Selama ini, bakteri penyebab tuberkulosis dipandang semata sebagai ancaman kesehatan. Namun di laboratorium genomik[1], mikroorganisme yang sama justru dapat menjadi sumber inovasi ekonomi bernilai tinggi. Di balik tingginya angka TB (atau TBC) di Indonesia, tersimpan sesuatu yang jarang dibicarakan: kekayaan variasi genetik bakteri lokal yang berpotensi menjadi dasar pengembangan vaksin dan teknologi kesehatan nasional.

Gambar 1: Menurut laporan WHO (World Health Organisation, 2025), Indonesia di tahun 2024 menduduki peringkat kedua, setelah India, dalam jumlah kasus tuberkulosis (kiri). Adapun menurut catatan Kementerian Kesehatan RI Dashboard Tuberkulosis Indonesia, di tahun 2022 estimasi kasus di Indonesia mencapai 969.000 (kanan).
Dalam konteks dunia modern, bioekonomi[2] tidak lagi sekadar berbicara mengenai sumber daya hayati seperti pertanian atau kehutanan, tetapi juga mencakup pemanfaatan pengetahuan biologis dan bioteknologi untuk menghasilkan nilai ekonomi, inovasi kesehatan, dan kemandirian nasional. Salah satu sumber daya biologis yang sangat bernilai namun sering terlupakan adalah keragaman genetik mikroorganisme patogen[3] lokal, termasuk Mycobacterium tuberculosis, yakni bakteri penyebab penyakit TB.
Keragaman genetik ini bukan sekadar fenomena biologis. Variasi genetik pada patogen dapat memengaruhi kemampuan sistem imun mengenali bakteri, menentukan efektivitas vaksin, memengaruhi akurasi diagnostik, bahkan menentukan keberhasilan terapi. Dengan kata lain, memahami variasi genetik patogen lokal merupakan fondasi penting bagi pengembangan teknologi kesehatan yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan populasi Indonesia.
Di Balik Keragaman Patogen Lokal
Salah satu contoh nyata datang dari penelitian terhadap isolat klinis Mycobacterium tuberculosis dari Makassar, yang meneliti variasi pada protein PPE18 (Rv1196) dan PepA (Rv0125).1 Kedua protein ini menjadi perhatian penting karena merupakan bagian dari kandidat vaksin TB M72/AS01E yang saat ini sedang dikembangkan dan diuji secara internasional, termasuk di Indonesia.2 Penelitian tersebut menemukan tingkat variasi genetik yang sangat tinggi pada protein PPE18 isolat lokal Indonesia, termasuk sejumlah mutasi yang berpotensi mengubah struktur protein dan respons imun tubuh. Dalam penelitian ini ditemukan 58 variasi genetik (polimorfisme[3]), yang 38 di antaranya merupakan perubahan yang dapat memengaruhi susunan asam amino dalam protein tubuh. Menariknya, ditemukan dua variasi gen yang cukup unik pada salah satu pasien, yaitu mutasi Arg287Gln yang sebelumnya belum pernah dilaporkan di Indonesia dan hanya ditemukan pada sekitar……






Discussion about this post