• Privacy & Policy
  • Kontak
  • Tentang Kami
    • Profil
    • Redaksi dan Manajemen
    • Dewan Penasihat
  • Mata Air di Dunia
    • Arabic
    • Deutsch
    • English
    • Spanish
    • Turkish
  • FAQ
  • Kirim Artikel
  • Karir
Thursday, April 16, 2026
  • Login
Majalah Mata Air
Advertisement
  • Home
  • Rubrik
    • Sains
    • Budaya
    • Spiritualitas
  • Penulis
    • Amany Lubis. Prof. Dr.
    • Astri Katrini Alafta. S.S. M.Ed.
    • Gumilar Rusliwa Somantri. Prof. Dr.
    • Ilza Mayuni. Prof Dr.
    • Irfan Yilmaz. Prof. Dr.
    • Khoirul Anwar. Dr. Eng.
    • Muhammad Luthfi Zuhdi
    • Nabilah Lubis. Prof. Dr.
    • Qoriah A. Siregar. Dr.
    • Semiarto Aji Purwanto. Prof. Dr.
    • Riri Fitri Sari. Prof. Dr. Ir.
    • Tegar Rezavie Ramadhan. S.K.M. M.Pd.
  • Event
  • Tetes Mata Air
  • Arsip
  • Berlangganan
  • Produk Kami
    • Buku Digital
    • Majalah Digital
    • Mata Air dalam Genggaman
  • Semua Membacanya 2025
    • Pendaftaran Semua Membacanya 2025
    • Galeri Semua Membacanya
      • Galeri SM25
      • Galeri SM24
      • Galeri SM23
No Result
View All Result
  • Home
  • Rubrik
    • Sains
    • Budaya
    • Spiritualitas
  • Penulis
    • Amany Lubis. Prof. Dr.
    • Astri Katrini Alafta. S.S. M.Ed.
    • Gumilar Rusliwa Somantri. Prof. Dr.
    • Ilza Mayuni. Prof Dr.
    • Irfan Yilmaz. Prof. Dr.
    • Khoirul Anwar. Dr. Eng.
    • Muhammad Luthfi Zuhdi
    • Nabilah Lubis. Prof. Dr.
    • Qoriah A. Siregar. Dr.
    • Semiarto Aji Purwanto. Prof. Dr.
    • Riri Fitri Sari. Prof. Dr. Ir.
    • Tegar Rezavie Ramadhan. S.K.M. M.Pd.
  • Event
  • Tetes Mata Air
  • Arsip
  • Berlangganan
  • Produk Kami
    • Buku Digital
    • Majalah Digital
    • Mata Air dalam Genggaman
  • Semua Membacanya 2025
    • Pendaftaran Semua Membacanya 2025
    • Galeri Semua Membacanya
      • Galeri SM25
      • Galeri SM24
      • Galeri SM23
No Result
View All Result
Majalah Mata Air
No Result
View All Result
Home Sains Aneka Satwa

Dari Gigitan Seekor Nyamuk

Prof.Dr. Irfan Yilmaz

by Irfan Yilmaz. Prof. Dr.
6 years ago
in Aneka Satwa
Reading Time: 8 mins read
Share on WhatsappShare on FacebookScan and read on your phone

Nging… Ngiiiing… Nging…  Aku datang… Cepat bangun! Jangan tidur saja. Tidur sepanjang malam tidak baik bagimu. Lagipula tidur lama-lama tidak akan memperpanjang umurmu.

Bangun… Bangun hai anak manusia. Bangun dan renungkanlah. Apakah ada hal lain yang lebih baik bagimu untuk menjadi wasilah bertafakur selain diriku? Jangan marah bila aku suka menggigit dan membuat kulitmu merah, karena itu hanya terjadi sementara saja. Kini saatnya akan kuperlihatkan padamu seni mengagumkan yang diberikan Tuhan pada diriku agar Kau tersadar, berpikir, dan mendorongmu untuk bertafakur. Budi… apa salahnya jika kuisap darahmu seteguk saja agar dahagaku reda. Bagaimanapun juga Kau senantiasa memproduksi darah. Seteguk darah bagi hewan kecil sepertiku ini tidak akan membuatmu rugi apapun. 

Budi, sesungguhnya Allah, Pencipta semesta alam telah berfirman dalam salah satu ayat Al-Qur’an seraya menyapamu: “Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan seekor nyamuk atau yang lebih kecil darinya. Adapun orang-orang yang beriman tahu bahwa itu kebenaran dari Tuhan. Tetapi mereka yang kafir berkata, ‘Apa maksud Allah dengan perumpamaan ini?’ Dengan (perumpamaan) itu banyak orang yang dibiarkan-Nya sesat, dan dengan itu, banyak (pula) yang diberikan-Nya petunjuk. Tetapi tidak ada yang Dia sesatkan dengan (perumpamaan) itu selain orang-orang yang fasik” (QS. al-Baqarah: 26). Sebagaimana yang kau lihat, Allah mengarahkan pandanganmu pada kelemahanku, kecilnya postur tubuhku lalu darinya Ia ungkapkan hakikat yang amat besar. 

Budi… aku memiliki tanda-tanda khusus dalam setiap fase kehidupanku. Aku juga menggunakan berbagai teknik berbeda di tiap fase itu, yang masing-masing darinya adalah mukjizat amat besar. Untuk dapat menerangkan dan menjabarkan semua itu dalam porsi yang cukup, maka kita harus menisbahkan semua itu pada Allah Sang Pemilik kekuatan dan ilmu tak berkesudahan. Pertama-tama izinkan aku mengoreksi pandangan keliru tentang diriku. Aku bukanlah hewan jahat yang sepanjang hidupnya hanya mengisap darahmu. Sebenarnya yang terjadi adalah bahwa nyamuk betina membutuhkan sejumlah darah untuk memenuhi kebutuhan protein selama masa penetasan telurnya. Nyamuk jantan sama sekali tidak mengisap darah, karena hanya perlu mengisap nektar dari tumbuhan saja. Nyamuk betina disalahkan karena peran mereka dalam membawa dan memindahkan beberapa penyakit tanpa disadarinya ketika tengah mengisap darah kalian. Jangan lupa, bahwa Kalian harus adil saat menghakimi mereka! 

RelatedArticles

Hai Budi, Ini Aku Laba-Laba, Hewan Kecil Bersarang Sutra

Hai Budi, Ini Aku Landak Hewan Berduri Tegak

Kami adalah keluarga besar yang terdiri dari sekitar 2500 spesies. Dari kumpulan sebesar ini, rasanya tidak adil jika Kau menghakimi semuanya hanya karena kesalahan yang diperbuat segelintir kami saja. Beberapa spesies kami yang bernama nyamuk malaria (Anopheles) memang dapat menyebabkan demam, sedangkan spesies kami yang lain bernama Culex dapat menyebabkan filariasis (kaki gajah) dan ensefalitis (radang otak), sebagaimana pula ada spesies nyamuk yang mengakibatkan demam kuning. Semua yang mereka lakukan hanyalah sebatas mengisap seteguk darah demi menghilangkan dahaga dan menjaga keberlangsungan spesiesnya saja. Dari mana mereka tahu jika manusia yang diisap darahnya sedang dalam keadaan sakit atau sehat? Bahkan kalian pun wahai manusia, meski para veteriner telah mengawasi rumah pemotongan hewan, namun masih saja ada kemungkinan kalian bisa memakan daging yang terkontaminasi kotoran atau penyakit rabies, atau bisa saja tanpa sadar kalian membeli keju busuk beracun di pasaran yang berbahaya dan menyebabkan penyakit bagi manusia. 

Kawanku Budi, kami tidak mungkin memeriksa satu per satu manusia yang kami isap darahnya, sehingga tanpa sadar kami telah memindahkan darah terkontaminasi mikroba yang diisap dari seseorang dengan virus atau demam plasmia. Sekali lagi, kami… para hewan, bertindak seperti ini karena sesuai program yang telah ditentukan Tuhan. Jadi… begitulah ceritanya. Aktivitas kontaminasi mikroba yang dilakukan kawan-kawan kami secara lahiriah memanglah perbuatan jahat, namun itu bukan murni kehendak mereka. Potret sebenarnya dari peristiwa ini mungkin dapat dijelaskan sesuai hasil akhirnya yang penuh dengan hikmah. Jika di masa lalu aku telah menjadi penyebab bagi munculnya wabah mematikan, namun kini penyakit-penyakit seperti demam dan lainnya telah berkurang berkat obat-obatan yang kalian temukan. Jika tidak ada orang yang sakit demam, maka tidak akan ada pula kemungkinan aku membawa mikroba penyebab demam. Ketika aku mengisap darah salah seorang dari kalian, tidak lain itu adalah sekejap saja, sehingga tubuh kalian akan merasakannya dan bereaksi dengan mengeluarkan antibiotik penangkal penyakit. Tidakkah kalian tahu? Akulah yang sebenarnya menjadikan rasa sensitif muncul pada dirimu. Tidakkah Kau tahu bahwa hal itu menjadikan sistem imunmu terbangun? Mungkin kalian menganggap bahwa ini hanyalah klaim dariku saja, namun jika kalian melakukan penelitian jeli di laboratorium, maka akan kalian temukan bahwa gigitanku merupakan penyebab terdorongnya sistem imun manusia agar aktif. Mungkin hal ini adalah cara agar penyakit tidak berubah menjadi lebih berbahaya seperti halnya kanker. Karena dirikulah sistem imun kalian terbangun sempurna. Aku yakin bahwa kalian akan mendengarkan nasihat makhluk kecil nan bersahaja yang merupakan karya seni kecil Tuhan yang Maha Berkuasa. Aku yakin kalian akan melakukan penelitian lebih dalam terkait hal ini. Seperti saat kalian melancarkan serangan bengis terhadap lalat, lihatlah ia sekarang! larvanya ternyata dapat menjadi belatung yang kini kalian gunakan untuk mengobati luka. 

Hmmm… dari tadi sepertinya aku hanya membela diri saja ya, tanpa sempat bercerita tentang perangkat sensitif yang ada pada diriku. Aku adalah mukjizat Penciptaku yang Maha Bijaksana. Jika tidak, bagaimana mungkin Tuhan berbicara tentangku dalam Al-Qur’an? Itu berarti bahwa Ia ingin memberikan pesan pada kalian melalui makhluk mungil sepertiku ini. Seperti yang kalian ketahui bahwa membuat jam berukuran besar jauh lebih mudah bila dibandingkan membuat yang berukuran kecil. Jika gerigi dalam jam, sekrup, dan juga perangkat lainnya sangat kecil, maka pengumpulan dan pembuatan jam agar dapat berfungsi merupakan sebuah pekerjaan sulit. Kemudahan dan kesusahan bukanlah topik pembahasan bagi Penciptaku, namun aku hanya ingin menjelaskan permasalahan sebenarnya pada kalian. Sekarang pejamkan mata dan coba bayangkan. Aku memiliki perut, lambung, usus, otak, jantung, dan saluran sekresi. Semua perangkat ini diciptakan untuk melayaniku. Mereka bekerja tanpa rasa lelah dan tidak protes sama sekali. Sudah selayaknya bila bentuk badanku, pembentukan, penyusunan, dan pengoperasiannya berbeda dari milikmu. Karena ketika Tuhan mengetahui di mana makhluk ciptaan-Nya akan hidup, maka Ia akan memberikan mereka anggota badan yang paling tepat, gaya hidup yang cocok, dan makanan yang sesuai. Ia pun menjadikan semua itu dalam bentuk idealnya. Dia juga menjadikan semua perlengkapan yang ada padaku di tempatnya yang paling ideal dan dalam penciptaan paling sempurna. 

Perangkat tubuhku yang paling penting adalah jarum. Tuhan menganugerahkan organ ini untuk membantuku memenuhi rasa lapar. Sistem pengoperasian organ yang ditambahkan pada mulutku agar dapat mengisap darah ini kugunakan seperti sistem pengeboran sebuah sumur. Jarum yang berfungsi sebagai pendeteksi ini terdiri dari empat pisau tajam dan bentuk seperti setengah talang (gambar 1). Untuk mengisap darahmu, aku akan menancapkan jarum ini di atas kulitmu yang paling banyak menyimpan darah. Mula-mula kurobek kulitmu, lalu kukeluarkan pisauku yang tercipta tajam itu agar memungkinkannya menyayat kulit dengan mudah. Supaya kalian tidak merasakan kehadiranku, aku pun membius bagian tempatku berada dengan zat khusus yang diekskresikan oleh salah satu jarumku. Aku pun mengekskresikan sebuah zat berkomposisi khusus sehingga darah yang kuisap tidak menggumpal ataupun membeku, sehingga darah tidak kehilangan sifat cairnya dan bisa dengan mudah mengalir. Jika bukan karena zat ini, maka darah yang kuisap akan menyumbat jarumku pada saat aku menghisapnya, dan aku pun bisa mati serta tak mampu menyedot darah lagi. Jika aku berhasil membius dengan baik, maka seseorang yang kugigit dan tengah tertidur pulas, tidak akan merasakan kehadiranku, maka itu berarti aku akan berpesta pada saat itu. Aku mampu menampung darah sebanyak 2,8 mg sekali isapan. Jumlah ini bahkan lebih banyak dari bobotku yang hanya 2,5 mg saja. Permukaan lambungku bersifat fleksibel dan bisa memanjang. Dalam waktu 2-3 menit saja, perutku telah penuh dengan darah. Pencernaan darah dalam perutku membutuhkan waktu yang cukup lama, maka dari itu aku pun dapat bertahan hidup selama 3-4 hari tanpa makan apapun.  

Beberapa dari spesies kami dapat mengisap 300 mikroliter darah selama 15 menit, ini merupakan 6 kali lipat lebih banyak dari besar tubuh mereka. Aku tidak mengalami masalah dalam hal penampungan (gambar 2). Ruang kosong dalam kepalaku dilengkapi dengan otot-otot. Di sela-sela saluran dan rongga otot-otot ini terdapat perbedaan tekanan udara antara 1-2 (kompresor laktasi). Darah orang yang kugigit akan naik ke dalam jarum sedot dengan kecepatan 5 meter per detiknya. Jangan khawatir dan jangan takut, tekanan ini tidak akan menghancurkan jarumku, karena Allah telah menciptakan perangkat biologis ini dengan sebuah instalasi khusus bagi aktivitas ini hebat bukan?(gambar 3).

Siapakah manusia yang paling banyak kuisap darahnya? Jawaban atas pertanyaan ini sebenarnya akan menguak sebuah rahasia. Namun tak mengapa, demi kalian akan kubuka rahasia ini sebagai berikut. Aku dapat menemukan manusia yang akan kuisap darahnya meski di tempat gelap gulita sekalipun. Agar aku mendapatkan mangsaku, maka Tuhan telah memberikan perangkat sensor penerima panas yang sensitif di tengah kaki depanku. Melalui perangkat ini, aku dapat menentukan bagian tubuh kalian yang paling panas dan yang paling banyak menyimpan darah. Ditambah dengan adanya alat pendeteksi yang sangat sensitif pada tubuhku sehingga akal maupun pikiran kalian tidak akan dapat membayangkannya. Aku dapat mendeteksi manusia melalui aroma keringat dan suhu tubuh mereka. Dengan perangkat yang menentukan persentase kelembaban dan senyawa pada napas kalian, asam laktat, asam lemak, minyak amonia, asam amino, dan asam karbonat pada keringatmu, maka aku dapat menemukan tempat terbaik untuk membuat lubang di kulitmu sebagaimana yang dilakukan oleh pesawat saat lepas landas dengan auto pilotnya. Indikator dan analisis seperti yang ada dalam kabin pesawat yang berfungsi untuk membimbing, mengingatkan, dan memberikan informasi yang diperlukan pilot tentang kondisi pesawat juga ada dalam perutku. 

Nyamuk betina membutuhkan waktu yang sesuai dan air yang tepat guna menetaskan telurnya. Oleh karenanya, ia mengoperasikan alat pencari kelembaban yang ada dalam perutnya dengan amat sensitif. Melalui alat ini, nyamuk betina memiliki pengetahuan dan ilmu tentang komposisi dan kelembaban tanah yang dilewatinya dari atas pada saat terbang. Dia tidak akan menemukan air yang sesuai dan penuh dengan tumbuhan melainkan akan secepatnya menetaskan telurnya di sana.

Organ yang disebut Johnston yang ada dalam antena kami merupakan alat pendengaran yang amat sensitif. Terdapat perbedaan antara kecepatan kepakan sayap nyamuk betina dengan nyamuk jantan. Ada pula perbedaan melodi yang keluar dari sayap keduanya pada saat terbang. Nyamuk betina mengepakkan sayapnya dengan sangat cepat, sedangkan nyamuk jantan dapat menemukan pasangan hidup mereka berkat alat yang dikaruniakan Tuhan ini, sehingga keduanya akan senantiasa bersama untuk menjaga keturunan dan generasinya. Dapatkah kalian tebak sejauh mana kesempurnaan dapat terjadi dari kepakan sepasang sayap yang dalam satu detiknya mencapai 500 kali ini? Kalian, manusia, bahkan hampir tidak bisa menggerakkan tangan kalian dengan menutup dan membukanya kembali seperti sayap satu kali dalam sedetik saja. Karena otot maupun sendi kalian tidak diciptakan untuk pekerjaan ini. Hebat ya tautan sendi dan ototku lebih kuat daripada yang kalian punya. 

Kami harus meletakkan telur-telur di genangan air yang cocok agar mereka dapat tumbuh. Maka telah diberikan upaya perlindungan yang diperlukan dari Zat Pemilik Kekuatan Abadi, sehingga telur-telur tersebut tidak tenggelam ke dalam air. Beberapa spesies kami memperketat lubang-lubang udara kecil di atas telurnya agar telur tersebut tidak tenggelam ke dalam air. Beberapa spesies lain bahkan memiliki pintu masuk dan jalur penuh udara di atas telurnya. Sebagaimana kami juga mengeratkan banyak zat perekat khusus pada telur dan menjadikannya seperti rakit yang mengapung di atas air. Alur-alur tersebut bagaikan bantal-bantal udara yang berfungsi mencegah telur-telur kami agar tidak tenggelam.  

Beberapa spesies kami yang lain meninggalkan telurnya di air setelah membungkusnya dengan zat gelatin untuk melindunginya. Mereka memanfaatkan hukum gravitasi di atas permukaan tanah. Sebenarnya kami tidak pernah tahu apa itu tekanan tanah dan gravitasinya, sebagaimana kami juga tidak tahu tentang kekuatan mengapung di dalam air. Namun, Dzat Yang Maha Memberikan Pertolongan mengetahui kelemahan dan kepapaan kami ini, sehingga Ia pun tak henti-hentinya menjaga telur-telur kami dengan sangat baik melalui mekanisme ini. 

Larva yang keluar dari telur memiliki panjang antara 1-1,5 mm dan tumbuh besar dengan cepat untuk melanjutkan kebutuhan makannya. Ia memiliki perangkat khusus yang memungkinkannya dapat makan di dalam air tanpa tersedak, yakni menggunakan pipa udara khusus berbentuk rambut tipis dan kecil yang terbentang di atas air. Pipa-pipa itu bahkan lebih hebat dari pipa udara milik para penyelam handal. Rambut-rambut kecil ini terbentuk dari zat hidrofobik (anti-air), sehingga air tidak akan terserap ke dalamnya. Namun jika solar atau minyak cair tercampur ke dalam air, maka keistimewaan rambut-rambut kecil ini akan rusak. Secara alami, proses ini dapat menyebabkan kematian larva. Ketika kalian mengetahui fakta ini, maka manusia pun lalu menyiramkan solar ke air. Hal itu kalian lakukan untuk melancarkan serangan melawan kami. Yang sangat disayangkan, hanya agar dapat membunuh larva-larva kami saja, kalian rela merusak alam dengan mencemari airnya. Pada hakikatnya, jika kalian tidak ikut campur dalam hal ini, maka sebenarnya banyak dari anak ikan dan katak yang pada akhirnya akan memangsa larva-larva tersebut. Dari perspektif ini, hewan-hewan itu akan dapat memenuhi perutnya dengan memangsa makhluk-makhluk kecil ini. Sedangkan dari perspektif lain adalah akan adanya kontrol atas jumlah kami. Tentu saja kalian pun tidak perlu mencemari alam sekitar. Sebaliknya, kalian justru menjaga keseimbangan alam ini. Ketika kalian tidak berpikir panjang melainkan hanya membunuh dan membantai larva kami, maka sebenarnya kalian tidak memahami keseimbangan sempurna yang dianugerahkan Allah di alam semesta ini. Kalian telah mengambil hak hidup makhluk lain, terus-menerus merusak dunia yang indah, serta terdorong oleh keserakahan, keegoisan, dan ketamakan. Intinya, kalianlah yang sebenarnya akan merugi dalam hal ini. 

Budi… jika ceritaku ini terdengar menyakitkan bagimu, maka sepertinya aku telah mengganti topik pembicaraan seputar penciptaan mengagumkan atas diriku dengan melanjutkan keluhanku terhadap kalian. Maka kurasa cukup sekian. Betapa benar perkataan bijak nenek moyang kalian yang dahulu lebih memerhatikan keseimbangan lingkungan: “Bagi mereka yang paham, cukuplah baginya dengung nyamuk. Namun untuk mereka yang inkar, tak payah seruling maupun gendang kau tepuk’’.

Tags: Volume 7 Nomor 26
Previous Post

Siddiq

Next Post

Hidup dan Belajar dengan Berpikir Positif

Irfan Yilmaz. Prof. Dr.

Irfan Yilmaz. Prof. Dr.

Related Posts

Hai Budi, Ini Aku Laba-Laba, Hewan Kecil Bersarang Sutra
Aneka Satwa

Hai Budi, Ini Aku Laba-Laba, Hewan Kecil Bersarang Sutra

6 months ago
Hai Budi, Ini Aku Landak Hewan Berduri Tegak
Aneka Satwa

Hai Budi, Ini Aku Landak Hewan Berduri Tegak

6 months ago
Load More

Discussion about this post

POPULAR POST

  • Taubah, Inabah, dan Aubah

    Taubah, Inabah, dan Aubah

    1385 shares
    Share 554 Tweet 346
  • Ibnu Sina, Seorang Ilmuwan Teladan

    1067 shares
    Share 427 Tweet 267
  • Shuffah, Pusat Bagi Para Jenius

    1005 shares
    Share 402 Tweet 251
  • Hewan-hewan yang Menantang Suhu Dingin

    993 shares
    Share 398 Tweet 248
  • Tanya Jawab Edisi 37 (Demi Merasakan Manisnya Iman)

    900 shares
    Share 360 Tweet 225

Majalah Mata Air menyuguhkan bahan bacaan untuk mengembangkan cakrawala pemikiran.

Ikuti Kami

Categories

Bulan Terbit

Kesehatan – Ilmu Pengetahuan – Teknologi (Edisi 48)

Kesehatan – Ilmu Pengetahuan – Teknologi (Edisi 48)

March 3, 2026
Diskusi Hangat antara Kebenaran yang Diturunkan dan Pengetahuan yang Ditemukan

Diskusi Hangat antara Kebenaran yang Diturunkan dan Pengetahuan yang Ditemukan

March 3, 2026
Sahabat Sejati

Sahabat Sejati

March 3, 2026
  • Tentang
  • Ketentuan
  • Kirim Tulisan

© 2021 Majalah Mata Air - Membaca Kehidupan.

No Result
View All Result
  • Home
  • Rubrik
    • Sains
    • Budaya
    • Spiritualitas
  • Penulis
    • Amany Lubis. Prof. Dr.
    • Astri Katrini Alafta. S.S. M.Ed.
    • Gumilar Rusliwa Somantri. Prof. Dr.
    • Ilza Mayuni. Prof Dr.
    • Irfan Yilmaz. Prof. Dr.
    • Khoirul Anwar. Dr. Eng.
    • Muhammad Luthfi Zuhdi
    • Nabilah Lubis. Prof. Dr.
    • Qoriah A. Siregar. Dr.
    • Semiarto Aji Purwanto. Prof. Dr.
    • Riri Fitri Sari. Prof. Dr. Ir.
    • Tegar Rezavie Ramadhan. S.K.M. M.Pd.
  • Event
  • Tetes Mata Air
  • Arsip
  • Berlangganan
  • Produk Kami
    • Buku Digital
    • Majalah Digital
    • Mata Air dalam Genggaman
  • Semua Membacanya 2025
    • Pendaftaran Semua Membacanya 2025
    • Galeri Semua Membacanya
      • Galeri SM25
      • Galeri SM24
      • Galeri SM23

© 2021 Majalah Mata Air - Membaca Kehidupan.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Hallo,
Ada yang bisa kami bantu?
Tanya Admin