Air adalah elemen utama sebagai indikasi adanya kehidupan. Tanpa adanya air maka dipastikan kita tidak akan pernah melihat yang namanya kehidupan. Tidak peduli seberapa banyak jumlah air itu ada, bahkan kubangan kumuh yang di dalamnya terdapat air yang keruh kadang mampu menjadi alasan bagi beberapa kehidupan untuk tetap berjalan. Apabila bumi ini dibentangkan, maka sudah dipastikan lautan yang akan menjadi pemenang, seolah menunjukkan betapa luasnya ia dibandingkan sang daratan. Tidak ada yang salah ketika lautan menjadi pemenangnya, karena ia sengaja diciptakan sebagai sumber kehidupan yang utama. Ya, apa jadinya ketika daratan cemburu dan menjadi dominan mengalahkan sang lautan, bisa jadi tanah-tanah akan mengering, mati, dan bagai tak bertuan.
Suatu hari aku tersadar karena sebuah lamunan, hujan yang datang silih berganti telah membasahi daratan bumi. Hujan-hujan ini tidak akan datang dengan sendirinya apabila lautan tidak menginginkannya. Bukankah hujan datang setelah lautan mengalami pemuaian yang panjang? Benar. Hujan bukan berasal dari awan, tapi ia adalah benih-benih lautan yang rela datang bertemu awan. Hujan tidak akan turun serampangan, ia akan menunggu perintah dari Sang Malaikat yang baik hatinya, Mikail alaihi salam. “Turunlah, dan basahi bumi” kemudian dengan izin Sang Maha Pencipta ia akan turun perlahan berupa gerimis, membasahi setiap daratan yang kering dan gersang,memberi kesegaran pada tumbuhan yang ingin tumbuh, dan menjadi telaga-telaga kecil untuk hewan-hewan dan semua makhluk yang ingin melepaskan dahaganya.
Hujan tidak akan pernah puas jika ia hanya menjadi telaga-telaga yang kecil untuk pelepas dahaga. Karena kebaikan hatinya, ia kemudian dijelmakan menjadi sungai-sungai nan deras bahkan menjadi mata air di setiap daratan. Manusia, hewan, dan tumbuhan akan hidup karenanya. Mata air membawa harapan ketika padang pasir yang gersang menjanjikan kematian. Mata air zam-zam telah menjadi bukti bahwa Ibunda Siti Hajar dan Nabi Ismail ‘alaihi salam mampu bertahan. Darinya, lahirlah sosok mata air yang telah lama di rindukan. Mata air suci yang kemudian melahirkan sumber-sumber kehidupan yang siap mengemban tugas untuk terus mengalir membawa risalah kebaikan. lalah Nabiyullah Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam.
***
Aku pernah bertemu dengan orang-orang yang hadirnya bagai Sang Mata Air. Tidak peduli dimanapun itu, ia akan tetap berjuang dan bertahan menjadi mata air untuk kehidupan manusia lainnya. Hadirnya adalah perjuangan, karena tidak semua orang mampu sepertinya. Entah hujan akan turun atau tidak, dengan tenaga yang masih dimilikinya ia akan terus mengalir memberikan senyuman kepada sesama. Hidupnya adalah menjadi seorang pelayan, bukan menjadi budak. Hidupnya adalah menjadi seorang pendidik, bukan penghardik. Dan hidupnya adalah untuk menjadi seorang relawan, bukan menjadi lawan.
Aku penasaran dengan sosok manusia-manusia ini, karena satu alasan yang tidak masuk akal. Pengorbanan dirinya untuk memberikan kehidupan bagi orang lain layaknya seperti sang mata air. Mereka bukanlah dari kalangan yang jenius, tapi kegemaran mereka menyelesaikan setiap lembaran membuat akalnya tidak kalah dari sang intelektual. Mereka juga bukan dari orang-orang yang kuat, atau pemilik kekuatan super. Tapi, zikir dan doa menjadi perisai dan baju perangnya. Bahkan, mereka bukanlah seorang sosialita atau kaum yang bergelimang harta, tapi kebahagian seorang yatim dan miskin adalah hadiah terindah untuknya.
Aku juga pernah melihat ketika salah satu dari mereka menjadi kering dan keruh, bahkan tidak setetes pun air yang dapat diharapkan darinya. Hujan tak kunjung datang untuk memberikan harapan kepadanya. Namun, aku melihat mata air lainnya datang untuk mengulurkan tangan. Memeluknya dan membisikkan “Kami ada di sini untuk membantumu, janganlah bersedih lagi saudaraku”. Mereka bukanlah dari rahim yang sama, ataupun darah daging yang serupa. Tapi, kedekatan hati dan visi telah menjadikan bingkai untuk cuplikan episode persahabatan mereka.
***
Aku ingin menjadi seperti mata air. Hidup untuk memberikan kehidupan kepada orang lain. Ketika menjadi mata air aku berharap setiap air yang mereka ambil adalah kifarat untuk timbanganku di yaumil mizan. Aku ingin menjadi seperti mata air agar Allah Subhanahu wa Ta’ala tersenyum kepadaku dengan keridaan-Nya. Aku ingin menjadi seperti mata air agar mendapatkan undangan untuk datang ke majelis agungnya, majelis Sang Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu memerintahkan Mikail untuk menurunkan hujan saat airku menjadi kering dan keruh. Hujan adalah hidayah yang kadang datang tanpa mengucapkan salam dan pergi tanpa mengucap selamat tinggal. Bagi hati yang selalu dibolak-balikan, semoga engkau tetap bertahan bersamaku untuk setiap keadaan.
*Penulis adalah seorang tenaga keperawatan yang lahir di Painan, Pesisir Selatan. Sumbar 16 Desember 1993 dan wafat pada hari Kamis 6 Februari 2020 di usia 27 tahun. Beliau adalah salah seorang inisiator kegiatan “Membaca Mata Air” di Aceh. Sepanjang hidupnya beliau mengabdikan dirinya bagi pengembangan potensi generasi muda dan mendampingi mereka dalam usaha perbaikan akhlak dan potensi diri di Aceh, Kudus, dan Pekanbaru.







Discussion about this post