• Privacy & Policy
  • Kontak
  • Tentang Kami
    • Profil
    • Redaksi dan Manajemen
    • Dewan Penasihat
  • Mata Air di Dunia
    • Arabic
    • Deutsch
    • English
    • Spanish
    • Turkish
  • FAQ
  • Kirim Artikel
  • Karir
Monday, May 4, 2026
  • Login
Majalah Mata Air
Advertisement
  • Home
  • Rubrik
    • Sains
    • Budaya
    • Spiritualitas
  • Penulis
    • Amany Lubis. Prof. Dr.
    • Astri Katrini Alafta. S.S. M.Ed.
    • Gumilar Rusliwa Somantri. Prof. Dr.
    • Ilza Mayuni. Prof Dr.
    • Irfan Yilmaz. Prof. Dr.
    • Khoirul Anwar. Dr. Eng.
    • Muhammad Luthfi Zuhdi
    • Nabilah Lubis. Prof. Dr.
    • Qoriah A. Siregar. Dr.
    • Semiarto Aji Purwanto. Prof. Dr.
    • Riri Fitri Sari. Prof. Dr. Ir.
    • Tegar Rezavie Ramadhan. S.K.M. M.Pd.
  • Event
  • Tetes Mata Air
  • Arsip
  • Berlangganan
  • Produk Kami
    • Buku Digital
    • Majalah Digital
    • Mata Air dalam Genggaman
  • Semua Membacanya 2025
    • Pendaftaran Semua Membacanya 2025
    • Galeri Semua Membacanya
      • Galeri SM25
      • Galeri SM24
      • Galeri SM23
No Result
View All Result
  • Home
  • Rubrik
    • Sains
    • Budaya
    • Spiritualitas
  • Penulis
    • Amany Lubis. Prof. Dr.
    • Astri Katrini Alafta. S.S. M.Ed.
    • Gumilar Rusliwa Somantri. Prof. Dr.
    • Ilza Mayuni. Prof Dr.
    • Irfan Yilmaz. Prof. Dr.
    • Khoirul Anwar. Dr. Eng.
    • Muhammad Luthfi Zuhdi
    • Nabilah Lubis. Prof. Dr.
    • Qoriah A. Siregar. Dr.
    • Semiarto Aji Purwanto. Prof. Dr.
    • Riri Fitri Sari. Prof. Dr. Ir.
    • Tegar Rezavie Ramadhan. S.K.M. M.Pd.
  • Event
  • Tetes Mata Air
  • Arsip
  • Berlangganan
  • Produk Kami
    • Buku Digital
    • Majalah Digital
    • Mata Air dalam Genggaman
  • Semua Membacanya 2025
    • Pendaftaran Semua Membacanya 2025
    • Galeri Semua Membacanya
      • Galeri SM25
      • Galeri SM24
      • Galeri SM23
No Result
View All Result
Majalah Mata Air
No Result
View All Result
Home Budaya

Kopi Yang Tergantung

by Astri Katrini Alafta. S.S. M.Ed.
12 years ago
in Budaya, Esai & Cerita
Reading Time: 4 mins read
Share on WhatsappShare on FacebookScan and read on your phone

RelatedArticles

Diskusi Hangat antara Kebenaran yang Diturunkan dan Pengetahuan yang Ditemukan

Sahabat Sejati

Sebuah perjalanan membawa dua orang sahabat hingga ke tepian sungai Venesia di Italia. Setelah mengunjungi beberapa tempat wisata keduanya ingin melepaskan lelah dan kepenatan, mengunjungi sebuah kafe untuk minum secangkir kopi, suatu hal yang tidak boleh dilewatkan jika berkunjung ke Italia. Setelah memilih salah satu sudut yang nyaman untuk melepas kepenatan hari itu, keduanya  memesan secangkir kopi ekspresso sambil mengamati para pengunjung lokal yang datang ke tempat  tersebut. Selang beberapa waktu seorang laki-laki masuk untuk memesan kopinya. Uno café, uno suspeso satu kopi, satu digantung, demikian ucapnya. Lalu bartender menyerahkan secangkir kopi padanya dan menggantung secarik kertas di dinding. Laki-laki itu menghabiskan secangkir kopi yang dipesannya namun membayar dua cangkir kopi kepada bartender. Dengan santai ia meninggalkan kafe  itu. Pemandangan ini mengundang perhatian dua orang sahabat yang sedang duduk di pojokan menyaksikan kejadian itu. Tidak beberapa lama kemudian dua orang pengunjung lain datang,  menyebutkan pesanannya: duo café, uno suspeso- dua cangkir kopi, satu digantung. Bartender kembali menyiapkan pesanan mereka, menyodorkan dua cangkir kopi dan menggantung secarik kertas di dinding. Kedua orang tadi menghabiskan dua cangkir pesanannya, namun membayar tiga cangkir kopi dan meninggalkan kafe itu. Pemandangan menarik ini semakin mengundang rasa penasaran dalam hati keduanya. Lebih heran lagi ketika mereka dikagetkan oleh kehadiran pengunjung selanjutnya. Seorang lelaki berpakaian kumal dan lusuh, dengan suara berat mengucapkan pesanannya:”uno suspeso – satu yang digantung”, maka dengan cekatan si bartender mulai meracik secangkir kopi, menyajikannya bagi sang tamu. Yang menarik, si tamu menghirup dan menikmati kopinya lalu pergi berlalu tanpa membayar sepeser pun. Selepas kepergian tamu tersebut, bartender menarik salah satu dari potonganpotongan kertas yang digantungnya di dinding tadi, merobeknya kemudian melemparkan ke kotak sampah dimana di sana ternyata sudah bertumpuk robekan-robekan kertas serupa. Pemandangan serupa terus berlanjut sepanjang hari, kadang ada yang datang memesan kopi dan membayar lebih dari yang di minumnya namun adapula tamu-tamu yang datang dan menikmati secangkir kopi tanpa membayar sedikitpun. Lama-kelamaan pahamlah kedua sahabat tadi bahwa di manapun di seluruh dunia ini selalu ada makanan atau minuman yang sesungguhnya bukanlah suatu kemewahan namun mungkin bagi sebagian orang menjadi barang mewah yang tidak mampu mereka beli. Permasalahannya makanan atau minuman itu adalah sesuatu yang sangat penting dan berarti bagi masyarakat dalam kultur tersebut. Sepiring gudeg bagi orang Jogja, semangkuk coto Makassar bagi orang Makassar, sepotong pempek kapal selam bagi masyarakat Palembang adalah hidangan sehari-hari yang tak mungkin bisa lepas dari keseharian mereka. Bahkan budaya menikmati secangkir teh mengantarkan masyarakat Jepang pada seremoni yang begitu panjang. Begitupun secangkir kopi atau capuccino bagi masyarakat Italia adalah pelambang budaya yang sangat lekat dengan mereka serupa dengan budaya minum kopi bagi masyarakat Aceh atau orang Manggar di Belitung. Begitu pentingnya kopi bagi mereka hingga bagi sebagian besar masyarakatnya tiada hari yang akan mereka lewati tanpa secangkir kopi. Namun tak bisa dipungkiri di masa ini di mana ketimpangan sosial begitu terasa sehingga, jangan harap mereka bisa  membeli kemewahan dalam secangkir kopi yang bagi sebagian masyarakat lainnya hanya setara dengan uang receh yang ada di dompet tebal mereka. Akhirnya menjadi sebuah  esepakatan tak tertulis di sana agar orang-orang yang tak berpunya bisa menikmati secangkir kopinya maka sebagian orang lain yang memiliki kelapangan rezeki akan membayar satu atau dua cangkir lebih setiap merekamenikmati kopinya hari itu. Satu komponen yang tidak bisa dilupakan adalah peran bartender yang membuat ‘sistem transparan’ tentang berapa banyak kopi yang akan dibagikan secara gratis hari itu dengan menggantung kertas-kertas bergambar secangkir kopi di dinding agar ‘para peminta’ kopi tak harus berpayah-payah memohon atau meminta haknya. Tak membuat mereka merasa menjadi seorang pengemis atau peminta-minta. Tanpa bertanya ia bisa segera tahu apakah masih ada tersisa kopi yang bisa dinikmatinya secara gratis hari itu, dan siapapun akan bisa dengan langkah tanpa beban masuk ke kafe untuk memesan secangkir kopi tanpa harus khawatir apakah dia akan mampu membayarnya atau tidak. Merasakan nyamannya masuk ke sebuah restauran, meminta pesanannya dan dilayani layaknya orang-orang berada. Sebenarnya inilah unsur terpenting dalam konsep ‘Berbagi’ bagi sesama, dimana kita benar-benar memanusiakan orang yang akan menerima bantuan ataupun sedekah dari kita. Setiap tahun kita disuguhi pemandangan pedih saat menjelang hari raya dimana sebagian orang kaya akan membagikan kupon pada ratusan orang miskin yang mengharuskan mereka berbaris berdesak desakkan, berpeluh menunggu berjam-jam di bawah terik mentari, kadang terhimpit dan terjatuh di dorong dorong untuk mendapatkan selembar amplop berisi selembar dua puluh ribuan, bagian dari zakatnya. Jika ada acara untuk anak yatim maka kita akan melihat pemandangan khas barisan panjang mereka mengantri sekotak makanan. Bukankah hidup mereka sudah cukup perih untuk ditambahi perasaan malu karena harus menengadahkan tangannya meminta sesuatu yang sebenarnya adalah hak mereka dalam bagian rezeki milik si Berpunya. Ada sebuah kisah yang sangat masyhur diihwalkan bahwasanya Khalifah Umar RA menolak untuk dibantu mengangkat sekarung gandum yang akan diberikannya pada seorang janda miskin yang terpaksa merebus batu untuk mendiamkan tangisan anak-anaknya yang kelaparan. Pundak sang Khalifah menjadi saksi keteguhan Beliau dalam menolong orang yang lemah dengan memberikan kehormatan tertinggi kepada mereka, justru karena mereka patut mendapatkannya ketika menerima bantuan, bahkan sesampainya Sang Khalifah di tempat keluarga miskin yang ditolongnya itu Beliau tidak segan segan turun tangan membantu menyajikan gandum itu dan menghidangkannya pada anak-anak yatim miskin tersebut. Karena sesungguhnya harga diri itu ada pada semua orang, maka bisa jadi orang miskin yang akan kita bantu merasa berat hatinya dengan cara yang kita pilih saat menolong mereka. Untuk itu memuliakan mereka saat memberi bantuan, memilih cara yang sesuai adab dan membuat mereka tidak terpaksa harus mengemis pada sesuatu yang memang menjadi haknya adalah sebuah adab yang harus kita lakukan karena termasuk hal-hal yang di sunnahkan oleh Rasulullah SAW. Penulis: Astri Katrini Alafta
Tags: 2014Astri Katrini AlaftaBudayaEsai - CeritaPilihan EditorVolume 1 Nomor 1
Previous Post

Penciptaan Nutfah (Zigot)

Next Post

Rahasia pada Sayap Kupu-kupu

Astri Katrini Alafta. S.S. M.Ed.

Astri Katrini Alafta. S.S. M.Ed.

Related Posts

Diskusi Hangat antara Kebenaran yang Diturunkan dan Pengetahuan yang Ditemukan
Filsafat Ilmu

Diskusi Hangat antara Kebenaran yang Diturunkan dan Pengetahuan yang Ditemukan

6 months ago
Sahabat Sejati
Resonansi

Sahabat Sejati

6 months ago
Load More

Discussion about this post

POPULAR POST

  • Taubah, Inabah, dan Aubah

    Taubah, Inabah, dan Aubah

    1389 shares
    Share 556 Tweet 347
  • Ibnu Sina, Seorang Ilmuwan Teladan

    1067 shares
    Share 427 Tweet 267
  • Shuffah, Pusat Bagi Para Jenius

    1008 shares
    Share 403 Tweet 252
  • Hewan-hewan yang Menantang Suhu Dingin

    993 shares
    Share 398 Tweet 248
  • Tanya Jawab Edisi 37 (Demi Merasakan Manisnya Iman)

    903 shares
    Share 361 Tweet 226

Majalah Mata Air menyuguhkan bahan bacaan untuk mengembangkan cakrawala pemikiran.

Ikuti Kami

Categories

Bulan Terbit

Kesehatan – Ilmu Pengetahuan – Teknologi (Edisi 48)

Kesehatan – Ilmu Pengetahuan – Teknologi (Edisi 48)

March 3, 2026
Diskusi Hangat antara Kebenaran yang Diturunkan dan Pengetahuan yang Ditemukan

Diskusi Hangat antara Kebenaran yang Diturunkan dan Pengetahuan yang Ditemukan

March 3, 2026
Sahabat Sejati

Sahabat Sejati

March 3, 2026
  • Tentang
  • Ketentuan
  • Kirim Tulisan

© 2021 Majalah Mata Air - Membaca Kehidupan.

No Result
View All Result
  • Home
  • Rubrik
    • Sains
    • Budaya
    • Spiritualitas
  • Penulis
    • Amany Lubis. Prof. Dr.
    • Astri Katrini Alafta. S.S. M.Ed.
    • Gumilar Rusliwa Somantri. Prof. Dr.
    • Ilza Mayuni. Prof Dr.
    • Irfan Yilmaz. Prof. Dr.
    • Khoirul Anwar. Dr. Eng.
    • Muhammad Luthfi Zuhdi
    • Nabilah Lubis. Prof. Dr.
    • Qoriah A. Siregar. Dr.
    • Semiarto Aji Purwanto. Prof. Dr.
    • Riri Fitri Sari. Prof. Dr. Ir.
    • Tegar Rezavie Ramadhan. S.K.M. M.Pd.
  • Event
  • Tetes Mata Air
  • Arsip
  • Berlangganan
  • Produk Kami
    • Buku Digital
    • Majalah Digital
    • Mata Air dalam Genggaman
  • Semua Membacanya 2025
    • Pendaftaran Semua Membacanya 2025
    • Galeri Semua Membacanya
      • Galeri SM25
      • Galeri SM24
      • Galeri SM23

© 2021 Majalah Mata Air - Membaca Kehidupan.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Hallo,
Ada yang bisa kami bantu?
Tanya Admin