• Privacy & Policy
  • Kontak
  • Tentang Kami
    • Profil
    • Redaksi dan Manajemen
    • Dewan Penasihat
  • Mata Air di Dunia
    • Arabic
    • Deutsch
    • English
    • Spanish
    • Turkish
  • FAQ
  • Kirim Artikel
  • Karir
Wednesday, May 6, 2026
  • Login
Majalah Mata Air
Advertisement
  • Home
  • Rubrik
    • Sains
    • Budaya
    • Spiritualitas
  • Penulis
    • Amany Lubis. Prof. Dr.
    • Astri Katrini Alafta. S.S. M.Ed.
    • Gumilar Rusliwa Somantri. Prof. Dr.
    • Ilza Mayuni. Prof Dr.
    • Irfan Yilmaz. Prof. Dr.
    • Khoirul Anwar. Dr. Eng.
    • Muhammad Luthfi Zuhdi
    • Nabilah Lubis. Prof. Dr.
    • Qoriah A. Siregar. Dr.
    • Semiarto Aji Purwanto. Prof. Dr.
    • Riri Fitri Sari. Prof. Dr. Ir.
    • Tegar Rezavie Ramadhan. S.K.M. M.Pd.
  • Event
  • Tetes Mata Air
  • Arsip
  • Berlangganan
  • Produk Kami
    • Buku Digital
    • Majalah Digital
    • Mata Air dalam Genggaman
  • Semua Membacanya 2025
    • Pendaftaran Semua Membacanya 2025
    • Galeri Semua Membacanya
      • Galeri SM25
      • Galeri SM24
      • Galeri SM23
No Result
View All Result
  • Home
  • Rubrik
    • Sains
    • Budaya
    • Spiritualitas
  • Penulis
    • Amany Lubis. Prof. Dr.
    • Astri Katrini Alafta. S.S. M.Ed.
    • Gumilar Rusliwa Somantri. Prof. Dr.
    • Ilza Mayuni. Prof Dr.
    • Irfan Yilmaz. Prof. Dr.
    • Khoirul Anwar. Dr. Eng.
    • Muhammad Luthfi Zuhdi
    • Nabilah Lubis. Prof. Dr.
    • Qoriah A. Siregar. Dr.
    • Semiarto Aji Purwanto. Prof. Dr.
    • Riri Fitri Sari. Prof. Dr. Ir.
    • Tegar Rezavie Ramadhan. S.K.M. M.Pd.
  • Event
  • Tetes Mata Air
  • Arsip
  • Berlangganan
  • Produk Kami
    • Buku Digital
    • Majalah Digital
    • Mata Air dalam Genggaman
  • Semua Membacanya 2025
    • Pendaftaran Semua Membacanya 2025
    • Galeri Semua Membacanya
      • Galeri SM25
      • Galeri SM24
      • Galeri SM23
No Result
View All Result
Majalah Mata Air
No Result
View All Result
Home Spiritualitas Tanya Jawab

Tanya – Jawab Edisi 27

M. Fethullah Gulen

by M. Fethullah Gulen
6 years ago
in Tanya Jawab
Reading Time: 4 mins read
Share on WhatsappShare on FacebookScan and read on your phone

Sesuatu yang tak dapat dipungkiri bahwa hubungan ilmu dan amal memiliki peran penting dalam membantu manusia mencapai derajat ‘Insan Kamil’. Lantas bagaimana kita melihat hal ini dari perspektif Al-Qur’an?

Tidak mungkin kita dapat menjelaskan sebuah topik permasalahan yang telah ditulis di berbagai kitab selama bertahun-tahun lamanya secara mendetail hanya dalam atmosfer tanya-jawab yang singkat seperti ini. Namun, kita usahakan untuk dapat menjawabnya dalam ruang lingkup dua ayat berikut. Allah berfirman dalam Al-Qur’an, ‘’Perumpamaan orang-orang yang diberi tugas membawa Taurat kemudian tidak membawanya (tidak mengamalkannya) adalah seperti keledai yang memikul kitab-kitab yang tebal. Sangat buruk perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.’’ (QS. Al-Jumu’ah [62]: 5), dan ‘’Dan sekiranya Kami menghendaki, niscaya Kami tinggikan (derajat)nya dengan (ayat-ayat) itu, namun dia cenderung kepada dunia dan mengikuti keinginannya (yang rendah), maka perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya, maka dijulurkannya lidahnya, dan jika kamu membiarkannya, maka dia menjulurkan lidahnya (juga). Demikianlah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka berpikir.’’ (QS. Al-A’raf [7]: 176). Bila kita cermati lebih dalam, sebagaimana yang bisa kita lihat, pada bagian awal ayat tersebut Al-Qur’an mengarahkan perhatian kita pada penyerupaan orang-orang yang tak dapat mempraktikkan ilmu yang didapatkan dalam kehidupan sehari-harinya dengan sebuah perumpamaan. Alasan penyerupaan mereka dengan ’keledai yang membawa muatan’ mungkin karena memang hanya dapat digambarkan dengan ungkapan itu. Karena pada saat seseorang tidak menggunakan apa yang diketahuinya dalam kehidupan pribadi maupun kehidupan bermasyarakat, maka ilmu itu hanya akan menjadi beban yang tak terpikul olehnya.

Al-Qur’an dalam ayat lain secara jelas menyerupakan manusia yang meski diciptakan terbuka pada kebenaran dan hakikat namun justru menutup mata pada kebenaran tersebut seperti seekor anjing. Ada baiknya kita sedikit membahas mengapa tipe orang seperti ini diserupakan dengan anjing dan perlu bagi kita untuk melihatnya dengan pandangan bahwa perumpamaan ini adalah sebuah sebutan yang mengandung kutukan. Saat kelelahan, anjing akan menjulurkan lidahnya untuk menghilangkan rasa panas atau dahaganya. Saat marah, ia akan menyeringai menunjukkan geliginya sebagai tanda kemarahan. Kalau begitu, seperti inilah gambaran kondisi orang yang tertutup dari kebenaran. Sejatinya, dengan perumpaan ini atau perumpamaan lain yang mirip dengannya, kita diseru untuk menjadi Insan Kamil. Misalnya dalam keadaan dan gerakan saat salat, manusia diarahkan pada perilaku manusiawi dengan menjauhi perilaku hewani. Kita diperingatkan dari berbagai hal, mulai dari tata cara berdiri, rukuk, hingga sujud; seperti tidak diperbolehkannya makmum untuk rukuk dan sujud sebelum imam karena kemungkinan wajahnya menyerupai keledai, lalu tidak boleh sujud seperti anjing yang duduk dengan merenggangkan kakinya, tidak juga kita diizinkan terburu-buru bangun dari sujud sebagaimana ayam yang tengah mematuk makan, maupun tidak diperbolehkannya duduk seperti cara duduknya anjing. Semua hal ini karena manusia yang diciptakan mulia dan sempurna tidak boleh menyerupai hewan, meski dalam hal gerakannya sekalipun. Ia haruslah hidup dengan senantiasa memandang ke depan mengarah pada akhiratnya.

Sebenarnya, ayat di atas menjelaskan tentang Ahli Kitab yang menghafalkan ayat Taurat namun tidak mempraktikkannya dalam kehidupan mereka. Namun, meski kenyataannya seperti itu, kita tidak boleh membebaskan diri dari makna ayat ini dan berpikiran bahwa ayat tersebut hanya ditujukan kepada para Ahli Kitab semata. Mereka yang berinteraksi dengan Al-Qur’an serta telah mencapai perintah Allah namun tidak dapat membingkai kehidupannya pada ruh perintah cahaya ini, maka walaupun ia adalah ahli Al-Qur’an sekalipun namun seakan hanya menjadi kuli panggul bagi Al-Qur’an semata, serta perlu dikaji kembali kondisinya dalam kacamata hakikat yang dijelaskan oleh ayat di atas. Tak ada cara lain yang lebih baik untuk menjelaskan kondisi orang yang meskipun mempelajari dan mengajarkan Al-Qur’an kepada orang lain namun tak mampu mencapai kedalaman bersamanya melainkan dengan cara ini. Saya yakin bahwa jika kita mengevaluasi dari kriteria akhlak, maka dapat dipastikan bahwa akhlak sebagian orang yang masuk dalam kategori kandungan ayat ini adalah akhlak keledai, dan sebagian lainnya adalah akhlak anjing. Misalnya, seseorang yang pengetahuannya luas tetapi tidak dapat bermanfaat bagi makrifat dan mahabah yang ada pada dirinya, maka dari dalam perilakunya akan muncul karakteristik keledai.

RelatedArticles

Tanya Jawab Edisi 47

Tanya Jawab Edisi 48

Dalam kasus lain, jika ilmu yang dimiliki digunakan untuk menguasai atau mengelabui orang lain, memandang orang lain penuh kepongahan, maka jika diperhatikan dari sisi perilakunya tersebut ia akan terlihat seperti perilaku anjing. Padahal yang terpenting adalah kemampuan menjadi manusia yang sesungguhnya. Allah subhânahu wa ta’âla menciptakan kita sebagai manusia dan mengembankan kewajiban untuk dapat menjaganya dengan akhlak dan perilaku kita. Karena menjaga kemanusiaan di dunia ini merupakan satu-satunya jaminan terpenting demi tetap bisa menjadi manusia kelak di alam baka. Manusia merupakan makhluk yang selalu berubah-ubah dengan mudah, bahkan dalam sehari dapat berubah hingga empat kali. Setiap hari yang baru akan membuka cakrawala baru bagi manusia, serta membantunya agar dapat melihat hakikat diri dan sekitarnya. Misalnya, manusia yang melihat orang-orang di sekelilingnya sebagai musuh akan menganggap dirinya sedang berada di tengah gerombolan ular. Padahal sejatinya dialah yang telah menjadi ular itu dan hal ini menunjukkan bahwa dirinya telah diserang oleh nafsunya sendiri. Namun karena tidak rela mengakui bahwa hal itu berasal dari nafsunya sendiri, maka ia pun mencari ular, anjing, dan kalajengking itu pada diri orang-orang di sekitarnya…

Ia terus mencari namun sayangnya, ular itu bercokol dalam dirinya, tapi tak jua berhasil menemukannya. Seharusnya ia cari ular itu pada dirinya sendiri, sebagaimana makna yang terkandung dalam ungkapan ‘’Musuh terbesarmu adalah nafsu yang berdiam di dalam dirimu’’. Dalam bingkai hakikat istighfar: Allâhumma anta rabbî, lâ ilâha illâ anta khalaqtanî wa anâ ‘abduka… ‘’Ya Allah, Engkaulah Tuhanku. Tiada Tuhan melainkan-Mu. Engkaulah yang menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu’’, setiap orang harus tahu bahwa segala kesalahan datang dari nafsunya dan berusaha untuk menutupi kesalahan atau aib orang lain. Semua orang harus mengakui bahwa segala kesalahan dan kekeliruan muncul dari dirinya demi menghadirkan solusi bagi permasalahan-permasalahan yang seakan tak dapat teruraikan; melihat dirinya sebagai pusat keburukan sementara orang lain sebagai pusat bagi kebaikan. Pemahaman ini merupakan jalan penyelesaian bagi segala permasalahan yang ada dan hal ini dibutuhkan pula pada tarbiyah umum yang ada.

Tags: volume 7 nomor 27
Previous Post

Negara Tubuh Manusia

Next Post

Kesehatan – Ilmu Pengetahuan – Teknologi (Edisi 27)

M. Fethullah Gulen

M. Fethullah Gulen

Related Posts

Tanya Jawab Edisi 47
Tanya Jawab

Tanya Jawab Edisi 47

7 months ago
Tanya Jawab Edisi 48
Tanya Jawab

Tanya Jawab Edisi 48

7 months ago
Load More

Discussion about this post

POPULAR POST

  • Taubah, Inabah, dan Aubah

    Taubah, Inabah, dan Aubah

    1389 shares
    Share 556 Tweet 347
  • Ibnu Sina, Seorang Ilmuwan Teladan

    1067 shares
    Share 427 Tweet 267
  • Shuffah, Pusat Bagi Para Jenius

    1008 shares
    Share 403 Tweet 252
  • Hewan-hewan yang Menantang Suhu Dingin

    993 shares
    Share 398 Tweet 248
  • Tanya Jawab Edisi 37 (Demi Merasakan Manisnya Iman)

    903 shares
    Share 361 Tweet 226

Majalah Mata Air menyuguhkan bahan bacaan untuk mengembangkan cakrawala pemikiran.

Ikuti Kami

Categories

Bulan Terbit

Kesehatan – Ilmu Pengetahuan – Teknologi (Edisi 48)

Kesehatan – Ilmu Pengetahuan – Teknologi (Edisi 48)

March 3, 2026
Diskusi Hangat antara Kebenaran yang Diturunkan dan Pengetahuan yang Ditemukan

Diskusi Hangat antara Kebenaran yang Diturunkan dan Pengetahuan yang Ditemukan

March 3, 2026
Sahabat Sejati

Sahabat Sejati

March 3, 2026
  • Tentang
  • Ketentuan
  • Kirim Tulisan

© 2021 Majalah Mata Air - Membaca Kehidupan.

No Result
View All Result
  • Home
  • Rubrik
    • Sains
    • Budaya
    • Spiritualitas
  • Penulis
    • Amany Lubis. Prof. Dr.
    • Astri Katrini Alafta. S.S. M.Ed.
    • Gumilar Rusliwa Somantri. Prof. Dr.
    • Ilza Mayuni. Prof Dr.
    • Irfan Yilmaz. Prof. Dr.
    • Khoirul Anwar. Dr. Eng.
    • Muhammad Luthfi Zuhdi
    • Nabilah Lubis. Prof. Dr.
    • Qoriah A. Siregar. Dr.
    • Semiarto Aji Purwanto. Prof. Dr.
    • Riri Fitri Sari. Prof. Dr. Ir.
    • Tegar Rezavie Ramadhan. S.K.M. M.Pd.
  • Event
  • Tetes Mata Air
  • Arsip
  • Berlangganan
  • Produk Kami
    • Buku Digital
    • Majalah Digital
    • Mata Air dalam Genggaman
  • Semua Membacanya 2025
    • Pendaftaran Semua Membacanya 2025
    • Galeri Semua Membacanya
      • Galeri SM25
      • Galeri SM24
      • Galeri SM23

© 2021 Majalah Mata Air - Membaca Kehidupan.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Hallo,
Ada yang bisa kami bantu?
Tanya Admin