Hai Budi… perkenalkan, aku elang. Aku berdiri di hadapanmu dengan penuh kebanggaan dan kedudukan istimewa di antara hewan-hewan predator, karena aku dianggap sebagai salah satu burung yang paling kuat. Mungkin inilah alasan mengapa aku dijuluki sebagai “raja predator”, karena sejak dahulu kala dan masih hingga saat ini, dengan sayapku yang amat kuat, cakarku yang sangat tajam, paruhku yang melengkung lancip, dan juga gaya terbangku yang penuh wibawa, aku sering menjadi pusat ketakjuban bagi banyak orang.
Kedudukanku di Antara Makhluk Hidup Lainnya
Kami elang, terbagi menjadi 75 jenis dan 300 macam. Jika dilihat dari ukuran tubuh, Kami terbagi menjadi dua spesies: besar dan kecil, Cathartidae, Accipitridae, dan Falconidae. Spesies Falconiformes merupakan jenis yang berukuran besar dan paling kuat di antara burung-burung predator siang. Burung elang dan rajawali merupakan yang paling kuat dan berukuran besar serta berafiliasi pada keluarga Accipitridae yang berbeda dari karni berdasarkan sayap dan gaya terbangnya.
Jenis ke-20 dan ke-75 spesies yang berafiliasi pada keluarga elang tidak semuanya benar-benar elang. Kita dapat membaginya lagi menjadi empat macam sesuai ukuran, gaya makan, dan juga gaya terbang. Ada elang yang hidup dengan memakan ular atau serangga, elang laut, dan elang hutan. Sebagaimana elang asli memiliki keistimewaan dari segi paruh juga bulunya.
Keistimewaan dan Gaya Terbang
Kerongkongan kami tidak memiliki pita suara sebagaimana burung-burung berkicau. Oleh karenanya, untuk dapat bersuara kami bergantung pada tekanan udara dalam lubang bola bulat di dalamnya. Bagian yang dekat dengan dasar paruh membawa sebuah potongan lunak padat berkilau, dan secara umum terdapat lubang pada hidung kami. Tulang kami yang berongga membantu kami terbang sebagaimana halnya pada burung-burung lainnya. Kami adalah burung yang berburu di siang hari. Tekanan udara yang meninggi bersamaan dengan tingginya suhu udara memungkinkan kami menjadi kuat dan memudahkan kami untuk terbang seperti menunggangi udara tersebut di ketinggian. Dengan begitu, kami dapat menerkam mangsa dari atas dengan penuh kemudahan dan kecepatan.
Kami memberi perhatian lebih pada bulu kami dan menjaganya agar senantiasa bersih. Alasannya adalah agar kami tidak mendapat masalah saat terbang atau berburu. Kami terbang dengan kecepatan 120-130 km/jam. Kebersihan bulu kami sangatlah penting agar terhindar dari pengaruh air dan udara yang berbahaya. Oleh karenanya, Sang Pencipta -dengan penuh kasih dan cinta-Nya- menciptakan bagi kami sebuah potongan lemak kecil di ekor yang berfungsi menyortir lemak yang dapat kami ambil dengan paruh dan kami gunakan untuk meminyaki bulu-bulu kami.
Elang yang asli, memiliki keistimewaan dengan bulu lebat yang terbagi menjadi 33 macam. Yang paling besar dari segi ukuran tubuh adalah dari keluarga Aquila. Jarak antara sisi sayap elang gurun (Aquila Chrysaetos) saat mengepak adalah 220 cm. Panjang satu sayapnya saja bisa mencapai 75-88 cm. Hal ini melebihi bentangan sayap pada Aquila Heliaca yang mencapai 210 cm dan pada elang lembah (Aquila Nipalensis) sepanjang 260 cm. Kami memiliki kekuatan super dalam hal manuver yang tidak dimiliki oleh teknologi pesawat tempur termutakhir manusia sekalipun. Manuver ini dapat memberi keamanan tekanan kecepatan, sehingga kami tidak menabrak batu saat mengepakkan sayap, membantu kami untuk mengerem agar dapat menggenggam mangsa dalam keadaan hidup-hidup, dan kembali terbang menuju ketinggian.
Kalian tahu bahwa semua keistimewaan dan keunggulan yang kusebutkan tadi sama sekali di luar pengetahuan dan usaha kami. Akal kami bahkan tak mampu memikirkan dan merenungkan semua itu. Setiap hewan bergerak dalam kehidupannya sesuai takdir Ilahi. Dengannya, mereka dapat bergerak menuju rezekinya, bagaimana cara mendapatkannya, bagaimana mengobati diri saat sakit menyerang. dan menyesuaikan diri dengan kehidupan yang harus dihadapinya.
Macam-macam Burung dan Habitatnya
Elang laut terbagi menjadi 10 jenis, yang paling terkenal adalah elang besar berkepala putih yang dijadikan Amerika Serikat sebagai lambang negara mereka. Elang ini memulai hidupnya dengan kepala berwarna gelap. Lalu sedikit demi sedikit warna gelap itu akan berubah menjadi cerah dan putih secara keseluruhan. Hal itu terjadi saat ia berumur 3 tahun.
Elang ini membangun sarangnya di antara bebatuan tinggi. la memiliki paruh besar yang melengkung dan jemari kaki berpunuk yang dapat menggenggam ikan atau mangsa yang licin sekalipun. Elang ini terkadang memburu hewan hidup dan ikan, meski sebenarnya dia adalah pemakan bangkai. Terkadang ia juga mencuri ikan dari elang saingannya (Pandion Haliaetus) yang panjangnya mencapai 79-94 cm dan bentangan sayapnya mencapai 230 cm. Sayangnya, elang laut berkepala abu-abu ini berlindung di benua Amerika dan hampir akan punah di benua Asia.
Elang pemangsa ular dan serangga terbagi menjadi sekitar 16 jenis. la memiliki bentuk tangkai kaki pendek yang didesain untuk dapat mencengkeram ular dan mangsanya. Elang jantan ini akan keluar dari sarang untuk berburu. Saat telah mencengkeram, maka ia akan membunuh mangsa dan membawanya ke sarang untuk diberikan kepada betina dan anak-anaknya. Secara anatomi, elang jenis ini dianugerahi kekebalan terhadap bisa ular yang dimangsanya. Ilmu Allah yang Maha Melingkupi, asma-Nya Al-Mushowwir (Maha Membentuk), dan Al-Mudabbir termanifestasikan pada elang ini, la menutupi kaki elang ini dengan skala yang tebal dan kuat yang tahan terhadap gigitan ular bahkan bisanya.
Elang pemangsa ular membangun sarangnya pada pepohonan besar atau bebatuan tinggi. Tinggi elang ini mencapai 63-64 cm dan bentangan sayapnya mencapai 190 cm. Elang hutan hidup di tengah dan selatan benua Amerika. Ukuran tubuhnya yang sangat besar berhak untuk dimasukkan ke dalam daftar rekor dunia. Berat badan standarnya 4,5 kg. Elang jenis ini terdapat di sebuah kebun binatang di Amerika dengan berat 12,3 kg. Berat standar elang tua jenis ini bisa mencapai 9 kg dan dapat berburu kera dengan berat 9 kg secara mudah, Kawan kami dari jenis ini tidak menyusahkan dirinya dengan berburu hewan kecil yang berat badannya kurang dari 5 kg.
Ketajaman Penglihatan
Semua telunjuk tangan akan menunjuk kepada kami ketika ada yang bertanya “Hewan apakah yang memiliki penglihatan paling tajam?” Elang gurun misalnya, dapat membedakan gerakan kelinci dari jarak 2 km dan dapat terbang menuju kelinci itu dalam kecepatan penuh untuk menerkamnya. Tidakkah ini sebuah kenikmatan yang diberikan kepada kami? Jika tidak, bagaimana bisa kami berburu dan makan untuk menjaga kekuatan kami? Ini hanya satu kenikmatan dari segi penglihatan saja, mungkin kita dapat menyempurnakannya dengan pembahasan tentang keagungan penciptaan Ilahi pada cakar, sayap, paruh, otot, kemampuan bermanuver, dan gaya terbang kami?
Penciptaku telah menganugerahkan selaput tipis pada kelopak mata kami yang berfungsi untuk melindungi mata dari bahaya. Selaput ini dapat bergerak ke depan-belakang tanpa menghalangi pandangan mataku. Mataku memiliki kekuatan super menyerupai kekuatan hipnotis. Sekali kupandang mangsaku, maka seakan ia terjebak dalam kelumpuhan. Meski kekuatan penglihatanku 8 kali lebih tajam daripada kalian, manusia, tetapi ukuran otakku lebih kecil bila dibandingkan punya kalian. Jika memang tugas penglihatan berkaitan dengan besarnya ukuran otak, maka sudah pasti mata kalian seharusnya jauh lebih tajam daripada mataku. Karena otak kalian membentuk 2-2,5 % dari tubuh kalian. Sedangkan otakku hanyalah 0,6% dari tubuhku. Ini membuktikan bahwa otak bukanlah satu-satunya faktor untuk melihat. Oleh karena Allah yang Maha Esa, satu-satunya pemilik kekuatan hakiki dan agung nan sempurna. Maha Suci Zat yang membuat indah segala hal yang diciptakan-Nya.
Elang jantan akan hidup sepanjang hidupnya bersama dengan satu betina saja. Ini merupakan hal yang lazim di antara kami, para elang. Kami melangsungkan hidup dalam satu sarang yang kami bangun di ketinggian yang susah dicapai manusia. Elang jantan akan menjaga elang betina saat tengah mengerami telur-telurnya. Dia akan memenuhi segala yang dibutuhkannya saat proses pengeraman berlangsung. Setiap hari elang jantan akan keluar untuk berburu demi mendapat makanan bagi dirinya dan betinanya yang tengah bersiap menjadi ibu bagi anak-anaknya. Siklus pertumbuhan dan perkembangbiakan kami berbeda-beda tergantung jenis dan ukurannya. Ada elang yang dalam setahun dapat bertelur 7 butir, sesuai dengan ukuran dan berat tubuhnya. Induk elang akan mengerami telurnya selama 28-60 hari dan akan tinggal di sarangnya berminggu-minggu, bahkan 2 tahun lamanya.
Kami membangun sarang sesuai dengan ukuran tubuh kami. Tahukah Kau Budi, telah ditemukan sebuah sarang burung elang laut berkepala putih yang berumur lebih dari 45 tahun dengan berat 3 ton dan berdiameter 2,9 meter di kedalaman 6 meter. Betina elang ini bertelur 1-3 butir saja dan mengeraminya dalam waktu 35 hari. Elang jenis ini menetaskan telurnya di tempat yang mudah dilihat. Mereka akan memerhatikan anak-anaknya hingga berumur dewasa. Elang jantan akan datang membawa buruannya, sedangkan elang betina akan memotong-motong dengan paruhnya untuk menyuapi anak-anaknya. Anak-anak elang itu akan dapat terbang dan mandiri saat telah berumur 12-13 minggu, namun mereka masih belum dapat terbang jauh dari sarangnya dan akan tetap dekat dengan keluarganya hingga berumur 1 tahun.
Setelah ceritaku yang panjang ini, jangan Kau pikir bahwa semua aktivitas di atas adalah atas kehendak dan rencana kami sendiri. Bukan! karena itu semua adalah takdir dan petunjuk Ilahi yang telah digariskan kepada kami, sehingga la mudahkan kami mendapatkan rezeki dalam kehidupan ini. Maha suci Zat yang Maha Mengetahui dan Menguasai segala hal.
Beberapa Kabar Burung tentang Kami
Banyak kabar burung tersiar terkait diri kami, elang. Ada yang benar, ada pula yang dilebih-lebihkan. Di negara Swedia, misalnya, dikatakan bahwa elang laut berkepala putih menculik monster yang berat tubuhnya mencapai 680 kg. Sedangkan di Norwegia dikatakan bahwa elang berekor putih (Haliaeetus Albicilla) menculik gadis berumur 14 tahun ketika tengah berada bersama keluarganya dan terbang sejauh 1600 meter. Untungnya gadis itu dapat diselamatkan sebelum terjadi sesuatu yang tidak diinginkan dan tertimpa suatu keburukan.
Beberapa elang (khususnya elang gunung) memburu domba dan memakannya. Kalian tahu, sebenarnya kalian lah penyebabnya. Kalian merusak alam, memerangi kehidupan hutan, serta berlebihan dalam mengeksploitasinya dengan perburuan brutal, sehingga tidak meninggalkan kami pilihan selain memburu apa yang kami temukan di hadapan kami. Elang petarung (Polemaetus Bellicosus) yang hidup di Afrika memang memiliki cukup kekuatan untuk memburu anak antelop dan serigala, namun dia tidak memburu mangsa selain hewan hyrax.
Di sini Aku ingin sedikit berbicara tentang nikmat obat pencegahan yang diilhamkan Tuhan yang Maha Penyayang dan Maha Mengetahui segala hal. Kami menyikatkan sebuah tumbuhan aromatik di sekitar sarang kami guna mengusir parasit dan serangga untuk melindungi telur-telur kami.
Mungkin umur rata-rata elang di alam liar adalah 30 tahun dan 80 tahun ketika di kebun binatang. Tetapi jika ditanya, aku lebih memilih untuk berumur 30 tahun saja tapi bebas di alam liar daripada berumur 80 tahun tapi terperangkap dalam kurungan kebun binatang. Umur dewasa pada elang sesuai dengan ukuran tubuhnya. Saat elang memiliki ukuran yang besar, maka akan semakin lambat pula pertumbuhannya menuju kedewasaan.
Aktivitas berkembang biak dan melipatgandakan telur, serta memilih tempat yang tepat untuk membangun sarang bergantung pada jumlah kesediaan makanan di sekitar kami. Elang yang berukuran kecil berkembang biak dengan skala yang besar. Karena dia mampu menemukan banyak serangga kecil untuk ia makan. Tetapi tidak demikian dengan elang besar, ia berkembang biak dengan skala kecil karena hanya dapat menemukan sedikit saja makanan.
Dengan asma Ar-Razzaq, Allah telah menyediakan rezeki untuk kami sebagaimana la juga telah menyiapkan rezeki untuk setiap makhluk di semesta ini. Dengan asma Al-Muqshit, la jadikan segala rezeki sesuai takaran dengan penuh keadilan, tak kurang dan tak lebih. Dengan asmanya Al-Mudabbir, la mengatur rezeki kami agar saling berkaitan satu sama lain dengan penuh keajaiban. Dengan asma Al-Quddus, la jadikan kami saling berhubungan demi keseimbangan alam dan kebersihannya melalui perburuan kami pada hewan-hewan kecil yang lemah dan ringkih. Dengannya, kami pun berpartisipasi dalam menjaga keseimbangan alam semesta ini.
Di sini Aku telah berusaha untuk berbicara tentang diriku dan elang-elang lainnya. Aku menghadap sebagai hamba kepada Tuhannya dan berbicara tentang Asmaul Husna dengan harapan agar kalian tidak lupa bahwa kita semua diliputi oleh berbagai kenikmatan amat besar yang berasal dari kelembutan Allah dan kekuasaan-Nya. Kini pertanyaannya adalah “Apakah kita telah dapat benar-benar bersyukur atas nikmat-nikmat itu dan sungguh-sungguh dalam beribadah sepenuhnya?”.
Prof. Dr. Irfan Yilmaz adalah seorang profesor dalam bidang biologi di Universitas Dokuz Eylul, Izmir.







Discussion about this post