Ilmu pengetahuan modern sering digambarkan sebagai “musuh alami” mitos. Ilmu dianggap rasional, terukur, dan dingin1; sementara mitos sering dicap irasional, takhayul, dan penuh bumbu mistis. Namun demikian, jika menelusuri akar keduanya, garis pemisah itu ternyata tidak setegas yang kita bayangkan. Banyak mitos yang justru lahir dari kepekaan pengamatan para leluhur terhadap alam kemudian dirangkai menjadi cerita dan nasihat yang diwariskan turun-temurun sebagai kearifan lokal. Lalu di kemudian hari, ketika ilmu pengetahuan berkembang dengan metode yang lebih sistematis, sebagian mitos itu terbukti memiliki dasar sangat empiris.
Secara sederhana, ilmu pengetahuan adalah upaya manusia memahami gejala alam melalui metode ilmiah: mengamati, menyusun hipotesis, melakukan eksperimen, menguji bukti, dan memastikan pengulangannya. Sebuah temuan baru diakui sebagai pengetahuan ilmiah jika ia dapat diuji kembali dan menghasilkan hasil konsisten. Namun, ilmu tidak muncul secara tiba-tiba bersama mikroskop dan jurnal ilmiah. Jauh sebelumnya, manusia sudah terlebih dahulu bertanya: “Mengapa hujan turun, mengapa laut ‘melahap’ manusia, mengapa hewan tiba-tiba gelisah, dan mengapa-mengapa lainnya.” Karena pada masa itu belum ada bahasa kimia, fisika, atau neurologi, maka jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut pun dibungkus dalam mitos: kisah tentang dewa, roh, dan makhluk gaib yang berusaha menjelaskan realitas dengan cara yang bisa dipahami orang pada zamannya.
Mitos yang Menyimpan Jejak Pengetahuan
Menurut KBBI, empiris berarti pengetahuan yang lahir dari pengalaman, pengamatan, atau percobaan. Jika kita jujur, banyak mitos di Nusantara sebenarnya adalah pengetahuan empiris: “Jika X dilakukan, maka Y akan terjadi”, yang diamati berulang kali, lalu diceritakan dalam bentuk mudah diingat. Sayangnya, karena labelnya “mitos”, sebagian masyarakat modern langsung menyapunya sebagai sesuatu yang sepenuhnya irasional, padahal sering kali di dalamnya tersembunyi logika sains dan pesan keselamatan.
Misalnya tentang orang yang tersesat di hutan, mitos mengatakan bahwa mereka “disesatkan” makhluk halus, dibuat berputar-putar di tempat yang sama, meski merasa sudah berjalan lurus. Dari sudut pandang sains, ada penjelasan yang lebih dekat: tubuh manusia tidak pernah benar-benar simetris. Mata kanan dan kiri berbeda ukurannya, begitu juga telinga, tangan, dan kaki. Biasanya otot yang lebih sering digunakan, di sisi dominan tubuh, akan cenderung lebih kuat. Saat seseorang berjalan tanpa patokan visual yang jelas, seperti di tengah hutan lebat atau padang luas, perbedaan kecil ini pun membuat langkahnya sedikit demi sedikit cenderung melengkung ke satu arah tanpa disadari. Jika lintasan itu diteruskan pada area yang luas, dia akan berakhir kembali ke dekat titiknya berjalan.2 Bagi yang tidak memahami mekanisme tubuh ini, pengalaman “jalan terus tapi kok kembali ke situ-situ lagi” sangat mudah ditafsirkan sebagai ulah makhluk gaib.
Di sisi lain, nenek moyang kita sebenarnya tidak berhenti pada penjelasan mistis semata. Mereka ternyata juga mengembangkan kearifan lokal praktis, seperti:
- Mengamati arah Matahari dan bayangan pohon yang memanjang ke barat saat pagi, memendek di tengah hari, hingga merayap ke timur menjelang senja;
- Mengamati lumut yang tumbuh pada sisi paling lembap batang pohon yang memberi isyarat tentang arah yang lebih jarang tersentuh cahaya;
- Membuat kompas sederhana dari sebatang jarum yang digosok hingga bermuatan magnet, lalu diletakkan di atas air dengan bantuan daun atau serpihan kayu sebagai pelampung, lalu membiarkan ujungnya menunjuk ke arah utara–selatan seirama dengan medan magnet Bumi.
Semua teknik ini menunjukkan bahwa kemampuan membaca alam bukanlah warisan gaib, melainkan pengetahuan praktis yang lahir dari kedekatan manusia dengan ruang hidupnya. Di balik kesederhanaannya itu, tersimpan semangat untuk bertahan, bergerak, dan menemukan jalan pulang, sebuah kesadaran ekologis yang kini kembali terasa penting di tengah dunia yang semakin bergantung pada teknologi. Tradisi itu lalu diwariskan sebagai petuah orangtua pada anak yang hendak ke hutan atau mendaki gunung. Di sinilah mitos dan sains saling menyalami: satu memberi bahasa simbolik, yang lain memberi kerangka penjelasan.







Discussion about this post