Pertanyaan:
Ustaz Badiuzzaman Said Nursi pernah berkata: “Setiap orang akan dihadapkan pada satu kondisi: berkesempatan untuk mendapat sebidang tanah dan kerajaan yang dihiasi dengan kebun dan istana (surga) yang abadi dan kekal seluas dunia sebagai imbalan atas keimanannya atau bahkan kehilangannya. Jika tidak mampu memegang teguh tali keimanannya, maka dia akan kehilangan (segalanya). Dan di abad ini, banyak yang kehilangan (semangat) dakwahnya karena wabah materialisme. Bahkan seorang ahli kasyaf dan ahli tahqiq menyaksikan di suatu tempat bahwa dari empat puluh orang yang meninggal, hanya beberapa saja darinya yang selamat, sedangkan yang lain celaka.”1 Berdasarkan hal ini, kita jadi merasa khawatir dengan keadaan diri. Apa yang sekiranya bisa kita perbuat untuk mengantisipasinya?
Jawaban:
Kekhawatiran seseorang terhadap nasib dan masa depannya merupakan satu hal yang sangat penting. Sebab, selain sebagai motivasi dasar untuk mengarahkan diri kepada Allah, kekhawatiran ini juga merupakan langkah awal dalam mengambil sikap atas dosa-dosa. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa hal ini merupakan sikap kehati-hatian seorang hamba dan upaya kewaspadaannya agar tidak terjebak dalam situasi berbahaya di masa depan. Adapun orang yang tidak mengkhawatirkan nasibnya di masa depan adalah mereka yang hidup dalam kelalaian, yang oleh Al-Qur’an kondisinya digambarkan dengan gaya bahasa mencolok sebagai berikut:







Discussion about this post