• Privacy & Policy
  • Kontak
  • Tentang Kami
    • Profil
    • Redaksi dan Manajemen
    • Dewan Penasihat
  • Mata Air di Dunia
    • Arabic
    • Deutsch
    • English
    • Spanish
    • Turkish
  • FAQ
  • Kirim Artikel
  • Karir
Wednesday, April 22, 2026
  • Login
Majalah Mata Air
Advertisement
  • Home
  • Rubrik
    • Sains
    • Budaya
    • Spiritualitas
  • Penulis
    • Amany Lubis. Prof. Dr.
    • Astri Katrini Alafta. S.S. M.Ed.
    • Gumilar Rusliwa Somantri. Prof. Dr.
    • Ilza Mayuni. Prof Dr.
    • Irfan Yilmaz. Prof. Dr.
    • Khoirul Anwar. Dr. Eng.
    • Muhammad Luthfi Zuhdi
    • Nabilah Lubis. Prof. Dr.
    • Qoriah A. Siregar. Dr.
    • Semiarto Aji Purwanto. Prof. Dr.
    • Riri Fitri Sari. Prof. Dr. Ir.
    • Tegar Rezavie Ramadhan. S.K.M. M.Pd.
  • Event
  • Tetes Mata Air
  • Arsip
  • Berlangganan
  • Produk Kami
    • Buku Digital
    • Majalah Digital
    • Mata Air dalam Genggaman
  • Semua Membacanya 2025
    • Pendaftaran Semua Membacanya 2025
    • Galeri Semua Membacanya
      • Galeri SM25
      • Galeri SM24
      • Galeri SM23
No Result
View All Result
  • Home
  • Rubrik
    • Sains
    • Budaya
    • Spiritualitas
  • Penulis
    • Amany Lubis. Prof. Dr.
    • Astri Katrini Alafta. S.S. M.Ed.
    • Gumilar Rusliwa Somantri. Prof. Dr.
    • Ilza Mayuni. Prof Dr.
    • Irfan Yilmaz. Prof. Dr.
    • Khoirul Anwar. Dr. Eng.
    • Muhammad Luthfi Zuhdi
    • Nabilah Lubis. Prof. Dr.
    • Qoriah A. Siregar. Dr.
    • Semiarto Aji Purwanto. Prof. Dr.
    • Riri Fitri Sari. Prof. Dr. Ir.
    • Tegar Rezavie Ramadhan. S.K.M. M.Pd.
  • Event
  • Tetes Mata Air
  • Arsip
  • Berlangganan
  • Produk Kami
    • Buku Digital
    • Majalah Digital
    • Mata Air dalam Genggaman
  • Semua Membacanya 2025
    • Pendaftaran Semua Membacanya 2025
    • Galeri Semua Membacanya
      • Galeri SM25
      • Galeri SM24
      • Galeri SM23
No Result
View All Result
Majalah Mata Air
No Result
View All Result
Home Budaya

Muhaddits Wanita Pelopor Ilmu Pengetahuan

Buket Guney

by Buket Guney
12 years ago
in Budaya
Reading Time: 9 mins read
Share on WhatsappShare on FacebookScan and read on your phone

Ketika Nizamuddin Aulia membahas tentang para wanita yang bertakwa, beliau berkata: “Jika seekor singa yang liar keluar dari hutan dan mendatangi sebuah daerah yang dihuni manusia, maka takkan ada yang bertanya, ‘Apakah singa ini mudzakkar (jantan) ataukah muannats (betina)’. Karena semua keturunan anak Nabi Adam, baik laki-laki maupun perempuan, keduanya dipanggil untuk beriktikad dan beribadah kepada Allah Ta’ala.” 

Sama seperti di kala Ummu Salamah mendengar dan menjawab panggilan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dari atas mimbar, “Wahai umat manusia” Sedangkan saat itu ada seorang wanita di sampingnya mengatakan bahwa panggilan itu bukan untuknya, “Beliau memanggil para lelaki, bukan wanita.” Dan jawaban Ummu Salamah mencerminkan jiwa para wanita bertakwa: “Aku juga manusia.”1 Ya, bukankah Islam adalah agama bagi seluruh umat manusia? Dan akan selalu seperti itu. Semua orang tanpa terkecuali, tanpa membedakan laki-laki dan wanita, bahasa, agama, dan suku diundang untuk memenuhi panggilan ini. Itulah mengapa para muhaddits (orang yang bergelut dengan ilmu hadis, baik dari sisi riwayat maupun dirayah; mengetahui banyak riwayat dan kondisi para perawinya) wanita pun tumbuh dikarenakan hal ini. Merekalah, para wanita yang menjadi pelopor perkembangan ilmu pengetahuan… 

Para alimah wanita ini tumbuh dalam suasana kehangatan ruhani yang dapat lebih mendekatkan jiwa mereka pada Allah dan Rasul-Nya. Para wanita mulia yang menyimak sabda-sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, masuk dalam perjuangan untuk hidup dan menghidupkan semua perkataan Beliau. Terkadang mereka mengutus seorang utusan dan mengirimkan pertanyaan-pertanyaan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Kadang mereka langsung mendatangi Rasulullah dan mengutarakan persoalannya. Para Sahabat dari kalangan perempuan ini ikut bergabung dalam majelis-majelis ilmu, ikut mendengarkan hadis-hadis yang diutarakan oleh Beliau, bahkan mereka mempelajari hadis-hadis dengan metode qiraah, sama’, ijazah serta metode-metode lainnya. Beberapa keluarga berusaha memberikan fasilitas pengajaran untuk mempelajari hadis bagi anak-anak perempuan mereka di rumah, sementara beberapa keluarga lainnya membawa anak-anak perempuannya yang masih kecil ke majelis-majelis ilmu. Dikisahkan bahwa ada para muhaddits yang memberikan pelajaran untuk anak-anak perempuan Ibnu Sahnun di rumahnya. Asma Binti Asad pun ikut dalam kelompok-kelompok keilmuan ayahnya sejak kecil dan dikenal pula telah meriwayatkan hadis. Selain itu, beberapa muhaddits wanita pun melakukan perjalanan keilmuan untuk meriwayatkan hadis bersama dengan suami atau muhrim mereka. 

Wanita-Wanita Yang Mendapatkan Pendidikan di Suffah 

RelatedArticles

Diskusi Hangat antara Kebenaran yang Diturunkan dan Pengetahuan yang Ditemukan

Sahabat Sejati

Lembaga yang paling menonjol dalam kegiatan-kegiatan belajar dan mengajar pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah Madrasah Suffah.2 Suffah adalah universitas pertama dalam Sejarah Islam dimana di dalamnya Al-Qur’an dan hadis, tulis-menulis serta bidang-bidang keilmuan lainnya diajarkan. Di tempat tersebut Rasulullah sendiri yang menjadi pengajarnya. Pada periode pertama, ada guru-guru yang ditugaskan untuk membantu Beliau dalam pengajaran baca tulis, Al-Qur’an, dan lain-lainnya. Tentunya para wanita pun ikut berpartisipasi dalam kegiatan pendidikan dan pengajaran yang dilakukan di dalam masjid ini. Telah diriwayatkan bahwa pada periode Madinah ada sebuah Suffah khusus yang disiapkan untuk para wanita di dalam masjid. Selain itu, saat shalat subuh pun disediakan saf untuk wanita di belakang barisan saf laki-laki.3 Pada masa itu, wanita yang datang untuk shalat Jum’at ikut mendengarkan khutbah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.4

Contoh-contoh di atas menunjukkan bahwa Islam mendukung perempuan di segala bidang khususnya dalam pendidikan dan pengajaran, berlawanan dengan keadaan di beberapa negara Islam di masa sekarang yang menganggap perempuan sebagai permasalahan. Pada masa tersebut, salah satu cara yang paling penting dalam menuntut ilmu adalah metode tanya jawab. Metode ini memungkinkan semua orang dapat mengembangkan dunia keilmuannya selaras dengan takaran rasa keingintahuannya. Banyak riwayat yang menunjukkan bahwa pada masa itu banyak pertanyaan yang diajukan oleh kalangan wanita kepada Rasulullah.5 Diriwayatkan oleh Abu Said al-Khudri, seorang wanita datang kepada Rasulullah dan meminta kepada Beliau hari khusus untuk para wanita. Tentu saja, Rasulullah menanggapi permintaan ini secara positif. Beliau pun memberikan pengajaran khusus kepada mereka. 

Para wanita yang telah dididik oleh Beliau ini, hadir menjadi para ahli di bidangnya masing-masing. Misalnya, Aisyah Radhiallahu Anha adalah sosok yang menjadi referensi dalam bidang ilmu fiqih. Aisyah memiliki ratusan murid baik laki-laki maupun perempuan.6 Murid-murid laki-laki yang mengikuti pelajaran beliau di antaranya adalah nama-nama seperti Amru bin Ash, Rabi’a bin Amr, Abu Musa al-Asy’ari, Zaid bin Khalid alJuhani, dan Abu Hurairah. Tentu saja, dalamnya sisi keilmuan Aisyah ini menjadi teladan pula bagi wanita-wanita lain pada saat itu. Beliau pun memberikan pelajaran kepada sebagian mereka dan mendorong tumbuhnya lebih banyak wanita-wanita terdidik. Beberapa murid yang telah menghafalkan hadis dari Aisyah Radhiallahu Anha adalah seorang anak yatim bernama Safiyyah binti Syaibah, Jasrah binti Dajajah, Zifrah binti Ghalib, Zainab binti Nashr, Zainab as-Sahmiyyah, Sumayyah al-Basriyyah, Marjanah, putri-putri Ummu Muhammad bin Abu Bakir, Sumaitah al-Laysiyyah, dan Ummu Kulsum binti Abu Bakir.7

Dari informasi yang kita dapatkan ini menunjukkan bahwa para wanita yang merupakan ummul mukminin ini pertama-tama telah mengembangkan terlebih dahulu kepribadiannya masing-masing dengan amat baik, lalu membagikan keilmuan yang telah dikuasainya tersebut pada semua orang. Tidak diragukan bahwa halaqah keilmuan ini berlangsung secara terus menerus pada periode ini. 

 

Sahabat Wanita Pertama yang Mengajarkan Menulis 

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memberikan perhatian tersendiri agar para wanita dapat membaca dan menulis. Tidak hanya dalam pendidikan anak-anak mereka sendiri, para wanita ini juga mendapatkan dukungan yang besar dari Rasulullah untuk berperan penting dalam pengembangan masyarakat. Tidak diragukan bahwa hal ini telah membangun sebuah pemahaman dimana wanita memiliki peran penting dalam masyarakat untuk mengembangkan dunia keilmuannya. Misalnya, Beliau mendorong Hafsah istrinya untuk belajar baca-tulis kepada As-Syifa binti Abdillah al-Adawiyyah.8 Selain pada Hafsah Radhiallahu Anha, As-Syifa Radiallahu Anha juga mengajarkan baca-tulis kepada banyak Para Sahabat wanita lainnya. Sehingga beliau dikenal sebagai guru baca tulis pertama dalam sejarah Islam. Nama-nama Sahabat lain yang mengetahui baca-tulis pada periode ini adalah Ibunda Aisyah, Ummu Salamah, Karimah binti al-Mikdal, Ummu Kulsum binti Ukbah, dan Aisyah binti Saad Radhiallahu Anha.9 Selain itu, beberapa guru khusus telah ditugaskan untuk memberikan pendidikan dan pengajaran kepada para wanita. Sebelum Umar bin Khattab menjadi Muslim, saudarinya Fatimah binti Khattab (Ummu Jamil) bersama suaminya telah masuk Islam. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menugaskan Habbab bin Arat sebagai seorang guru untuk keluarga ini. Ibnu Hisyam menjelaskan secara jelas bahwa penugasan ini dilakukan untuk kegiatan pendidikan dan pengajaran bagi Fatimah; Habbab bin Arat pergi ke tempat Fatimah binti Khattab untuk membacakan Al-Qur’an. Sebagaimana yang kita pahami hari ini, beliau tidak hanya mengajarkan cara membaca Al-Qur’an saja, tapi pada waktu yang sama juga melakukan muthaala’ah bersama-sama untuk memikirkan, berdiskusi dan lebih memahami ayat-ayat yang dibacanya.10 Bahkan Ibnu Hajar pun menyebutkan tentang para wanita yang mempelajari surat Qaf langsung dari lisan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.11

 

Para Muhaddits Perempuan 

Sejarah menunjukkan bahwa wanita tidak hanya menjadi penuntut ilmu saja namun mampu pula menjadi guru yang memberikan pengajaran. Sebagai contoh, di Mesir Imam Syafi’i pernah belajar kepada Nafisah binti al-Hasan. Ibnu Asakir pun mengatakan bahwa delapan puluh dari kurang lebih seribu tiga ratus gurunya adalah wanita. Memang benar, para perempuan pun ikut memberikan pelajaran hadis di Darul Hadits, masjid, dan majelis-majelis keilmuan lainnya. 

Meskipun tidak sebanyak para perawi hadis laki-laki, namun ada puluhan wanita yang menjadi muhaddis dari kalangan tabiin, tabiut tabiin, dan generasi setelahnya. Tentunya ketika membahas tentang ‘Wanita yang meriwayatkan hadis’, maka Ibunda kaum mukminin Aisyah Radhiallahu Anha adalah sosok pertama yang terlintas di benak kita. Beliau yang telah meriwayatkan 2.210 hadis adalah sosok yang bisa disebut alimah dalam fatwa, faraid, sejarah, sastra, kedokteran, dan beberapa bidang lain. Para Sahabat terkemuka pun akan datang untuk bertanya kepada beliau jika ada permasalahan yang belum dipahami oleh mereka. Abu Musa al-Asy’ari berkata, “Kami yang merupakan Sahabat Rasulullah ini, akan menanyakan kepada Aisyah ketika memiliki sebuah permasalahan yang sulit kami pecahkan, dan beliau selalu memiliki ilmu yang cukup berkenaan dengan permasalahan itu.” Tidak hanya sebagai perawi hadis saja, beliau pun mendidik banyak muhaddits sembari mengabdikan dirinya untuk meneruskan sunnah kepada generasi-generasi selanjutnya. Hairah binti Abi Hadra al-Aslami (Ummu Darda) adalah seorang wanita yang cerdas sehingga dikatakan bahwa satu kelompok dari tabiun mempelajari hadis dari beliau. Khalifah Abdul Malik bin Marwan menjadikan Ummu Darda sebagai guru bagi istri-istrinya di rumah dan ia pun memberikan pendidikan tentang Rasulullah kepada para wanita. Bahkan Ummu Darda dikatakan sebagai sosok yang telah menyebarkan hadis dan ilmu-ilmu lainnya di luar kota Madinah.12

Ada pula sosok Ummu Atiyyah dari deretan wanita terkemuka dalam keilmuan ini. Diketahui bahwa tokoh-tokoh penting seperti Anas bin Malik, Muhammad bin Syirin, dan Hafsah binti Syirin mengambil banyak hadis darinya.13 Seorang wanita bernama Ummu Ya’qub dari Bani Asad pun menguasai kandungan Al Qur’an hingga mampu berdiskusi dengan mufasir besar sekelas Abdullah bin Abbas.14 Dikatakan juga bahwa Abdullah bin Umar yang merupakan ahli fikih muda dari kalangan sahabat dan seorang ahli hadis yang baik meriwayatkan hadis-hadis yang diketahuinya dari Hafsah, saudari Umar bin Khattab.15 Pada karya Dzahabi berjudul al-Mu’in fi Tabakatil Muhadditsin, 28 orang dari 181 kalangan Sahabat yang disebutkan selalu sibuk dengan hadis-hadis adalah para wanita. Sahabat wanita lain yang berperan dalam pendidikan dan pengajaran adalah Ummu Habibah yang meriwayatkan 65 hadis, Maimunah 76 hadis, Hafsah 60 hadis, Zainab binti Jahsy 11 hadis, dan Safiyyah 10 hadis. 

Semua hal ini menunjukkan bahwa sejak periode awal Islam, wanita berada langsung dalam kehidupan sosial, selain itu mereka juga memiliki usaha besar dalam menunaikan tanggung jawab untuk mentransfer keilmuan yang mereka dapatkan dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Perlu selalu diingat bahwa keberadaan wanita-wanita yang berperan langsung dalam bidang keilmuan ini adalah salah satu faktor dasar yang membuka jalan bagi perkembangan sebuah masyarakat. Selain itu, pada perdebatan tentang ‘wanita dan Islam’, harus diteliti lebih dalam lagi tentang sisi keilmuan para wanita, peran-peran mereka dalam kehidupan masyarakat, dan komunikasi yang mereka lakukan dengan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Posisi wanita yang seakan selalu berada di belakang, hak-hak wanita yang tidak ditunaikan, bahkan wanita bisa dianggap sebagai manusia kelas dua pada kelompok masyarakat Islam yang belum berkembang dapat membuka kesalah pahaman dan generalisasi yang keliru tentang ‘kedudukan wanita dalam Islam’. Oleh karena itu dibutuhkan pembahasan dan penelitian yang lebih dalam tentang sisi keilmuan para wanita pelopor dalam Islam dan khidmah yang mereka lakukan untuk umat manusia agar lebih diketahui oleh masyarakat dunia secara umum. 

 

Referensi: 

  1. Ibnu Hambali, Masnat, VI, 297; Muslim, Shahih, IV, 179 
  2. Ibrahim Canan, Strategi Pengajaran dan Persiapan Baca Tulis pada Masa Rasulullah, Penerbit Cihan, Istanbul 1984, hlm. 97 
  3. Ibnu Asakir, Tarikhu Madinati Dimasyq, Tarajimu’unnisa, Dimasyq 1982, hlm. 33 
  4. Ibnu Sa’ad, Tabakat, VII, 296. 
  5. Ibnu Hajar, al-Isabah, IV, 464. 
  6. Meryem Canan Ceylan, Siti Aisyah Sebagai Seorang Intelektual dan berkepribadian politik, Cetakan 1, Penerbit Ahsen, Istanbul 2002 
  7. Riza Savas, Wanita Pada Periode Nabi Muhammad 
  8. Nusrettin Boleli, Posisi Wanita Dalam Keilmuan Hadits (Abad II-V Hijriah), M.U.I.F.Y, Istanbul 1998 Tayyip Okic, Pengajaran Wanita Dalam Islam, hlm. 22 
  9. Tayyip Okic, Pengajaran Wanita Dalam Islam, hlm. 22 
  10. Ibnu Ishak, Sirah, 162 
  11. Ibnu Hajar, al-Asqalani, al-Isabah fi Tamyizis Sahabah, Darul Fikr, Beirut 1978 
  12. Mehmet Dag-R. Hifzirrahman Oymen, Sejarah Pendidikan Islam, Penerbit Milli Egitim, Ankara 1974. 
  13. Bukhari, Shahih, II 74; Ibnu Abdilbar, el-Isti’ab fi ma’rifatil Ashab, Beirut, IV, 452. 
  14. Bukhari, Shahih, VI, 58-59 
  15. Nusrettin Bolelli, Posisi Wanita Dalam Keilmuan Hadi
Tags: hafsahperempuanSejarahvolume 5 nomor 18
Previous Post

Petualangan Obat Dalam Tubuh Kita

Next Post

Simetri dan Keindahannya

Buket Guney

Buket Guney

Related Posts

Diskusi Hangat antara Kebenaran yang Diturunkan dan Pengetahuan yang Ditemukan
Filsafat Ilmu

Diskusi Hangat antara Kebenaran yang Diturunkan dan Pengetahuan yang Ditemukan

6 months ago
Sahabat Sejati
Resonansi

Sahabat Sejati

6 months ago
Load More

Discussion about this post

POPULAR POST

  • Taubah, Inabah, dan Aubah

    Taubah, Inabah, dan Aubah

    1387 shares
    Share 555 Tweet 347
  • Ibnu Sina, Seorang Ilmuwan Teladan

    1067 shares
    Share 427 Tweet 267
  • Shuffah, Pusat Bagi Para Jenius

    1006 shares
    Share 402 Tweet 252
  • Hewan-hewan yang Menantang Suhu Dingin

    993 shares
    Share 398 Tweet 248
  • Tanya Jawab Edisi 37 (Demi Merasakan Manisnya Iman)

    900 shares
    Share 360 Tweet 225

Majalah Mata Air menyuguhkan bahan bacaan untuk mengembangkan cakrawala pemikiran.

Ikuti Kami

Categories

Bulan Terbit

Kesehatan – Ilmu Pengetahuan – Teknologi (Edisi 48)

Kesehatan – Ilmu Pengetahuan – Teknologi (Edisi 48)

March 3, 2026
Diskusi Hangat antara Kebenaran yang Diturunkan dan Pengetahuan yang Ditemukan

Diskusi Hangat antara Kebenaran yang Diturunkan dan Pengetahuan yang Ditemukan

March 3, 2026
Sahabat Sejati

Sahabat Sejati

March 3, 2026
  • Tentang
  • Ketentuan
  • Kirim Tulisan

© 2021 Majalah Mata Air - Membaca Kehidupan.

No Result
View All Result
  • Home
  • Rubrik
    • Sains
    • Budaya
    • Spiritualitas
  • Penulis
    • Amany Lubis. Prof. Dr.
    • Astri Katrini Alafta. S.S. M.Ed.
    • Gumilar Rusliwa Somantri. Prof. Dr.
    • Ilza Mayuni. Prof Dr.
    • Irfan Yilmaz. Prof. Dr.
    • Khoirul Anwar. Dr. Eng.
    • Muhammad Luthfi Zuhdi
    • Nabilah Lubis. Prof. Dr.
    • Qoriah A. Siregar. Dr.
    • Semiarto Aji Purwanto. Prof. Dr.
    • Riri Fitri Sari. Prof. Dr. Ir.
    • Tegar Rezavie Ramadhan. S.K.M. M.Pd.
  • Event
  • Tetes Mata Air
  • Arsip
  • Berlangganan
  • Produk Kami
    • Buku Digital
    • Majalah Digital
    • Mata Air dalam Genggaman
  • Semua Membacanya 2025
    • Pendaftaran Semua Membacanya 2025
    • Galeri Semua Membacanya
      • Galeri SM25
      • Galeri SM24
      • Galeri SM23

© 2021 Majalah Mata Air - Membaca Kehidupan.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Hallo,
Ada yang bisa kami bantu?
Tanya Admin