• Privacy & Policy
  • Kontak
  • Tentang Kami
    • Profil
    • Redaksi dan Manajemen
    • Dewan Penasihat
  • Mata Air di Dunia
    • Arabic
    • Deutsch
    • English
    • Spanish
    • Turkish
  • FAQ
  • Kirim Artikel
  • Karir
Thursday, April 23, 2026
  • Login
Majalah Mata Air
Advertisement
  • Home
  • Rubrik
    • Sains
    • Budaya
    • Spiritualitas
  • Penulis
    • Amany Lubis. Prof. Dr.
    • Astri Katrini Alafta. S.S. M.Ed.
    • Gumilar Rusliwa Somantri. Prof. Dr.
    • Ilza Mayuni. Prof Dr.
    • Irfan Yilmaz. Prof. Dr.
    • Khoirul Anwar. Dr. Eng.
    • Muhammad Luthfi Zuhdi
    • Nabilah Lubis. Prof. Dr.
    • Qoriah A. Siregar. Dr.
    • Semiarto Aji Purwanto. Prof. Dr.
    • Riri Fitri Sari. Prof. Dr. Ir.
    • Tegar Rezavie Ramadhan. S.K.M. M.Pd.
  • Event
  • Tetes Mata Air
  • Arsip
  • Berlangganan
  • Produk Kami
    • Buku Digital
    • Majalah Digital
    • Mata Air dalam Genggaman
  • Semua Membacanya 2025
    • Pendaftaran Semua Membacanya 2025
    • Galeri Semua Membacanya
      • Galeri SM25
      • Galeri SM24
      • Galeri SM23
No Result
View All Result
  • Home
  • Rubrik
    • Sains
    • Budaya
    • Spiritualitas
  • Penulis
    • Amany Lubis. Prof. Dr.
    • Astri Katrini Alafta. S.S. M.Ed.
    • Gumilar Rusliwa Somantri. Prof. Dr.
    • Ilza Mayuni. Prof Dr.
    • Irfan Yilmaz. Prof. Dr.
    • Khoirul Anwar. Dr. Eng.
    • Muhammad Luthfi Zuhdi
    • Nabilah Lubis. Prof. Dr.
    • Qoriah A. Siregar. Dr.
    • Semiarto Aji Purwanto. Prof. Dr.
    • Riri Fitri Sari. Prof. Dr. Ir.
    • Tegar Rezavie Ramadhan. S.K.M. M.Pd.
  • Event
  • Tetes Mata Air
  • Arsip
  • Berlangganan
  • Produk Kami
    • Buku Digital
    • Majalah Digital
    • Mata Air dalam Genggaman
  • Semua Membacanya 2025
    • Pendaftaran Semua Membacanya 2025
    • Galeri Semua Membacanya
      • Galeri SM25
      • Galeri SM24
      • Galeri SM23
No Result
View All Result
Majalah Mata Air
No Result
View All Result
Home Sains Kedokteran

Pengobatan Sel Punca Terobosan dalam Ilmu Kedokteran

Rafiq Ebrahim

by Rafiq Ebrahim
8 years ago
in Kedokteran, Sains
Reading Time: 5 mins read
Share on WhatsappShare on FacebookScan and read on your phone

Ada masa tertentu dari sejarah manusia yang mampu mengejutkan umat manusia dan mengubah cara kita berpikir. Beberapa, bahkan telah mengubah jalannya peradaban. Akhir abad XX dan awal abad  XXI telah menunjukkan perwujudan mimpi luar biasa dari para ilmuwan, peneliti, dan pakar teknologi. Mimpi-mimpi ini telah mengubah cara manusia hidup serta membuat kita melihat dan mengalami hal yang sebelumnya tidak pernah kita percayai dapat terjadi. Kemanusiaan telah melintasi batas yang tidak pernah kita ketahui sebelumnya, menikmati manfaat dari segudang kemajuan teknologi. Kita bahkan menemukan pengobatan untuk penyakit yang sebelumnya dianggap tidak dapat disembuhkan.

Kita telah melihat perubahan luar biasa pada masing-masing bidang studi ilmiah manusia termasuk di antaranya: kecerdasan buatan, rekayasa genetik, nanoteknologi, robot, kloning hewan, komputer, perangkat internet inovatif, dan ribuan gawai lainnya. Para penemu dan peneliti, terus-menerus menemukan teknologi untuk kepentingan manusia. Salah satu terobosan paling revolusioner di antaranya adalah penemuan dan penggunaan stem cells atau sel punca. Sel punca merupakan sel biologi  yang belum berdiferensiasi namun dapat berdiferensiasi menjadi sel khusus dan memisah, melalui cara mitosis, untuk menghasilkan lebih banyak sel punca. Sel-sel baru ini dapat digunakan untuk mengobati penyakit pada organ manusia. Mereka menghancurkan sel-sel berpenyakit dan menumbuhkan sel-sel sehat dalam organ hingga organ tersebut terbebas dari penyakit.

 

Penemuan sel punca

RelatedArticles

Kesehatan – Ilmu Pengetahuan – Teknologi (Edisi 48)

Robot yang Dapat Terurai secara Hayati

Dari tahun 1961 – 1963, Dokter James Till dan Doktor Ernest McCullach telah merintis penemuan sel punca hematopoetik (produksi sel darah merah dalam sumsum tulang). Meskipun keduanya disebut sebagai penemu sel punca, namun beberapa ilmuwan berpendapat bahwa para peneliti sebelumnya telah mulai meneliti sel punca sejak sekitar tahun 1918. Segera setelah Till dan McCullach “menemukan” sel punca, para peneliti lain menemukan cara untuk memperoleh sel punca dari embrio tikus. Setelah itu, para peneliti telah dapat memperoleh sel dari embrio manusia dan mengembangkannya di laboratorium. Tahun 1998, tim yang dipimpin oleh James Thomson dan Jeffrey Jones dari University of Wisconsin di Madison mengembangkan set pertama dari sel embrio manusia untuk digunakan dalam pengobatan. 

 

Sumber dari sel punca

Embrio: pada awalnya sel punca diperoleh dari darah tali pusat tepat setelah proses persalinan, meskipun ada beberapa tentangan keras dari beberapa pemuka agama tertentu berkaitan dengan praktek ini. Hal inilah yang  agak membatasi prosedur ini. Para ilmuwan kemudian mempelajari bagaimana cara mengekstraksi sel punca dari embrio yang telah difertilisasi secara in-vitro dan didonasikan bagi penelitian. Sel-sel embrio ini  selanjutnya dapat dimatangkan menjadi berbagai sel manusia.

Otak dan sumsum tulang belakang: beberapa jenis sel punca neural menghasilkan isolasi lemak yang melindungi saraf.

Kulit: sel yang diperoleh dari kulit dapat dimanipulasi secara genetik untuk berperilaku seperti sel punca   

Sumsum tulang: sel punca ini bisa bertransformasi menjadi sel tulang, lemak, tendon, atau tulang rawan.

 

Ekstraksi sel punca

Pasien diberi anestesi lokal untuk mematikan rasa di bagian tubuhnya. Dokter kemudian melakukan sedot lemak untuk menyingkirkan jaringan lemak dari pinggul, pinggang, atau bagian tubuh lainnya. Jaringan lemak ini diputar dalam sebuah alat pemutar untuk memisahkan sel punca dari jaringan. Sel punca ini kemudian diinjeksikan kembali ke tubuh pasien, langsung ke sendi, tendon, atau ligamen – sebuah prosedur yang dinamakan ‘Terapi Sel Punca Regeneratif’.

 

Klinik terapi regeneratif

Saat ini ada ratusan klinik yang menjalankan prosedur semacam ini di beberapa negara termasuk Amerika, Kanada, dan Mexico. Mereka menawarkan teknologi canggih untuk membantu memulihkan kesehatan pasien. Namun, ternyata beberapa klinik tersebut belum  mendapat izin dari FDA sehingga kemungkinan prosedur mereka membahayakan kesehatan pasien. FDA mengizinkan pengobatan sel punca bagi gangguan pada darah dan sistem imun, beberapa jenis kanker tertentu, serta transplantasi kulit akibat luka bakar. Ada dokter dan klinik tertentu yang menawarkan pengobatan sel punca untuk berbagai jenis penyakit dengan biaya tertentu bagi ribuan terapi yang sebenarnya belum diizinkan oleh FDA. Namun FDA tidak dapat mengambil tindakan terhadap klinik-klinik tersebut karena penggunaan sel punca dianggap sebagai bagian dari prosedur medis tanpa penggunaan obat apapun.

Industri kosmetik juga memanfaatkan keberadaan sel punca. Sel yang telah dicampur dengan lemak bisa diinjeksikan selama pembedahan untuk membuat kulit terlihat lebih cerah dan muda. Ribuan orang mendapatkan manfaat dari terapi sel punca. Namun bagaimanapun juga beberapa kasus tertentu mendokumentasikan efek berbahaya yang juga terjadi pada beberapa pasien, khususnya pada klinik yang tidak memiliki izin FDA. Staf medis di klinik-klinik seperti ini, pada umumnya tidak memiliki pengalamanan dalam terapi sel punca. Artikel Linda Marsa, pada AARP Bulletin bulan Juli dan Agustus tahun 2017, melaporkan beberapa pasien yang kehilangan nyawa atau dirugikan karena pengobatan sel punca. Dua di antara mereka berasal dari Florida. Mereka meninggal setelah mendapatkan injeksi sel punca. Laporan yang berasal dari California menyatakan bahwa terjadi retakan tulang pada kelopak matanya setelah pembedahan sel punca. Insiden lainnya, tiga wanita yang berusia cukup tua kehilangan penglihatan mereka setelah berpartisipasi pada sebuah uji klinis, yang untuk hal ini  mereka membayar mahal pada klinik di South Florida tersebut. Mereka menerima injeksi sel punca untuk mengobati degenerasi macula yang dideritanya. Sebelum injeksi, mereka memiliki penglihatan yang berfungsi, mereka dapat bergerak tanpa bantuan dan bisa menonton televisi. Tetapi memang ada kemungkinan kemerosotan lebih lanjut pada penglihatannya, terutama potensi bahwa mereka bisa saja kehilangan hak atas surat izin mengemudi mereka. Iklan dari website klinik itu begitu meyakinkannya, sehingga mereka setuju untuk membayar $ 5,000 untuk melakukan injeksi pada kedua matanya. Sekitar tiga puluh menit, jaringan telah diambil dan sel punca diinjeksikan ke dalam rongga seperti kaca pada kedua mata. Injeksi dilakukan oleh perawat dan tidak ada dokter yang mengawasi prosedur.

Sayang sekali, hanya beberapa hari setelah injeksi, mereka mengalami sakit yang sangat parah dan kehilangan penglihatannya. Thomas Albini, dokter mata dari University of Miami, menduga bahwa ketika sel punca mulai memisah, telah menyebabkan retina lepas. “Tidak ada yang bisa kami lakukan untuk mengembalikan  penglihatan mereka,” kata Albini. “Ketiga pasien tersebut sekarang buta dan tidak bisa hidup mandiri.” Industri sel punca ini penuh dengan penipuan, ketidak jujuran, dan malpraktek. Pasien harus berhati-hati pada klinik-klinik semacam itu dan hanya memilih klinik yang telah memiliki izin dari pihak berwenang, serta dokter yang sepenuhnya mahir dalam pengobatan terbaru ini.

 

Klinik-klinik canggih

Berita baiknya adalah bahwasanya masih ada banyak klinik yang berjalan secara ketat sesuai prosedur perizinan dari FDA (US Food and Drug Administration). The Stem Cell Institute of America terpusat di Illinois dan bereputasi baik, dimana pasien pada umumnya puas dengan hasil prosedur yang mereka lakukan. SCIA menawarkan injeksi sel punca bagi athritis dan beberapa kondisi degeneratif yang terjadi di lutut, paha, pundak, leher serta punggung bawah. Dokter dan perawat di klinik tersebut terlatih dengan sangat baik untuk menjalankan pengobatan ini. Klinik terkemuka lainnya termasuk the Stemidix Medical Clinic dan the U.S. Stem Cell Clinic, keduanya di Florida, bersama dengan jaringannya yang disebut the Cell Surgical Network di California. Dr. Mark Berman, ahli bedah plastik di Beverly Hills, California, mendirikan Cell Therapy Centers tahun 2002. Beliau menyatakan bahwa dirinya beserta dokter lainnya melakukkan lebih dari 5,000 pengobatan sel punca termasuk bagi dirinya dan istrinya sendiri.

Sally Temple, seorang ilmuwan ahli sel punca di Neural Stem Institute, Renselaer, NY, dan Presiden dari International Society of Stem Cell Research, mengatakan: “Kita akan melihat berbagai pengobatan terhadap penyakit yang saat ini dianggap tidak dapat disembuhkan. Hasil penemuan yang sangat menggembirakan ini hanya mungkin terjadi karena adanya kerja keras yang amat menjemukan selama beberapa dekade untuk menetapkan protokol keamanan, konsep pengujian, mempelajari cara pengembangan dan memanipulasi sel punca. Sulit untuk membuat masyarakat memahami betapa panjangnya proses yang diperlukan. Anda tidak akan percaya dengan apa yang harus kami lakukan di laboratorium untuk menyiapkan sel sebaik-baiknya.” Pengobatan stem cells atau sel punca membantu beberapa kasus, tetapi belum terbukti untuk kondisi-kondisi yang sangat serius seperti stroke, penyakit jantung, atau cedera sumsum tulang belakang. Penelitian masih berlangsung dan bisa memakan waktu selama beberapa dekade untuk sepenuhnya menemukan bagaimana sel punca dapat dimanfaatkan untuk kondisi-kondisi seperti itu. 

 

Referensi:

Angela Nice. “Dr. Mark Berman, and his innovative stem cell surgery, “Feb 12, 2016. New Skin Beverly Hills Posts.

Tags: Kedokteranpuncaselvolume 5 Nomor 19
Previous Post

Sains dalam Dunia Islam

Next Post

Muraqabah

Rafiq Ebrahim

Rafiq Ebrahim

Related Posts

Kesehatan – Ilmu Pengetahuan – Teknologi (Edisi 48)
IPTEK

Kesehatan – Ilmu Pengetahuan – Teknologi (Edisi 48)

2 months ago
Robot yang Dapat Terurai secara Hayati
Teknologi

Robot yang Dapat Terurai secara Hayati

6 months ago
Load More

Discussion about this post

POPULAR POST

  • Taubah, Inabah, dan Aubah

    Taubah, Inabah, dan Aubah

    1387 shares
    Share 555 Tweet 347
  • Ibnu Sina, Seorang Ilmuwan Teladan

    1067 shares
    Share 427 Tweet 267
  • Shuffah, Pusat Bagi Para Jenius

    1006 shares
    Share 402 Tweet 252
  • Hewan-hewan yang Menantang Suhu Dingin

    993 shares
    Share 398 Tweet 248
  • Tanya Jawab Edisi 37 (Demi Merasakan Manisnya Iman)

    900 shares
    Share 360 Tweet 225

Majalah Mata Air menyuguhkan bahan bacaan untuk mengembangkan cakrawala pemikiran.

Ikuti Kami

Categories

Bulan Terbit

Kesehatan – Ilmu Pengetahuan – Teknologi (Edisi 48)

Kesehatan – Ilmu Pengetahuan – Teknologi (Edisi 48)

March 3, 2026
Diskusi Hangat antara Kebenaran yang Diturunkan dan Pengetahuan yang Ditemukan

Diskusi Hangat antara Kebenaran yang Diturunkan dan Pengetahuan yang Ditemukan

March 3, 2026
Sahabat Sejati

Sahabat Sejati

March 3, 2026
  • Tentang
  • Ketentuan
  • Kirim Tulisan

© 2021 Majalah Mata Air - Membaca Kehidupan.

No Result
View All Result
  • Home
  • Rubrik
    • Sains
    • Budaya
    • Spiritualitas
  • Penulis
    • Amany Lubis. Prof. Dr.
    • Astri Katrini Alafta. S.S. M.Ed.
    • Gumilar Rusliwa Somantri. Prof. Dr.
    • Ilza Mayuni. Prof Dr.
    • Irfan Yilmaz. Prof. Dr.
    • Khoirul Anwar. Dr. Eng.
    • Muhammad Luthfi Zuhdi
    • Nabilah Lubis. Prof. Dr.
    • Qoriah A. Siregar. Dr.
    • Semiarto Aji Purwanto. Prof. Dr.
    • Riri Fitri Sari. Prof. Dr. Ir.
    • Tegar Rezavie Ramadhan. S.K.M. M.Pd.
  • Event
  • Tetes Mata Air
  • Arsip
  • Berlangganan
  • Produk Kami
    • Buku Digital
    • Majalah Digital
    • Mata Air dalam Genggaman
  • Semua Membacanya 2025
    • Pendaftaran Semua Membacanya 2025
    • Galeri Semua Membacanya
      • Galeri SM25
      • Galeri SM24
      • Galeri SM23

© 2021 Majalah Mata Air - Membaca Kehidupan.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Hallo,
Ada yang bisa kami bantu?
Tanya Admin