Ada masa tertentu dari sejarah manusia yang mampu mengejutkan umat manusia dan mengubah cara kita berpikir. Beberapa, bahkan telah mengubah jalannya peradaban. Akhir abad XX dan awal abad XXI telah menunjukkan perwujudan mimpi luar biasa dari para ilmuwan, peneliti, dan pakar teknologi. Mimpi-mimpi ini telah mengubah cara manusia hidup serta membuat kita melihat dan mengalami hal yang sebelumnya tidak pernah kita percayai dapat terjadi. Kemanusiaan telah melintasi batas yang tidak pernah kita ketahui sebelumnya, menikmati manfaat dari segudang kemajuan teknologi. Kita bahkan menemukan pengobatan untuk penyakit yang sebelumnya dianggap tidak dapat disembuhkan.
Kita telah melihat perubahan luar biasa pada masing-masing bidang studi ilmiah manusia termasuk di antaranya: kecerdasan buatan, rekayasa genetik, nanoteknologi, robot, kloning hewan, komputer, perangkat internet inovatif, dan ribuan gawai lainnya. Para penemu dan peneliti, terus-menerus menemukan teknologi untuk kepentingan manusia. Salah satu terobosan paling revolusioner di antaranya adalah penemuan dan penggunaan stem cells atau sel punca. Sel punca merupakan sel biologi yang belum berdiferensiasi namun dapat berdiferensiasi menjadi sel khusus dan memisah, melalui cara mitosis, untuk menghasilkan lebih banyak sel punca. Sel-sel baru ini dapat digunakan untuk mengobati penyakit pada organ manusia. Mereka menghancurkan sel-sel berpenyakit dan menumbuhkan sel-sel sehat dalam organ hingga organ tersebut terbebas dari penyakit.
Penemuan sel punca
Dari tahun 1961 – 1963, Dokter James Till dan Doktor Ernest McCullach telah merintis penemuan sel punca hematopoetik (produksi sel darah merah dalam sumsum tulang). Meskipun keduanya disebut sebagai penemu sel punca, namun beberapa ilmuwan berpendapat bahwa para peneliti sebelumnya telah mulai meneliti sel punca sejak sekitar tahun 1918. Segera setelah Till dan McCullach “menemukan” sel punca, para peneliti lain menemukan cara untuk memperoleh sel punca dari embrio tikus. Setelah itu, para peneliti telah dapat memperoleh sel dari embrio manusia dan mengembangkannya di laboratorium. Tahun 1998, tim yang dipimpin oleh James Thomson dan Jeffrey Jones dari University of Wisconsin di Madison mengembangkan set pertama dari sel embrio manusia untuk digunakan dalam pengobatan.
Sumber dari sel punca
Embrio: pada awalnya sel punca diperoleh dari darah tali pusat tepat setelah proses persalinan, meskipun ada beberapa tentangan keras dari beberapa pemuka agama tertentu berkaitan dengan praktek ini. Hal inilah yang agak membatasi prosedur ini. Para ilmuwan kemudian mempelajari bagaimana cara mengekstraksi sel punca dari embrio yang telah difertilisasi secara in-vitro dan didonasikan bagi penelitian. Sel-sel embrio ini selanjutnya dapat dimatangkan menjadi berbagai sel manusia.
Otak dan sumsum tulang belakang: beberapa jenis sel punca neural menghasilkan isolasi lemak yang melindungi saraf.
Kulit: sel yang diperoleh dari kulit dapat dimanipulasi secara genetik untuk berperilaku seperti sel punca
Sumsum tulang: sel punca ini bisa bertransformasi menjadi sel tulang, lemak, tendon, atau tulang rawan.
Ekstraksi sel punca
Pasien diberi anestesi lokal untuk mematikan rasa di bagian tubuhnya. Dokter kemudian melakukan sedot lemak untuk menyingkirkan jaringan lemak dari pinggul, pinggang, atau bagian tubuh lainnya. Jaringan lemak ini diputar dalam sebuah alat pemutar untuk memisahkan sel punca dari jaringan. Sel punca ini kemudian diinjeksikan kembali ke tubuh pasien, langsung ke sendi, tendon, atau ligamen – sebuah prosedur yang dinamakan ‘Terapi Sel Punca Regeneratif’.
Klinik terapi regeneratif
Saat ini ada ratusan klinik yang menjalankan prosedur semacam ini di beberapa negara termasuk Amerika, Kanada, dan Mexico. Mereka menawarkan teknologi canggih untuk membantu memulihkan kesehatan pasien. Namun, ternyata beberapa klinik tersebut belum mendapat izin dari FDA sehingga kemungkinan prosedur mereka membahayakan kesehatan pasien. FDA mengizinkan pengobatan sel punca bagi gangguan pada darah dan sistem imun, beberapa jenis kanker tertentu, serta transplantasi kulit akibat luka bakar. Ada dokter dan klinik tertentu yang menawarkan pengobatan sel punca untuk berbagai jenis penyakit dengan biaya tertentu bagi ribuan terapi yang sebenarnya belum diizinkan oleh FDA. Namun FDA tidak dapat mengambil tindakan terhadap klinik-klinik tersebut karena penggunaan sel punca dianggap sebagai bagian dari prosedur medis tanpa penggunaan obat apapun.
Industri kosmetik juga memanfaatkan keberadaan sel punca. Sel yang telah dicampur dengan lemak bisa diinjeksikan selama pembedahan untuk membuat kulit terlihat lebih cerah dan muda. Ribuan orang mendapatkan manfaat dari terapi sel punca. Namun bagaimanapun juga beberapa kasus tertentu mendokumentasikan efek berbahaya yang juga terjadi pada beberapa pasien, khususnya pada klinik yang tidak memiliki izin FDA. Staf medis di klinik-klinik seperti ini, pada umumnya tidak memiliki pengalamanan dalam terapi sel punca. Artikel Linda Marsa, pada AARP Bulletin bulan Juli dan Agustus tahun 2017, melaporkan beberapa pasien yang kehilangan nyawa atau dirugikan karena pengobatan sel punca. Dua di antara mereka berasal dari Florida. Mereka meninggal setelah mendapatkan injeksi sel punca. Laporan yang berasal dari California menyatakan bahwa terjadi retakan tulang pada kelopak matanya setelah pembedahan sel punca. Insiden lainnya, tiga wanita yang berusia cukup tua kehilangan penglihatan mereka setelah berpartisipasi pada sebuah uji klinis, yang untuk hal ini mereka membayar mahal pada klinik di South Florida tersebut. Mereka menerima injeksi sel punca untuk mengobati degenerasi macula yang dideritanya. Sebelum injeksi, mereka memiliki penglihatan yang berfungsi, mereka dapat bergerak tanpa bantuan dan bisa menonton televisi. Tetapi memang ada kemungkinan kemerosotan lebih lanjut pada penglihatannya, terutama potensi bahwa mereka bisa saja kehilangan hak atas surat izin mengemudi mereka. Iklan dari website klinik itu begitu meyakinkannya, sehingga mereka setuju untuk membayar $ 5,000 untuk melakukan injeksi pada kedua matanya. Sekitar tiga puluh menit, jaringan telah diambil dan sel punca diinjeksikan ke dalam rongga seperti kaca pada kedua mata. Injeksi dilakukan oleh perawat dan tidak ada dokter yang mengawasi prosedur.
Sayang sekali, hanya beberapa hari setelah injeksi, mereka mengalami sakit yang sangat parah dan kehilangan penglihatannya. Thomas Albini, dokter mata dari University of Miami, menduga bahwa ketika sel punca mulai memisah, telah menyebabkan retina lepas. “Tidak ada yang bisa kami lakukan untuk mengembalikan penglihatan mereka,” kata Albini. “Ketiga pasien tersebut sekarang buta dan tidak bisa hidup mandiri.” Industri sel punca ini penuh dengan penipuan, ketidak jujuran, dan malpraktek. Pasien harus berhati-hati pada klinik-klinik semacam itu dan hanya memilih klinik yang telah memiliki izin dari pihak berwenang, serta dokter yang sepenuhnya mahir dalam pengobatan terbaru ini.
Klinik-klinik canggih
Berita baiknya adalah bahwasanya masih ada banyak klinik yang berjalan secara ketat sesuai prosedur perizinan dari FDA (US Food and Drug Administration). The Stem Cell Institute of America terpusat di Illinois dan bereputasi baik, dimana pasien pada umumnya puas dengan hasil prosedur yang mereka lakukan. SCIA menawarkan injeksi sel punca bagi athritis dan beberapa kondisi degeneratif yang terjadi di lutut, paha, pundak, leher serta punggung bawah. Dokter dan perawat di klinik tersebut terlatih dengan sangat baik untuk menjalankan pengobatan ini. Klinik terkemuka lainnya termasuk the Stemidix Medical Clinic dan the U.S. Stem Cell Clinic, keduanya di Florida, bersama dengan jaringannya yang disebut the Cell Surgical Network di California. Dr. Mark Berman, ahli bedah plastik di Beverly Hills, California, mendirikan Cell Therapy Centers tahun 2002. Beliau menyatakan bahwa dirinya beserta dokter lainnya melakukkan lebih dari 5,000 pengobatan sel punca termasuk bagi dirinya dan istrinya sendiri.
Sally Temple, seorang ilmuwan ahli sel punca di Neural Stem Institute, Renselaer, NY, dan Presiden dari International Society of Stem Cell Research, mengatakan: “Kita akan melihat berbagai pengobatan terhadap penyakit yang saat ini dianggap tidak dapat disembuhkan. Hasil penemuan yang sangat menggembirakan ini hanya mungkin terjadi karena adanya kerja keras yang amat menjemukan selama beberapa dekade untuk menetapkan protokol keamanan, konsep pengujian, mempelajari cara pengembangan dan memanipulasi sel punca. Sulit untuk membuat masyarakat memahami betapa panjangnya proses yang diperlukan. Anda tidak akan percaya dengan apa yang harus kami lakukan di laboratorium untuk menyiapkan sel sebaik-baiknya.” Pengobatan stem cells atau sel punca membantu beberapa kasus, tetapi belum terbukti untuk kondisi-kondisi yang sangat serius seperti stroke, penyakit jantung, atau cedera sumsum tulang belakang. Penelitian masih berlangsung dan bisa memakan waktu selama beberapa dekade untuk sepenuhnya menemukan bagaimana sel punca dapat dimanfaatkan untuk kondisi-kondisi seperti itu.
Referensi:
Angela Nice. “Dr. Mark Berman, and his innovative stem cell surgery, “Feb 12, 2016. New Skin Beverly Hills Posts.







Discussion about this post