  • Karir
Wednesday, April 22, 2026
  • Login
Majalah Mata Air
Advertisement
  • Home
  • Rubrik
    • Sains
    • Budaya
    • Spiritualitas
  • Penulis
    • Amany Lubis. Prof. Dr.
    • Astri Katrini Alafta. S.S. M.Ed.
    • Gumilar Rusliwa Somantri. Prof. Dr.
    • Ilza Mayuni. Prof Dr.
    • Irfan Yilmaz. Prof. Dr.
    • Khoirul Anwar. Dr. Eng.
    • Muhammad Luthfi Zuhdi
    • Nabilah Lubis. Prof. Dr.
    • Qoriah A. Siregar. Dr.
    • Semiarto Aji Purwanto. Prof. Dr.
    • Riri Fitri Sari. Prof. Dr. Ir.
    • Tegar Rezavie Ramadhan. S.K.M. M.Pd.
  • Event
  • Tetes Mata Air
  • Arsip
  • Berlangganan
  • Produk Kami
    • Buku Digital
    • Majalah Digital
    • Mata Air dalam Genggaman
  • Semua Membacanya 2025
    • Pendaftaran Semua Membacanya 2025
    • Galeri Semua Membacanya
      • Galeri SM25
      • Galeri SM24
      • Galeri SM23
No Result
View All Result
  • Home
  • Rubrik
    • Sains
    • Budaya
    • Spiritualitas
  • Penulis
    • Amany Lubis. Prof. Dr.
    • Astri Katrini Alafta. S.S. M.Ed.
    • Gumilar Rusliwa Somantri. Prof. Dr.
    • Ilza Mayuni. Prof Dr.
    • Irfan Yilmaz. Prof. Dr.
    • Khoirul Anwar. Dr. Eng.
    • Muhammad Luthfi Zuhdi
    • Nabilah Lubis. Prof. Dr.
    • Qoriah A. Siregar. Dr.
    • Semiarto Aji Purwanto. Prof. Dr.
    • Riri Fitri Sari. Prof. Dr. Ir.
    • Tegar Rezavie Ramadhan. S.K.M. M.Pd.
  • Event
  • Tetes Mata Air
  • Arsip
  • Berlangganan
  • Produk Kami
    • Buku Digital
    • Majalah Digital
    • Mata Air dalam Genggaman
  • Semua Membacanya 2025
    • Pendaftaran Semua Membacanya 2025
    • Galeri Semua Membacanya
      • Galeri SM25
      • Galeri SM24
      • Galeri SM23
No Result
View All Result
Majalah Mata Air
No Result
View All Result
Home Budaya Biografi

Piri Reis dan Peta Dunia

Ahmet Urguplu

by Ahmet Urguplu
9 years ago
in Biografi
Reading Time: 8 mins read
Share on WhatsappShare on FacebookScan and read on your phone

Piri Reis tokoh Pemetaan Turki, berasal dari Karaman dan berhijrah ke Gelibolu. Beliau dijuluki sebagai Ahmad ibnu al Haj Muhammadi Karamani Larendawi, nama aslinya Ahmad Muhiddin Piri. Ayahnya berasal dari Karaman (Larende) bernama Haji Mehmed. Piri Reis adalah keponakan pelaut ternama pada masa Sultan Bayezid II bernama Kemal Reis. Ia lahir di Gelibolu suatu kota yang menjadi pusat terpenting bagi pelaut Turki pada saat itu. Syaikhul’Islam Ibnu Kamal berkata: ”Bayi-bayi yang terlahir di Gelibolu seperti buaya, mereka tumbuh dan berkembang di air, buaiannya adalah perahu kematian, mereka tidur dengan suara perahu di siang dan malam harinya.” Piri Reis memulai pengalaman kelautannya di kapal pamannya Kemal Reis sebagai seorang Sefer Kâtibi (penulis ekspedisi), hingga ia berkesempatan mengaplikasikan ilmu yang didapatkannya di madrasah pada masa kecilnya dan melihat perahu-perahu yang dibuat di pelabuhan serta melihat para pelaut yang keluar-masuk ke Gelibolu dengan mata kepalanya sendiri.

Saat itu ia sempat bergabung dengan aktivitas korsan terutama yang berada di perairan Aegea dan Mediterania (Laut Tengah). Pada masa Utsmaniyah saat itu, korsan merupakan salah satu pasukan penyergapan yang ada di laut, sebelum penaklukan besar dilakukan. Dalam Kitab-ı Bahriye (Kitab Bahari), Piri Reis membahas tentang orang-orang yang melakukan penyerangan laut di luar kontrol negara dan menyebut mereka sebagai ”harami, yolkesen atau haydut, (perompak, pemutus jalan, atau bajak laut)”. Bertahun-tahun ia banyak melakukan pelayaran di barat Laut Aegea dan Laut Tengah, mengikuti banyak peperangan, dan juga bergabung dengan perjalanan Inebahtı serta Modon yang dilakukan bersama orang-orang Venedik pada zaman Bayezid II. Saat Raja Ferdinand dari Spanyol memulai pembantaian besar-besaran terhadap orang-orang Yahudi atas keputusan Pengadilan Inkuisisi, maka Kerajaan Utsmaniyah pun mengirim Kemal Reis di bawah bendera Utsmani. Piri Reis yang turut serta dalam perjalanan itu bersama pamannya mengangkut orang-orang Yahudi dan Arab yang dizalimi tersebut ke tanah Afrika Selatan dan Anatolia yang pada saat itu menjadi pantai keselamatan bagi mereka.

Saat Bayezid II melakukan persiapan menuju Venesia, beliau memanggil para pelaut yang tergabung dengan ‘korsan’ di Laut Tengah, dan atas panggilan ini Piri Reis bergabung dengan angkatan laut Utsmani pada 1494, bersama pamannya ia menghadap sultan dan mengajukan diri untuk ditugaskan dalam angkatan laut Utsmani, selanjutnya dia pun ditugaskan sebagai komandan kapal. Antara tahun 1495-1510 ia mendapat tugas melakukan pelayaran ke Laut Tengah, pada saat itulah beliau mengumpulkan catatan berbagai peristiwa, hal-hal yang dialami, tempat-tempat yang dikunjungi saat pelayaran ke dalam bukunya yang berjudul “Kitab-ı Bahriye”, selanjutnya kitab ini menjadi panduan pelayaran pertama di dunia.

Peristiwa menyedihkan terjadi bagi Piri Reis yaitu tragedi wafatnya sang paman pada 1511. Saat itu tengah dipersiapkan perlengkapan-perlengkapan kapal yang diinginkan Sultan dinasti Mamluk untuk selanjutnya dipindahkan ke perahu-perahu di sekitar Alaiye, namun angkatan laut milik para “Kitab-ı Bahriye”, selanjutnya menjadi buku panduan pelayaran pertama di dunia ksatria Rodos melakukan penyergapan, dan semua perlengkapan tersebut diambil mereka. Demi membalas peristiwa ini maka ditugaskanlah Kemal Reis, namun di tengah perjalanan perahu yang ditumpanginya dihantam badai ganas yang menyebabkan kapal tersebut hancur dan karam, dirinya pun tenggelam tak terselamatkan.

RelatedArticles

No Content Available

 

Tahun-Tahun Menyepi (Uzlah) Di Gelibolu dan Peta Dunia 1513 

Pasca tragedi itu Piri Reis menarik diri dari lautan dan pergi ke Gelibolu. Pada masa itulah beliau menyiapkan pembuatan peta dunia (1513). Dari peta berwarna yang digambarnya di atas kulit rusa yang dikeringkan ini hanya sepotong yang tersisa hingga hari ini. Peta ini penuh dengan refleksi kedalaman ilmunya yang mendalam serta intuisinya yang tajam. Menurut catatan yang ada pada peta tersebut, peta yang menunjukkan pesisir pantai Barat Daya Eropa, Barat Laut Afrika, Amerika Tenggara ini merupakan potongan peta dunia berukuran besar yang dipersembahkan kepada Yavuz Sultan Selim di Mesir pada tahun 1517. Kebenaran dan keakuratan peta yang dibuat oleh Piri Reis pada abad ke-16 ini membuat para ilmuwan berdecak kagum, karena pada kenyataannya seharusnya peta seperti ini hanya dapat digambar berdasarkan pencitraan dari atas angkasa. Jika Samudera Atlantik dilihat dari atas menggunakan pesawat terbang maka akan terlihat bahwa peta ini amat sesuai dengan struktur alam aslinya. Pada kolom sebelah kiri peta terdapat catatan: ”Peta ini dibuat oleh Piri Reis bin Haji Mehmed, kemenakan dari Kemal Reis pada bulan Muharram tahun 919 H (Maret/April 1513)”. Dengan peta bertahunkan 1513 miliknya ini Piri Reis memperkenalkan dirinya pada dunia dan menorehkan sejarah hidupnya dengan tinta emas. Kemudian ia mulai menyusun lagi karya lain berupa kumpulan catatan yang kelak akan tersusun menjadi buku Kitab-ı Bahriye.

Setelah menggambar peta dunia bertahun 1513 tersebut, beliau kembali ke laut. Pada tahun 1516- 1517 ia ikut bergabung dengan kapal yang diperintahkan berlayar ke Mesir dan mempersembahkan peta dunia yang ditulisnya 4 tahun lalu kepada Yavuz Sultan Selim. Walaupun dalam Kitab-ı Bahriye Piri Reis menjelaskan bahwa petanya mendapatkan apresiasi dari Yavuz Sultan Selim, namun hilangnya 2/3 bagian peta itu serta diletakkannya bagian lain yang masih disimpan di rak-rak berdebu Istana Topkapi hingga tahun 1929 mendatangkan keraguan tentang hal tersebut. Terdapat pula riwayat yang mengatakan bahwa Sultan Selim hanya tertarik pada bagiannya yang benar saja dari peta tersebut sehingga beliau merobek bagian lainnya.

Segera setelah berdirinya Republik Turki, saat Istana Topkapı ditetapkan sebagai museum (9-10- 1929), seorang pakar museum menemukan 2 peta yang digambar di atas kulit rusa dengan bagian pinggir telah membusuk di antara dokumen-dokumen yang tak terjamah selama berabad-abad. Selanjutnya peta itu dibawa ke Direktur Museum Halil Ildem Bey. Setelah diteliti barulah diketahui bahwa peta itu merupakan karya Piri Reis (1513). Penemuan besar ini diterjemahkan dan dipublikasikan ke bahasa Turki dan bahasa-bahasa lainnya oleh Lembaga Sejarah Turki dan mendapatkan antusiasme besar seantero dunia.10 500 tahun sejak peta tersebut dibuat akhirnya oleh UNESCO tahun 2013 diumumkan sebagai ‘Tahun Piri Reis’.

 

Karya yang melampaui zamannya: Kitab-ı Bahriye 

Kitab-ı Bahriye diakui sebagai karya terpenting dalam ilmu geografi ditulis oleh Piri Reis pada 1512. Hingga abad 19 di negara-negara Barat tak ditemukan satu buku panduan pun yang menjelaskan tentang Laut Tengah secara terperinci. Selama berabad-abad bagi para kapten kapal yang ingin mengadakan pelayaran ke Laut Aegea dan Laut Tengah karya ini merupakan buku pedoman yang tak ada bandingannya. Piri Reis menyusunnya di Gelibolu saat menjadi penanggungjawab galangan kapal, dengan 25 tahun pengalaman pelayarannya dan pengetahuan kelautannya mengelilingi Laut Tengah beserta pesisir pantainya pada tahun 1480 bersama Kemal Reis.

Saat kembali dari perjalanan ke Mesir, ia kembali menelaah Kitab-ı Bahriye dan menambahkan bagian pembukaan, lebih dalam membahas geografi dunia dan istilah-istilah geografi serta memperbanyak peta-petanya. Pada bagian awal kitab tersebut dibahas tentang topik-topik seperti tujuan penulisan, ilmu-ilmu kelautan yang dibutuhkan para pelaut mengenai istilah-istilah kelautan, jenis-jenis badai, nama-nama angin, cara penggunaan kompas, pengenalan peta, makna isyarat yang ada padanya, nama-nama laut, karakteristik dan keistimewaannya, pendudukan orang-orang Portugal di Samudera Hindia, pesisir Afrika, Laut Cina, Laut Hindia, Atlantika, dan penemuan benua Amerika.

Pada bagian kedua kitab ini diberikan pengetahuan tentang Selat Dardanella dan Sultaniyya serta benteng-benteng Kilidbahir, pesisir dan pantai Laut Aegea, pesisir dan kepulauan di Eropa, kedalaman air pesisir di pulau-pulau ini, tempat-tempat yang dapat dipakai untuk melabuhkan kapal, jenis tumbuhan, air minum, fasilitas untuk konstruksi kapal, manusia, agama-agama, politik, serta keadaan perdagangan di tempat tersebut. Selain memberikan penjelasan informasi tentang setiap pelabuhan dan pantai, Piri Reis juga menambahkannya dengan peta berskala besar.

Versi pertama Kitab-ı Bahriye diselesaikan pada 1521. Dalam sebuah perjalanan (1524) dengan misi menekan pembangkangan yang dilakukan Beylerbeyi Mesir bernama Ahmet Paşa; Sadrazam Pargalı İbrahim Paşa melihat bahwa karya Piri Reis Kitab-ı Bahriye ini sangat bermanfaat dan beliau ingin mencetak ulang dan memperbaikinya untuk kemudian ditunjukkan pada Kanunî Sultan Süleyman. Pada 1526 karya yang sudah direvisi tersebut dipersembahkan pada Kanuni Sultan Suleyman. Beberapa salinan dari kitab asli yang bertahunkan antara 1521 dan 1525 berada di perpustakaan-perpustakaan penting dunia serta di museum-museum dan perpustakaan negara di Istanbul.

 

Persiapan membuat peta dunia kedua (1528) 

15 tahun setelah peta pertamanya, ia kembali menggambar peta dunia keduanya di Gelibolu. Pada peta kedua yang dibuat di atas sepotong kain berukuran 68x69cm tersebut dibubuhkan pula tanda tangannya. Di potongan tersebut tergambar pesisir utara samudera, Amerika Tengah dan selatan yang saat itu baru saja ditemukan. Dibandingkan yang pertama, peta kedua ini lebih bagus dari segi penggambaran pesisirnya, tempat yang kosong diisi dengan gambar walaupun ada pula tempat-tempat yang belum diketahui dan tetap dibiarkan kosong. Hal ini menunjukkan pada kita tentang pola pikir Piri Reis yang terbuka. Peta ini digambar dalam 8 warna dan kesalahan-kesalahan yang terdapat pada peta pertama dihilangkan secara keseluruhan. Peta Piri Reis ini amat penting bagi sejarah keilmuan, karena dibuat dengan bentuk bulat. Seakan Piri Reis melihat globe yang kini digunakan di sekolah-sekolah dan menggambarnya di media yang datar.

Peta itu memuat pantai-pantai Greenland, Kepulauan Azore, dan Bakala (sebuah daratan yang baru ditemukan saat itu setelah memasukkan pantai-pantai Labrador), Honduras, Yokota, Haiti, pulau-pulau Kuba dan juga pesisir Florida dan gambar 4 mata angin.1

 

Bagaimana Cara Piri Reis Menggambar Petanya? 

Piri Reis sama sekali belum pernah melihat tempat-tempat yang dianggapnya sebagai ‘Dunia yang baru’ tersebut, lantas bagaimana mungkin ia melukis tempat tersebut di petanya? Ternyata jawaban dari pertanyaan ini akan didapatkan di dalam peta itu sendiri. Pada sebuah catatan yang menjelaskan tentang pesisir Antilles, terdapat catatan yang menyatakan bahwa untuk menggambar pesisir dan pulau-pulau tersebut ia menggunakan peta yang dibuat Kolombus, disinyalir bahwa peta itu diambil dari seorang pelaut Spanyol yang ditawan pamannya (Kemal Reis) dan mengaku pernah pergi ke Amerika tiga kali bersama Kolombus. Piri Reis menyebutkan semua sumber petanya seperti ini: ”Tak ada peta yang seperti ini di tangan siapapun pada zaman ini. Peta ini dibuat olehku dan sekarang menjadi sumber referensi utama. Di dalamnya ditunjukkan tempat-tempat yang dihuni di dunia. Peta ini dibuat dengan membandingkan dan berdasarkan pada sejumlah 20 buah peta-peta berikut: peta yang disebut oleh orang Arab yang disebut sebagai Ja’fariyah, delapan peta yang dibuat pada zaman Iskandar Zulkarnain yang di dalamnya terdapat penggambaran potongan-potongan daratan, peta orang-orang India-Arab, serta dengan cara membandingkan peta bagian barat yang dibuat oleh Kolombus dengan metode geometri dan empat peta Portugal yang baru dibuatnya yang di dalamnya dicantumkan pula negara-negara seperti Cina, India, dan Sind (Pakistan).

 

Dampak Peradaban Islam pada Peta 

Dalam bidang sejarah sejumlah nama terkenal seperti Prof. Fuat Sezgin (Direktur Institusi Studi Arab-Islam Universitas Goethe Frankfurt) mengemukakan pendapatnya yang berbeda tentang topik pemetaan di Barat. Prof. Sezgin mengatakan bahwa pengetahuan kelautan modern yang disandarkan pada orang-orang Portugal sebenarnya adalah milik ilmuwan Islam yang hidup antara abad 9-16. Menurut beliau terdapat dua prinsip penting ilmu kelautan, yang pertama adalah kemampuan mengukur jarak yang besar di lautan luas, dan yang kedua adalah kemampuan menentukan titik yang terdapat di laut. Saat dua hal ini baru dikembangkan di Eropa pada abad 20, sementara orang-orang Muslim telah mengaplikasikannya lima abad jauh sebelumnya yakni di abad ke-15. Ilmuwan Muslim merupakan orang pertama yang menggunakan derajat garis lintang dan bujur sebagai dasar untuk menggambar peta pertama dunia. Sedangkan orang-orang Portugis belajar ilmu pelayaran dan kelautan dari peta-peta yang dibuat oleh orang Islam yang sampai ke tangan mereka pada abad 15. Pengetahuan-pengetahuan ini menguatkan pendapat yang mengatakan bahwa Piri Reis sebenarnya lebih banyak terpengaruh dari budaya Arab-Islam daripada sekedar pengaruh sumber dari Barat. Sedangkan Giancarlo Casenle (dalam disertasinya membahas aktivitas Utsmani di Samudera Hindia) mengatakan bahwa karya-karya dunia Islam telah diketahui oleh bangsa Utsmani namun karya-karya bahasa Arab masih belum terlalu banyak dimanfaatkan hingga sebelum abad 16.

 

Mengapa Piri Reis Dihukum Gantung? 

Pada tahun 1547 Piri Reis ditugaskan untuk menjadi Kapten Mesir, dalam tugas ini ia kembali merebut Aden dari bangsa Portugis dan menguasai Muscat menggunakan 31 buah kapalnya. Saat berada di Teluk Basrah ia mendapat kabar kedatangan Portugis, untuk menghindar dan agar tidak terhimpit di teluk tersebut maka ia pun menjauh bersama 3 kapalnya. Dalam perjalanan pulang satu kapalnya tenggelam dan hanya dua yang kembali selamat. Karena meninggalkan 29 kapalnya di belakang itulah maka ia pun dijatuhi hukuman gantung, dan eksekusinya dilaksanakan di Mesir dan dimakamkan di Kairo. Namun sesungguhnya tak ada kesepakatan pendapat di antara para sejarawan tentang alasan mengapa Piri Reis dijatuhi hukuman gantung. Meskipun tak ada kesepakatan pendapat tentang hal ini pada sumber yang dimiliki oleh Turki dinyatakan bahwa, Couto seorang penulis Portugis dan para sejarawan Portugis lain yang menyandarkan pendapatnya pada Couto berpendapat bahwa sebab hukuman gantung itu adalah karena ketidak patuhan Piri Reis pada perintah sultan. Menurut instruksi yang didapat dari sultan, ia seharusnya pergi ke Basrah dahulu lalu menggabungkan 1.500 prajurit dan perahu-perahu lainnya yang telah siap di sana baru setelah itu dengan serangan mendadak merebut pulau Hormuz. Karena itu ia tak boleh sibuk dengan hal lain sebelum sampai Basrah agar tidak menarik perhatian Portugis. Menurut Utsmani ketidakpatuhan ini berbuah pada dua hal fatal, yang pertama adalah hilangnya kesempatan Utsmani untuk menaklukan pulau Hormuz karenakan bangsa Portugis mengirim bala bantuan pasukan yang kuat ke benteng-benteng itu sehingga mereka dapat menyelamatkan diri. Memang benar bahwa selama Hormuz belum ditaklukan maka orang Turki tak akan dapat pergi ke samudera Hindia melalui Teluk Basrah dengan leluasa dan aman, selain itu juga tidak mungkin dapat menyuplai Basrah melalui Laut Merah saat mereka berperang dengan bangsa Persia. Hal kedua yang lebih fatal yakni dikarenakan sebagian besar angkatan laut yang dikirim ke Basrah dalam keadaan tidak aktif maka bangsa Portugis baik di laut itu, di Teluk Basrah, perairan Aden bahkan di Laut Merah sekalipun mendapatkan reputasi lebih tinggi dari pada bangsa Utsmani. Keadaan ini dapat membuat tanah Haramain yakni tanah suci Makkah dan Madinah menjadi terancam oleh Portugis lebih daripada waktu-waktu sebelumnya.

Akan sulit untuk memahami dan mengomentari sejarah dan peristiwa simpang siur, bahkan mengambil pelajaran darinya bukanlah hal yang mudah. Namun lebih sulit lagi untuk menghukum dan berbicara masa lalu beserta tokoh-tokoh dan kenangan atasnya tanpa harus menyakiti pihak manapun. Nenek moyang kita telah menunjukkan semangat tinggi dan niat baik yang murni demi perdamaian dunia, usaha yang dikerahkan di zaman dimana darah dan keringat telah diteteskan. Bagi Piri Reis, seseorang yang dianugerahkan padanya kehormatan di seluruh dunia kami berdoa ”Semoga Allah mengampuni segala dosa dan kesalahannya, menerima segala upaya dan usahanya serta mengucurkan Rahmat padanya”.

Tags: petapeta duniaturkiVolume 4 Nomor 16
Previous Post

Tanpa Sadar Terpapar Timbal

Next Post

Melacak Jalan Kebenaran

Ahmet Urguplu

Ahmet Urguplu

Related Posts

No Content Available
Load More

Discussion about this post

POPULAR POST

  • Taubah, Inabah, dan Aubah

    Taubah, Inabah, dan Aubah

    1387 shares
    Share 555 Tweet 347
  • Ibnu Sina, Seorang Ilmuwan Teladan

    1067 shares
    Share 427 Tweet 267
  • Shuffah, Pusat Bagi Para Jenius

    1006 shares
    Share 402 Tweet 252
  • Hewan-hewan yang Menantang Suhu Dingin

    993 shares
    Share 398 Tweet 248
  • Tanya Jawab Edisi 37 (Demi Merasakan Manisnya Iman)

    900 shares
    Share 360 Tweet 225

Majalah Mata Air menyuguhkan bahan bacaan untuk mengembangkan cakrawala pemikiran.

Ikuti Kami

Categories

Bulan Terbit

Kesehatan – Ilmu Pengetahuan – Teknologi (Edisi 48)

Kesehatan – Ilmu Pengetahuan – Teknologi (Edisi 48)

March 3, 2026
Diskusi Hangat antara Kebenaran yang Diturunkan dan Pengetahuan yang Ditemukan

Diskusi Hangat antara Kebenaran yang Diturunkan dan Pengetahuan yang Ditemukan

March 3, 2026
Sahabat Sejati

Sahabat Sejati

March 3, 2026
  • Tentang
  • Ketentuan
  • Kirim Tulisan

© 2021 Majalah Mata Air - Membaca Kehidupan.

No Result
View All Result
  • Home
  • Rubrik
    • Sains
    • Budaya
    • Spiritualitas
  • Penulis
    • Amany Lubis. Prof. Dr.
    • Astri Katrini Alafta. S.S. M.Ed.
    • Gumilar Rusliwa Somantri. Prof. Dr.
    • Ilza Mayuni. Prof Dr.
    • Irfan Yilmaz. Prof. Dr.
    • Khoirul Anwar. Dr. Eng.
    • Muhammad Luthfi Zuhdi
    • Nabilah Lubis. Prof. Dr.
    • Qoriah A. Siregar. Dr.
    • Semiarto Aji Purwanto. Prof. Dr.
    • Riri Fitri Sari. Prof. Dr. Ir.
    • Tegar Rezavie Ramadhan. S.K.M. M.Pd.
  • Event
  • Tetes Mata Air
  • Arsip
  • Berlangganan
  • Produk Kami
    • Buku Digital
    • Majalah Digital
    • Mata Air dalam Genggaman
  • Semua Membacanya 2025
    • Pendaftaran Semua Membacanya 2025
    • Galeri Semua Membacanya
      • Galeri SM25
      • Galeri SM24
      • Galeri SM23

© 2021 Majalah Mata Air - Membaca Kehidupan.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Hallo,
Ada yang bisa kami bantu?
Tanya Admin