Saya teringat sahabat baik saya yang sangat sayang dengan anakanaknya.
Beliau bercerita bagaimana ia meneteskan airmata saat melihat anak pertamanya
lulus SD dengan sangat berbahagia. “Kenapa kamu bahagia sekali?” tanya
bapaknya. Anaknya menjawab polos, “Bahagia Pak, karena setelah ini aku mau masuk
pesantren dan tidak akan bertemu matematika lagi.”
Sang bapak kemudian bertanya kepada saya apakah belajar matematika itu
wajib. Saya jawab: “Belajar matematika itu fardu…. tapi fardu kifayah.” Mendengar
jawaban ini sahabat saya itu terlihat lega sekali.
“Cuma ya itu…” lanjut saya dalam obrolan itu: kifayah ya kifayah, tapi jangan
asal kifayah lantas dipasrahkan ke orang lain. Bisa-bisa, saat negara kita butuh
ahli matematika, nanti yang datang justru matematikawan dari negara lain.
Obrolan seperti ini tampak biasa di tengah masyarakat kita yang seringkali
menganggap matematika momok di antara pelajaran-pelajaran lainnya. Satu titik
pandang lain adalah bagaimana dengan kaum muslimin? Apakah benar jika kita
belajar agama lalu pelajaran sains dan matematika bisa dilupakan begitu saja?
Padahal jauh sebelumnya, kita tahu bahwa banyak ahli matematika maupun sains
justru berasal dari kalangan ulama.
“Sesungguhnya perumpamaan orang beriman itu bagaikan lebah yang selalu
memakan yang baik dan mengeluarkan yang baik. Ia hinggap namun tidak
mematahkan dan merusak” (HR. Imam Ahmad, Imam Hakim). Demikian salah satu
hadis yang sangat terkenal dan lebih sering dipahami dari sisi akhlak yang harus
ditiru dari hewan lebah sendiri. Biasanya kita memahami hadis ini sebagai isyarat
dari Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam agar mencontoh lebah dalam hal
sifatsifat paripurna yang mereka miliki. Lebah hanya memakan yang baik, maka
seorang mukmin pun harus memilih makanannya hanya yang halal dan tayib,
mengeluarkan yang baik artinya produktif dan berlisan baik. Lebah hanya hinggap
di tempat yang bersih dan tidak merusak tempat hinggapnya, kalau begitu muslim
sejati adalah yang menjadi kebaikan dan kemanfaatan di tempatnya berada, bukan
justru menjadi sumber kerusakan bagi sekelilingnya.
Pemahaman hadis dengan cara ini tentu saja benar dan dapat menjadi
pedoman, namun dalam konteks IPTEK modern, bisa jadi hadis ini mengandung
makna bahwa seorang mukmin pun harus bisa matematika. Kenapa demikian? Karena Apis Mellifera atau yang lebih dikenal sebagai lebah madu ternyata tidak hanya memakan dan mengeluarkan yang baik saja, tapi juga bisa berhitung. Bahkan tergolong super cerdas untuk seekor hewan dengan ukuran otak yang sangat kecil. Lebah madu memiliki otak kecil, tetapi daftar perilaku mereka mengesankan. Dalam penelitiannya, Menzel dan Giurfa melihat sejauh mana
perilaku adaptif pada lebah madu melebihi bentuk pembelajaran dasar.
Mereka menggunakan konsep modularitas fungsi kognitif untuk memahami sifat serta
tingkat kompleksitas dalam otak lebah madu. Ternyata, dengan jumlah neuron
yang hanya sekitar 1 juta saja, lebah madu dapat memahami dan mengerti konsep
abstrak serta bisa memutuskan hal-hal yang kompleks. 1 Dalam hal ini manusia memiliki sekitar 100 miliar neuron yakni 100.000 lebih banyak daripada yang dimiliki lebah. Penelitian lain yang lebih menarik menunjukkan bahwa lebah madu juga mengerti konsep penambahan dan pengurangan. Adrian Dyer dan kelompoknya dari Universitas RMIT-Australia, berhasil membuktikannya. 2 Dyer dkk. membangun tiga bilik dengan lubang sebagai pintu lebah. Di depan pintu pertama, lebah melihat gambar beberapa kotak dalam warna biru atau kuning. Karena lebah tidak bisa baca-tulis, tanda tambah-kurang diganti dengan warna: biru untuk (+) dan kuning untuk (-).
Lewat pintu pertama, lebah akan masuk bilik pertama. Di situ lebah harus
memilih lewat lubang dengan gambar kotak lebih banyak, atau kotak lebih sedikit.
Kalau mereka memilih lubang yang tepat, mereka akan menemukan gula di dalam
bilik kedua. Sebaliknya jika mereka memilih lubang yang salah, maka mereka akan
menemukan minuman yang pahit. Sepahit kina, mungkin…
Dyer menggunakan 14 ekor lebah pada ini. Setelah menghabiskan 4 sampai
7 jam dengan 100 kali perjalanan keluar masuk bilik, pada akhirnya lebah-lebah
tersebut Dyer percobaanya berhasil belajar tambah-kurang. Penelitian yang
menggunakan petunjuk angka-angka ini juga menunjukkan bahwa lebah dapat
belajar aturan jangka panjang dan bisa menggunakan memori kerja jangka
pendeknya. Hasil penelitian mereka ini dipublikasikan di majalah terkenal Science
Advances.
Sebenarnya hasil ini melengkapi penelitian Dyer dkk. sebelumnya, bahwa lebah dapat mengenali bilangan 0 sebagai bilangan terkecil dalam daftar bilangan bulat tak-negatif. 2 Penelitian yang dilakukan oleh Dyer bersama Scarlett R. Howard dkk. pada tahun 2018 ini membagi lebah madu menjadi 2 kelompok, tiap kelompok berjumlah 10 lebah. Melalui eksperimen tersebut, lebah madu diajarkan untuk mengenali konsep “kurang dari” dan “lebih dari” dengan menggunakan panel yang diberi tanda (seperti tanda kotak, belah ketupat, atau lingkaran) dengan berbagai variasi jumlah antara 0 sampai 6. Salah satu contoh eksperimennya adalah ketika lebah yang diajarkan konsep “lebih dari”, lebah akan diberikan 2 pilihan panel, panel yang berisi 3 tanda dan panel yang berisi 4 tanda. Mereka yang memilih untuk menuju ke panel yang berisi 4 tanda akan diberikan hadiah berupa tetesan gula manis. Sementara mereka yang salah, akan diberikan tetesan cairan tawar. Begitu pula dengan kelompok lebah yang diajarkan konsep “kurang dari”. Pada percobaan selanjutnya, peneliti mengganti perlakuannnya dengan memberikan tetesan cairan pahit ke lebah yang menjawab salah, dan tetap memberikan tetesan cairan manis ke lebah yang menjawab benar. Hasilnya adalah performa lebah dalam membandingkan 2 panel dengan jumlah tanda yang berbeda menjadi lebih baik. Selain itu lebah bisa dengan cepat terbang ke panel yang benar ketika diminta untuk membandingkan 2 panel bertanda (1,2,3,4,5, dan 6).
Lebah juga dapat mengenali konsep 0. Penelitian yang dilakukan Scarlett R.
Howard, dkk ini mengungkap bahwa ketika lebah diminta untuk memilih panel
tanpa tanda (kosong) dan panel bertanda. Lebah di kelompok “kurang dari” akan
memilih untuk menuju ke panel tanpa tanda dan lebah di kelompok ‘lebih dari’
akan menuju ke panel yang bertanda. Setelah dilakukan beberapa kali
eksperimen, ternyata eksperimen ini lebih berhasil ketika panel tanpa tanda
dibandingkan dengan panel dengan 5 atau 6 tanda.
Seperti yang kita tahu angka 0 adalah angka yang jarang disebutkan dalam
perhitungan. Bahkan ketika mengajari anak untuk menghitung biasanya kita akan
mulai menghitung dari angka satu. Hasil dari penelitian di atas menunjukkan
bahwa lebah bisa mengenali konsep angka nol. Padahal perabadan Barat baru
mengenal angka 0 dan angka numerik Arab lainnya sekitar tahun 1200 setelah
Leonardo Fibonacci kembali dari perjalanannya di Afrika Utara.4 Lebah bisa
menyadari angka 0 tanpa sebuah proses pendidikan, akan tetapi melalui insting
yang dianugerahkan oleh Sang Maha Pemberi insting.
Di sinilah seorang muslim dituntut untuk mengambil pelajaran dari hewan mungil luar biasa ini. Hewan dengan ukuran otak kecil namun memiliki kemampuan matematika yang luar biasa. Bahkan dalam Al-Qur’an kita mengenal ada sebuah surat yang mengusung nama hewan ini sebagai judulnya. Dalam hal ini, matematika pun tidak hanya sekadar menjadi pelajaran yang dipelajari di bangku kelas dan dikerjakan saat ujian saja, namun sesungguhnya matematika adalah sebuah subjek pelajaran yang implementasinya tersebar di berbagai aspek kehidupan. Prof. Dr. Hadi Susanto adalah seorang ahli Matematika terapan yang menjadi pengajar senior di University of Essex -UK. Saat ini beliau sedang proses transfer ke Jurusan Matematika di Khalifa University-Abu Dhabi. Selain ahli matematika beliau juga aktif menulis prosa, esai dan puisi. Salah satu bukunya yang telah diterbitkan berjudul “Tuhan Pasti Ahli Matematika”.
Referensi :
1. Menzel R, Giurfa M. Cognitive architecture of a mini-brain: the honeybee.
Trends Cogn Sci. 2001 Feb 1 5(2):62-71 p.62
2. Andrian G.Dyer, dkk. Numerical Cognition in Honeybees Enables Addition and
Subtraction. Cognitive Neuroscience. Science Advance 2019.
3. Scarlett R. Howard, dkk. Numerical ordering of zero in honey bees. Cognitive
Neuroscience. Science 360, 1124–1126. 2018.
4. Jhon Matson, The Origin of Zero: Much ado about nothing: First a placeholder
and then a full-fledged number, zero had many invento







Discussion about this post