Yang saya sukai dari pengarang hebat bukanlah pada apa yang dikatakannya, tetapi apa yang dibisikkannya. (Logan Pearsall Smith, 1933)
Berapa lama waktu yang dibutuhkan dan tempat seperti apa yang paling ideal untuk menulis sebuah buku? Jawabannya sangat relatif, namun sepanjang sejarah kita mengenal banyak buku, kitab, dan mahakarya yang ditulis dengan cara amat istimewa sehingga melekat di hati, bahkan menjadi karya fenomenal sepanjang masa. Bagian ke-19 kitab Mektubat karya Ustad Said Nursi berjumlah lebih dari 100 halaman dan menjelaskan tentang 300 mukjizat Rasulullah Shalâllahu ‘alaihi wasallam lengkap dengan periwayatannya berdasarkan hafalan beliau tanpa melihat dari kitab mana pun itu, diselesaikan di bukit dan gunung-gunung selama 3-4 hari dengan total hanya dalam sekitar 12 jam saja.1 Bahkan kitab lainnya berjudul İşârâtü’l-İ’caz ditulis dalam suasana pertempuran yang sebagian besarnya beliau selesaikan di atas punggung kuda ketika menempuhi peperangan tersebut. Kitab ini disusun oleh beliau untuk mengungkapkan lambang-lambang dan tanda-tanda mukjizat yang berhubungan dengan keindahan diksi, sastra dan ketinggian bahasa Al-Qur’an.2
Masing-masing manusia adalah sebuah lisan, dan tujuan dari keberadaan lisan ini adalah perkataan… melalui ucapan maupun tulisan. Jiwa, kandungan, motif, serta warna dari kitab alam semesta dan fitrah agama terungkap melalui lisan. Sementara stempel, pedang, dan pena sejati dari mereka yang berada di jalan kebenaran adalah perkataannya yang diperkuat dengan tulisan. Maka, menulis kemudian menjadi sebuah sumpah yang difirmankan Allah pada salah satu surat-Nya: “Nun…. Demi pena dan apa yang mereka tuliskan” (QS. Al-Qalam [68]: 1). Sumpah yang dalam bahasa Arab disebut qasam, adalah salah satu gaya bahasa untuk menegaskan, meyakinkan, yang disertai bukti-bukti kuat dan secara telak membuat orang yang tak percaya untuk mengakui kebenaran yang diingkarinya.3 Dalam hal ini menguatkan pada kita pemaknaan bahwa begitu pentingnya pena dan terutama apa yang dituliskan dengan pena itu. Menulis yang bukan sekedarnya, namun mengukir aksara untuk menginspirasi, serta menguatkan keimanan yang membaca tulisan tersebut. Jika indranya peka, maka seharusnya manusia mampu mendengarkan senandung kekekalan yang akan mengingatkannya pada ‘AlKautsar’ di Firdaus-Nya. Lalu selayaknya seorang komponis yang mendapatkan inspirasi, maka seharusnya ia akan mencoba mengantarkan melodi fana dan baka tersebut melalui perkataan dan tulisannya, dan inilah yang kemudian yang disebut sebagai “Tulisan Sejati”, menulis dalam bingkai literasi positif, menulis yang mampu menembus langit.
Sastra tak hanya berarti bermain kata-kata untuk menghasilkan frase yang disukai orang saja. Bukan pula proses merangkai kata tanpa peduli dampak maupun pemaknaannya. Di atas semua itu, sastra berarti membuat seni ekspresi yang akan disukai penikmatnya dengan dimensi kefasihan dan kejelasan. Pada pemahaman literasi positif, maka sastra tak hanya menghiasi dan memperkaya bahasa sehari-hari dengan materi yang paling bersih, murni, serta abadi, lebih dari itu, ia menjadikannya bak harta karun yang bertambah nilainya. Literasi positif adalah sebuah pemaknaan bahwa sastra tak harus kotor dan dipenuhi dengan khayalan hedonis. Sebuah tulisan tak membutuhkan sampah pornografi maupun kefasikan untuk hanya membuat dan menyihir pembacanya agar terus terpaku menikmati karya hingga selesai. Tulisan sejati adalah mahakarya seorang hamba yang memahami betul perintah membaca dan menulis pada Al-Qur’an sebagai bagian dari ibadahnya pada Sang Maha Tinggi, sebuah sarana untuk mencapai rida-Nya.
Dalam tahapan penulisan, unsur niat memegang peranan penting. Sehingga tak heran jika karya-karya besar selalu dimulai dengan salat sunah dua rakaat dan dihiasi dengan adab luar biasa dalam menulis, seperti: menulis dalam posisi menghadap kiblat, menjaga wudu dan tidak lepas dalam zikir.4 Salah satu tantangan yang sering menjadi penghambat seseorang ketika menulis adalah mencari ide yang cukup baik untuk dituangkan menjadi sebuah karya. Dalam kondisi tertentu, kebanyakan pengarang memutuskan untuk menyelesaikan tulisannya atau berhenti menulis dikarenakan kondisi kekurangan ide dan pencerahan. Pada kondisi seperti ini, berhenti sejenak dari proses menulis, menyegarkan pikiran di alam terbuka, tafakur dan mentadaburinya, menikmati alunan bacaan Al-Quran, meresapi makna serta tafsir ayat-ayatnya, membaca banyak referensi sebelum akhirnya kembali mengupas ide yang sempat macet tadi, adalah beberapa tips yang bisa dilakukan pada pergulatan awal mencari dan mengembangkan ide tulisan. Memiliki buku catatan kecil yang menemani ke manapun kita pergi sehingga sesaat setelah ide itu muncul, dapat segera dicatat untuk kemudian dikembangkan setelahnya. Catat apa saja yang terlintas di benak, dan jangan tinggalkan atau lepaskan hal rinci apapun yang sempat terbersit berkaitan dengan ide tersebut.
Ketika ide ditemukan, mulailah membuat poin-poin intisari dari apa saja yang ingin disampaikan. Susunlah sebuah outline dari tulisan. Putuskan tentang apa yang kita inginkan pembaca untuk membacanya di awal, apa yang akan membuat mereka tetap punya energi untuk terus membaca ketika berada di tengah dan tetapkan apa ending yang ingin kita simpan hingga akhir. Jadi yang harus dilakukan pada tahapan ini adalah:
- Pilih ide terbaik dan tempatkan sesuai skema.
- Atur dan tempatkan pada sequence yang paling logis.
- Lakukan riset (Latar belakang tempat yang lebih deskriptif, observasi lapangan, penguasaan budaya dan bahasa, referensi yang akurat dan sahih, dll). Dalam angka dapat digambarkan bahwa menulis adalah proses 10% menulis, dengan 90% riset.
Penulis Hebat adalah Pembaca Tangguh
Al-Qur’an telah mengingatkan kita tentang pentingnya membaca dan apa yang harus kita baca. “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang Maha Pemurah. Yang mengajarkan (manusia) dengan pena” (Al-Alaq [96]: 3-4). Maka, jadilah pembaca yang tangguh agar dapat menjadi penulis yang punya daya tahan pula. Tingkatkan kapasitas membaca (quality reading), baca pula riset dan penelitian para ahli yang memiliki referensi terpercaya. Membaca jurnal riset dan penelitian para ahli adalah seperti menghemat daya baca, karena hasil riset sendiri biasanya adalah hasil dari referensi bacaan yang panjang. Buya Taufik Ismail mengatakan bahwa: “Membaca dan menulis adalah dua kakak beradik yang tak terpisahkan.”5 Maka tak bisa dipungkiri bahwa tulisan bermutu hanya ada dari wawasan, pengalaman, dan membaca berkualitas. Kita kenal bahwa Imam Malik menyusun kitab AlMuwaṭṭa’ yang menghimpun 100.000 hadis, catatan perilaku orang Madinah, fatwa Para Sahabat dan tabiin yang disusun mengikuti sistematika penulisan fikih. Buku yang disusun selama 40 tahun dan ditunjukkan pada 70 ahli fikih Madinah ini sungguh merupakan buku yang paling komprehensif di bidang hadis dan fikih, sistematis dan ditulis dengan cara dan riset yang sangat mendalam pada masa itu.6
Sementara Imam Hanbali atau imam Ahmad menyusun al-Musnad yang berisi sekitar 30.000 hadis serta beragam pandangan dan opini selektif dari para Sahabat Rasulullah mengenai berbagai aspek Islam itu dalam jangka waktu sekitar enam puluh tahun dan hal ini sudah dimulai sejak tahun 180 H atau saat beliau berusia sekitar 16 tahun.7
Menulis dengan Kepedihan Hati
Pada tahun 1375 M, Ibnu Khaldun yang merasa lelah akan dunia politik di negaranya mengasingkan diri selama empat tahun ke Benteng Salama, dekat Konstatin. Dari tempat inilah, dengan perasaan pedih dan prihatin pada nasib negaranya, beliau berhasil menulis sebuah kajian terhebat dalam sejarah dunia, magnum opus-nya, yang berjudul Muqaddimah: Pengantar Sejarah.8 Begitu besarnya pengaruh Ibnu Khaldun melalui tulisannya ini, sehingga beliau tak hanya dikenal di kalangan Muslim, namun tokoh-tokoh Barat seperti Ronald Reagen sekalipun pernah mengutip pemikiran-pemikiran beliau. Sejarawan terkenal Arnold Toynbee pernah mengatakan bahwa Muqaddimah adalah buku sejarah terhebat. Sementara Mark Zuckerberg juga mereferensikan buku ini sebagai salah satu buku penting dari 23 judul buku yang harus kita baca.9
Kepedihan hati yang dimaksudkan di sini bukan bermuara dari kesedihan untuk diri dan pribadi saja melainkan kepedihan atas kepentingan yang lebih besar yakni selamatnya umat dari kebodohan dan kekufuran. Maka landasan dari perasaan ini akan menggiring seseorang melakukan amar ma’ruf nahi munkar melalui literasi positif yang ditulisnya. Menulis adalah menyampaikan sebuah pesan yang dapat merubah dunia, bahkan hanya dari sebuah ide sederhana. Tulisan akan hidup jika dihiasi dengan kekuatan jiwa dan adanya idealisme yang diperjuangkan. Sementara tulisan akan menjadi hampa jika hanya berlatar belakang ambisi pribadi, ekonomi, ataupun ketenaran belaka.
Sudut Pandang Berbeda dan Motivasi Kuat
Penulis yang baik akan berpikir dan menulis dengan sudut pandang “spesial“ atas segala sesuatu, berbeda dari orang kebanyakan. Kosakata yang kaya, pernyataan yang harmonis, dan gaya yang menarik, sehingga mampu mengaktifkan kata-kata. Sambil bergerak menuju tujuannya, para penulis menempatkan semua kata atau kalimat seperti nada-nada yang akan mampu mengantarkan harmoni indah pada sebuah simfoni. Penulis menyiapkan amunisi kejutan pada tiap bagian tulisan dan tahu kapan akan dikeluarkan untuk mempertahankan emosi pembaca.
Motivasi yang kuat dibutuhkan untuk menulis. Ulama besar Al-Kasani menulis kitab syarh dari kitab gurunya Syekh Ahmad al-Samarqandi yang berjudul Al-Tuhfah al-Fuqaha sebagai mahar beliau sebelum menikahi putri gurunya, Fatima Al-Samarqandi.10 Lamaran ini diterima, padahal sebelumnya sang Syekh menolak lamaran para Sultan dan pembesar pada masa itu.
Awalnya Buya Hamka hanya menyelesaikan tafsir 2 juz Al-Azhar selama bertahun-tahun. Ketika beliau ditangkap dan ditahan selama 2 tahun 4 bulan tanpa peradilan pada masa Orde Lama, beliau justru dapat menyelesaikan 28 juz tafsir Al Azhar, bahkan dalam kondisi sakit parah yang menyebabkan beliau harus dipindahkan ke RS Rawamangun dari tahanan sebelumnya di Sukabumi.11 Tentang hal ini, Buya Hamka berkata: “Mengarang tafsir di pagi hari, membaca buku-buku di petang hari, tilawah Al-Qur’an di antara Maghrib dan Isya, tahajud dan munajat lepas tengah malam”.12
Maka menulis dan menulis terus mungkin adalah motivasi terkuat bagi Jean-Dominique Bauby, seorang editor di Prancis yang suatu ketika menderita paralisis atau kelumpuhan total pada seluruh tubuhnya kecuali pada mata kiri yang hanya mampu dikedipkan. Bauby menulis dengan bantuan seorang sekretaris yang akan menyebut alfabet satu per satu dan menuliskan huruf yang dipilih Bauby melalui kedipan mata kirinya. Buku berjudul Le Scaphandre et le Papillon13 ini terbit beberapa hari sebelum ia wafat dan menjadi best seller di seluruh Eropa hanya dalam waktu beberapa hari saja.
Jika umat ini ingin kembali pada kemuliaannya, maka mereka harus siap untuk menerapkan semua faktor yang telah membuatnya mulia dulu, tanpa mengabaikan satu hal pun. Menulis dengan hati akan mengantarkan pula tulisan menuju hati, dan karena hati adalah pencapaian yang amat tinggi, maka berazam untuk menulis secara positif semoga dapat menjadi salah satu jalan untuk meninggikan asma-Nya dan memuliakan kembali umat Islam di mata dunia. Pesan Rasulullah tercinta bagi kita adalah: “Ikatlah ilmu dengan kitab (yaitu : dengan menulisnya)”.14
Referensi :
- Bediuzzaman Said Nursi, Mektubat, penerbit Sözler Yayınevi hal.80-196, Istanbul, 1991.
- Bediuzzaman Said Nursi, İşârât-ül İ’caz, Sözler Nesriyat hal. 1-13, Istanbul, 2005.
- H.M. Rusydi Khalid via Amir dalam “Qasam dalam Al-Qur’an: Suatu Tinjauan Uslub Nahwiyyah, LiNGUA Vol. 9, No. 1, Juni 2014 – ISSN 1693-4725.
- Imam Az-Zarnuji, Ta’limul muta’allim, Aqwam Media Profetika, 2019.
- Taufik Ismail, Debu di atas Debu, Horison, Jakarta, 2014.
- Hamnah, Kitab Al-Muwaṭṭa’ Imam Mālik: Studi tentang Metodologi Penyusunan, UIN Alauddin Makassar, 2013.
- M. Yusuf, dkk., Metodologi Penulisan Kitab Hadis: Studi atas Musnad Ahmad Ibn Hanbali, Fakultas Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir IAIN Salatiga.
- Alice Bolton, Ibn Khaldun on Luxury and the Destruction of Civilizations, Fountain Magazine Vol.117. 2017.
- Jessica Stillman, 23 Books Mark Zuckerberg Thinks You Should Read, Inc. Newsletter. 11 Jan 2016.
- M.Omer Farooq Abdullah Phd.,Living Islam with Purpose hal.28, Nawawi Foundation, 2007.
- Irfan Hamka, Ayah…Kisah Buya Hamka, Republika Penerbit, Jakarta, 2013
- M. Jamil, Hamka dan Tafsir Al Azhar, ISTIHLAH, Jurnal hukum Islam Vol XII No.2. hal. 121-143. 2016.
- Jean-Dominique Bauby, Le Scaphandre et le Papillon, Robert Laffont, Prancis, 1997.
- Hadits shahih Silsilah Ash-Shahiihah no. 2026.
Penulis : Astri Katrini Alafta S.S. M.Ed.







Discussion about this post