• Privacy & Policy
  • Kontak
  • Tentang Kami
    • Profil
    • Redaksi dan Manajemen
    • Dewan Penasihat
  • Mata Air di Dunia
    • Arabic
    • Deutsch
    • English
    • Spanish
    • Turkish
  • FAQ
  • Kirim Artikel
  • Karir
Saturday, April 25, 2026
  • Login
Majalah Mata Air
Advertisement
  • Home
  • Rubrik
    • Sains
    • Budaya
    • Spiritualitas
  • Penulis
    • Amany Lubis. Prof. Dr.
    • Astri Katrini Alafta. S.S. M.Ed.
    • Gumilar Rusliwa Somantri. Prof. Dr.
    • Ilza Mayuni. Prof Dr.
    • Irfan Yilmaz. Prof. Dr.
    • Khoirul Anwar. Dr. Eng.
    • Muhammad Luthfi Zuhdi
    • Nabilah Lubis. Prof. Dr.
    • Qoriah A. Siregar. Dr.
    • Semiarto Aji Purwanto. Prof. Dr.
    • Riri Fitri Sari. Prof. Dr. Ir.
    • Tegar Rezavie Ramadhan. S.K.M. M.Pd.
  • Event
  • Tetes Mata Air
  • Arsip
  • Berlangganan
  • Produk Kami
    • Buku Digital
    • Majalah Digital
    • Mata Air dalam Genggaman
  • Semua Membacanya 2025
    • Pendaftaran Semua Membacanya 2025
    • Galeri Semua Membacanya
      • Galeri SM25
      • Galeri SM24
      • Galeri SM23
No Result
View All Result
  • Home
  • Rubrik
    • Sains
    • Budaya
    • Spiritualitas
  • Penulis
    • Amany Lubis. Prof. Dr.
    • Astri Katrini Alafta. S.S. M.Ed.
    • Gumilar Rusliwa Somantri. Prof. Dr.
    • Ilza Mayuni. Prof Dr.
    • Irfan Yilmaz. Prof. Dr.
    • Khoirul Anwar. Dr. Eng.
    • Muhammad Luthfi Zuhdi
    • Nabilah Lubis. Prof. Dr.
    • Qoriah A. Siregar. Dr.
    • Semiarto Aji Purwanto. Prof. Dr.
    • Riri Fitri Sari. Prof. Dr. Ir.
    • Tegar Rezavie Ramadhan. S.K.M. M.Pd.
  • Event
  • Tetes Mata Air
  • Arsip
  • Berlangganan
  • Produk Kami
    • Buku Digital
    • Majalah Digital
    • Mata Air dalam Genggaman
  • Semua Membacanya 2025
    • Pendaftaran Semua Membacanya 2025
    • Galeri Semua Membacanya
      • Galeri SM25
      • Galeri SM24
      • Galeri SM23
No Result
View All Result
Majalah Mata Air
No Result
View All Result
Home Sains

Coding dan Kebenaran Berita: Lebih Baik Bicara atau Diam?

Lebih Baik Bicara atau Diam?

by Khoirul Anwar. Dr. Eng.
11 years ago
in Budaya
Reading Time: 4 mins read
Share on WhatsappShare on FacebookScan and read on your phone

Teknologi informasi berkembang sangat pesat dengan berkembangnya teori infor­masi ditambah dengan makin majunya signal processing dan device. Kemajuan pesat teori in­formasi berawal saat informasi bisa dihitung secara numerik pada 1948. Saat itu banyak ilmuwan hanya fokus pada sistem komunikasi yang melibatkan dua titik saja, transmitter dan receiver. Kini karena makin banyak manusia ingin tersambung dan berkomunikasi dengan yang lain, teori informasi pun fokus pada multipoint communications, yang kemudian dikenal sebagai network information theory.

Permasalahan tidak berhenti sampai di sini, melainkan melebar pada konten dari informasi yang disampaikan. Hal ini karena komunikasi tidak lagi sederhana antara dua titik, point to point, melainkan multipoint to multipoint, network, sehingga jika infor­masi yang disampaikan salah, maka kesalahan akan tersebar ke banyak point yang dikenal sebagai error propagation. Dalam dunia sosial, efek yang sama juga terjadi. Dapatkah error propagation ini dikoreksi ?

Turbo coding adalah sebuah teknik memperbaiki error (kesalahan) yang ditemukan tahun 1993. Teknik ini telah merevolusi dunia coding theory setelah men­galami kelesuan puluhan tahun karena para peneliti mengalami stuck, terhenti, pada masalah memori dan kompleksitas decoding pada coding terbaik saat itu, convolutional code. Turbo code lahir dari convolutional code yang kemudian menjadi teknik coding utama pada teknologi 4G (LTE), baik pada uplink maupun downlink.

Sesungguhnya tidak ada yang “turbo” pada turbo coding. Ini adalah coding biasa, tetapi rahasianya ternyata bukan pada elemen komponennya, melainkan pada “sistem tu­kar informasinya” yang diwujudkan dalam bentuk rasio keyakinan (Likeli­hood ratio=LR). LR ini kemudian menjadi sederhana lagi jika dinyatakan dalam logaritma, disebut sebagai log likelihood ratio (LLR), karena perkalian akan menjadi penjumlahan dalam domain itu, sedangkan pem­bagian akan menjadi pengurangan.

RelatedArticles

Diskusi Hangat antara Kebenaran yang Diturunkan dan Pengetahuan yang Ditemukan

Sahabat Sejati

LLR inilah yang sangat menarik untuk kita bahas, karena ia berisi perbandingan keyakinan atas kebena­ran sebuah informasi. Jika sebuah komponen yakin bahwa kemungkinan benarnya sebuah berita itu lebih tinggi daripada kemungkinan salahnya, komponen itu memberikan LLR positif pada komponen kedua. Bisa kita tuliskan sederhananya sebagai berikut:

Pr(berita=benar I berita diterima) > Pr (berita=salah I berita diterima), maka nilai LLR Positif …… (1)

Sebaliknya, jika

Pr(berita=salah I berita diterima) > Pr (berita=benar I berita diterima), maka nilai LLR negatif …… (2)

Gambar 1: Teknik koreksi kesalahan berpotensi sebagai teknik penyebar kesalahan jika tidak berhati-hati. (Sumber: Dokumen Pribadi Penulis)

Bagaimana nilai LLR ini ditukar? Silakan lihat Gambar 1 yang menunjukkan teknik koreksi kesala­han yang komponennya disusun secara serial atau serially concatenated. Jadi prinsip kerja turbo code atau turbo principle secara umum adalah dengan sal­ing menukarkan informasi keyakinan LLR antar kom­ponennya. Konsep ini mirip dengan kondisi saat kita memforward berita lewat facebook, whatsapp, LINE, telegram atau aplikasi lainnya, karena kita sedang menjadi salah satu komponen sebuah code dalam suatu network.

Bagaimana mengetahui sebuah berita itu benar atau salah 

Di dalam turbo code, berita akan di decode menggunakan algoritma BCJR, sebuah algorit­ma yang ditemukan tahun 1974. Di dalam BCJR, ada mekanisme pengecekan dengan menggu­nakan Trellis diagram, yaitu sebuah diagram untuk menganalisa pada langkah mana kira kira kesalahan telah terjadi. Nah, dalam konsep kemasyarakatan kita, sebenarnya ada juga diagram Trellis ini, yaitu sebuah sistem yang dise­but tabayyun ; mengkonfirmasi kebenarannya secara teliti.

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksa lah dengan teliti, agar kamu ti­dak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang me­nyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al Hujurat : 6)

Gambar 2: Trellis diagram bagi kita adalah sebuah konsep tabayun ketika menerima sebuah berita (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Apakah kita tahu efek menyebarkan berita salah? 

Hasil koreksi turbo code ditunjukkan oleh gambar berikut ini. Kurva (a) adalah hasil yang terjadi jika kita tanpa memahami kebenaran sebuah berita, tetapi me­nyebarkannya. Anda dapat melihat error/kesalahannya naik (karena error propagation) dari 0.01 lalu menjadi 0.5 lalu selamanya akan berada di nilai itu dengan asumsi bahwa berita itu bernilai biner (binary), salah dan benar saja, karena kita tidak mendefinisikan berita yang “agak benar” dan “agak salah”.

Gambar 3: hasil sharing berita. Note: Hasil ini bisa di prediksi menggunakan teknik yang disebut “Exit Analysis”, yaitu teknik yang sangat mudah untuk analisis pertukaran informasi. (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Bagaimana jika kita hanya menyebarkan berita yang benar (kita yakin akan kebenarannya), hasilnya adalah kurva (d), yaitu menuju perbaikan, dari error 0.01 menjadi kurang dari 0.00001 dalam waktu yang sangat cepat. Dalam coding theory dan telekomunikasi, ini disebut dengan “turbo cliff”, yaitu error terjun bebas menjadi sangat rendah dalam waktu sangat singkat.

Perlunya Diam 

Bagaimana jika kita ragu, tidak yakin akan kebenaran atau kesalahan sebuah berita? Jawabannya adalah “lebih baik diam”. Mengapa? ketika kita ragu, nilai Pr(berita=benar)=Pr (berita=salah)=1/2, sehingga LLR=log (0.5/0.5) = log 1= o yang artinya LLR berhenti. Hal ini memerintahkan kepada kita untuk tidak disebarkan. Dengan demiki­an, error propagation (perambatan/penyebaran kes­alahan) akan berhenti dengan sendirinya. Hasilnya ada 2 kemungkinan, yaitu:

(1) menghasilkan kurva (c), artinya bahwa diam kita masih mampu memperbaiki keadaan seiring ber­jalannya waktu, karena kadang-kadang waktu juga menjadi solusi suatu masalah. Dalam turbo process­ing, ini mirip dengan sebuah decoder yang mendapat­kan apriori mutual information no!. Tidak ada input yang membantu, tetapi secara internal, decoder akan mampu memperbaiki meski lambat .

(2) kurva (b), artinya bahwa diam kita memang tidak akan merubah keadaan, tetapi tetap lebih baik karena minimal tidak menambah kebaikan atau kesalahan.

Pelajaran yang kita ambil adalah: Dengan perkembangan teknologi tele­komunikasi, mudah sekali kita mengalami “turbo code” dan “turbo processing” dengan saling tukar informasi. Jika kita tidak yakin akan kebenarannya, lebih baik diam. Tidak mensharingnya adalah sebuah jawaban atas problem error propagation. Itulah yang membantu decoder bekerja selama dalam teknik telekomunikasi. Semoga ada hikmah dan pelajaran yang selalu bisa kita am­bil dan terapkan dalam kehidupan kita.

Dari Abu Hurairah bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hen­daklah ia diam.” (Muttafaq ‘alaih: Al-Bukhari, no. 6018; Muslim, no.47)

Penulis: Prof. Dr. Khoirul Anwar

Penemu dan pemilik paten teknologi 4G, Nara Institute of Science and Technology (NAIST)·Jepang.

Tags: 2020codingSainsvolume 2 nomor 7
Previous Post

Hewan-hewan yang Menantang Suhu Dingin

Next Post

Fenomena Ayat Ayat Kelautan

Khoirul Anwar. Dr. Eng.

Khoirul Anwar. Dr. Eng.

Related Posts

Diskusi Hangat antara Kebenaran yang Diturunkan dan Pengetahuan yang Ditemukan
Filsafat Ilmu

Diskusi Hangat antara Kebenaran yang Diturunkan dan Pengetahuan yang Ditemukan

6 months ago
Sahabat Sejati
Resonansi

Sahabat Sejati

6 months ago
Load More

Discussion about this post

POPULAR POST

  • Taubah, Inabah, dan Aubah

    Taubah, Inabah, dan Aubah

    1387 shares
    Share 555 Tweet 347
  • Ibnu Sina, Seorang Ilmuwan Teladan

    1067 shares
    Share 427 Tweet 267
  • Shuffah, Pusat Bagi Para Jenius

    1006 shares
    Share 402 Tweet 252
  • Hewan-hewan yang Menantang Suhu Dingin

    993 shares
    Share 398 Tweet 248
  • Tanya Jawab Edisi 37 (Demi Merasakan Manisnya Iman)

    902 shares
    Share 361 Tweet 226

Majalah Mata Air menyuguhkan bahan bacaan untuk mengembangkan cakrawala pemikiran.

Ikuti Kami

Categories

Bulan Terbit

Kesehatan – Ilmu Pengetahuan – Teknologi (Edisi 48)

Kesehatan – Ilmu Pengetahuan – Teknologi (Edisi 48)

March 3, 2026
Diskusi Hangat antara Kebenaran yang Diturunkan dan Pengetahuan yang Ditemukan

Diskusi Hangat antara Kebenaran yang Diturunkan dan Pengetahuan yang Ditemukan

March 3, 2026
Sahabat Sejati

Sahabat Sejati

March 3, 2026
  • Tentang
  • Ketentuan
  • Kirim Tulisan

© 2021 Majalah Mata Air - Membaca Kehidupan.

No Result
View All Result
  • Home
  • Rubrik
    • Sains
    • Budaya
    • Spiritualitas
  • Penulis
    • Amany Lubis. Prof. Dr.
    • Astri Katrini Alafta. S.S. M.Ed.
    • Gumilar Rusliwa Somantri. Prof. Dr.
    • Ilza Mayuni. Prof Dr.
    • Irfan Yilmaz. Prof. Dr.
    • Khoirul Anwar. Dr. Eng.
    • Muhammad Luthfi Zuhdi
    • Nabilah Lubis. Prof. Dr.
    • Qoriah A. Siregar. Dr.
    • Semiarto Aji Purwanto. Prof. Dr.
    • Riri Fitri Sari. Prof. Dr. Ir.
    • Tegar Rezavie Ramadhan. S.K.M. M.Pd.
  • Event
  • Tetes Mata Air
  • Arsip
  • Berlangganan
  • Produk Kami
    • Buku Digital
    • Majalah Digital
    • Mata Air dalam Genggaman
  • Semua Membacanya 2025
    • Pendaftaran Semua Membacanya 2025
    • Galeri Semua Membacanya
      • Galeri SM25
      • Galeri SM24
      • Galeri SM23

© 2021 Majalah Mata Air - Membaca Kehidupan.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Hallo,
Ada yang bisa kami bantu?
Tanya Admin